Janda Mandul

Janda Mandul
Bab 43: Bangunnya Arsi


__ADS_3

Alunan ayat-ayat suci Al-Quran terdengar syahdu di telinga orang-orang yang ada di ruangan itu, teman-teman Ngarsinah yang tadi membesuk di rumah sakit kini ikut kerumah Rangga, mereka meminta izin untuk tidak kembali kekantor karena ingin memberikan penghormatan terakhir untuk sahabat barunya itu. Rangga yang dalam keadaan duka mendalam memberikan izin untuk mereka mengurus keperluan Ngarsinah. 


“Uhuk … Uhuk!” Ngarsinah tersedak, sontak membuat orang yang ada di ruangan itu terkejut dan sebagian asisten rumah tangga langsung berlarian tunggang langgang karena takut, melihat jenazah Ngarsinah yang terbangun tiba-tiba. 


“Uhuk … Uhuk!” Kembali Ngarsinah terbatuk dan membuka matanya, orang pertama yang bersilang pandang dengannya adalah Arya, Pria kecil itu tiba-tiba berhenti menangis dan merenggangkan pelukannya. Arista yang berada di sebelah Arya pun berhenti menangis dan menatap nanar ke arah wajah pucat yang tampak kebingungan itu. 


“Mama, sudah bangun kak,” cicit gadis kecil itu dengan senyum ke arah Arya. Sang kakak yang sesaat menoleh ke arah adiknya hanya mengangguk dan kembali menatap Ngarsinah, ada rasa takut yang menjalari benak mereka, takut jika wanita yang mereka suruh bangun sedari tadi kembali tertidur lagi. 


Sontak kedua orang tua Rangga dan semua orang yang berada di ruangan itu terkejut, tapi tidak ada rasa takut. Rangga dengan cepat menelepon dokter Ayu, dengan cepat sang dokter menyanggupi untuk datang ke rumah Rangga. 


“Ndok kamu sudah bangun, Alhamdulillah Allah masih memberikan kesempatan kepada kami untuk bisa kembali bersama kamu ndok,” ucap bu Yem sendu. 


“Bu, Arsi kenapa? Aawww sakit!” tanya Ngarsinah yang disertai jeritan kecil karena rasa sakit di kepalanya. Belum sempat bu Yem menjawab, dokter Ayu sudah datang, dokter senior itu tergopoh-gopoh mendatangi tubuh Arsi yang direbahkan di ruang tengah rumah mewah itu. 


Dokter memeriksa keadaan Ngarsinah, senymnya terkembang, wanita dokter senior itu dengan teliti memeriksa dengan detail. Rangga yang tidak mengalihkan pandangannya sama sekali dari Ngarsinah merasa jantungnya terus berdebar, sementara kedua bocah kecil itu di gendong oleh Ningsih dan Boby. 


“Alhamdulillah, Ibu Arsi mengalami mati suri,beliau tampaknya meninggal, tetapi sebenernya tidak. Hal ini bisa terjadi dan tidak asing di dunia medis, mati suri adalah fenomena yang dalam dunia medis dapat dipahami sebagai dua hal, yaitu Lazarus Syndrome atau Near Death Experience. Sekarang bisa tolong bantu saya untuk memindahkan ibu Arsi ke kamar? agar bisa diperiksa lebih lanjut,” penjelasan dokter Ayu yang membuat semua orang hampir berbarengan mengangguk. 

__ADS_1


Rumah Rangga yang tadi berduka, kini kembali bahagia, bu Yem melakukan sujud syukur atas kembalinya Ngarsinah. Tubuh Ngarsinah dipindahkan kedalam kamar, kedua bocah yang sudah lelah menangis pun tertidur dalam gendongan kakek dan neneknya. 


*****


Waktu berlalu, minggu demi minggu kini berganti bulan,  Ngarsinah tinggal di rumah Rangga dengan alasan lebih bisa menjaga gadis itu yang masih dalam tahap penyembuhan. 


Si kembar kembali ceria, kehidupannya seakan sempurna, walau mereka sering bingung kenapa papa dan mamanya tidak berada dalam satu kamar. 


Seperti hari ini, Arista yang sedang berada di kamar Ngarsinah, sibuk bermain dengan bonekanya. Ngarsinah sedang diperiksa oleh dokter Ayu, mengganti perban dan membuatkan resep obat yang harus diminum oleh Ngarsinah. 


Arista melihat Ngarsinah yang sedang di ganti perban, tubuh kecilnya menghampiri ranjang. Ngarsinah sudah bisa berjalan, tapi masih sering pusing dan sempat beberapa kali pingsan karena tidak bisa menyeimbangkan diri. 


"Uhuuk … Uhuk!" Ngarsinah tersedak dengan air minum yang baru saja membantu beberapa pil masuk ke dalam tenggorokannya. Dokter Ayu tersenyum dengan pertanyaan bocah kecil yang sedang penasaran itu, dokter tersebut sudah mengetahui hubungan Ngarsinah dengan keluarga Rangga. 


"Ekhem, nggak bisa sayang, eh dedek kemaren bilang punya boneka baru? Mama mau liat dong," jawab Ngarsinah sekaligus mengalihkan perhatian gadis kecil itu. Syukurlah Arista langsung teralihkan perhatiannya, dengan cepat gadis itu berlari menuju kamarnya dan mengambil boneka barunya yang sudah diberinya nama. 


Tanpa menjawab pertanyaan Arsi, gadis itu melesat cepat dan membuat Ngarsinah dan dokter Ayu menggelengkan kepala sambil tersenyum. Dokter Ayu sudah selesai dengan pekerjaannya, dokter senior itu berpamitan kepada tuan rumah.

__ADS_1


"Mama, ini boneka dedek, namanya Mery." Arista mengenalkan maiannya yang baru kepada sang mama.


"Waahh cantik sekali, ayo kita main dek," ajak Ngarsinah untuk menghibur gadis kecilnya.


*****


Rangga sudah kembali bekerja di kantornya, pria matang yang semakin tampan itu selalu saja membuat kaum hawa menjerit untuk minta di nikahinya. Ngarsinah masih belum bisa bekerja, tapi karena selalu bertemu membuat suasana hati Rangga selalu berbunga-bunga.


"Rangga ... kamu kemana aja?" sapa seorang wanita yang suaranya tidak asing di telinga Rangga.


"Betty ..."


"Mama meminta mu untuk datang memenuhi undangan makan melam di rumahku malam ini,"


❤️❤️❤️


Waspada Rangga, ini ulet keket bahaya looo..

__ADS_1


Yuukk boom like nya pemirsa, vote, vote, vote, hadiah dan komennya juga di ramaikan ya. Tengkyuuh pemirsa. 😘😘😘🌹❤️❤️❤️


__ADS_2