
“Jeng Monic ini ada-ada aja deh, Betty itu masih gadis, sementara Rangga itu duda loh jeng. Si kembar ini juga orangnya selektif, aku sih siapa aja yang menjadi istri Rangga tidak pernah membatasi, karena jodoh itu rahasia yang kuasa to jeng,” jawab Ningsih dengan hati-hati, dia tidak ingin membuat hati sahabatnya tersinggung. Monic bukanlah orang yang mudah menyerah, selama ini keinginannya selalu saja tercapai.
“Betty itu penyayang anak-anak jeng, aku yakin si kembar akan bahagia bersama putriku.” Jawab Monic datar dan dingin. Apa yang Ningsih miliki selalu saja memiliki daya tarik yang tidak mampu dia hindari.
Seperti yang dulu pernah terjadi, terlepas itu dari soal jodoh atau tidak, tapi Indra yang dulu menjalin kasih dengan ningsih sejak awal kuliah, di rebut saat mereka bersiap untuk melangkah ke pelaminan. Monic sesaat mengingat apa yang pernah dia dapatkan dari Ningsih.
Flashback on
“Mas Indra, bisa tolongin aku nggak, mobilku mogok mas, padahal baru aja kemaren di servis.” Pinta Monic dengan wajah frustasi karena tidak bisa pulang, hujan deras dan kampus mulai sepi. Besok hari penting untuk mereka, dimana prosesi wisuda akan dilaksanakan sebagai tanda para mahasiswa itu telah selesai dengan pendidikan di kampus itu.
Indra menoleh ke kanan dan kekiri, dia merasa dilema, karena sudah janjian dengan Ningsih untuk makan malam bareng. Indra akan melanjutkan pendidikannya ke London.
“Monic aku nggak bisa bantuin kamu, karena aku ada janji dengan Ningsih. Aku mohon kamu bisa mengerti, sebaiknya kamu naik taxi saja, dan tinggalkan mobilmu disini, aman kok kan masih di halaman kampus.” jawab Indra terus terang, pria yang terkenal pendiam itu selalu membuat Monic penasaran dan hasratnya untuk memiliki sangat Indra sangat besar.
“Mas kok tega sih, aku nggak pernah naik kendaraan umum mas, ntar kalo ada apa-apa sama aku gimana?” tanya Monic dengan alasan yang terlalu mengada-ada menurut Indra. Ini bukan hal pertama yang dilakukan oleh Monic untuk bisa berduaan dengan Indra, sehingga Indra pun paham dengan cara-cara Monic seperti ini.
Dengan berani Monic melingkarkan tangannya ke lengan Indra dan menempelkan tubuhnya dengan mengikis jarak ke tubuh kekar dan tinggi milik Indra. Di saat petir menyambar dan suara guntur menggelegar. Kesempatan ini tidak di sia-siakan oleh Monic untuk kembali mendesak Indra mengikuti keinginannya.
“Maaass! A-Aku takut mas, ayolah antar aku,” rengek Monic yang ketakutan, mampu membuat Indra tidak punya pilihan dan akhirnya mengikuti apa yang menjadi keinginan Monic. Indra mengusap kasar wajah tampannya, hujan semakin deras, Kondisi saat ini memang tidak pantas jika dia meninggalkan Monic sendirian disini.
“Ayo kita lari, hati-hati.” Titah Indra yang menggandeng tangan Monic untuk berlari menuju ke tempat mobil Indra di parkir. Monic senang bukan main, hatinya berbunga-bunga, ini sempurna sesuai dengan keinginannya.
Indra selalu membawa tabung air di dalam mobilnya, dan ini yang sedari tadi dilihat oleh Monic, Dia harus membuat Indra keluar dari mobil sehingga dia bisa menjalankan rencananya. Mobil bergerak meninggalkan halaman parkir kampus, mobil Monic akhirnya ditinggal, dengan rencana akan mencari bengkel untuk mendereknya.
__ADS_1
Hujan masih saja deras, Sesekali Monic melirik Indra yang tampak sangat tampan saat sedang serius memperhatikan jalan yang jarak pandang saat ini pendek sekali. Guntur terus saja bersahutan dengan kilat yang masih menyambar-nyambar.
“Monic,Aku mau mengisi bahan bakar, dan nampaknya akan membutuhkan waktu karena antriannya panjang.” Ucap rangga memecah kesunyian yang sedari tadi mengurung mereka.
“Iya mas, nggak papa, aku santai kok.” Jawab Monic dengan senyum terbaiknya. Monic yang biasanya cerewet, tiba-tiba berubah menjadi pendiam dan sopan.
Setelah sekian banyak antrian, tibalah mobil milik Indra yang mengisi bahan bakar. Indra keluar dari mobilnya dan mengontrol petugas yang mengisi bahan bakar mobilnya. Setelah itu dengan cepat pria itu membayar dengan sejumlah uang kepada petugas.
Brak!
Pintu mobil tertutup dan Indra dengan pelan melajukan mobilnya, hujan masih deras, belum ada tanda-tanda reda sedikitpun. Indra hanya melempar senyum kepada Monic yang sedari tadi duduk tenang di sebelahnya. Tidak ada pembicaraan yang mereka lakukan, suara musik pun tidak ada, karena suara hujan yang luar biasa.
Indra membuka botol minumnya, karena tenggorokannya yang terasa kering. dia teringat ada menyimpan air mineral kemasan botol di kantong bangku, merasa tidak enak minum sendirian, Indra menawari Monic untuk mengambil sendiri minuman itu.
“Iya mas, aku minta ya, haus juga rasanya, hehehe,” jawab Monic dengan tangan yang terulur merogoh kantong bangku. Tubuh Monic yang akhirnya dekat dengan Indra membuat jantung indra berdegup kencang. Aroma parfum Monic membuat tubuhnya mendadak panas.
‘Kenapa badanku jadi panas gini, padahal hawanya dingin dan AC nya juga dingin. Wangi nya Monic bikin aku nggak konsentrasi deh,’ Indra bermonolog dalam hatinya, rasa gelisah dan entah kenapa kini suhu tubuhnya memanas.
Monic melihat perubahan di wajah putih milik Indra tersenyum tipis, hatinya girang, tinggal selangkah lagi dia akan mendapatkan yang dia inginkan. Sedikit merubah posisi duduknya sehingga rok nya tersingkap dan memamerkan paha mulus yang langsung menarik perhatian Indra. Tubuh pria dewasa yang biasanya sangat terjaga dari godaan wanita itu pun bereaksi cepat.
Pusaka yang belum pernah dibawa bertempur itu terus memberontak liar seakan melihat penantang yang siap berperang. Monic tidak membuang waktu, saat mobil oleng karena menyalib kendaraan yang ada di depan, dengan sengaja Monic menyandarkan tubuhnya ke tubuh Indra. Indra yang tadinya hanya merasa itu efek dari bantingan stir nya yang mengakibatkan tubuh Monic terhempas ke arahnya.
Tapi sungguh di luar dugaan, Indra merasakan jiwa lelakinya berontak keras, ada sesuatu yang mendorongnya untuk menuntaskan hasrat menggebu itu. Kembali pria itu meminum air di botol karena kerongkongannya haus, mengendalikan hasrat itu sungguh berat bagi Indra, karena ini tidak pernah dia rasakan sebelumnya.
__ADS_1
Indra merasa Akal sehatnya mulai hilang. Mobil pun sampai di rumah Monic, ada rasa sedikit lega di hatinya karena akan segera pulang setelah Monic turun. Dengan segera Monic keluar dari mobil untuk melihat kondisi rumahnya. Ternyata sepi, kedua orang tuanya tidak ada dirumah.
Indra yang masih terdiam di dalam Mobil seperti orang ling lung. Monic kembali dengan cepat seakan ada yang terlupa, gadis itu menghampiri Indra untuk mengucapkan terimakasih. Dengan membuka pintu Indra, Monik sengaja membungkukkan badannya sehingga ada bongkahan mulus yang mengintip dan itu terlihat menggoda di mata Indra.
“Mas mau mampir dulu? maaf tadi aku buru-buru turun, sampe lupa nawarin mas Indra mampir.” ucap Monic yang dengan senyum manis nya menawarkan singgah.
Indra yang sudah mulai kehilangan kewarasannya mengangguk dan mengikuti langkah Monic. Gadis itu menggandeng tangan Indra dengan riang melangkah memasuki rumah besarnya yang sepi.
Brak!
Pintu ditutup oleh Monic dan entah siapa yang lebih dulu memulai kini mereka berpelukan dan Indra mengikuti instingnya sebagai seorang laki-laki yang sedang menuntut untuk melepaskan dahaganya. Rumah yang sepi, asisten rumah tangga yang sedang pergi entah kemana membuat Monic seperti mendapatkan restu alam untuk melancarkan aksi jebakannya, dan Indra pun masuk dalam perangkap kenikmatan yang membuat nya melupakan janji makan malam bersama Ningsih.
Sejak saat itu, Indra tidak bisa lepas dari rengekan Monic yang terus saja menggiringnya ke lembah dosa. Sampai pada akhirnya Indra tersadar saat Monic sudah berbadan dua dan itu sudah pasti adalah benihnya yang hidup di rahim Monic.
NIngsih patah hati, mengetahui kekasihnya yang sudah berjanji untuk menikah sebelum berangkat ke London, kini harus bertanggung jawab atas kehamilan Monic. Hubungan Ningsih dan Monic sempat hancur, tapi karena mereka masih saudara Ningsih yang memang berhati lembut dan bukan orang yang suka mendendam, akhirnya memilih untuk memaafkan Monic dan menerima perjodohan orang tuanya dengan Boby yang ternyata mampu membuat hari-harinya bahagia.
Kebahagiaan Ningsih kembali mengusik hati Monic, dan karena itulah wanita itu kini berada di rumah besar milik Ningsih dan Boby.
Flashback off
❤️❤️❤️
Waspada ya pemirsa, ternyata Monic dan Betty bener-bener jelmaan ulet bulu.
__ADS_1
Marii pemirsa aku menunggu boom Like nya dan komen juga vote plus hadiah ya. Tengkyuuuhh pemirsaaahh ku tercinta ❤️❤️🌹🌹😘😘