
"Fatim … tolong katakan yang sejujurnya, apa yang sudah kamu rahasiakan selama ini?" Tanya David dingin. Pria itu merasa kecolongan dengan kenyataan baru yang dia dengar dari dokter.
"Maksud Mas David apa?" Tanya Fatim yang masih terbaring lemah di brankar rumah sakit. Wanita itu baru saja mengalami pendarahan dan dilarikan ke rumah sakit, David baru saja mengetahui sebuah rahasia besar yang selama ini tidak dia ketahui.
Flashback on.
"Pak David, maaf saya harus mengatakan hal ini. Kondisi rahim istri anda sudah diangkat, dan pendarahan ini tidak berasal dari rahimnya."
Jedeeerrr!
David melongo tak percaya atas apa yang dia dengar, selama ini dia berharap akan mendapatkan anak dari istrinya yang baru. Tidak ingin membuat keributan, David berusaha tenang dan kembali menata ekspresi wajahnya.
"Iya dokter saya tau itu, apakah istri saya mengalami hal yang membahayakan?" Tanya David berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Tidak pak David, istri anda akan segera sembuh. Kami akan memberikan perawatan terbaik untuknya," ucap sang dokter tenang. Senyum tidak lepas dari bibirnya dan mereka pun kembali berbincang tentang kesehatan Fatim.
Flashback off.
__ADS_1
Fatim menundukkan kepalanya, wanita itu kini sudah tidak bisa lagi menyembunyikan sebuah rahasia besar dalam dirinya. Air mata tidak bisa lagi dibendung, tatapan tajam David membuat hatinya menciut.
"Mas David, semua terjadi saat aku masih gadis. Aku mengalami kecelakaan yang membentur perutku sehingga rahimku rusak dan harus diangkat, almarhum suamiku juga mengetahui hal itu dan dia menerima aku apa adanya. Apakah Mas David bersedia menerimaku yang seperti ini?" Tanya Fatim dengan derai air mata yang sudah membasahi pipinya.
David membuang nafasnya kasar, pria itu tidak bisa memutuskan sekarang harus menerima Fatim atau tidak. Pria itu menatap istrinya dengan tatapan yang berbeda dari biasanya, Fatim sendiri tidak bisa mengartikannya.
"Kenapa kamu tidak mengatakannya padaku di awal? Kamu tau kan aku berharap anak dari pernikahan kita?!" Tanya David dingin. Fatim hanya bisa mengangguk pelan, ingin rasanya dia berlari dan meninggalkan David yang sepertinya sedang kecewa padanya.
"Aku ingin memberitahu mas David, tapi … aku belum merasa siap mas," cicit Fatim. Wanita itu tidak sanggup lagu menatap kearah suaminya.
"Jay adalah anak yang Tuhan titipkan kepadaku dan almarhum suamiku, bayi merah itu diletakkan begitu saja oleh orang yang tidak mencintainya. Setelah satu minggu Jay kami rawat dan tidak ada yang mencari, maka kami putuskan untuk menjadikannya anak kami."
Fatim menjelaskan apa yang dia alami dan akhirnya sampailah Jay yang sekarang pun sudah mengisi hati David. Pria itu mengusap wajahnya kasar, dia kembali teringat dengan Ngarsinah mantan istrinya dia cerai karena mandul. Sekarang kembali Tuhan memberikan ujian berupa istri yang mandul.
"Ja-jadi sebenarnya saat kamu menjadi single mom itu dalam keadaan janda mandul?" Tanya David dengan ekspresi tak terbaca. Fatim tidak mampu menjawab,ada rasa nyeri yang membuat hatinya luka tapi tak berdarah.
Anggukan kecil wanita itu membuat David membuang nafasnya kasar dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Pria itu kembali teringat dirinya yang memberikan talak tiga pada Arsi, apakah kali ini dia juga akan memberikan talak 3 kepada Fatim? Bukankah Fatim jauh lebih baik dari Novi? Apakah nanti dia bisa menemukan wanita sebaik Fatim?
__ADS_1
Pertanyaan demi pertanyaan membuat kepala pria itu mau pecah, langkah apa yang harus dia ambil? Jay sudah sangat dia sayangi begitu juga dengan bocah itu. David berdiri dan sesaat tangannya mengusap kepala Fatim, pria itu melangkah ke arah pintu dan meninggalkan Fatim sendirian.
"Ya Allah, lembutkanlah hati suamiku, aku tidak ingin ada perceraian dalam rumah tangga kami, karena aku tau itu sangatlah engkau benci. Tolong aku ya Allah," doa Fatim yang dilangitkan dengan hati pilu. Wanita itu merasa rapuh saat ini, ingin pergi meninggalkan David tapi dirinya masih takut akan dosa.
David melangkah menuju taman yang ada di halaman rumah sakit, pria itu duduk sendirian dan berniat menenangkan pikiran. Hatinya sungguh dihantam kesedihan, mengetahui apa yang dia lihat dan dengar saat ini membuat hati pria itu berada di persimpangan.
Oweeekk … oweeekk!
"Cup sayang, tenanglah, mama disini. Hiks … jangan menangis nak, nanti papa tidak akan tenang di alam sana. Cup … cup sayang," seorang wanita sedang menenangkan bayinya dan sedang berusaha untuk menahan tangisnya sendiri.
"Samira …"
❤️❤️❤️
Haaii pemirsaahh Janda Mandul, kembali lagi kita di sesion 2 ya. Akan ada kisah seru dari keluarga Jandul loohh.
Jangan lupa like, komen, subscribe dan vote yaaahh. Tengkyuuhh pemirsaaah .
__ADS_1