Janda Mandul

Janda Mandul
Bab 115: Si kembar Berantem


__ADS_3

Acara ngerumpi ketiga wanita itu terus mengalir sampai akhirnya mereka pun sepakat untuk bubar. Novi pulang kerumah David dengan mengendarai sepeda motor matik kesayangannya, Arsi pulang dengan mobil mewah yang selalu setia menemaninya kemanapun. Kali ini Arsi terpaksa menggunakan jasa supir karena perutnya yang sudah besar jadi susah untuk mengendalikan setir. Yuni yang masih tinggal dirumah itu melepas kedua sahabatnya dengan lambaian tangan dan senyum yang terkembang. 


Si kembar yang sudah berada di dalam mobil kini meramaikan suasana, celotehan Arya dan Arista membuat Ngarsinah sesekali tertawa terbahak-bahak. Sepanjang jalan entah sudah berapa kali berhenti untuk membeli jajanan yang diinginkan oleh si bumil. dan akhirnya mereka pun sampai di rumah besar yang selalu membuat Ngarsinah bahagia. 


“Sayang, lama sekali tadi di kedai?” Tanya Rangga yang menyambut istrinya lalu menuntunnya pelan-pelan. Perut Ngarisnah semakin besar dan itu membuatnya semakin susah berjalan.


“Tadi ada Fatim mas, dan akhirnya ngobrol deh.” Jawab Ngarsinah yang kini sudah duduk di sofa dengan kaki yang di pijat lembut oleh sang suami. Si kembar sudah ribut di kamarnya entah apa yang terjadi, membuat Rangga dan Arsi terdiam sejenak dari obrolan mereka.


prang!


“Huuaaaaa … mamaaaaa!” Tangisan Arista pecah dan suara Arya pun terdengar marah.


“Dedek jangan ngerebut mainan kakak, kan jadi pecah!” Pekik Arya dengan emosi karena ternyata mainannya pecah. Rangga dan Arsi saling pandang dan berdiri untuk mendatangi kamar kedua bah hatinya. 


“Kenapa kak, kok marah-marah gitu, hem?” Tanya Ngarsinah lembut. 


“Dedek cuma mau pinjem ma, tapi kakak nggak kasih, jadi ….” Ucap Arista terisak. 


“Itu mainan kesayangan kakak ma, kan kakak nabung untuk belinya. Sekarang dedek harus ganti!” Ucap Arya tidak mau kalah. 


“Nggak mau! kan dedek nggak sengaja kak, hiks ….” Sahut Arista yang semakin terisak. perang mulut kedua saudara kembar itu terus terjadi dan tidak ada satupun yang mau mengalah. Arsi memberikan kode kepada Rangga untuk membawa Arya keluar dan bermain untuk menghibur hatinya. 


Kini tinggal Arsi dan Arista yang ada di dalam kamar berantakan itu. pelan Ngarsinah menutup pintu dan membiarkan gadis kecilnya menangis sambil ngomel membela diri. Ngarsinah sengaja tidak bicara apapun dia terus saja mendengarkan semua ucapan yang keluar dari bibir mungil si cantik Arista. 


Merasa dadanya sudah ringan dan semua uneg-unegnya tumpah ruah semua, kini Arista sudah lebih tenang dalam pelukan sayang sang mama. Arsi mengusap lembut rambut sang putri tercinta. 

__ADS_1


“Dedek udah selesai nangisnya?” Tanya Ngarsinah lembut.


“Udah ma, tapi masih ada sedikit hiks ….” Jawab Arista.


“Mama sudah bisa bicara dek?” Tanya Ngarsinah lagi. Arista hanya menjawabnya dengan anggukan. Ngarsinah melerai pelukannya dan menangkup wajah cantik putri kecilnya. 


“Dedek, coba liat mama. Ini mainan kakak kan?” Tanya Arsi. 


“Iya ma, tapi Dedek nggak sengaja ma ….” Jawab Arista dengan bibir yang masih manyun.


“Nggak sengaja atau disengaja, kita harus bertanggung jawab sayang. pertama kita harus minta maaf karena sudah merusak barang kakak atau orang lain. Tapi minta maafnya jangan terpaksa loh ya, dan yang kedua Dedek harus menggantinya. Naah kalo dua hal itu Dedek lakukan dengan ikhlas dan senang hati, semua masalah akan beres.” jelas Arsi dengan bahasa yang sangat sederhana dan mudah untuk di pahami.


Arista yang mendengarkan penjelasan sang mama mengerjap-ngerjapkan matanya lucu. Gadis kecil itu tidak terisak lagi dan kini tampak berpikir. Otak kecilnya mudah menerima apa yang dimaksud sang mama. 


“Dedek kan punya uang tabungan, nanti bilang sama kakak kalo Dedek mau menggantinya. Gimana?” Tanya Ngarsinah lagi. 


Arista menimbang ucapan mamanya, ada rasa senang karena mendapatkan solusi dari masalahnya tapi ada rasa sayang kalau uang tabungan yang sudah dia rencanakan untuk membeli sepatu roda harus berkurang demi untuk mengganti mainan sang kakak.


Ngarsinah dengan sabar menunggu Arista berpikir dan menimbang, wanita cantik itu tidak ingin memaksakan kehendaknya dan memaksakan sang buah hati untuk melakukan apa yang dia sarankan. Arista dalam kegalauan, baginya ini adalah masalah yang sangat besar. Ikhlas itu sangat sulit apalagi harus mengorbankan keinginan demi sebuah tanggung jawab yang akan dia hadapi. 


“Mama, mau nggak beliin Dedek mainan untuk gantiin punya kakak?” Ucapnya dengan senyum manis yang digunakan untuk senjata merayu sang mama. Arsi terkekeh dan menoel gemas pipi gembul milik putrinya. 


 “Ihhh anak mama … kamu mau nego yaaa … Dedek, kalo mama yang ganti ntar di olokin sama kakak, Dedek mau?” Tanya Arsi memprovokasi sang anak. Arista kembali berpikir. 


‘Iya juga ya, issh … mana mau aku nanti di bully sama kakak, terus kalo nanti kakak gak mau main sama aku lagi gimana dong? aduuuhh … ini masalah kok berat bagnet siiih,’ Gerutu Arista dalam hati. Ngarsinah melihat putrinya sedang berpikir keras, dan wanita itu dengan setia untuk diam. 

__ADS_1


“Mama, kita hitung dulu ya uangnya cukup apa nggak. Tapi nanti mama temenin Dedek ya untuk minta maaf sama kakak,” Ucap Arista memohon. Ngarsinah mengangguk dengan senyuman yang membuat bocah kecil itu merasa nyaman dan damai. Dengan cepat Arista mengambil celengan kaleng dan membongkarnya. kini ibu dan anak itu sibuk menghitung uang, lambat laun hati Arista merasa ikhlas untuk meminta maaf dan mengganti mainan kakaknya. 


“Jadi semuanya 870 Ribu ma, apa ini cukup ma?” Tanya Arista merasa tidak yakin. 


“Nanti kita ke toko sama-sama, biar kita lihat harganya ya Dek. In shaa Allah ini cukup kok. Jadi gimana sekarang udah siap untuk minta maaf?” Tanya Ngarsinah yang siap menemani sang putri untuk menyelesaikan masalahnya. 


Kini ibu dan anak itu pun berpelukan dan sisa air mata si kecil pun di bersihkan oleh Ngarsinah. Kini mereka sudah siap untuk keluar kamar dan menemui Arya di ruang tengah. Arya yang melihat kedatangan saudara kembarnya langsung membuang muka tanda kalau hatinya masih kesal. 


Melihat hal itu nyali Arista menciut, keberanian yang tadi sudah di tumpuknya kini tiba-tiba meleleh dan kini gadis kecil itu berpegangan erat dengan tangan sang mama. Ngarisnah tersenyum dan mengangguk sebagai kode untuk menyemangati sang putri. Dengan langkah pelan Arista melangkah mendekati sang kakak. 


“Kakak, maafin Dedek … mau ya kak,” Ucap Arista dengan mata yang mulai mengembun. Arya yang mendengar permintaan maaf dari sang adik langsung menoleh dan menatap kedua netra Arista. Arya merasakan kesungguhan dari adiknya. 


“Kakak ganteng deh kalo mau maafin Dedek,” Ucap Arista lagi merayu.  Sebenarnya Arya ingin sekali tertawa mendengar rayuan gombal dari sang adik tapi mati-matian dia menahan. Setelah beberapa detik berlalu, Arya memeluk Arista dan mengatakan —


“‘Iya Dek, Kakak juga minta maaf ya sudah bikin kamu nangis dan ngomong kasar sama kamu. Kita sekarang sudah saling memaafkan ….” Sahut Arya dan hal itu membuat hati Arista senang bukan kepalang. Kini pemandangan indah penuh haru melihat kedua anak kembar itu sudah berbaikan lagi, Arsi mencium kedua bocah kecil kesayangannya itu. Rangga yang menyaksikan itu menatap mesra sang istri, sungguh pintar istrinya membuat kedamaian disaat kedua anaknya sedang selisih paham. 


“Kakak, ayo kita ke toko mainan, ini uang Dedek buat gantiin mainannya,” Ucap Arista riang dan menunjukkan uang hasil tabungannya kepada sang kakak.


❤️❤️❤️


Love You mama Arsiii ❤️❤️


Yuukk like, komen, vote, hadiah, subscribe ya pemirsaaahh ku tersayang.


❤️❤️❤️🥰🥰🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2