KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 100 RAHASIA


__ADS_3

Tomi melajukan motornya kembali ke rumah Niken. Cukup jauh juga dari rumah sakit tadi. Dan Niken, terus saja memeluk Tomi dari belakang.


Tomi mengacuhkan. Biar saja, yang penting Niken senang dan bukan dia yang memintanya.


Sampai di rumah Niken, Tomi tidak turun. Dia menunggui Niken turun.


"Kak Tomi enggak turun?" tanya Niken, setelah turun.


"Aku langsung aja, ya?"


"Ih, kok gitu sih. Niken kan sendirian. Entar kalau....Tanto kesini lagi gimana?" Niken mencari alasan biar Tomi mau menemaninya.


"Ya udah deh. Tapi bikinin kopi, ya. Aku ngantuk."


Niken langsung mengangguk. Kalau cuma bikin kopi sih, dia jagonya. Dan kata Rasyid, kopi buatan Niken lebih enak. Entah benar-benar enak atau hanya sekedar pujian biar Niken mau kalau disuruh membuatkan kopi.


Tomi turun dan masuk lewat pintu samping. Rasyid selalu menaruh kunci pintu di lubang ventilasi pintu samping.


Niken masuk dan langsung ke kamarnya. Menaruh tas. Tomi masih berdiri di pintu. Dia ragu untuk masuk.


Suasana rumah yang sepi dan jauh dari tetangga, membuat Tomi meragukan imannya. Jangan sampai dia melakukan hal yang seperti tadi pagi lagi.


Niken menoleh kepintu samping.


"Kok enggak masuk, Kak?" tanya Niken dari dalam kamarnya.


Tomi pun melangkah masuk. Dan langkahnya terhenti di pintu kamar Niken. Tatapan mereka bertemu.


Tomi berusaha menguasai dirinya. Dia berusaha menyadarkan otaknya bahwa yang ada di hadapannya adalah Niken, calon adik ipar. Bukan Laras.


"Kak...." panggil Niken.


Tomi terdorong untuk masuk ke dalam kamar. Lalu mendekati Niken dan langsung menyambar bibir mungil milik gadis belasan tahun itu.


Gadis yang sedang beranjak dewasa. Yang baru saja merasakan nikmatnya bercumbu karena salah sasaran.


Dan sekarang dia merasakannya lagi. Tomi mengulum, menyesap bahkan menggigit-gigit bibir Niken perlahan.


Lalu dengan kelihaiannya, Tomi membuat Niken membuka bibirnya. Hingga Tomi bisa mengeksplor rongga mulut Niken.


Niken sangat menikmatinya. Meskipun dia belum mampu membalas.


Perlahan tangan Tomi membuka satu persatu kancing seragam Niken. Hingga hampir terbuka semuanya.


Dengan semangat, Tomi berpindah ke dada yang boleh dibilang masih rata. Hanya ada dua gundukan kecil yang sedang dalam masa perkembangan.


Sambil menyesap puncaknya yang masih kecil, tangan Tomi memilin-milin bagian satunya.


"Kak...." Niken melenguh keenakan. Kembali dia tekan kepala Tomi hingga masuk semua gundukannya ke rongga mulut Tomi.


Sambil terus menyesap, Tomi membimbing Niken ke tempat tidur. Lalu membaringkan Niken.

__ADS_1


Kali ini Tomi ingin melihat semuanya dengan jelas. Dan menikmatinya tanpa bayangan Laras.


Tomi bangkit dan mengunci pintu kamar. Lalu dengan perlahan dia lepas semua pakaian Niken.


Niken tak menolaknya. Dia benar-benar pasrah. Karena sudah tahu bagaimana nikmatnya cumbuan Tomi.


Dan Niken kini sudah benar-benar polos. Tomi membuka lebar-lebar kaki Niken. Dia tatap gua di tengahnya. Masih begitu rapat. Karena belum pernah ada yang memasukinya.


Otak Tomi tak bisa lagi sinkron dengan hatinya. Pemandangan yang sangat menggiurkan.


Ah, tidak. Dia adiknya Laras. Yang berarti juga adikku sendiri. Batin Tomi.


Tapi kedua kaki Niken yang bergerak perlahan, membuat Tomi tak bisa menjaga kewarasannya.


Apa aku masuki sekarang juga? Ah, tidak. Kalau keluar darah, bisa ketahuan Laras. Tapi pemandangan itu sangat menggoda. Dan Niken yang pasrah seperti menantang untuk memasukinya.


Tomi membelainya perlahan. Lalu memainkan puncak kecilnya.


Niken menggelinjang kegelian. Dan Tomi semakin mempercepat ritmenya. Hingga Niken memekik dan meracau.


"Kak....geli, Kak." Tomi semakin mempercepat tanpa memasukinya. Hanya dipinggirannya saja.


"Kak....ampun, Kak...." Niken sampai bangkit terduduk saking tak bisa menahan geli dan nikmatnya.


Tomi menghentikannya sejenak. Dia lepas celananya yang sudah sesak. Dan munculah senjatanya yang sudah berdiri tegak dan siap dihujamkan. Meski Tomi masih berusaha untuk tidak memasukinya.


Tomi meraih tangan Niken untuk menyentuhnya. Dengan jantung berdetak sangat cepat, Niken menyentuh benda asing itu.


Lalu dia memejamkan matanya setelah berhasil menggenggamnya.


"Iya. Cewek sangat menyukai yang keras seperti ini," sahut Tomi.


Niken belum paham, meskipun jantungnya terus berdetak dengan cepat.


"Ken...."


"Iya, Kak," sahut Niken dengan suara parau.


Tomi menggerakan tangan Niken maju mundur. Dan Niken mengikuti instruksi Tomi. Hingga Tomi tak bisa menahan diri lagi.


Tomi kehilangan kendali. Otaknya sudah tak bisa lagi diajak kompromi.


Tomi berperang dengan dirinya sendiri. Antara hati dengan otak kotornya.


Tidak! Aku tidak boleh melakukannya! Dia adikku! Teriak Tomi dalam hati.


Tapi Tomi tak bisa lagi menahan diri. Akhirnya Tomi menghujamkan senjatanya ke mulut Niken.


Niken menganga dengan mata melotot. Senjata Tomi masuk ke dalam rongga mulutnya tanpa kompromi.


Niken hampir muntah karena senjata Tomi menyodok tenggorokannya. Dan Tomi juga memaju mundurkannya.

__ADS_1


"Tahan, Ken....Tahan..."


Niken tak bisa mengelak, karena Tomi menekan kepalanya dengan kuat. Sampai tiba-tiba, senjata itu mengeluarkan cairan kental dan langsung masuk ke tenggorokan Niken.


"Aakh.....!" Tomi berhasil memuntahkan cairannya.


Sementara Niken terpaksa menelannya karena sudah terlanjur berada di tenggorokannya.


"Kak...." Niken hampir muntah. Matanya memerah.


Tomi tak tega melihatnya. Lalu sebagai gantinya, Tomi menyesap gua Niken yang sudah sangat becek.


Tomi terus menyesap dan memainkan lidahnya disana. Niken tak lagi ingin muntah. Malah sekarang menjerit-jerit keenakan.


"Kak....enak, Kak....enaaakk....." Niken terus meracau.


Tomi melakukannya terus sampai Niken mencapai klimaksnya dan terkapar tak berdaya.


Tomi menatap tubuh polos yang terkapar di depannya. Lalu menindihnya.


"Bagaimana rasanya, Ken?" tanya Tomi perlahan di telinga Laras.


"Enak banget, Kak...." jawab Niken dengan suara lemah. Matanya masih terpejam. Padahal Tomi tak menghujamkan senjatanya. Hanya memainkan lidahnya saja. Tomi belum tega melakukannya.


"Pakai baju kamu," ucap Tomi. Dia turun dari atas tubuh Niken.


"Capek, Kak," sahut Niken yang masih tak berdaya.


Tomi mengenakan kembali celananya. Lalu menyelimuti tubuh polos Niken dengan kain tipis.


"Ken. Kamu jangan pernah melakukan seperti ini sama cowok lain, ya?" ucap Tomi perlahan.


Tomi khawatir laki-laki lain akan benar-benar merusak Niken. Dia masih terlalu muda untuk dirusak.


Niken membuka matanya.


"Kenapa, Kak?" tanya Niken tak mengerti.


"Aku khawatir mereka akan membuatmu sakit. Kalau kamu menginginkannya, kita bisa melakukannya lagi. Tapi kalau tidak ada orang, ya," sahut Tomi.


Ya iyalah. Kalau ada orang, bisa digebugin karena melakukan hal kotor dengan anak ingusan.


Niken mengangguk menurut. Bagi Niken saat ini, cukup Tomi saja yang menyentuh dan memuaskannya.


"Kak....Apa Kakak juga melakukan ini ke kak Laras?" tanya Niken.


Tomi tersenyum.


"Kalau kamu suka, aku akan melakukannya juga padamu," sahut Tomi.


"Tapi jangan sampai Laras tau. Ini rahasia kita. Bisa marah dia sama kamu," lanjut Tomi.

__ADS_1


Niken mengangguk.


Tomi keluar dari kamar. Dia akan membuat kopi sendiri. Kasihan kalau nyuruh Niken yang lagi kecapean.


__ADS_2