
"Sebenarnya soal status itu bukan masalah jeng Ningsih, semua orang itu punya masa lalu, Betty dari dulu itu mencintai Rangga, jeng. makanya aku berani ngomong begini, dia sekolah di luar negeri pun masih setia menjaga cintanya." Jelas Monic sendu, wanita itu nampak serius menceritakan kisah cinta putrinya yang belum kesampaian, mulai dari Rangga bujangan sampai pria idaman itu menduda.
Ningsih yang mendengarkan hal itu, terusik hatinya, ada rasa iba yang menjalar. Sebagai seorang ibu, Ningsih bisa merasakan apa yang Monic rasakan saat ini. Tapi mengingat masa lalu, membuat Ningsih takut berhubungan dengan keluarga Monic.
"Jeng, kenapa nggak coba mencarikan jodoh dengan yang lebih sepadan dengan Betty, dia gadis yang baik dan cerdas juga cantik. Aku yakin akan mudah untuk mendapatkan pria terbaik untuknya." balas Ningsih menolak secara halus dan masih dengan rasa tidak enak. Ningsih selama ini tidak pernah mengatur kehidupan pribadi putranya, karena keinginannya sangat sederhana, putra dan cucunya bahagia itu sudah sangat cukup baginya.
“Betty itu penyayang anak-anak jeng, aku yakin si kembar akan bahagia bersama putriku.” Statement Monic yang penuh keyakinan itu membuat Ningsih terdiam dan menatap lurus pada sepasang netra milik Monic.
‘Monic, kamu masih saja nggak berubah, sedari dulu selalu memaksakan kehendak, apa yang menjadi milikku selalu saja menarik perhatianmu.’ Gumam Ningsih dalam hatinya. Wanita paruh baya yang sederhana itu terdiam, bingung harus menjawab apa lagi, menghadapi kerasnya Monic sama seperti menghadapi batu karang, Jika menabrak kita yang hancur, jika di usap kita bisa terluka karena ketajamannya.
“Jeng Monic, biarkan Rangga yang menentukan ya, aku tidak bisa mengajukan atau mengusahakan apapun untuk hubungan Betty dan Rangga, maafkan aku jeng.” Ucap Ningsih dengan rasa putus asa. Menghadapi orang keras kepala, selalu membuat rasa kesal memenuhi rongga dada.
Monic tersenyum penuh arti, tangannya mengambil tangan Ningsih, dengan gerakan teratur wanita itu mengusap lembut tangan Ningsih. Untuk sesaat Ningsih merasakan hal aneh yang menjalari perasaannya, bulu-bulu halus di tangannya kembali meremang tanda merespon apa yang dilakukan oleh Monic.
“Jeng Ningsih tidak usah khawatir, aku akan melakukan yang terbaik untuk putra-putri kita, cukup berikan restumu untuk mereka, dan biarkan aku yang bekerja,” ucap Monic dengan nada yang dingin dan sulit diartikan. Jantung Ningsih berdetak cepat, pandangan mereka saling mengunci, dan entah kekuatan dari mana Ningsih mengangguk pelan tanda setuju dengan permintaan Monic.
“Bagus, kau memang saudari sepupuku yang baik,” ucap Monic melanjutkan dengan senyum menyeringai penuh arti. Ningsih yang masih belum membuang pandang dari Monic, menurut dan ikut tersenyum.
__ADS_1
Pikiran dan hati wanita itu seakan melayang entah kemana, apa yang sudah dilakukan Monic kepada Ningsih? Secara tiba-tiba Ningsih menyetujui apa yang diinginkan Monic padahal tadi dia sempat menolak.
“Ningsih hari kamu masak apa? aku kangen lo sama masakanmu,” ucap Monic riang, dan membuyarkan pandangan kosong Ningsih. ibunda Rangga itu itu mengerjap seakan baru saja tersadar dari lamunannya.
“Ya, ya ayo kita makan siang bersama, aku masak makanan kesukaan cucu-cucu ku. Monic kamu kan biasa makan enak, apa kamu mau makan masakan sederhana di rumah ku ini,” jawab Ningsih dengan riang, seakan kejadian barusan tidak pernah terjadi pada dirinya. Buru-buru wanita paruh baya yang masih cantik itu berdiri dan bersiap untuk melangkah ke arah dapur.
“Kau siapkanlah dulu, aku tidak mau pakaian mahal ku ini kotor terkena kecipratan masakanmu, aku akan mencicipi cemilan ini dulu, sayang kalau dilewatkan.” ucap Monic dengan santai, wanita sosialita itu memang selalu seperti itu, berbicara tinggi bukan hal aneh baginya.
Di ruangan lain, Ngarsinah tanpa sengaja mendengarkan semua pembicaraan kedua wanita itu dengan sangat jelas, karena posisi kamarnya yang dekat dengan ruang tamu. Ngarsinah kembali masuk kedalam kamarnya.
"Mas Rangga akan bersama Betty, itu artinya aku tidak boleh menerima ucapan manis darinya. Dan sepertinya aku sudah lebih baik sekarang, aku harus kembali ke rumahku." Gumam Arsi lirih, wanita itu sedang bicara pada dirinya, hatinya tiba-tiba merasa kosong.
Yuni dengan senang hati menjawab pesan dari sahabatnya. Ngarsinah melanjutkan berkemas. Dia mendengar kedua orang wanita itu masih asik mengobrol di ruang makan, hati-hati Ngarsinah berbenah tanpa menimbulkan kecurigaan karena berisik.
Tanpa terasa waktu berlalu, Monic akhirnya pamit pulang dengan senyum bahagia, sebentar lagi apa yang menjadi tujuannya akan dia dapatkan. Pikiran wanita itu sudah fokus ke sebuah desa untuk menemui seseorang yang selama ini membantunya untuk mencapai keinginannya.
Ningsih memanggil Ngarinah untuk mengingatkan gadis itu makan sebelum makan obat. Sebentar lagi cucu-cucunya juga akan pulang sekolah. Ngarsnah yang masih sibuk memasukkan barang-barangnya ke dalam koper terkejut karena pintu dibuka.
__ADS_1
“Nak Arsi mau kemana?” tanya Ningsih bingung melihat apa yang dilakukan Ngarsinah. Perban di kepala wanita itu sudah dilepas, lukanya juga sudah mulai mengering. Jadi sudah tepat alasan untuk dia kembali ke rumahnya.
“Ibu, ayo masuk bu,” ajak Ngarsinah, gadis itu belum lagi menjawab pertanyaan sang tuan rumah, dengan pelan wanita cantik itu membimbing Ningsih duduk di pinggir ranjang.
“Ibu, Arsi sudah merasa lebih baik, jadi niatnya mau pulang ke rumah, kasihan rumah bu sudah lama nggak ditempati,” jawab Ngarsinah atas pertanyaan Ningsih tadi. Senyum menenangkan milik gadis itu selalu berhasil membuat siapapun merasa nyaman.
“Apakah kamu nggak mau nemani ibu disini nak?” tanya Ningsih dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Wanita paruh baya dan berhati baik itu tidak rela melepaskan Ngarsinah untuk kembali ke rumahnya, selama sebulan lebih gadis itu mampu membuat si kembar kembali ceria dan bersemangat, bahkan Arya yang awalnya manggil tante, karena peristiwa itulah bocah tampan yang pendiam mengubah panggilan menjadi mama.
“Ibu, jangan sedih gitu, Arsi sudah merepotkan ibu selama tinggal disini. Anak-anak bisa main ke rumah bu kalo mereka sedang ingin main. Ibu juga bisa main kerumah Arsi kalau lagi bosan disini.” Jawab Arsi dengan menekan rasa sedih yang menguasai hatinya.
Kedua wanita beda generasi itu masih asik terus mengobrol, Ningsih terpaksa harus merelakan Ngarsinah untuk kembali ke rumahnya, Setelah si kembar pulang, dia akan berpamitan, jika harus menunggu Rangga pulang kerja maka akan kemalaman, walau jarak rumah Ngarsinah dengan rumah Rangga tidak terlalu jauh tapi sebenarnya gadis itu ingin menghindari Rangga.
“Aku akan mengantarkanmu, jangan pulang sendirian, aku tidak mengijinkannya!”
❤️❤️❤️
Hmm Monic ini makin meresahkan ya, apakah Ngarsinah akan mundur?
__ADS_1
Yuuukk boom like nya pemirsaahh, vote, komen dan hadiaahnya yaaahh.. tengkyuuhh pemirsa 😘😘🌹❤️❤️