KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 112 TEMAN CHATING BARU


__ADS_3

Rasyid terperanjat. Dia langsung duduk dengan mata berkerjap-kerjap.


"Ada apa?" tanya Rasyid sambil mengumpulkan nyawanya.


"Sinta marah sama Ayu!" jawab Ayu dengan lantang.


"Kenapa marah?" tanya Rasyid lagi.


"Karena Ayah masuk ke kamar tante Ratih!" Lalu Ayu berlari, masuk ke kamarnya lagi.


Rasyid mengejarnya. Dia merasa sekaranglah saatnya memberi pengertian pada Ayu.


Tapi terlambat. Pintu kamar kembali di tutup dengan kencang dan dikunci dari dalam.


Rasyid hanya menghela nafasnya.


Mendengar pintu kembali dibanting, Laras keluar dari kamarnya. Matanya bertemu dengan mata Rasyid.


Lalu Laras pun kembali masuk ke kamarnya dan menutup pintu. Meski tidak membantingnya seperti Ayu.


Rasyid mengacak rambutnya yang masih berantakan.


"Aakkhh!" teriak Rasyid dengan kesal.


Niken masuk ke rumah dari pintu samping sambil ngomel-ngomel.


"Ayah kenapa enggak jemput?"


"Oh iya. Maaf, Ayah lupa. Ayah ketiduran." Rasyid menepuk jidatnya. Dia baru ingat kalau dia tadi mestinya menjemput Niken.


"Kan bisa nyuruh kak Laras, Yah?"


Rasyid menatap pintu kamar Laras yang tertutup. Lalu berjalan lagi ke ruang tamu, tanpa menjawab pertanyaan Niken.


Niken menatap Rasyid dengan kesal. Lalu masuk ke kamar Laras.


"Kakak kenapa enggak jemput aku?" tanya Niken.


Laras sudah asik dengan ponselnya. Seperti biasanya, Laras tenggelam dalam cerita novelnya yang sedang on going.


"Sibuk!" jawab Laras singkat. Dia paling malas bicara kalau sedang mengarang.


"Sebentar kan bisa, Kak?"


Laras mengacuhkannya. Malas berdebat dengan Niken. Dia lebih asik dengan karangannya.


"Kenapa semua orang malas menjemputku? Kalau besok enggak ada juga yang mau jemput, aku enggak mau sekolah lagi!" ancam Niken.


"Terserah!" sahut Laras.


Niken menghentakan kakinya di lantai. Lalu berganti pakaian dan keluar dari kamar.


Niken ke dapur. Berjalan kaki dari sekolahnya ke rumah, membuat tenggorokannya kering.


Setelah minum, Niken mencari makanan. Tapi sayangnya, tak ada makanan apapun di dapur.


Niken kembali ke kamarnya.


"Kakak enggak masak?" tanya Niken dengan suara keras.


Laras kembali hanya menatapnya. Dia juga kesal, karena Niken mengganggunya terus.

__ADS_1


"Kak!"


"Apaan sih?" Laras duduk dan meletakan ponselnya.


"Kakak enggak masak?" Niken mengulangi pertanyaannya.


"Enggak!" jawab Laras tepat di wajah Niken. Lalu dia ke kamar mandi.


Niken mendengus kesal. Lalu mencari Rasyid di ruang tamu.


"Yah! Niken lapar!" seru Niken.


"Makanlah," jawab Rasyid yang lagi asik dengan medsosnya.


"Enggak ada makanan, Yah!" sahut Niken dengan kesal.


"Ya beli. Gitu aja kok repot," ucap Rasyid dengan santai.


Niken semakin kesal. Kalau dia punya uang sendiri, tidak perlu minta makan pada Rasyid.


"Yah!" panggil Niken.


Rasyid jadi kesal karena Niken mengganggunya.


"Apa? Mau makan? Beli sana! Nih uangnya!" Rasyid memberikan lembaran seratus ribuan yang diberikan Dino tadi.


"Kunci motornya mana?" tanya Niken.


"Cari sendiri, Niken! Jangan ganggu Ayah lagi. Ayah lagi kerja! Jangan lupa belikan rokok sama kopi, terus buatkan Ayah kopi. Beli nasi padang empat bungkus! Udah jangan nanya-nanya lagi!"


Niken mendengarkannya dengan kesal. Selalu begitu kalau sudah pegang hape. Semua tak ada yang mau diganggu.


Bilangnya kerja. Kerja apaan?


Selesai membeli nasi padang, Niken mampir ke warungnya Yanti. Dia mau beli rokok sama kopi.


"Hay, Niken. Mau beli apa?" tanya Beni yang kebetulan lagi jaga warung.


"Rokok sama kopi!" jawab Niken ketus.


Beni sampai terlonjak. Judes banget. Kayak Laras dahulu. Batin Beni.


"Nih. Apalagi?" tanya Beni sambil menyerahkan rokok dan kopi. Beni sangat hafal kedua merk barang itu.


"Udah. Berapa?" tanya Niken masih dengan mode jutek.


Beni menghitungnya.


"Nih, uangnya!"


Beni sengaja melama-lamakan ambil kembaliannya. Dia lagi mikir bagaimana caranya menaklukan Niken, seperti dia dulu menaklukan Laras.


"Ken, nanti malam keluar, yuk," ajak Beni sambil memberikan kembalian.


Bukannya menjawab, Niken malah menatap wajah Beni dengan sorot mata tajam.


Busyet, galak amat matanya.


"Gimana? Mau?" tanya Beni.


"Enggak! Sama kak Laras aja," tolak Niken.

__ADS_1


"Aku pinginnya sama kamu," sahut Beni.


"Tapi aku enggak mau!" Lalu Niken buru-buru kabur.


Hmm. Jutek banget. Awas kamu, nanti aku bikin bucin. Gumam Beni.


"Siapa yang bucin, Ben?" tanya Yanti yang kebetulan masuk ke warung dan mendengar gumaman Beni.


"Enggak ada, Bu.Beni masuk dulu," jawab Beni.


Yanti menatap anaknya dengan heran. Tadi dia sempat mendengar suara Niken. Lalu dia melongok keluar.


Jelas enggak ada. Karena Niken udah pulang naik motor. Ngebut juga karena kesal pada Beni yang berusaha merayunya.


Yanti kembali asik dengan medsos barunya. Akun baru yang dibuatkan tetangganya.


Baru saja memiliki puluhan teman, Yanti sudah mendapatkan teman chating.


Seorang lelaki gagah dengan foto profile terlihat dari belakang. Karena si pemilik akun sedang memandang jauh, entah kemana.


Yanti pun memasang foto profile dengan muka ditutup ujung kerudung. Tapi bukan foto dirinya. Dia mengambil foto keponakannya yang masih muda.


Dan di masing-masing info profile, mereka sama-sama menuliskan status berpisah. Jadi saat mereka chat, serasa tak ada beban.


"Asik banget, Mbak Yanti? Lagi chating sama siapa?" tanya seorang tetangga yang mau belanja di warungnya.


"Eh, Mbak Lastri. Iseng aja kok," jawab Yanti malu-malu.


"Ati-ati lho. Entar kebablasan," sahut Lastri. Lastri yang punya wajah lumayan menarikpun, pernah tertipu gara-gara iseng di medsos.


"Enggaklah. Ada remnya," sahut Yanti dengan percaya diri.


Lalu dia melayani Lastri belanja. Sampai beberapa menit berikutnya, semakin banyak orang yang datang ke warungnya Yanti untuk belanja.


Yanti sudah gelisah, karena dia meninggalkan teman chatingnya tanpa pamit lebih dulu.


Yanti jadi tidak fokus melayani pelanggannya. Berkali-kali dia melakukan kesalahan. Mulai dari salah mengambilkan barang, sampai salah menghitung. Termasuk juga salah memberikan kembalian.


"Ben! Beni!" panggil Yanti yang merasa kewalahan.


"Iya, Bu." Beni menghampiri Yanti.


"Bantu Ibu, Nak. Ibu capek," pinta Yanti.


Dengan sigap, Beni membantu Yanti melayani pelanggan.


Padahal alasan Yanti bukan capek, tapi biar lebih cepat selesai dan dia bisa kembali chating dengan teman barunya.


Setelah selesai melayani dan tak ada seorangpun pembeli, Yanti beralasan pada Beni kalau badannya kurang enak.


"Ibu sakit?" tanya Beni dengan khawatir.


"Enggak. Cuma sedikit pusing aja," jawab Yanti. Soalnya kalau dia bilang sakit, bisa-bisa dipaksa ke dokter oleh Beni.


"Ya udah. Ibu istirahat aja di kamar. Biar Beni yang jaga warung," sahut Beni.


Yanti bersorak dalam hati. Itu artinya dia bisa melanjutkan chatingnya.


Dengan semangat empat lima, Yanti masuk ke kamarnya. Dia buka lagi aplikasi chatingnya.


Tapi Yanti harus menelan kekecewaannya. Teman chatingnya sudah off. Berkali-kali Yanti menyapa, tak ada reaksi apapun.

__ADS_1


Yanti membanting ponselnya ka atas tempat tidur dengan kesal.


__ADS_2