KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 181 LARAS MULAI BEKERJA


__ADS_3

"Gila kamu Rasyid! Kamu pikir anakmu seorang sarjana? Anakmu tidak bekerja sebagai manager di sini! Dia hanya jadi asisten istriku sambil mengawasi ART!" ucap Dino dengan geram.


"Itu kan berarti pekerjaan Laras double. Berarti gajinya juga harus double. Betul, kan?" sahut Rasyid.


"Mimpi kamu, Rasyid! Lagian mana ada gaji ART segitu?" tolak Dino.


"Anakku bukan ART, Dino!" sahut Rasyid. Meski tadi di rumah Rasyid menyebutkan profesi itu pada Laras.


"Sama aja! Sama-sama asisten. Udah, begini aja..." Lalu Dino menyebutkan angka. Dan itu adalah gaji ART di rumahnya ini.


"Hhh! Mana ada anakku kamu gaji segitu? Enggak akan cukup!" ucap Rasyid.


Laras hanya diam saja. Dia sudah malas kalau Rasyid bicara soal uang. Apalagi bicara soal gajinya. Dia yang akan kerja, kenapa Ayah yang ribet? Batin Laras.


"Enggak cukup buat apa? Laras masih single. Dia belum punya tanggungan apapun!" tanya Dino.


"Tanggungan Laras ya adik-adiknya. Juga aku...." Rasyid keceplosan. Lalu mengusap wajahnya dengan kasar.


"Ya. Aku belum dapat kerjaan lagi. Mau tak mau Laras yang harus membantuku mengurus dua adiknya," ucap Rasyid.


"Sejak kapan kamu kerja?" gumam Dino.


Laras juga membatin, sejak kapan ayah kerja? Tiap hari aja di rumah doang sambil mainan hape.


"Udah gini aja, Bang Rasyid. Gaji pokok Laras segitu, tapi nanti kami akan kasih tip sebagai gaji tambahan. Gimana?" tanya Tasya.


Tasya tak tega juga kalau nantinya gaji Laras diambil semua oleh Rasyid. Sebagai anak muda, pastinya Laras juga punya kebutuhan sendiri.


Jadi Tasya mengatakan seperti itu. Biar nanti tipnya diterima langsung oleh Laras.


"Gimana, Ras?" tanya Rasyid mengalah. Bagaimanapun, dia butuh uang untuk keperluannya sehari-hari.


"Terserah Ayah aja. Memangnya Laras bisa menolak?" tanya Laras.


"Kalau menolak, terus kamu mau kerja apa lagi? Enggak kasihan apa, adik-adik kamu kelaparan? Sekolah tak pernah dikasih uang saku. Bayaran sekolah nunggak terus." Rasyid memulai dengan jurus memelasnya.


Laras hanya menghela nafasnya.


Memalukan sekali sifat Rasyid yang satu ini. Selalu mengharapkan belas kasihan orang lain. Tapi giliran direndahkan orang lain, dia tak terima.


Tasya yang sudah rapi, pamit pergi duluan. Dia mau menghadiri arisan di rumah kawan sosialitanya.


"Iya, Ma. Ati-ati." Dino mengecup bibir Tasya sekilas.


Rasyid melihatnya sambil menelan ludah. Dalam lubuk hatinya, ada keinginan seperti itu. Bisa mengecup bibir wanita setiap saat. Tapi apa daya, jodoh keduanya tak juga diturunkan dari langit.


"Oke. Fix, ya. Besok pagi kamu bisa mulai kerja kan, Ras?" tanya Dino.


Laras menoleh ke arah Rasyid. Dia malas memberikan pendapatnya sendiri. Pasti akan dibantah oleh Rasyid.

__ADS_1


"Boleh. Besok aku antarkan Laras jam berapa?" tanya Rasyid.


"Pagi dong. Jam enam pagi sudah sampai di sini," jawab Dino.


"Gila! Pagi amat?" Rasyid membayangkan dia yang akan kerepotan mengantarkan sana sini. Karena motornya cuma ada satu.


"Lho, pagi kan aku butuh sarapan sebelum berangkat kantor," sahut Dino.


"Maksud kamu, Laras yang harus menyiapkan makan pagi buat kamu?" tanya Rasyid.


"Iya. Siapa lagi? Pembantu di sini bagian memasak. Ya Laras yang menyajikannya. Sekalian menemaniku sarapan. Tasya kalau pagi belum bangun," jawab Dino.


Laras kembali diam saja. Dia ingin tahu kesanggupan Rasyid. Karena Laras tahu bagaimana ribetnya Rasyid, kalau mau mengantar kedua adiknya sekolah.


Pasti akan ada banyak drama. Dan pada akhirnya mereka akan terlambat sampai sekolah.


Rasyid pun masih diam saja. Dia belum bisa memutuskan


"Atau Laras menginap saja di sini? Banyak kamar, kok," lanjut Dino kembali memberikan opsi pada Rasyid.


Mata Laras langsung terbelalak. Meskipun dia sudah merasa tak betah lagi tinggal di rumah, tapi bukan berarti dia menginap di rumah Dino.


"Gimana, Ras? Kamu mau kan menginap di sini?" tanya Rasyid.


Sebenarnya itu bukan pertanyaan. Tapi lebih ke sebuah pemaksaan. Karena Rasyid tak akan menerima penolakan.


"Gimana, Ras?" tanya Rasyid.


Akhirnya Laras terpaksa mengangguk. Dia akan memantapkan diri keluar dari rumah. Meskipun untuk sementara tinggal dulu di rumah Dino.


"Ya. Kalau itu yang Ayah maui. Laras bisa apa?" jawab Laras.


Rasyid langsung tersenyum puas. Senyum penuh kemenangan.


Laras mendengus dengan kesal.


Ayah macam apa yang memberikan anak gadisnya pada lelaki buaya macam Dino, demi uang? Laras berusaha menahan emosinya.


"Ya udah. Sekarang Ayah tinggal dulu. Ayah mau jemput adik-adik kamu." Tanpa meminta pendapat Laras lagi, Rasyid langsung berdiri.


"Lalu pakaian Laras bagaiamana, Yah?" tanya Laras.


"Gampang. Nanti malam Ayah antarkan kesini," jawab Rasyid.


"Tasya banyak baju yang sudah tak dipakainya, Ras. Nanti aku omongkan. Biar dia mencarikannya untuk kamu," ucap Dino.


Dino juga setali tiga uang dengan Rasyid. Menggampangkan urusan Laras.


Padahal Laras kan tidak hanya butuh baju luar saja. Bagaimana dengan **********? Charger hapenya? Buku-buku novel yang sering dibacanya?

__ADS_1


Sekali lagi, Laras hanya bisa menghela nafas dengan kesal.


"Din, aku pinjami uang dulu. Buat beli bensin dan makan anak-anakku. Anggap aja kasbonnya Laras," ucap Rasyid dengan tak tahu malu.


Dino hanya menghela nafas. Pastinya dia juga sangat kesal pada sifat buruk Rasyid ini.


Dino mengambil dompetnya. Lalu memberikan dua lembar ratusan ribu untuk Rasyid.


"Nih. Sisa gaji Laras baru akan aku kasihkan akhir bulan. Tak ada kasbon lagi," ucap Dino.


"Kerja aja belum, sudah minta kasbon," gumam Dino.


"Tenang aja, Bro. Laras tak akan mengecewakan kamu," sahut Rasyid sambil tersenyum penuh kemenangan.


Terus terang, Laras sangat malu dengan sifat Rasyid. Tapi itulah Rasyid yang tak pernah punya rasa malu, kalau sudah berurusan dengan uang.


Setelah mengantongi uang dari Dino, Rasyid pergi begitu saja. Laras masih duduk di sofa ruang tamu.


Dino menatap Laras dengan senyuman misterius. Laras memalingkan wajahnya.


"Aku antar ke kamarmu." Dino berdiri dan melangkah masuk ke dalam.


Laras mengikuti dari belakang.


Di dekat dapur, mereka bertemu seorang wanita setengah baya.


"Itu Yati. Pembantu baru di rumah ini. Ada satu lagi, laki-laki, bagian serabutan. Namanya Sulis. Kalau kamu perlu sesuatu bisa minta tolong sama mereka," ucap Dino.


Laras hanya mengangguk.


"Yati! Sini!" panggil Dino.


"Iya, Pak. Ini Laras. Asistennya ibu. Kamu layani dia sebaik mungkin. Dia juga tidur di sini. Di kamar samping," ucap Dino.


"Iya, Pak. Selamat datang, Mbak Laras," sapa Yati.


Laras pun mengangguk dengan sopan pada Yati. Lalu kembali mengikuti Dino.


"Ini kamar kamu." Dino membuka pintu kamar untuk Laras.


Laras tercengang melihatnya.


Enggak salah kamar? Masa kamar pembantu semewah ini?


"Gimana, kamu suka?" tanya Dino.


Laras hanya mengangguk. Dia masih tak percaya dikasih kamar yang semewah itu.


"Istirahatlah. Aku mau ke kantor dulu." Dino pun pergi meninggalkan Laras yang masih mengagumi kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2