
Laras membuka lagi pesan chat dari Tomi. Lalu kembali membacanya.
Kenapa malah Tomi mengatai bik Yati sebagai pembantu sialan? Apa yang dikatakan bik Yati pada Tomi? Tanya Laras dalam hati.
Setelah Laras menimbang-nimbang, akhirnya memutuskan untuk menanyai bik Yati.
"Tadi bik Yati bilang gimana sama Tomi?" tanya Laras.
Bik Yati malah celingukan. Dia semakin bingung mesti menjawab apa. Karena dia harus kembali berbohong.
Untungnya Dino terus datang. Dia sudah berganti pakaian.
Dan pakaian Dino tak seperti biasanya. Dia berpakaian casual. Hingga tampak jauh lebih muda.
Laras menatapnya sekilas. Dalam hati memuji juga penampilan Dino yang berbeda.
Jelas saja Dino berusaha tampil lebih muda. Dia mau jalan dengan Laras yang semestinya jadi anaknya.
"Ayo, Ras. Kita jalan sekarang," ajak Dino.
"Iya, Om." Laras beranjak berdiri.
"Bik Yati, enggak usah nyiapin makan malam. Nanti aku mau ajak Laras makan di luar sekalian. Bu Tasya juga pulangnya tengah malam," ucap Dino pada Yati.
"Iya, Pak," sahut Yati dengan sopan.
"Saya pamit dulu, Bik," pamit Laras pada Yati.
"Iya, Ras. Ini lauk untuk adik-adik kamu gimana?" tanya Yati.
"Lauk apaan?" tanya Dino.
"Ini, Pak. Sisa lauk tadi siang. Sayang kalau kebuang. Masih banyak," jawab Yati.
"Udah, buat makan kalian aja!" ucap Dino. Dia tak mau berlama-lama menunggu.
"Tapi ini sudah saya bungkusin, Pak. Tinggal bawa aja,$ sahut Yati.
"Ya udah, kalau begitu bawa aja." Dino berjalan duluan ke depan.
Yati memberikan bungkusan lauk yang sudah dimasukan ke kantong plastik.
"Nih. Aku juga udah bawain nasinya sekalian."
"Iya, Bik. Makasih," ucap Laras.
"Sulis..! Pak Dino mau keluar tuh!" teriak Yati.
Sulis yang baru saja mencuci tangannya, langsung berlari ke depan. Langkahnya bertemu dengan langkah Laras.
"Mau kemana kamu, Ras?" tanya Sulis.
"Ke rumahku. Ambil baju-bajuku," jawab Laras.
__ADS_1
"Katanya ayah kamu yang mau nganter kesini?" tanya Sulis lagi.
"Iya. Tapi om Dino maksa nganterin aku," jawab Laras.
Dino menekan klakson dua kali. Laras segera mempercepat langkahnya ke mobil Dino.
Sulis pun dengan malas membukakan pintu gerbang untuk mereka.
"Hhh! Cuma mau ambil baju aja, pake nganterin. Pasti ada maunya ini si buaya darat!" gumam Sulis pelan, sambil membukakan pintu gerbang.
Mobil Dino melintas melewati Sulis. Mata Sulis menatap tajam. Ingin sekali Sulis menghentikannya dan menarik Laras keluar dari mobil.
Laras hanya melirik sekilas. Meski jaman SMP Laras pernah begitu menyukai Sulis, tapi bagi Laras semua sudah berlalu.
Karena nyatanya setelah lulus SMP mereka loss contact. Bahkan kabar tentang Sulis, sedikitpun tak pernah didengar lagi oleh Laras.
Beberapa kali Laras mencoba bertanya pada teman-teman akrab Sulis, tapi mereka pun tak bisa memberi jawaban. Selain Sulis yang katanya bekerja di luar kota.
Setelah mobil Dino pergi, Sulis membanting pintu pagarnya dengan kencang.
Kekesalan Sulis dilampiaskan pada pintu pagar yang tak bersalah. Lalu Sulis berjalan masuk ke rumah sambil terus menggerutu.
"Kamu kenapa, Lis?" tanya Yati.
Yati sedang menyapu lantai teras. Rutinitasnya kalau menjelang maghrib.
Menurut Yati, lantai harus bersih saat menjelang malam. Dan itu dia terapkan di manapun berada.
Sulis hanya diam dan nyelonong masuk dengan kesal. Yati malah terkikik melihatnya.
Laras masih diam, tak berani membuka omongan. Karena memang dia masih merasa asing dengan Dino. Apalagi image tentang Dino yang diciptakan oleh Tomi, sangat buruk. Membuat Laras sedikit segan.
"Kamu betah kan Ras, kerja di rumah?" tanya Dino membuka percakapan.
Laras kebingungan menjawabnya. Dia masih ragu untuk mengatakan iya atau tidak.
Dino menoleh ke arah Laras.
"Mm...belum tau, Om," jawab Laras apa adanya saja.
"Kok belum tau? Ya harus tau dong," sahut Dino menggoda Laras.
"Kan aku belum menjalani, Om. Kalau misalnya aku enggak betah, boleh kan aku minta berhenti?" tanya Laras.
Tiba-tiba Laras berpikir, inilah saatnya dia mengungkapkan keinginannya, untuk mundur secepatnya.
Meskipun tidak to the poin juga. Setidaknya Dino sudah tahu sebelumnya.
"Boleh. Kamu boleh berhenti kapan saja kamu mau," jawab Dino mengejutkan Laras.
Bagaimana tidak, Laras berpikir Dino bakal marah dan mencak-mencak begitu mendengarnya.
Laras yang terkejut, menatap ke arah Dino.
__ADS_1
"Kenapa? Kaget?" tebak Dino..
Laras kembali menatap ke depan. Ke arah jalanan yang ramai tapi lancar.
"Kamu pikir aku akan marah-marah mendengarnya?" tanya Dino.
Laras hanya diam saja. Dia malah jadi merasa tak enak sendiri.
"Tapi aku yakin, bakal bisa membuat kamu betah tinggal di rumahku. Karena kelihatannya, Tasya pun menyukai kamu," ucap Dino.
"Oh ya? Kenapa Om begitu yakin aku bakalan betah?" tanya Laras.
Dino hanya tertawa terbahak-bahak. Dari tawanya, Dino terkesan sedang sangat bahagia.
"Ras. Orang hidup itu harus punya keyakinan. Kamu bisa lihat ayah kamu. Tapi maaf ya, aku jadi ngomongin ayahmu," ucap Dino.
Laras mengangguk. Dia ingin tahu, orang lain memberi penilaian seperti apa pada ayahnya.
"Ayah kamu enggak kerja, kan?" tanya Dino.
Laras menggeleng.
"Nah! Tapi ayah kamu punya keyakinan kalau dia bisa menghidupi anak-anaknya. Dan nyatanya? Ayah kamu bisa kan? Meskipun terseok-seok," ucap Dino.
Laras berpikir lagi. Memang benar ucapan Dino. Bahkan menurut Laras, Rasyid terlalu percaya diri. Meskipun ujung-ujungnya ketiga anaknya juga yang harus hidup sengsara.
"Begitulah hidup, Ras. Kita harus punya keyakinan. Tapi kalau bisa jangan seperti ayah kamu juga. Kasihan kalian," lanjut Dino.
"Ah, tapi sudahlah. Itu urusan pribadi ayah kamu. Enggak penting juga membahasnya. Om cuma ingin, kamu mengambil hikmah dari sikap ayah kamu itu. Kamu paham, kan?" tanya Dino.
"Iya, Om. Paham. Maafkan kelakuan ayahku. Aku pun kadang, merasa malu. Tapi apa mau dikata? Ayah terlalu egois dan otoriter," jawab Laras.
"Nah, makanya. Sekaranglah saatnya kamu keluar dari kehidupan ayahmu. Perlahan saja. Biar ayahmu merasa kamu keluar karena memang sudah saatnya. Bukan karena keinginan kamu yang menggebu," sahut Dino.
Laras berpikir, benar juga omongan Dino. Tapi bagaimana mungkin dia bisa tetap tinggal di rumah Dino, sementara Tomi melarangnya.
"Ya, semoga aku bisa betah tinggal di rumah Om Dino," sahut Laras.
"Kan aku udah bilang, Ras. Aku akan membuatmu betah. Percayalah padaku," ucap Dino.
Laras kembali menoleh ke arah Dino.
Tepat pada saat itu lampu merah menyala. Dino mengerem mobilnya dan meraih tangan Laras. Lalu mengecupnya dengan lembut.
Jantung Laras seakan berhenti berdetak. Matanya melotot hampir saja meloncat keluar.
"Kamu menyukainya kan, Ras?" tanya Dino.
Laras hanya diam saja.
"Aku masih banyak cara untuk menahan dan membuatmu betah, Laras." Dino kembali mengecupi tangan Laras, hingga mobil di belakangnya berkali-kali membunyikan klakson.
Tin.
__ADS_1
Tin.
Tin.