
Cyntia terpaku di tempatnya. Dia tak menyangka bakal ketemu dengan lelaki menyebalkan yang pernah hadir dalam hidupnya.
Ah, kenapa aku harus ketemu dengannya lagi? Dan Laras? Kenapa aku begitu bodohnya, tak berpikir kalau Laras adalah anak yang sama dengan anak manusia terkutuk ini?
Cyntia merutuki kebodohannya. Tapi sayangnya, situasi sekarang tak memungkinkannya untuk pergi menghilang lagi.
Dengan segala kebencian yang muncul lagi, Cyntia melanjutkan langkahnya.
"Hallo.... Bagaimana kondisi Laras?" tanya Cyntia berusaha tetap tenang.
Rasyid menatap wajah Cyntia yang semakin cantik dan awet muda.
Niken dan Ayu pun menatap ke arah Cyntia dengan senyum mengembang.
"Kalian saling kenal?" tanya Tomi membuyarkan lamunan Rasyid. Ya, Rasyid baru saja melamun. Mengingat wajah wanita cantik di depannya ini.
Cyntia yang merasa sedang diperhatikan Rasyid, meraih tangan Bowo dan menggenggamnya.
"Oh ya, kenalin. Ini mas Bowo. Suamiku," ucap Cyntia.
Jeder!
Rasyid tersentak. Dia pikir Cyntia masih single seperti yang dulu.
Bowo yang sudah terbiasa dikenalkan Cyntia sebagai suami, mengulurkan tangannya.
"Oh! Aku Rasyid!" Rasyid menggenggam tangan Bowo.
"Bowo. Suami Cyntia." Bowo menegaskan lagi. Dia sempat melihat tatapan Rasyid ke Cyntia. Dan dia tak menyukainya.
Suasana jadi kurang menyenangkan. Lalu Cyntia menarik tangan Bowo untuk menjauh. Mereka berjalan menuju bangku panjang yang diduduki Yanti dan Beni.
"Tante....!" sapa Niken.
Cyntia melirik sekilas. Dan tersenyum sinis tanpa mau membalas sapaan anak Rasyid itu.
Yanti dan Beni hanya diam. Mereka menyimak dan merekam apa yang sedang mereka saksikan ini. Lagi pula, bukan kapasitas mereka untuk ikut campur.
"Laras kenapa, Om?" tanya Tomi.
"Laras....keguguran!" jawab Rasyid.
Tomi terperangah.
"Hah...! Laras keguguran?" tanya Tomi.
Rasyid mengangguk.
"Laras hamil?" tanya Tomi lagi.
Rasyid kembali mengangguk.
"Kenapa aku tak dikasih tau?" seru Tomi.
Rasyid menggeleng. Bahkan diapun tak tahu.
"Terus kenapa bisa seperti ini?" tanya Tomi lagi dengan suara keras.
"Maaf. Jangan teriak-teriak di sini. Mengganggu pasien!" ucap seorang perawat yang keluar dari ruangan.
Rasyid dan Tomi terdiam.
__ADS_1
Tomi memberanikan diri menarik tangan Rasyid. Ini masalah serius. Dan Tomi ingin tahu jawabannya.
Setelah agak jauh, Tomi menghentikan langkahnya. Rasyid juga ikut berhenti.
"Kenapa, Om? Kenapa Laras bisa keguguran? Bukankah tadi Laras baik-baik saja?" tanya Tomi.
Meskipun terbersit dalam pikiran Tomi, kejadian saat Laras jatuh di mall. Apa itu penyebabnya?
Rasyid melirik ke arah Niken. Niken menundukan wajahnya. Dia masih sangat merasa bersalah.
Rasyid bingung. Apa dia harus mengatakannya? Tomi pasti akan sangat marah pada Niken.
Tapi saat Laras sadar nanti, Tomi pasti akan mengetahuinya juga dari Laras.
"Laras jatuh." Hanya itu yang bisa diucapkan Rasyid. Rasyid menundukan wajahnya. Dia belum sanggup mengatakan yang sebenarnya.
Niken mendekat. Dia menatap wajah Tomi. Sebenarnya Tomi merasa malu dengan kejadian hamilnya Laras pada Niken. Tomi berpikir Niken akan menghakiminya karena itu.
Tapi ternyata, Niken menatap Tomi minta dukungan dan berharap Tomi tak marah padanya.
"Aku yang mendorongnya," ucap Niken. Matanya begitu memohon pada Tomi untuk mendukungnya.
Dalam hati Niken ada keinginan Tomi berterima kasih padanya, karena dengan begini, dia tidak harus menikahi Laras.
"Kamu....!" ucap Tomi dengan garang.
Lalu, entah kesambet setan dari mana, tangan Tomi mencengkeram kaos Niken.
"Kamu....!"
Bugh!
"Auwh!" teriak Niken.
Rasyid yang sebenarnya masih kesal pada Niken, merasa kasihan juga.
"Tomi! Sudah, Tomi!" Rasyid berusaha melepaskan cengkeraman Tomi.
Beni dan Yanti pun sudah berdiri. Siap untuk kejadian lain yang tak terduga.
Cyntia hanya memandang saja. Dia tak peduli meskipun Tomi akan membunuh anak sialan itu.
Cyntia menahan tangan Bowo yang mau berdiri.
"Udah biarin aja. Biar mampus itu anak!" bisik Cyntia dengan ketus.
Yanti yang berdiri tak jauh dari Cyntia, mendengarnya. Yanti pun menoleh. Menatap heran pada wanita cantik yang belum dikenalnya.
Tomi tak mempedulikan Rasyid. Dia dorong tubuh Niken hingga mepet ke pilar.
"Kamu sengaja melakukannya, kan? Biar pernikahan kami gagal? Hah...!" Tangan Tomi sudah siap menghantam Niken lagi.
"Enggak, Kak! Enggak...! Aku enggak sengaja!" jawab Niken.
Dengan sekali hentakan, Tomi menghempaskan tubuh Niken. Meski badan Niken besar, tapi tenaga Tomi jauh lebih kuat.
Niken terjerembab ke rerumputan, lalu menangis sesenggukan.
Yanti menahan tangan Beni yang berniat menolong Niken. Bagaimanapun, Beni tak bisa membiarkan wanita dianiaya. Meskipun dia bersalah. Apalagi wanita itu masih dibawah umur.
"Jangan ikut campur!" ucap Yanti pelan tapi ketus.
__ADS_1
"Maafin aku, Kak. Aku enggak sengaja," ratap Niken.
Tomi tak mempedulikannya. Ingin rasanya dia bunuh Niken saat ini juga.
Nafas Tomi terengah-engah. Dadanya naik turun menahan emosi.
Dan di sekitar mereka, banyak pasang mata yang melihat kejadian itu.
Seorang security dan petugas kesehatan yang juga melihat kejadian itu, berlari mendekat.
Mereka bermaksud melerai. Tapi terlambat. Tomi sudah menghempaskan tubuh Niken.
Rasyid mendekati Niken dan membantunya berdiri.
"Biarkan saja! Biar dia mati dengan semua otak jahatnya!" seru Tomi.
"Ada apa ini?" tanya security.
"Dia membunuh calon anakku, Pak!" Tomi menunjuk ke arah Niken.
"Sebaiknya selesaikan di luar. Jangan bikin keributan di sini. Ini rumah sakit, bukan tempat berkelahi," ucap security.
Tomi hanya melengos. Lalu meninggalkannya dan kembali ke depan pintu IGD.
Tomi menangkupkan wajahnya dengan kedua tangan dan menyandar ke pintu.
Hingga saat pintu dibuka, Tomi hampir terjatuh.
"Oh, maaf," ucap seorang perawat.
Perawat itu membuka pintu lebar-lebar. Di belakangnya sudah siap sebuah brankar dengan Laras tergeletak tak berdaya di atasnya.
"Mana keluarga pasien Laras? Kami akan membawanya ke kamar inap," tanya perawat itu. Dia mencari sosok orang yang tadi mengaku sebagai ayah Laras.
"Saya....Saya suaminya, Suster!" sahut Tomi.
Semua terperangah. Karena kenyataannya, mereka belum menikah.
Dan Niken, ingin sekali dia berteriak kalau Tomi bukan suami Laras. Tapi mulut Niken serasa terkunci.
Dia juga takut Tomi akan menghajarnya lagi. Niken hanya bisa menatap Tomi dengan kesal.
"Oh, baiklah. Mari ikut kami. Kami akan memindahkan pasien ke kamar rawat inap," ucap perawat itu.
Tomi pun berjalan mengikuti brankar yang membawa tubuh Laras yang lemah.
Laras masih memejamkan matanya. Sepertinya karena pengaruh obat penenang.
Cyntia hanya menatapnya. Tak ada niatan sedikitpun untuk menyusul Tomi.
Begitu juga Yanti dan Beni. Yanti menahan Beni untuk tidak mengikuti brankar. Karena di sana ada Tomi.
Yanti tahu kalau Beni tak menyukai Tomi. Yanti tak mau ada keributan lagi. Apalagi sepertinya Tomi masih emosi.
Rasyid melepaskan tangannya yang masih memegangi Niken. Lalu melangkah menyusul Tomi.
Saat langkahnya sampai di depan Cyntia, Rasyid menoleh sekilas.
Cyntia hanya melengos. Lalu menarik tangan Bowo untuk pergi meninggalkan tempat itu.
Dan saat langkahnya melewati Niken, Cyntia berhenti sebentar. Dia menatap Niken.
__ADS_1
"Mampus kamu!"