
Rangga yang mendengar suara putrinya menangis langsung bergegas menuju ruang tengah. Yuni yang baru saja hari ini melihat wajah Rangga dengan jelas, tampak terkagum-kagum dengan ketampanan duda anak kembar itu.
'Ya Allah, sungguh indah ciptaanMu,' gumamnya dalam hati. "Dedek kenapa mbak?" Tanya Rangga yang langsung melihat lutut putrinya masih mengeluarkan darah.
"Ini mas, tadi main sama kakak di belakang, saya ada di kamar sama Yuni lagi kemas barang, tau-tau dedek manggil dan udah luka," penjelasan Arsi membuat Rangga menghujamkan pandangannya kepada Arya. Anak laki-laki itu pun menunduk sambil mengaitkan kesepuluh jarinya, matanya mengembun karena takut dengan amarah sang papa.
"Huuuuuaaaa, sakiiiit maa, huu huu," tangis Arista masih turun naik nadanya. "Cuup sayang, kita obatin ya?" Bujuk Arsi sambil mengusap punggung gadis kecil yang menempel seperti koala di tubuhnya.
"Taakuuut maa hiks … hiks" jawab Arista masih nangis sesenggukan.
"Kakak, kenapa dedek bisa luka begitu? Kamu kemana? Kenapa nggak jagain adek?" Pertanyaan beruntun yang Rangga berikan kepada putranya membuat cairan bening di mata Arya lolos dari bendungannya.
"Yun tolong ambilkan obat merah ya di kotak obat," pinta Ngarsinah kepada sahabatnya yang di jawab anggukan oleh Yuni. "Mas tenang dulu, kakak nggak salah, nggak ada yang salah. Mas udah bikin dia takut," Ngarsinah mengingatkan Rangga dengan lembut, dan langsung mengambil tubuh pria kecil yang duduk di sebelahnya untuk masuk kedalam pelukannya.
Arya sedikit tersentak dengan pelukan Arsi yang membuatnya nyaman seketika. "Maafin kakak pa, tadi kami main, kakak nggak liat adek lagi ngapain, tau-tau adek udah jatuh terus luka karena kena pecahan pot bunga di halaman belakang." Arya berusaha menjelaskan kepada sang ayah apa yang tadi terjadi di belakang.
Rangga mensejajarkan tubuhnya di hadapan putranya yang ketakutan dalam pelukan Ngarsinah. Pria tampan itu mengusap wajahnya kasar.
'Arsi, kamu berhasil membuat anak-anak ku merasa nyaman dalam pelukanmu, aku jadi ingin dipeluk kamu, hadeehh kenapa aku jadi mikir kesitu sihh!' gumam pria itu yang hanya mampu bergumam dalam hatinya saja.
__ADS_1
“Lain kali kakak lebih perhatian ya sama adek, jangan asik sendiri, maafin papa tadi sudah bentak kakak, mau kan maafin papa?” Rangga berusaha menurunkan emosinya karena melihat anaknya yang ketakutan, pria tampan itu pun tidak segan meminta maaf kepada putra tampannya.
Arya langsung menghambur ke dalam pelukan ayahnya dengan mengalungkan tangan di leher kekar sang ayah tercinta. “Maafin kakak pa, hiks, besok nggak gitu lagi pa,” Ngarsinah yang masih sibuk membujuk gadis kecil yang masih berderai air mata itu dengan sabar, dia tersenyum melihat anak dan ayah yang sedang berpelukan itu.
Yuni mengambil disisi lain untuk membantu membujuk gadis kecil itu agar mau di obati. Darah yang meleleh sedari tadi mulai mengering dan bertumpuk dengan darah baru yang masih saja keluar.
Drama bujuk membujuk masih belum selesai, membuat Rangga putus asa dengan tangisan anaknya yang kadang reda kadang heboh. Sementara Ngarsinah masih berusaha membujuk dengan berbagai cara.
Akhirnya Arista mulai lelah menangis. Tubuhnya yang masih menempel seperti koala di tubuh Arsi, mulai melemah dan bersandar pasrah tanpa perlawanan. Ngarsinah berhasil membuat Arista mau untuk diobati kakinya. Setelah dengan perjuangan yang membuat kerudung arsi basah dengan air mata dan ingus gadis kecil itu, akhirnya luka pun berhasil ditutup dengan kasa yang sudah diberi obat pada lukanya.
Gadis kecil yang sedari tadi menangis pun akhirnya lelah dan mengantuk. Sesekali masih saja Arista sesenggukan dalam tidurnya. Yuni mengambil lap dan baskom berisi air, dengan sabar Ngarsinah membersihkan wajah gadis kecil yang kini mulai menguasai hatinya.
Bu Yem dan pak Slamet sibuk membersihkan rumah terutama kamar, melihat kedua bocah itu mulai lelah mereka pun mengajak Arya untuk tidur siang dulu, nanti kalau makan siang sudah siap mereka akan di bangunkan.
Pria kecil itu hanya mengangguk dan tidak melepaskan tangannya yang sedari tadi memegang ujung baju Arsi. Setelah menidurkan kedua bocah kecil yang tampak mulai pulas itu, perlahan Ngarsinah turun dari ranjang itu. Pintu kamar yang sengaja dibuka dengan tujuan agar bisa mendengar ketika mereka bangun.
*****
Waktu berlalu dari detik menjadi menit dan berganti jam. Kebersamaan yang sebentar tapi memberikan kesan mendalam bagi Rangga, dia seperti menemukan keluarga baru yang sederhana dan apa adanya.
__ADS_1
Kini mereka berempat siap-siap untuk kembali kekota sebelum hari semakin gelap. Arsi dan bu Yem juga Yuni tampak saling berderai air mata karna akan berpisah dalam waktu yang lama.
"Ndok sering-sering pulang kesini ya, rumah ini juga rumah mu ndok, ibu dan bapak juga anak-anak sudah menganggap kamu itu anak kami, jadi jangan pernah kamu berpikir kalo kamu sudah nggak punya apa-apa disini ya," pinta bu Yem kepada Ngarsinah yang sebentar lagi akan menetap di kota.
"Iya bu, nanti kalo pas libur kerja Arsi akan main kesini, atau ibu dan bapak yang ke kota. Arsi pun sudah menganggap keluarga ini seperti keluarga Arsi sendiri bu, ibu jangan sedih ya, doakan Arsi bisa menjadi lebih baik lagi dan bisa membuat bapak dan ibu bangga." Ngarsinah berusaha untuk terus menenangkan ibu angkatnya yang entah sudah berapa kali menciumi wajahnya.
Sekarang pelukannya berpindah pada Yuni. Gadis itu kembali menangis karena disaat dia sedang sedih saat ini, sebenarnya dia sangat membutuhkan pundak sahabatnya untuk bersandar sejenak. Tapi hidup harus maju dan menatap kedepan, apa yang terjadi di hari kemarin semuanya akan menjadi pelajaran untuk bekal menapaki kehidupan selanjutnya.
"Arsi kalo aku suatu hari nanti ingin mengadu nasib di kota bersamamu apa kamu nggak keberatan aku numpang di rumahmu?" Tanya Yuni setelah merenggangkan pelukannya. "Yun, kita itu saudara, bukan hanya sahabat, kapanpun kamu mau kesana pintu itu selalu terbuka untuk mu, dan jangan pernah ragu ketika kamu sudah menentukan untuk hijrah ke kota. Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, jika kaum itu tidak berusaha keras untuk merubahnya," jawaban Ngarsinah yang panjang lebar diikuti oleh sebuah kutipan firman Allah membuat hati Yuni menjadi tenang sekaligus senang.
Rangga yang mendengarkan kalimat itu semakin kagum dengan sosok Ngarsinah. 'Nggak salah putri ku nyomblangin aku sama si calon janda cantik ini, ya Allah segerakanlah aku bisa memilikinya,' kembali Rangga hanya mampu bicara dalam hati, jika sampai kalimat itu keluar dan Ngarsinah tidak berkenan, maka habislah dia akan dijauhi oleh calon masa depannya.
Arista yang masih berpegangan tangan dengan Ngarsinah tiba-tiba bertanya yang membuat bu Yem dan pak Slamet saling memandang penuh arti. “Mama, pulang kerumah dedek aja, kalo nggak mau, dedek yang pulang kerumah mama!” Ngarsinah agak bingung menjawab pertanyaan sekaligus permintaan gadis kecil itu. “Sayang, gini deh, nanti kalo rumah mama sudah beres, dedek boleh nginep di rumah mama, tapi harus ada izin dari papa, setuju?” akhirnya Ngarsinah menemukan jawaban yang dia harap dapat dimengerti oleh Arista.
“Papa juga harus bobok di rumah mama, kakak juga, jadi dedek bisa pamer sama Cintya kalo sekarang dedek punya mama dan papa,”
❤️❤️❤️
Eeaaaa cakeeepp dedek, gaskeen dek biar papa cepet bertindak 😂. Yuukk kasih jempol menarinya pemirsakuuhh, jgn lupa ya komen, subscribe, hadiah dan vote nya. ❤️ selautan untuk pemirsa tercinta 😘😘
__ADS_1