
Sampai malam, baik Rasyid maupun Beni tak berhasil menemukan Niken.
Jam sembilan, Beni kembali ke rumah Rasyid. Rasyid yang sudah capek muter-muter pun sudah ada di rumahnya.
"Niken sudah pulang, Om?" tanya Beni.
"Belum. Entahlah. Aku udah nyari kemana-mana, tapi enggak ketemu," jawab Rasyid.
"Apa mungkin di rumah sakit?" tebak Beni.
"Enggak mungkin. Di sana kan ada Tomi. Niken enggak akan berani ke sana," sahut Rasyid.
Benar juga. Beni tahu bagaimana marahnya Tomi pada Niken. Beni pun mungkin akan bersikap sama kalau jadi Tomi.
"Apa Om punya saudara di sini? Siapa tau Niken ke sana," tanya Beni.
"Saudaraku jauh di kota lain. Kayaknya enggak mungkin Niken ke sana. Mau naik apa?"
Rasyid masih punya ibu dan seorang adik laki-laki. Tapi mereka tinggal di kota lain. Dan juga hubungan mereka tidak baik. Apalagi sama Niken yang terkenal bandel sejak kecil.
Bahkan beberapa tahun yang lalu, saat Rasyid numpang hidup di rumah ibunya, mereka di usir. Karena kenakalan anak-anak Rasyid, terutama Niken.
"Maaf, Om. Mau tanya, apa Niken masih punya mama?" pancing Beni pelan-pelan. Dia takut menyinggung perasaan Rasyid.
Degh!
Alya. Ya, kenapa aku tak berpikir sejauh itu? Bisa saja Niken ke rumah Alya.
Tapi apa anak-anaknya tahu di mana rumah mama mereka? Rasyid sendiri sudah loss contact sejak Alya pergi.
Bahkan Rasyid tak pernah mengijinkan Alya bertemu dengan anak-anaknya.
Kabar terakhir yang didengar Rasyid, Alya sudah menikah lagi. Tapi di mana tempat tinggalnya, Rasyid tak pernah mau tahu.
"Ma...sih," jawab Rasyid perlahan.
"Apa enggak mungkin kalau Niken ke rumah mamanya?" tanya Beni.
"Entahlah, Ben. Sudah lama sekali mereka enggak ketemu. Rumahnya pun mereka tak tau," jawab Rasyid.
Beni hanya menatap wajah Rasyid.
Beni ingat, Laras pernah cerita tentang mamanya. Katanya dia masih punya mama, tapi Rasyid melarang mereka untuk bertemu.
"Om benar-benar tak tahu dimana tempat tinggalnya?" tanya Beni lagi.
"Sudahlah, Ben. Jangan mengingatkanku pada wanita kejam itu. Aku sangat membencinya!" sahut Rasyid dengan geram.
Rasyid selalu merasa benar. Dan dia selalu menyalahkan Alya yang pergi meninggalkannya dan anak-anak.
Rasyid tak pernah mau menyadari kalau dia pernah melakukan kesalahan yang fatal. Hingga terpaksa Alya pergi.
__ADS_1
"Ya sudah, Om. Saya permisi dulu. Saya hanya menyarankan, coba tanyakan pada Laras. Mungkin dia tau dimana mamanya tinggal. Permisi."
Beni pulang ke rumahnya. Dia tak mau kalau ibunya marah-marah lagi kalau dia pulang terlalu malam.
Rasyid menghempaskan tubuhnya di sofa.
Alya!
Alya!
Kenapa nama dia harus ada lagi dalam kehidupanku? Kamu sudah mati, Alya!
Anak-anak tak boleh mengenalmu! Apalagi ketemu denganmu lagi! Gumam Rasyid dengan kesal.
Rasyid sangat terpukul saat dia menerima surat pemberitahuan perceraiannya dengan Alya.
Dan lebih terpukul lagi, saat mendengar Alya sudah menikah lagi.
Rasyid selalu berpikir, kalau Alya sudah punya lelaki lain sejak masih berstatus istrinya.
Beni sampai di rumahnya.
"Ketemu, Ben?" tanya Yanti.
"Enggak, Bu. Om Rasyid juga sudah ke rumah teman-teman Niken. Tapi tidak ada katanya," jawab Beni.
Padahal Rasyid berbohong. Dia hanya ke rumah Nila, teman Niken satu-satunya.
"Kemana anak itu, ya?" Yanti ikut prihatin atas hilangnya Niken.
Malam itu Tomi pamit pada Laras untuk mengambil chargernya di rumah. Dia masih punya satu charger lagi di rumah. Yang satunya tertinggal di rumah Cyntia.
Tomi juga mau mandi dan ganti pakaian. Seharian dia belum mandi.
Tomi menitipkan Laras pada perawat yang berjaga. Karena Rasyid belum juga sampai di rumah sakit.
Sampai di rumahnya, Tomi ngechas hape dan ditinggal mandi.
"Mau kemana lagi, Tom?" tanya Lastri.
Sejak Tomi bilang mau mulai bekerja lagi, Tomi hampir tak pernah tidur di rumah.
"Masih ada kerjaan, Bu. Lembur," jawab Tomi bohong.
"Jangan kecapekan. Badan kamu juga butuh istirahat," ucap Lastri.
"Iya, Bu. Nanti kalau udah selesai, Tomi bisa tidur di kantor, kok." Lagi-lagi Tomi berbohong.
"Kerja perlu, tapi jangan terlalu diforsir." Hardi ikut berkomentar.
"Iya, Pak. Sekarang kan mumpung masih ada job. Sayang kalau disia-siakan," sahut Tomi.
__ADS_1
"Motor kemana?" tanya Hardi. Karena tadi Tomi datang naik ojek online.
"Di kantor, Pak. Tadi Tomi keluar bareng bu Cyntia naik mobilnya," jawab Tomi.
"Dijaga baik-baik motornya. Kalau kamu udah punya uang, belilah motor. Biar motor itu buat dipakai Bapak belanja sparepart," ucap Hardi.
Sejak motornya dipakai Tomi, terpaksa Hardi kemana-mana naik angkot. Dan masalahnya, kalau harus mencari barang ke banyak tempat, naik angkot sangat merepotkan. Selain boros ongkos juga.
"Iya, Pak. Nanti Tomi cari motor lagi," jawab Tomi. Dia memang sedang mengusahakan itu. Tapi uangnya selalu habis.
Sejak banyak uang, kehidupan Tomi berubah royal. Dia tak pernah berpikir untuk menabung. Pasti selalu habis, entah untuk apa saja.
Saat Tomi mengaktifkan hapenya, ada pesan masuk dari Ike. Tapi sudah satu jam yang lalu.
Tomi langsung menelpon Ike.
"Hallo, Ke. Maaf, tadi hapeku lowbath. Kamu di mana?" tanya Tomi.
"Oh, iya. Enggak apa-apa, Tom. Aku lagi di rumah sakit. Bosen banget. Di sini juga ada mama dan tanteku yang nunggu. Kita keluar, yuk," ajak Ike.
"Hm. Kemana?" tanya Tomi.
"Terserah kamu. Itu juga kalau enggak mengganggu waktu kamu," jawab Ike.
"Enggaklah. Udah malam juga. Aku santai kok," sahut Tomi.
Tomi yang sudah terbiasa berbohong, dengan mudahnya membohongi siapapun.
"Oke. Aku tunggu di depan rumah sakit, ya," sahut Ike.
Tomi mengiyakan. Lalu segera memesan ojek online.
"Pak, Bu. Tomi berangkat dulu. Sudah ditunggu," pamit Tomi. Dia tak mengatakan siapa yang menunggunya.
"Iya, Tom. Ati-ati. Ingat, istirahat kalau sudah selesai kerjaannya," sahut Lastri.
"Iya, Bu." Tomi menyalami tangan kedua orang tuanya.
Tak lupa Tomi pun memberikan uang untuk kedua adiknya.
Tomi segera pergi, karena ojek online pesanannya sudah sampai. Tujuannya rumah sakit. Tapi bukan untuk ke kamar rawatnya Laras.
Tomi janjian dengan Ike. Sekalian refreshing, pikir Tomi.
Seharian di rumah sakit, membuatnya sangat bete. Tapi demi Laras, Tomi menahan kejenuhannya.
Kebetulan Ike mengajaknya keluar. Tomi tentu saja tak menolaknya.
Sampai di depan rumah sakit, Ike sudah menunggunya.
"Lho, kamu naik ojek online, Tom?" tanya Ike.
__ADS_1
"Iya. Mobil aku tinggal di kantor. Capek nyetir sendiri. Lagi pula biar enggak kena macet," jawab Tomi.
Kembali Tomi berbohong. Semakin hari, Tomi semakin fasih berbohong.