KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 179 KESOMBONGAN YANG MENURUN


__ADS_3

Kena juga kau! Hehehe. Rasyid terkekeh sendiri. Dia merasa senang, berhasil menjebak orang.


Rasyid menatap lembaran lima puluh ribuannya.


Ah, lumayan bisa buat beli rokok sama mie instan. Sisanya bisa juga buat beli kopi.


Rasyid mengantonginya lalu balik arah.


Tujuan pertama Rasyid ke warungnya Yanti. Biar Yanti tahu kalau dia juga punya duit buat beli makanan, meski hanya mie instan.


Enggak sekedar makan nasi sisa tetangga. Yang sudah saatnya dibuang.


"Mau beli apa?" tanya Yanti dengan jutek.


Yanti malas beramah tamah dengan Rasyid. Ujung-ujungnya seperti biasa, ngutang dan tak ada juntrungannya.


"Yaelah. Judes amat? Senyum dong," ucap Rasyid.


"Lagi sakit gigi!" sahut Yanti dengan kesal.


"Awas, sakit gigi beneran loh," ucap Rasyid.


Yanti malah semakin jutek.


"Udah, buruan mau beli apa?"


Rasyid mengeluarkan lembaran lima puluh ribuannya. Lalu meletakannya di atas etalase.


"Nih! Aku mau rokok, mie instan sama telur. Jangan lupa kopi sama gulanya. Sisanya ambil!" ucap Rasyid dengan sombongnya.


Busyet. Baru punya duit lima puluh ribu aja udah sombong! Batin Yanti.


Yanti langsung menyaut uang Rasyid. Jangan sampai diambil lagi sama Rasyid setelah mendapatkan belanjaan.


"Wuish! Cepet amat nyambernya?" ucap Rasyid.


"Iyalah. Jangan sampai kalah cepet ama tukang ngutang!" sahut Yanti.


Rasyid terkekeh.


Ish! Udah gila apa ya, ini orang? Disindir tukang ngutang, bukannya marah malah ketawa. Batin Yanti.


"Hidup itu enggak indah kalau enggak punya utang, Bu!" ucap Rasyid.


"Kata siapa? Buktinya hidupku indah karena aku enggak punya utang!" sahut Yanti.


"Enggak akan ada tantangannya!" ucap Rasyid.


"Tantangan, utang! Tantangan itu nyari duit yang banyak, biar enggak ngutang lagi!" sahut Yanti dengan ketus.


"Ngapain nyari duit banyak-banyak, kalau masih jomblo terus?" tanya Rasyid tanpa juntrungan.


"Biarin aja jomblo. Yang penting banyak duit!" sahut Yanti.


"Nih! Ini kembaliannya! Ambil sana buat jajan anak-anak kamu!" Yanti memberikan belanjaan Rasyid juga uang kembaliannya.


"Beneran nih, enggak mau ambil kembaliannya?" tanya Rasyid.


"Enggak! Aku enggak butuh uang recehan!" jawab Yanti. Dia memberikan uang coin untuk kembalian Rasyid.

__ADS_1


Lalu Rasyid ingat kalau di kantongnya ada beberapa uang coin, yang dipungutnya di jalanan tadi.


Rasyid mengeluarkan semuanya. Ada sekitar sepuluh coin beraneka macam nominalnya.


"Habis markir di mana?" tanya Yanti meledek.


"Ngamen!" jawab Rasyid asal.


Yanti tertawa ngakak.


"Malah ketawa! Mau denger aku nyanyi?" tanya Rasyid.


"Kayak bisa nyanyi aja!" jawab Yanti.


"Bisalah. Tapi ada taripnya," sahut Rasyid.


"Udah, udah. Enggak usah. Enak enggak, kupingku malah jadi budeg!" tolak Yanti.


"Ya udah kalau enggak mau dengerin. Nih, aku tuker uang aja. Gatel aku kalau ngantongin uang coin!" Rasyid menyerahkan semua uang coinnya.


"Kalau gatel, kasihin aja ke orang minta-minta di jalanan sono!" sahut Yanti.


"Aduh, aku kalau ngasih ke orang minta-minta, enggak yang coin juga! Udah buruan!" sahut Rasyid.


Yanti terpaksa menurut. Dia juga butuh uang coin untuk kembalian.


Dia ambil hanya yang pecahan seribuan dan lima ratusan. Sisanya dia berikan lagi ke Rasyid.


"Yang ini enggak laku!" ucap Yanti, sambil meletakannya di atas etalase.


"Ya udah, buat bonus kamu aja!" sahut Rasyid. Dia mendorong kembali uang itu ke arah Yanti.


Yanti semakin kesal. Merasa terhina dikasih bonus uang recehan.


"Ya udah kalau enggak mau. Lumayan buat kerokan!" Rasyid mengantonginya lagi.


"Katanya tadi gatel, ngantongi uang recehan! Itu dikantongi juga!" ucap Yanti.


"Aku kan enggak mau menolak rejeki. Pamali!" sahut Rasyid.


"Aku juga enggak mau menolak rejeki. Tapi kalau rejekinya cuma segitu, ambil aja semuanya!" ucap Yanti.


"Eeh...Ada apa sih ini? Rame amat!" tanya Yuni yang kebetulan mau belanja.


"Ini nih, orang laki pelit!" sahut Yanti.


"Pelit gimana? Orang mau aku kasih rejeki, dianya malah nolak," sahut Rasyid.


"Ih! Rejeki apaan? Pengemis juga dikasih uang gituan nolak!" sahut Yanti dengan ketus.


"Emang uang apaan, Pak Rasyid?" tanya Yuni. Dia usianya jauh di bawah Rasyid, jadi manggilnya Pak.


"Jeng Yuni mau?" tanya Rasyid.


"Cie...Jeng. Jeng Kelin?" ledek Yanti.


"Kan aku menghargai Jeng Yuni ini," sahut Rasyid.


"Hhh! Kayak punya duit aja, bilang menghargai!" sahut Yanti.

__ADS_1


"Eh, Bu! Menghargai itu tak selalu dengan duit! Iya kan, Jeng Yuni?" Rasyid menatap wajah Yuni yang cantik meski tanpa make up.


Yuni cuma bisa mengangguk. Grogi juga dia ditatap seperti itu oleh Rasyid.


"Enggak usah grogi, Jeng Yuni!" Yanti malah ikut-ikutan Rasyid memanggil Yuni dengan sebutan jeng.


"Ah udah, ah. Aku mau beli gula seperempat!" Yuni yang semakin salah tingkah, berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Betul Jeng, belinya gula enggak usah banyak-banyak. Kan Jeng Yuni udah manis. Uhuy...!" Rasyid langsung kabur.


"Dasar duda enggak laku! Sukanya bikin orang grogi aja!" maki Yanti.


Tanpa dia sadari kalau dirinya juga seorang single alias janda.


Yuni hanya mesem saja. Lalu segera pergi dari warungnya Yanti.


Yanti kembali dengan kegiatannya, memberesi barang-barang dagangannya.


"Si Rasyid gila itu, bisa aja bikin Yuni salting. Atau jangan-jangan dia naksir lagi, sama Yuni," gumam Yanti.


Lalu Yanti keluar dari warungnya. Dia ingin memastikan kalau Rasyid tak berhenti di depan rumah Yuni.


"Oh, enggak. Kirain mampir," gumam Yanti lagi.


"Eh! Apaan sih aku ini? Kok malah jadi mikirin Rasyid? Mau dia godain siapa, kek. Kenapa aku mesti ribet?" gumam Yanti lagi.


Karena sejujurnya, di lubuk hatinya yang terdalam, Yanti masih menyimpan rasa untuk Rasyid.


Sayangnya Rasyid selalu saja memanfaatkan rasa itu. Memanfaatkan kebaikan hati Yanti.


Andai saja dia mau berubah, aku pasti mau-mau aja jadi istrinya. Batin Yanti.


Ah, enggak enggak! Ngapain, anaknya banyak! Bandel-bandel juga!


Aah!


Yanti mengacak rambutnya sendiri. Dia malah mikirin Rasyid terus. Jadi tidak konsentrasi pada pekerjaannya.


Sementara Rasyid yang sudah sampai di rumahnya, masuk sambil melenggang.


"Niken! Nih, Ayah bikinin kopi. Kalau kamu mau makan, ini ada mie instan sama telur. Bikinin juga buat yang lainnya." Rasyid menyerahkan kantong plastik yang dibawanya.


"Iya, Yah." Niken langsung menerimanya dengan senang.


Ah, akhirnya bisa makan juga. Memang hebat ayah, bisa dapet uang dengan cepat. Puji Niken pada Rasyid, dalam hati.


Niken mulai aksinya di dapur, meski hasilnya dapur jadi acak-acakan.


"Woy! Mau pada makan enggak? Nih, aku udah bikinin mie telur istimewa!" seru Niken memanggil Laras dan Ayu.


Ayu yang dari tadi mainan boneka di kamarnya, langsung keluar dan menghampiri Niken.


"Panggilin kak Laras. Entar mati kelaparan dia!" perintah Niken pada Ayu.


"Kamu makan aja jatahku! Aku enggak doyan mie instan!" sahut Laras.


Tin! Tin!


Suara klakson dari seorang kurir. Laras keluar lewat pintu depan. Dan mengambil makanan yang dibelinya online.

__ADS_1


"Makanan gue lebih bergizi daripada mie instan!" Laras memamerkannya pada Niken.


"Sombong!"


__ADS_2