KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 7 KETEMU MANGSA


__ADS_3

Rasyid hanya muter-muter tak tentu arah.


"Yah, perasaan kita dari tadi cuma muter-muter saja? Memangnya Ayah mau kemana?" tanya Niken. Pantatnya sudah panas terlalu lama duduk di jok motor.


"Jangan pakai perasaan. Pakai otak!" Rasyid yang sedang bingung mau kemana, mulai emosi.


Niken terdiam. Kalau Rasyid sudah mulai meninggi suaranya, bisa melayang tangan Rasyid ke badannya.


Rasyid melajukan motornya makin cepat. Lalu melepas topinya.


"Nih, bawain!" Rasyid mengulurkan ke Niken. Niken langsung mengambilnya dan melepas topinya juga.


Kecepatan Rasyid yang lumayan tinggi, bisa membuat terbang topi.


Rasyid sampai di depan sebuah rumah mewah. Lalu menyetandarkan motornya di luar gerbang.


"Rumah siapa, Yah?" tanya Niken. Seumur-umur dia belum pernah diajak Rasyid ke sini.


"Teman Ayah. Nanti kamu iyain saja kalau Ayah ngomong, ya? Jangan ngomong kalau enggak ditanya. Dan jawab yang baik-baik saja," perintah Rasyid.


"Iya, Yah," jawab Niken menurut. Lalu menyerahkan topi Rasyid.


Anak-anak Rasyid memang sangat pandai berakting. Rasyid selalu menyeting dulu anak-anaknya sebelum bicara dengan orang lain.


Rasyid menekan bel yang ada di depan gerbang. Tiga kali menekan, keluarlah seorang wanita setengah baya.


"Assalamualaikum. Permisi, Bu. Apa benar ini rumah Bunda Lili?"


"Waalikumsalam." Wanita itu menatap tajam ke arah Rasyid dari balik gerbang.


"Anda siapa?" tanya wanita itu.


"Saya temannya, Bu," jawab Rasyid.


Wanita itu meneliti penampilan Rasyid. Dia mengenali topi baret yang dikenakan Rasyid. Lalu dia menatap Niken. Dia juga mengenali topi bucket yang selalu dipakai Niken. Topi bucket abu-abu yang sudah lusuh. Topi baret Rasyid juga tak kalah lusuhnya.


"Kahlil Gibran?" tanya wanita itu.


Rasyid mengerutkan keningnya. Apa jangan-jangan ini yang namanya bunda Lili?


Rasyid memgangguk. Agar bisa segera mendapatkan jawaban.


"Oh. Mari silakan masuk." Wanita itu membuka sedikit pintu gerbangnya.


Rasyid dan Niken masuk. Niken mengagumi rumah megah dengan arsitekturnya yang klasik.


"Wauw, bagus banget rumahnya," puji Niken.


Wanita itu membawa Rasyid dan Niken masuk lewat samping. Dan menuju ke taman belakang. Di sana ada sebuah kolam renang.


"Silakan duduk, Mas Kahlil." Wanita itu mempersilakan Rasyid dan Niken duduk di sebuah gazebo mini.


"Kok kenal nama saya?" tanya Rasyid.

__ADS_1


"Kenal lah. Kan baru tadi kita chat."


Glek!


Rasyid menelan ludahnya. Ternyata sosok Bunda Lili ada di depannya. Seorang wanita setengah baya, yang wajah dan penampilannya sangat jauh dari ekspektasi Rasyid.


Tapi Rasyid berusaha bersikap biasa saja. Apalagi melihat bangunan megah di depannya. Meskipun Rasyid belum tahu ini rumah siapa.


Yang pasti si Bunda Lili ini memberikan alamat dan juga tinggal di sini.


"Masya Allah, Bunda Lili?" Rasyid lalu menjabat tangan Bunda Lili dengan erat.


"Panggil Lili saja," ucapnya.


"Oke, Lili. Nama yang sangat cantik. Secantik orangnya."


Lili tersipu malu. Niken menatap jengah ke arah Rasyid.


Semua digombalin. Penjual bensin juga digombalin, meski lumayan sih dapat bensin dua liter, batin Niken.


"Oh iya, mau minum apa?" tanya Lili.


"Apa saja. Tapi kalau ada kopi hitam. Gulanya sedikit aja. Karena ada kamu, nanti takut kemanisan." Gombal receh Rasyid mulai keluar.


"Ini siapa namanya?" Lili menunjuk Niken.


"Niken, Tante," jawab Niken.


Niken merasa melayang dipanggil sayang oleh orang kaya.


"Apa saja, Tante," jawab Niken lagi dengan sopan.


"Oke. Tunggu sebentar, ya. Saya buatkan dulu." Lili berjalan masuk lewat pintu belakang.


Rasyid menatap tak percaya wanita yang baru tadi di chatnya ternyata memiliki rumah mewah.


"Yah, Niken boleh selfi di sini enggak?"


"Boleh. Ayo selfi juga bareng Ayah." Rasyid mengeluarkan ponselnya lalu mulai bergaya caz ciz cuz dengan Niken. Hingga tak sadar, Lili sudah kembali.


"Wah, kompak sekali ya, kalian?" Lili meletakan secangkir kopi, segelas es sirop dan satu toples kue kering yang tinggal setengah.


"Iya lah, dengan anak ya mesti kompak," sahut Rasyid.


"Kita selfi yuk, Bun," ajak Rasyid.


Lili tersenyum sumringah. Lalu mengangguk dan mengambil posisi di samping Rasyid. Berbagai pose mereka abadikan dengan ponsel Rasyid.


"Coba lihat hasilnya?" pinta Lili.


Rasyid membuka galerinya. Lalu memperlihatkannya pada Lili.


"Wah, bagus banget." Lili mengagumi hasil jepretan Rasyid meski hanya selfi saja.

__ADS_1


"Iya, dong. Kan fotonya sama orang cantik," sahut Rasyid yang praktis membuat Lili tersipu malu.


Niken asik berselfi sendiri di berbagai sudut. Rumah megah dengan fasilitas mewah.


Rasyid mulai bertanya-tanya pada Lili tentang masalah pribadi. Lili mengatakan kalau dia sudah tak memiliki suami.


Suaminya meninggal dunia lima tahun yang lalu. Rasyid bersorak dalam hati, itu artinya dia bebas merayu Lili kapanpun.


"Kenapa kamu tidak menikah lagi, Bun?" tanya Rasyid.


"Saya masih belum move on pada suami saya, Mas," jawab Lili berbohong. Karena kenyataannya sudah banyak laki-laki yang mendekatinya tapi selalu kecewa.


Di medsos Lili yang punya hobi selfi, sering berpose di setiap sudut rumah. Bahkan tak jarang Lili memamerkan barang-barang branded. Mulai dari tas, sepatu sampai pakaian yang kalau orang paham, harganya bisa puluhan bahkan ada yang ratusan juta.


Lili yang sebenarnya tak bisa berenang, kadang posting foto saat dia sedang memakai baju renang mahal. Sebelumnya dia nyemplung dulu ke dalam air, agar ada efek basah. Dan terkesan dia baru saja keluar dari dalam air.


Soal posting makanan, jangan ditanya. Menu-menu yang menggoda selera sering dia posting. Bahkan menu candle light dinner pun pernah di uploadnya.


Dan Rasyid salah satu dari lelaki yang sedang mendekati Lili. Lili pun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk berduaan dengan Rasyid.


Hidup sendiri selama lima tahun, cukup membuat Lili kesepian. Dia butuh belaian laki-laki. Makanya dia aktif di medsos, berharap ada lelaki yang mau menemani hari-hari sepinya.


"Mas, Kahlil single juga kan?" tanya Lili.


Kini giliran Rasyid yang mengumbar cerita palsu. Dia rangkai kalimat yang menyayat hati, agar bisa menyentuh perasaan siapapun yang mendengarnya.


"Jadi Ayu semakin panas?" tanya Lili.


"Iya. Aku sudah tak punya apa-apa lagi, karena semua sudah dibawa oleh mantan istriku. Dia tinggalkan anak-anak. Kamu tau sendiri kan, bagaimana besarnya biaya untuk kebutuhan kami sehari-hari."


"Iya, Mas. Cari kerja lagi aja. Anak-anak kan sudah besar-besar? Bisa ditinggal kalau Mas Kahlil kerja."


"Iya, maunya begitu. Tapi cari kerjaan kan jaman sekarang tidak gampang. Ini saja tadi aku dari rumah teman. Rumahnya di ujung sana. Ya siapa tau dia bisa kasih kerjaan buat aku."


"Iya, Mas. Aku doain semoga bisa cepet dapet kerjaan," sahut Lili.


"Makasih ya, Bun. Hatimu cantik. Secantik wajah kamu." Rasyid langsung nyosor dan mengecup pipi Lili.


"Ih, Mas Kahlil. Nakal." Lili memukul pelan tangan Rasyid.


"Tapi suka, kan?" Lili menunduk malu.


Rasyid mengangkat dagu Lili, dia yang sedang sangat butuh uang buat pengobatan Ayu, harus langsung pakai jurus pamungkas. Biar Lili yang kelihatannya sudah mulai greng, makin klepek-klepek.


Rasyid mendekatkan bibirnya, dia akan menyosor bibir Lili yang menurutnya sama sekali tak menarik. Tapi biarlah, demi kesembuhan Ayu.


Tinggal sesenti lagi bibir Rasyid sampai di tujuan, tiba-tiba...


Byur!


"Ayah! Tolong!" Suara Niken berteriak minta tolong.


Rasyid pun berlari ke arah kolam renang. Rupanya Niken yang asik berselfi, kepleset dan kejebur ke kolam.

__ADS_1


__ADS_2