Janda Mandul

Janda Mandul
Bab 169: Almarhumah Betty


__ADS_3

Rangga shock saat melihat tayangan di televisi, walau wajah Betty di blur, tapi gelang yang berada di tangan jasad korban itu sangat dikenal oleh Rangga. 


Ceklek!


"Arsi, Rangga. Maaf mama lupa ngetok pintu, Betty bunuh diri Ga. Apa kalian sudah tau?" Tanya Ningsih dengan raut wajah yang tegang. Wanita berumur paruh baya tersebut barusan mendapatkan pesan dari kerabatnya dan ternyata sudah ada beritanya di televisi.


"Sudah ma, barusan tadi. Apa itu benar?" Tanya Rangga. Pria itu masih antara yakin dan tidak dengan apa yang barusan dilihatnya. 


"Monic sendiri tidak bisa di hubungi, wanita itu seperti hilang di telan bumi. Entah apa yang terjadi dengan mereka sebenarnya," ucap Ningsih sambil mendudukkan dirinya pada sofa yang ada di kamar Rangga. 


Rangga dan Ngarsinah memang tidak lagi mengurusi tentang Betty dan Monic. Setelah peristiwa pecah perang di desa Rorocobek sebulan yang lalu, mereka bisa menjalani hidup dengan tenang dan tidak ada gangguan apapun. 


"Rangga sendiri sebenarnya tidak ingin tau lagi dengan mereka ma, bukan membenci tapi lebih tepatnya membuat batasan tegas dengan mereka. Kecuali ada pihak rumah sakit atau kepolisian yang menghubungi kita ma, ba–" belum selesai Rangga bicara, ponselnya berdering. 


Kriiing!


"Hallo selamat siang," ucap rangga. 


"Selamat siang, maaf apakah benar ini bapak Rangga? Kami dari rumah sakit pusat pak," sahut suara dari seberang sana. 

__ADS_1


"Iya benar pak, saya Rangga. Maaf ada apa ya pak?" Tanya Rangga berusaha tenang. Pria itu sudah menebak apa yang akan selanjutnya terjadi. 


"Kami meminta bapak bisa datang ke rumah sakit sekarang, untuk mengurus jenazah atas nama saudari Betty. terimakasih pak," ucap pria yang ternyata adalah pihak rumah sakit. 


"Baik pak, saya akan datang kesana." 


Setelah menyelesaikan panggilan tadi Rangga pun menatap Arsi dan Ningsih, seakan dia meminta pendapat kepada kedua wanita yang sangat dia sayangi itu. 


"Pergilah mas, sama papa aja. Aku dan mama jaga anak-anak, nanti kalau teman-teman pada datang biar aku dan mama yang sambut," ucap Arsi lembut, wanita itu sungguh lapang hati. 


"Iya Ga, kamu sama papa aja. Mama kebawah dulu ya mau ngasih tau papa, kamu siap-siap sekarang. Biar cepet beres Ga," sahut Ningsih menimpali ucapan Ngarsinah. 


"Mas, hati-hatilah di jalan. Oya apakah kita perlu menghubungi abang?" Tanya Arsi. Walau bagaimanapun suka atau tidak mereka saling terhubung dengan Betty. 


"Ahh … iya sayang, kenapa mas bisa lupa? Ya udah sebentar aku hubungi abang dulu," ucap Rangga dengan segera menghubungi Jack.  


Di bawah langit yang sama, di tempat yang berbeda. Jack masih bersantai di ranjang king size dengan istri mungilnya, walaupun sudah berencana untuk belanja dan ikut acara liburan dengan saudara-saudara angkatnya namun pria itu masih ingin menambah jatah. 


Hal itu membuat Sarah kelelahan dan kembali terhanyut dalam tidur nyenyaknya. Jack hanya tersenyum melihat Sarah yang tertidur dalam damai, pria itu mengusap lembut pipi mulus yang mulai berisi itu. 

__ADS_1


Ponselnya berdering, Jack dengan cepat menyambar dan melihat siapa yang menghubunginya. Pria itu beralih dari ranjang dengan menutup area bawahnya dengan handuk yang tergeletak di nakas, Jack melangkah ke arah balkon kamar agar tidak mengganggu tidur nyenyak sang istri.


Setelah panggilan Rangga terhubung, mereka pun bicara dengan serius. Jack sebenarnya tidak ingin terlibat apapun yang berkaitan dengan Betty, tapi dia juga tidak ingin membuat Rangga menemui kesulitan saat menemui masalah saat mengurus jenazah Betty. 


Panggilan pun diputus, pria itu segera membersihkan diri setelah itu dia berniat membangunkan Sarah untuk bersiap ke rumah Arsi. 


Saat Jack mandi, Sarah pun terbangun dari tidurnya. Wanita itu merasa lapar yang tidak terhingga, namun entah kenapa dia merasa sedih tanpa sebab. Wanita cantik itu pun bingung dengan dirinya sendiri, Sarah melihat ada beberapa makanan di toples dan tanpa berpikir panjang dia pun mulai melahapnya dengan cepat.  


Tapi anehnya dia makan dengan lahap dan bercucuran air mata, Jack sudah keluar dari kamar mandi dan masih menggunakan handuk untuk mengamankan area berbahayanya. Sesaat pria itu bingung dengan istrinya yang sedang makan cemilan tapi sambil menangis, sungguh pemandangan yang aneh. 


"Sayang, kamu nangis kenapa? Apa ada yang menyakitimu?" Tanya Jack. Sarah mengangkat wajahnya, tangis wanita itu semakin pecah saat melihat dada bidang milik Jack. 


"Abang yang nyakitin aku!" 


❤️❤️❤️


Aduuuhh ada apa lagi ini si Sarah 🤔


Yuukk like, komen, vote dan subscribe ya. Janga. Lupa hadiahnya, tengkyuuhh pemirsaahhh.

__ADS_1


❤️❤️❤️🤔🤔🤔❤️❤️❤️


__ADS_2