KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 119 BARU RENCANA


__ADS_3

Sesaat kemudian, Laras berlari masuk ke kamarnya sambil menangis. Laras merasa sangat kecewa dengan omongan Rasyid.


Dia pikir Rasyid benar-benar mendukung hubungannya dengan Tomi. Ternyata Rasyid malah menekan, bahkan mengancam.


Rasyid pun terkejut dengan omongannya sendiri. Dan sangat menyesal kenapa dia bisa bicara kayak tadi. Apalagi melihat Laras berlari sambil menangis.


"Hhh...!" Rasyid mengacak rambutnya dengan frustasi.


Rasyid merasa sangat bodoh. Selalu mengikuti emosinya saja.


Mau menghampiri Laras juga sepertinya tidak mungkin, karena Laras pasti mengunci pintu kamarnya.


Akhirnya Rasyid memilih tidur daripada kepalanya makin pusing. Toh, perutnya sudah kenyang.


Sementara Tomi yang sudah membelikan makanan pesanan Cyntia, segera ke rumah mucikarinya itu.


"Terima kasih, Tom." Cyntia langsung mencium pipi Tomi.


"Sama-sama, Madam," sahut Tomi.


"Ayo kita makan bareng, Tom," ajak Cyntia.


"Aku udah makan tadi. Kamu makanlah. Biar kuat," ucap Tomi sambil menowel pipi Cyntia yang menurutnya sudah mulai cubby.


"Genit kamu, Tom," sahut Cyntia. Lalu dia membuka makanan yang dibeli Tomi.


"Ini banyak banget, Tomi. Ayo kita habiskan berdua," pinta Cyntia.


Demi membuat Cyntia senang, Tomi pun akhirnya menurut.


Begitu selesai makan, Cyntia kedatangan tamu. Seorang lelaki yang setahu Tomi bernama Bowo. Dia pernah diajak Cyntia waktu melayat Sinta.


"Mas Bowo. Kok enggak kasih kabar dulu kalau mau kesini?" Cyntia menyambutnya dengan sebuah pertanyaan.


"Aku tadi kebetulan lewat sini. Jadi sekalian mampir," jawab Bowo.


"Kamu Tomi, kan?" tanya Bowo pada Tomi.


"Iya, Om," jawab Tomi dengan sopan.


"Tom. Mas Bowo ini yang nanti akan menjadi bapak pura-pura kamu, kalau kamu mau melamar Laras," ucap Cyntia.


Tomi terdiam sejenak. Dia baru ingat, kalau masih punya satu PR. Yaitu melamar Laras tapi tanpa kedua orang tuanya.


"Sebaiknya kamu sama pacarmu menikah siri saja dulu. Soalnya kalau nikah resmi, ribet. Kamu mesti mengurus surat-suratnya," ucap Bowo.

__ADS_1


"Iya, Tom. Kayak mas Bowo ini yang sering menikahi wanita secara siri. Katanya biar enggak ribet," sahut Cyntia.


"Cuma kamu satu-satunya wanita yang enggak mau aku nikahi siri, Cyn," ucap Bowo.


Cyntia tertawa.


"Buat apa, Mas? Kalau cuma buat menghindari dosa. Lagi pula aku enggak mau terikat," jawab Cyntia.


"Aku enggak akan mengikatmu, Cyn," sahut Bowo.


Cyntia kembali tertawa. Cyntia sangat paham karakter Bowo yang posesif dan otoriter. Itu makanya Cyntia tak mau terikat pernikahan dengan Bowo, meski hanya nikah siri.


"Kapan kamu mau melamar Laras, Tom?" Cyntia kembali ke topik semula.


"Terserah kalian saja. Aku nurut. Tapi sebaiknya kalau aku sudah punya tempat tinggal sendiri. Aku enggak mau kalau numpang di rumah mertua," jawab Tomi.


"Kalau masalah tempat tinggal, kamu enggak usah khawatir. Aku ada apartemen. Udah lama kosong. Pakai aja," sahut Bowo.


"Boleh juga itu, Tom. Daripada kamu ngontrak rumah. Malah nanti ketahuan Laras," sahut Cyntia.


"Iya. Terima kasih, Om. Nanti kalau udah siap, aku kabari," jawab Tomi.


Tomi merasa belum terlalu siap. Takutnya kalau nanti tak bisa menafkahi Laras dengan baik.


"Oke. Terserah kamu aja, Tom. Oh iya, Cyn. Kamu ikut aku, yuk," ajak Bowo.


"Aku ada urusan keluar kota. Enggak lama. Paling malam udah pulang," jawab Bowo.


"Kenapa enggak sama sekretarismu yang seksi itu aja, sih?"


Hari ini Cyntia lagi mager. Dia lagi pingin bermalas-malasan saja di rumah.


"Dia lagi banyak kerjaan di kantor. Kalau aku ajak, bakal berantakan urusan kantor. Ayo siap-siap. Tomi biar nungguin rumah."


Seperti biasa, Bowo yang punya sifat otoriter, tak mau disanggah. Apapun maunya, harus dituruti.


Itu salah satu sebabnya Cyntia menolak diajak nikah siri. Kalau saja bukan karena uang, pasti Cyntia sudah menjauh.


Dengan malas, Cyntia masuk ke kamarnya untuk ganti pakaian.


"Kamu udah serius dengan pacarmu itu, Tom?" tanya Bowo.


"Serius, Om. Tapi sayangnya bapakku masih keberatan kalau kami buru-buru menikah," jawab Tomi.


"Ya menurutku juga jangan buru-buru. Masih banyak waktu kan?" sahut Bowo.

__ADS_1


"Masalahnya, ayahnya Laras selalu mengejar-ngejar, Om. Bikin pusing aja. Makanya aku minta tante Cyntia membantu."


Bowo manggut-manggut. Dalam hati dia berkata, nekat juga anak muda ini. Mau menikah diam-diam. Bahkan membohongi calon istrinya.


"Salut buat kamu, Tom. Tekadmu sangat kuat. Berani ambil resiko," ucap Bowo.


"Kepepet, Om. Daripada bikin pusing. Soal nantinya bagaimana, masa bodolah. Siapa suruh ngejar-ngejar terus. Hehehe." Tomi terkekeh.


"Ya, pintar-pintarnya kamu menyimpan rahasia aja. Jangan banyak orang tau. Dan jangan biarkan Laras banyak bergaul. Bisa ketahuan kebohonganmu," usul Bowo. Dia pastinya sudah sangat berpengalaman.


"Iya, Om."


Tak lama, Cyntia keluar sudah dengan pakaian resmi. Dia terlihat anggun. Meski dengan make up minimalis.


"Madam, cantik sekali. Pantas jadi orang kantoran," puji Tomi.


"Ah, udah dari dulu kalau aku ini cantik, Tomi. Kamu aja yang enggak pernah perhatian," jawab Cyntia.


"Iya deh. Kalau enggak cantik, Om Bowo pasti enggak bakalan mau," sahut Tomi mengalah.


Tapi memang Cyntia masih terlihat cantik di usianya yang hampir setengah abad. Ibunya Tomi saja sudah terlihat tua. Padahal mereka hampir seumuran.


Pastinya karena Cyntia banyak uang. Hidupnya tak banyak beban. Juga perawatan wajahnya tidak murah.


"Kita jalan dulu, Tom," pamit Cyntia. Lalu pergi bersama Bowo tanpa mencium pipi Tomi seperti biasanya.


Bisa ngamuk Bowo yang posesif kalau sampai melihatnya. Cukup jadi rahasia antara Cyntia dengan Tomi saja soal kedekatan mereka.


"Oh iya. Kalau kamu mau pergi, bawa aja kunci pintunya. Aku udah bawa kunci sendiri," ucap Cyntia sebelum masuk mobil.


Penampilan Cyntia benar-benar kayak orang bener. Bukan mucikari yang hidupnya berlumur dosa dan selalu menjebloskan anak buahnya ke dosa yang sama dengannya.


Termasuk Tomi yang akhirnya jadi budak nafsu dan harta. Sehari saja tak melakukannya, udah kayak cacing kepanasan.


Kemarin saat cuti tiga hari, sebenarnya sangat membuat Tomi tersiksa. Tapi karena hatinya lagi bersedih, Tomi bisa menahannya.


Makanya begitu selesai masa cutinya, Tomi langsung menghampiri Laras. Karena Laras satu-satunya tempat pelampiasan Tomi.


Selain juga karena Tomi sangat merindukan kekasih hatinya itu.


Ya, meski Tomi sering bercinta dengan wanita lain, tapi hati dan cinta Tomi hanya pada Laras seorang.


Dan Laras salah satu alasannya mengambil pekerjaan haram ini. Agar Tomi bisa membahagiakan Laras.


Setelah mobil Bowo tak terlihat lagi, Tomi masuk ke dalam rumah Cyntia dan mengunci pintunya.

__ADS_1


Siang ini Tomi akan menghabiskannya dengan tidur. Karena dia juga tak tahu mesti kemana lagi.


Sang mucikari belum memberikan job untuknya. Jadi Tomi memanfaatkan siang ini untuk istirahat. Memulihkan tenaganya, biar benar-benar fit lagi dan memikirkan bagaimana rencananya untuk melamar Laras.


__ADS_2