KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 63 CYNTIA MENGHILANG


__ADS_3

Jam dua belas malam, Tomi mengantarkan Laras pulang. Meski dari siang Tomi menahan hasratnya pada Sylfie dan ingin melampiaskan pada Laras, tapi setelah malam dia merasa capek. Jadi dia hanya benar-benar mengajak Laras sekedar nongkrong saja.


Setelah mengantar Laras, Tomi pulang ke rumah orang tuanya. Rumah sudah sepi dan beberapa lampu sudah dimatikan.


Lastri yang membukakan pintu untuk Tomi. Dia belum bisa tidur dengan nyenyak kalau salah satu anaknya belum pulang.


"Dari mana kamu, jam segini baru pulang?" tanya Lastri.


"Kerja, Bu. Cari tambahan," jawab Tomi. Dia tidak bohong karena kenyataannya dia mencari uang meski dengan cara yang salah.


Lalu Tomi mengeluarkan dompetnya.


"Bu, Tomi titip uang ini. Buat nanti kalau mau melamar Laras. Tapi kalau Ibu butuh, pakai saja dulu." Tomi mengeluarkan beberapa lembar seratus ribuan. Bayaran Tomi setelah seharian menemani Sylfie.


Tomi hanya ditransfer setengah dari yang dibayarkan Sylfie pada Cyntia. Tadinya Tomi sudah meminta Sylfie untuk membayarnya langsung tanpa lewat Cyntia. Tapi Sylfie menolak dengan alasan dia mau cari aman. Agar ada yang bertanggung jawab saat terjadi sesuatu dengannya.


Mau dikata apa, daripada enggak dapat uang sama sekali. Toh, yang dilakukannya hanya menemani Sylfie belanja, memijat dan mendengarkan curhatan saja.


"Kerja apa kamu, kok dapatnya banyak banget?" Lastri mulai mencurigai Tomi. Karena setahunya, anaknya tak mempunyai keahlian khusus.


"Jadi makelar jual beli rumah, Bu," jawab Tomi berbohong.


"Oh... Ya syukurlah kalau kerja bener. Ibu enggak mau kamu kerja yang aneh-aneh, Tom," sahut Lastri.


"Kamu sudah makan?" tanya Lastri. Dia sudah menyiapkan makan malam yang sengaja dia sisihkan.


"Sudah, Bu. Tomi masuk kamar dulu ya. Capek banget."


Lastri mengangguk. Dia juga sudah capek dari tadi menunggu Tomi pulang.


Di kamarnya, sudah tertidur salah satu adiknya. Tomi hanya menggeser tubuh adiknya agar memberi ruang padanya.


Sambil menunggu matanya terpejam, pandangan Tomi menerawang ke langit-langit kamar.


Andai saja aku punya banyak uang, aku ingin sekali membelikan rumah yang layak untuk keluargaku. Tapi sayangnya aku sudah berjanji akan segera menikahi Laras.


Apa aku mesti menunda dulu sampai aku bisa membelikan rumah buat keluargaku? Tomi bergelut sendiri dengan pikirannya.


Besok pagi saja, aku bicarakan pada ibu. Juga pada Laras. Semoga dia bisa mengerti dan mau menunggu.

__ADS_1


Tapi kalau tidak? Tomi tak siap kalau harus kehilangan Laras. Bagaimana pun, dia yang sudah mengambil keperawanan Laras.


Tomi pun belum pernah mendapati wanita sebaik Laras. Dia tak pernah menuntut apapun dari Tomi. Laras benar-benar gadis yang tulus mencintainya.


Bukan karena Tomi sekarang sering memberinya uang, tapi memang Laras sangat mencintai Tomi. Dari sebelum Tomi memberikan apapun padanya.


Tak terasa, Tomi pun tertidur. Dalam mimpinya, dia sedang melaksanakan pernikahannya dengan Laras.


Laras didandani dengan begitu cantiknya. Tomi benar-benar terkesima. Membuatnya tak mau kehilangan Laras.


"Bu, Tomi sangat mencintai Laras. Tapi Tomi juga belum siap untuk menikah secepatnya," ucap Tomi saat makan pagi.


Lastri mendengarkannya sambil menyuapi adik Tomi yang tidak normal.


"Tomi ingin membahagikan keluarga dulu, sebelum Tomi menikah. Karena kalau sudah menikah, pasti akan fokus memikirkan keluarga baru Tomi," lanjutnya.


"Kerja dulu yang bener, baru mikir nikah." Hardi yang kebetulan mendengarnya, ikut komentar. Lalu dia kembali ke depan.


Pagi-pagi dia sudah mendapatkan pelanggan yang pecah ban motornya.


"Benar ucapan bapak kamu, Tom. Mantapkan dulu niat kamu, sambil mengumpulkan uang. Bagaimana pun menikah itu adalah sebuah tanggung jawab. Tanggung jawab menafkahi istri kamu," ucap Lastri.


"Iya. Kamu bicarakan pada Laras. Jangan sampai dia salah mengerti dan menganggap kamu hanya mempermainkannya," jawab Lastri.


"Iya, Bu. Nanti Tomi coba bicarakan dulu pada Laras. Semoga dia mau mengerti. Tomi juga ingin membahagiakannya, Bu. Tomi sangat mencintainya," sahut Tomi.


Lastri tersenyum bahagia, anaknya bisa memahami. Bukan dia menghalang-halangi niat baik Tomi, tapi dia tak mau Tomi mengalami kejadian yang sama dengannya.


Setelah dikaruniai banyak anak, beban hiduonya semakin berat. Apalagi suaminya dipecat tanpa pesangon sedikitpun.


Waktu itu, Hardi dijebak. Dan dia dipaksa mengakui kesalahan yang tak pernah dilakukannya. Hingga dengan mudah, atasannya memecat tanpa hormat.


"Bu, Tomi pamit kerja dulu. Nanti sore, Tomi mau membicarakannya pada Laras dan ayahnya," pamit Tomi.


Sebenarnya Tomi bingung meski kemana. Dia sudah dipecat oleh managernya.


Setelah capek muter-muter, akhirnya Tomi memutuskan pergi ke rumah Cyntia. Kali saja ada job baru untuknya. Dia harus bisa mengejar targetnya.


Sampai di depan rumah Cyntia, suasananya masih sangat sepi. Lampu terasnya pun masih menyala.

__ADS_1


Cyntia memang terbiasa tidur menjelang pagi. Jadi dia tak pernah bisa bangun pagi-pagi.


Tomi pun tak enak kalau bertamu sementara tuan rumahnya masih tidur. Dan akhirnya Tomi duduk menunggu di sebuah warung kopi yang tak jauh dari rumah Cyntia.


Sambil ngopi, Tomi berbincang-bincang dengan pemilik warung kopi itu.


"Bapak sudah lama berjualan di sini?" tanya Tomi. Dia iseng saja kepingin mengorek informasi tentang Cyntia.


"Sudah hampir sepuluh tahun. Sejak saya dipecat dari pekerjaan," jawab pemilik warung yang bernama Darto.


"Oh, memangnya dulu Bapak kerja apaan?" tanya Tomi masih dengan mode iseng, daripada tidak ada omongan.


"Saya kerja jadi marketing di sebuah bank swasta. Keluar karena pusing memikirkan targetnya yang tinggi. Untungnya dapat pesangon meski tak terlalu besar. Tapi cukuplah buat modal usaha kecil-kecilan ini," jawab Darto.


"Enak usaha sendiri ya, Pak?" tanya Tomi lagi.


"Iyalah, enggak pusing memikirkan target. Kalau badan sehat ya jualan, kurang sehat ya tinggal istirahat di rumah," jawab Darto.


"Ngomong-ngomong, Bapak kenal dengan pemilik rumah itu?" Tomi menunjuk ke rumah Cyntia.


"Kenal. Walaupun tak banyak tahu tentang dia. Dia sering membeli rokok di sini. Katanya sih dia janda," jawab Darto.


"Oh... Jam segini kenapa lampunya masih menyala ya, Pak?" tanya Tomi penasaran. Dia berharap Darto memberikan jawaban yang memuaskan.


Darto pun menatap lagi ke rumah Cyntia.


"Iya, enggak biasanya. Kamu kenal dengan mbak Cyntia?" tanya Darto yang kebetulan mengenal nama Cyntia.


"Kenal, Pak. Ini saya mau ke sana. Tapi enggak enak karena lampunya masih nyala. Takutnya dia masih tidur," jawab Tomi.


"Coba ditelpon saja. Kali aja ada apa-apa dengannya," pinta Darto.


Tomi pun mencoba menghubungi nomor Cyntia. Tapi sayangnya, berkali-kali Tomi menelpon tak diangkat juga. Nomornya tidak aktif.


Tomi mencoba menanyakannya pada Adam. Tapi Adam menjawab tak tahu.


Tomi jadi penasaran, lalu dia berjalan ke rumah Cyntia. Dia ketuk pintu rumahnya berkali-kali, tak ada jawaban sama sekali.


Tomi kembali menghubungi nomor Cyntia, tetap tak aktif. Kemana Cyntia?

__ADS_1


__ADS_2