KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 154 BERUJUNG PETAKA


__ADS_3

"Kenapa, Mas?" tanya Alya.


"Dia...."


"Dia mas Bowo. Suamiku. Kenapa?" tanya Alya.


Rasyid langsung memalingkan mukanya. Tak mau bersitatap dengan Bowo.


Bowo mungkin saja masih mengenalinya. Meski baru pertama kali ketemu.


Rasyid ketemu Bowo di rumah sakit, saat Bowo datang bersama Cyntia. Dan Cyntia mengenalkan sebagai suaminya.


Dan ternyata Bowo adalah suami Alya.


Ah! Kepala Rasyid terasa mau pecah. Kenapa harus Cyntia? Bagaimana kalau Alya tahu kalau suaminya yang sekarang juga punya hubungan dengan Cyntia?


"Al, aku pulang dulu, ya?" ucap Rasyid.


"Lho, nasi gorengnya kan belum jadi. Tunggu sebentar lagi. Kamu juga kenalan sama suamiku. Biar kalau aku menemui anak-anak, tidak ada salah paham," sahut Alya.


"Enggak, Al. Aku buru-buru."


Rasyid segera menarik tangan Ayu.


"Ayah, Ayu mau nunggu nasi gorengnya!" ucap Ayu.


"Nanti kita beli nasi goreng sendiri!" sahut Rasyid.


"Tapi uang Ayah kan udah abis buat beli bensin, tadi!" Dengan polosnya Ayu mengatakan yang sebenarnya.


Alya hanya diam. Dia ingin tahu apa lagi yang bakal keluar dari mulut jujur Ayu.


Rasyid menghela nafas. Setengah mati dia mencari jawaban yang tepat buat Ayu.


"Ayah masih ada uang di rumah, Ayu!" ucap Rasyid berbohong.


Ayu cuma bisa menatap wajah Rasyid dengan kesal.


"Ayo cepat naik!" bentak Rasyid dengan keras.


Alya yang sudah lama tak pernah mendengar lagi orang membentak-bentak, langsung terkesiap.


Jantungnya mencelos. Karena yang dibentak adalah anaknya. Anak kandungnya sendiri.


"Mas! Jangan bentak-bentak Ayu!" seru Alya sambil menarik tangan Ayu.


Rasyid turun dari motornya.


"Kamu mau apa!" seru Rasyid pada Alya, sambil menarik tangan Ayu.


"Dia anakku, Mas! Kamu jangan bentak-bentak dia!" Alya tak mau kalah.


"Anak yang sudah kamu tinggalkan untuk lelaki lain?" tanya Rasyid dengan suara keras. Hingga pengunjung warung nasi goreng itu menoleh semua.


"Kamu yang membawa wanita lain ke rumah! Jangan memutar balikan fakta!" Alya membela diri.


"Dia cuma main, tapi kamu malah salah paham!" Rasyid juga membela diri.


"Main di kamar bersama kamu? Hah!" Alya makin berang.

__ADS_1


Rasyid tak tahan lagi. Emosinya semakin memuncak. Lalu dia mengangkat tangannya, hendak menampar Alya.


Hap!


Dari belakang, Bowo yang ternyata mendekati mereka diam-diam, menangkap tangan Rasyid.


Rasyid langsung menoleh. Bowo melepaskan tangan Rasyid, dan....


Bugh!


Bowo memberikan bogem mentahnya ke wajah Rasyid.


"Ayah!" teriak Ayu.


Alya meraih tubuh Ayu dan memeluknya dengan erat. Ayu menangis di pelukan Ayu.


Rasyid yang tak siap, langsung limbung. Lalu berusaha berdiri tegap lagi.


"Kenapa? Masih kurang?" ucap Bowo.


Bugh!


Sekali lagi Bowo menghantam wajah Rasyid hingga hidungnya mengeluarkan darah segar.


Bowo jelas tak terima, di depan matanya, istrinya mau ditampar. Oleh lelaki pula.


"Pa! Udah!" Alya melepaskan pelukan Ayu, lalu mendekati Bowo dan menahan tangan suaminya itu. Biar tak menghajar Rasyid lagi.


"Biar, Ma. Biar dia tau rasa! Seenaknya saja mau menampar kamu!" Bowo berusaha melepaskan tangannya.


"Pa, udah! Malu....!" Alya hampir menangis. Dia melihat ke sekelilingnya. Semua mata menatap ke arah mereka.


"Dia anakku, Mas. Anak kandungku," jawab Alya.


"Oh! Jadi manusia tak berguna itu mantan suami kamu?" Bowo menatap jijik pada Rasyid.


Dia sudah mendengar sedikit cerita tentang Rasyid dari Cyntia.


"Ayo kita pulang!" Bowo menarik tangan Alya.


"Tapi nasi gorengnya?" tanya Alya. Bukan sekedar nasi gorengnya, tapi tanggung jawab Alya yang pesan lima dan belum membayarnya.


Bowo mengambil uang seratus ribuan dari dompetnya. Lalu memberikannya pada tukang nasi goreng.


"Nih aku bayar. Nasi gorengnya kasihkan pengemis itu! Kasihan mereka lapar!" ucap Bowo dengan ketus sambil melihat ke arah Rasyid.


Rasyid yang mendengarnya, langsung meradang. Dia dikatakan pengemis di depan banyak orang.


Rasyid meraih helmnya. Lalu dia lemparkan ke arah Bowo. Tapi meleset. Helm itu malah mengenai kepala Alya.


"Auwh!" Alya langsung memegangi kepalanya.


"Mama...!" seru Ayu.


"Kurang ajar!" Bowo pun langsung lari ke arah Rasyid. Dan tanpa ampun lagi, dia hajar Rasyid sampai benar-benar babak belur.


Alya kembali memeluk Ayu. Ayu pun kembali menangis.


Beberapa lelaki yang melihatnya, termasuk tukang nasi goreng, melerai mereka.

__ADS_1


Kalau tidak, Rasyid bisa mati di tangan Bowo yang kalap.


"Mama....!"


Dari jendela mobil, seorang anak balita memanggil Alya.


Alya menoleh.


"Aldo....!" Alya langsung melepaskan pelukannya pada Ayu, dan berlari menghampiri Aldo.


Ayu hanya menatapnya. Dia tak kenal anak balita itu. Tapi tadi Ayu mendengar anak itu memanggil mama.


"Sudah, Pak. Sudah. Nanti mati dia," ucap salah satu lelaki yang menarik tangan Bowo.


"Biar saja mati! Dasar banci! Beraninya cuma sama wanita. Cuih!" Bowo meludah dengan kasar.


Rasyid tak bisa melihatnnya, cuma mendengar. Karena tubuh Rasyid dihalangi beberapa orang, untuk melindunginya dari serangan Bowo.


Bowo menepiskan tangan dua orang yang memeganginya. Lalu berjalan menuju mobilnya.


Di dekat Rasyid, Bowo menghentikan langkahnya.


"Sekali lagi berani menyentuh istriku, mati kamu!" ancam Bowo.


Lalu Bowo berjalan lagi ke mobilnya. Alya sudah ada di dalam mobil bersama Aldo. Anak mereka.


"Papa...! Papa apain?" tanya Aldo dengan suara cadelnya.


Bowo tak menjawab. Dia hanya mencium pipi Aldo sekilas.


"Papa habis beli nasi goreng, Sayang," sahut Alya. Dia berusaha bersikap tenang di depan Aldo.


Dan mereka pun pulang tanpa ada yang membahas masalah tadi. Hanya suara Aldo yang terus mengoceh dengan suara cadel.


Sementara Rasyid dibawa masuk ke warung tenda itu. Pemilik warung memberi air putih pada Rasyid. Yang lainnya mengambil tissue, untuk membersihkan darah Rasyid.


Setelah mobil yang membawa Alya pergi, Ayu dengan banyak pertanyaan di kepalanya, ikut masuk ke dalam warung tenda itu.


Ayu mengambil tissue yang diberikan pada Rasyid. Lalu dengan telaten, Ayu membersihkan luka Rasyid. Persis seperti tadi dia dibersihkan lukanya oleh perawat di rumah sakit.


Tak ada yang berani membicarakan soal tadi. Mereka takut Rasyid mengamuk dan memporak porandakan warung tenda itu, meskipun kondisi Rasyid sudah babak belur.


Tukang nasi goreng kembali membuatkan pesanan Alya tadi. Setelah jadi, dia memberikannya pada Ayu.


Lima porsi nasi goreng.


Tukang nasi goreng itu juga memberikan kembalian uang Alya pada Ayu.


"Ini nasi gorengnya. Ini kembaliannya. Ajak ayah kamu pulang, ya," ucap tukang nasi goreng pada Ayu.


Ayu mengangguk. Lalu mengajak Rasyid pulang.


"Yah. Kita pulang yuk," ajak Ayu.


Rasyid pun berdiri dan tanpa bicara apapun, pergi meninggalkan warung itu.


Rasyid menaiki motornya perlahan. Wajahnya sakit dan perih bukan kepalang.


Niat mencari utangan malah berakhir petaka baginya.

__ADS_1


__ADS_2