
"Alhamdulillah ya Allah, tidak ada yang tidak mungkin jika Allah menghendaki. Sayang, kita periksa ke dokter ya?" Tanya Rangga setelah pria itu dengan spontan sujud syukur dan kembali memeluk sang istri tercinta. Ningsih merasakan kebahagiaan yang luar biasa, wanita paruh baya itu ikut meneteskan air mata bahagia.
"Nak, mama ikut ya ke dokter? Biar si kembar sama suster dulu atau di titipin ke Yuni," pinta Ningsih yang tidak bisa menahan rasa bahagianya. Rangga setuju, pria itu sudah tidak sabar ingin memastikan kebenarannya.
Setelah mengatur semuanyanya, mereka bertiga berangkat ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan senyum Rangga tidak pernah lepas dari bibirnya, sementara Ngarsinah sedikit takut kalau nanti hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan.
"Mas… berhenti sebentar ya, aku pengen beli cilok. Yang disitu aja mas," pinta Ngarsinah yang tiba-tiba saja dia ingin makan cilok. Rangga dengan senang hati menuruti keinginan sang istri, jangan sampai nanti si calon bayi ileran karena tidak terpenuhi keinginannya.
"Iya sayang, sebentar ya … kamu disini aja biar aku yang beli. Mama juga mau?" Tanya Rangga kepada sang mama yang duduk di bangku penumpang sebelah belakang.
"Nggak Ga, biar nak Arsi aja. Itu kan dia lagi ngidam Ga," jawab Ningsih yang merasa lucu melihat Arsi mulai senang makan. Pipi wanita itu kini mulai kelihatan chubby, namun Arsi akan tersinggung jika ada yang mengatakan hal itu.
"Ok deh, tunggu bentar ya sayang," ucap Rangga, dan Ngarsinah hanya mengangguk dengan mata berbinar. Tidak butuh waktu lama satu kresek cilok Rangga belikan dengan level pedas yang sedang. Pria itu takut nanti akan menyakiti bayi mereka.
"Banyak banget mas?" Tanya Arsi yang merasa cilok nya kebanyakan. Rangga hanya tersenyum dan melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Sepanjang perjalanan entah berapa kali Ngarsinah minta dibelikan jajanan street food berbagai jenis.
"Katanya tadi ciloknya kebanyakan … tapi itu kok habis sayang?" Tanya Rangga yang tersenyum lebar melihat tingkah istrinya. Ngarsinah sudah seperti mesin giling yang tidak berhenti mengunyah, tanpa terasa sekresek cilok kandas. Leker yang dibeli juga kini tinggal remahannya, dan kini giliran Pukis.
"Ini karena enak banget mas, kalo nggak enak kan gak mungkin habis, hehehe. Mama mau pukisnya? Enak loh ma," tawar Arsi kepada Ningsih. Rangga hanya geleng-geleng kepala, istrinya itu sungguh menggemaskan. Kenapa juga harus ngeles dengan alasan makanannya enak. Ningsih sudah merasa kenyang melihat sang menantu yang makannya kayak orang tidak makan selama seminggu, tapi wanita paruh baya itu merasa senang karena sepertinya Ngarsinah tidak mengalami mual seperti kebanyakan wanita yang baru saja hamil.
__ADS_1
"Buat kamu aja sayang, ntar kurang," tolak Ningsih halus, dan tanpa sungkan Ngarsinah hanya mengangguk. Pukis yang ditawarkan tadi kepada sang mama mertua kini sudah mendarat di mulutnya.
"Alhamdulillah, kenyang mas …." Ucap Ngarsinah yang sudah mengemas semua plastik bekas jajanannya. Wanita itu seperti kehilangan urat malu nya, dengan santai dia menyandarkan punggung dan entah beberapa kali menguap.
Jalanan yang macet membuat wanita itu punya kesempatan untuk memejamkan matanya, Rangga merasa gemas dengan tingkah laku istrinya yang seperti anak kecil.
Sampai di parkiran rumah sakit, Rangga memarkirkan mobilnya dan membukakan pintu untuk mama dan istrinya. Sebagai suami siaga, Rangga dengan cepat mendaftarkan sang istri dan menyuruh Ngarsinah untuk duduk di kursi tunggu.
*****
Novi berencana untuk memeriksakan dirinya ke dokter kandungan yang ada di rumah sakit, tapi hari ini dia sengaja tidak membawa David untuk menemani. Kali ini dia akan berjuang sendiri, untuk mempertahankan posisinya, dia harus bisa segera hamil anaknya David. Seperti itulah yang ada dalam pikiran wanita cantik itu, Novi tampak tergesa-gesa menyusuri koridor panjang rumah sakit.
“Heey Novi, lama ya kita nggak ketemu. Tumben kamu nemuin aku, biasanya kamu ke dokter sebelah kan?” Tanya Siska, Novi selama ini diam-diam menemui Siska, David tidak suka berurusan dengan teman Novi untuk urusan program hamil, pria itu akan memilih dokter yang dia yakini saja.
“Ya … kamu tau lah David seperti apa orangnya, Siska, aku kok ngerasa ada yang gak beres deh sama aku. Kemaren kan sudah cek lab dan semuanya, aku dinyatakan subur, tapi kenapa sampai sekarang aku nggak kunjung hamil?” Tanya Novi dengan wajah yang sendu. Wanita itu merasa kecewa sekaligus bingung, terkadang ingin marah tapi kemana dia akan melampiaskan amarahnya.
“Coba ya kita periksa, banyak kok yang seperti ini Nov, dan terkadang sampai puluhan tahun, baru mereka mendapatkan momongan. Kamu yang sabar ya ….” Siska membawa Novi untuk naik ke tempat tidur pasien, dokter cantik itu pelan-pelan memeriksakan kondisi Novi, tidak lupa lia pun memeriksanya dengan menggunakan alat USG.
“Semua aman Nov, aku rasa ini tidak ada masalah. Secara medis kamu sehat, Nov tinggal satu tahap lagi saja yang harus kamu lakukan. Meminta dengan sungguh-sungguh kepada sang pemilik hidup,” ucap Novi dengan tatapan serius, kini kedua wanita itu sudah kembali duduk berhadapan dan hanya terhalang oleh meja kerja Siska.
__ADS_1
“Tuhan sudah tidak adil kepadaku Sis, apa kekuranganku? jika Tuhan tidak percaya kepadaku, itu kan tidak masuk akal. Kami sangat berkecukupan dan hal itu sudah tentu bisa menjaga dan membesarkan titipan-Nya. terkadang aku ingin marah dengan keadaan ini Sis,” jawab Novi dengan menggebu-gebu. Sepertinya wanita itu tidak memahami apa yang dimaksud oleh Siska, makanya dia merasa marah dengan sang maha memiliki segalanya.
Siska menarik nafasnya dalam, dokter spesialis kandungan itu menyandarkan punggung pada sandaran kursi kebesarannya. Untuk sesaat Siska hanya mendengarkan semua keluh kesah pasiennya yang kini sudah menangis, tidak sedikitpun Siska menyela. Baginya ketika orang sedang emosi tidak akan ada gunanya sebuah nasehat.
Rutukan demi rutukan Novi keluarkan sebagai bentuk kekecewaannya terhadap Tuhan, hal ini membuat wanita itu terlihat kacau dengan air mata yang kini sudah membasahi kedua pipi mulusnya.
“Kamu tu Siska, dulu Ngarsinah di ceraikan karena dia tidak bisa memberikan keturunan untuk David, dan sekarang David berencana unntuk menikah lagi dengan janda anak satu. Aku nggak mau di buang sama David Sis, hiks … hiks.” Tangisan Novi tidak bisa di tahan lagi, wanita itu tidak tau harus menumpahkan isi hatinya kepada siapa, dia sadar saat ini orang yang bisa mendengarkan dan mengerti akan dirinya hanya Siska.
Teman-teman arisannya akan dengan suka cita menjadikan dirinya bahan gunjingan, jika Novi mencurahkan isi hatinya kepada mereka. Siska memahami apa yang kini Novi rasakan, tetapi Siska juga harus membuat Novi segera sadar bahwa bermusuhan dengan tuhan bukanlah keputusan yang bijak.
“Novi, Kita sebagai manusia tidak akan luput dari salah dan dosa. Aku hanya bisa memberikanmu saran, berdamailah dengan ambisimu. Dekati Tuhan dan minta ampunan untuk semua salah dan dosamu, Jangan teruskan kamu memusuhi Tuhan Nov,”
❤️❤️❤️
Semoga kamu mau menyadari kesalahan mu Nov. kok aku jadi mellow ya 🥺
Hayuuukk jempolnya pemirsaahh, komen,, vote dan hadiahnya jangan lupa ya. Tengkyuuuhh pemirsaaahh
❤️❤️❤️🥰🌹🌹🌹
__ADS_1