
"Iya, Nak. Maafkan Ayah. Ayah tidak sengaja." Rasyid menepuk-nepuk punggung Laras pelan.
Rasyid melepaskan pelukannya.
"Sebentar, Ayah bersihkan dulu luka kamu." Rasyid berjalan ke dapur. Dia akan membuat air hangat untuk membersihkan luka Laras dan mengompresnya agar tidak semakin besar benjolnya.
"Auwh! Sakit, Yah!" seru Laras.
"Tahan sedikit. Biar lukanya bersih dan tidak infeksi," ucap Rasyid.
Laras pun menurut. Dia tahan rasa perihnya. Meski harus meringis-meringis.
"Ayu, tolong Ayah belikan plester. Ayu bisa jalan kan?" tanya Rasyid dengan lembut.
Ayu mengangguk meski kepalanya masih sedikit pusing. Ayu kasihan melihat kakaknya yang terluka.
"Sama obat merah ya? Kalau ada perbannya sekalian." Rasyid memberikan uang pecahan dua puluh ribuan pada Ayu.
"Ayu kan masih sakit, Yah," ucap Laras. Dia tak tega kalau Ayu mesti berjalan ke warung.
"Enggak apa-apa, Kak. Ayu kuat kok," sahut Ayu.
Ayu pun keluar rumah. Dia berjalan perlahan dan tertatih.
Sampai di warung Yanti, ternyata yang dicari Ayu tidak ada.
"Untuk siapa, Yu?" tanya Yanti.
"Kak Laras, Bu," jawab Ayu.
"Lho, Laras kenapa?" tanya Beni yang mendengar.
"Mm. Tadi kak Laras jatuh di kamar mandi. Kepalanya berdarah," jawab Ayu berbohong. Dia tak mungkin juga mengatakan kalau Rasyidlah yang mendorong Laras hingga jatuh.
"Wah. Parah enggak? Biar Kakak bawa ke rumah sakit aja." Beni yang menyukai Laras merasa khawatir dengan kondisi Laras.
"Enggak apa-apa, Kak. Cuma luka sedikit. Itu lagi dibersihin sama Ayah." Lalu setelah pamit, Ayu berjalan kembali ke warung yang lain.
"Eh, Ayu mau kemana?" tanya Beni mengejar Ayu.
"Cari perban buat kakak!" jawab Ayu tanpa menoleh.
"Kakak antar, aja. Apotek jauh dari sini!" Beni berlari mengambil motornya, lalu mengejar Ayu yang sudah berjalan jauh. Yanti hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah anak satu-satunya ini.
"Ayo, Kakak antar." Beni menghentikan motornya di sebelah Ayu.
Ayu berfikir sejenak. Dan akhirnya dia naik juga ke boncengan Beni.
Beni mengantarkan Ayu ke apotek terdekat. Lalu membeli keperluan Laras. Dan Beni juga membayar semuanya.
"Ini uangnya, Kak." Ayu memberikan uangnya pada Beni.
"Simpan aja buat jajan kamu. Ini biar Kakak yang bayar," ucap Beni.
__ADS_1
Ayu mengangguk senang. Dia akan menyimpan uangnya dengan rapi. Jangan sampai kerahuan ayahnya. Nanti kalau Laras sudah sembuh, dia akan mentraktir Laras jajan di warungnya Yanti.
Ayu naik ke boncengan Beni lagi. Lalu Beni segera melajukan motornya ke rumah Rasyid.
"Kakak jangan masuk, ya? Nanti ayah marah," ucap Ayu, lalu berlari masuk ke rumahnya.
Beni hanya bisa menelan kekesalannya. Hh. Sudah capek-capek ngantar, malah enggak dikasih kesempatan ketemu Laras. Beni pun kembali ke rumahnya dengan perasaan kecewa.
"Kenapa, kamu? Kok mukanya asem amat?" tanya Yanti.
"Enggak apa-apa!" sahut Beni dengan kesal.
Yanti sudah bisa menebaknya. Pasti Beni di php-in oleh Ayu.
"Makanya, jangan terlalu baik sama mereka. Mereka itu sama saja. Enggak yang tua, enggak yang kecil, semua tukang php," ucap Yanti, lalu tertawa terpingkal-pingkal.
"Ibu juga sering di php-in sama yang tua, kan?" Beni membalas ibunya.
"Cukup sekali aja! Ibu enggak mau lagi kemakan bujuk rayunya. Gombal!" Yanti masuk ke dalam rumahnya dengan kesal.
Beni hanya menggaruk kepalanya saja. Nasib-nasib. Punya tetangga hobinya cuma mencari keuntungan saja.
Ayu yang berlari ke dalam rumahnya, memberikan barang pesanan Rasyid.
"Nih, Yah."
Rasyid menerima dan membuka kantong plastik putih bertuliskan nama apotek.
"Kamu beli di apatek ini?" tanya Rasyid. Ayu mengangguk.
Ayu diam sejenak. Dan dia kembali mengangguk meski itu berarti berbohong. Tapi daripada nanti ketahuan Rasyid, uangnya pasti akan diminta lagi.
"Anak pintar!" Rasyid mengacak rambut Ayu yang memang sudah berantakan.
"Kamu enggak capek, Yu? Kan jauh," tanya Laras.
Ayu menggeleng. Ayu takut bicara bohong. Meski dengan menggeleng dan menganggukpun dia sudah berbohong.
Rasyid langsung mengeksekusi Laras. Dia perban kepala Laras yang luka. Setelah dikasih obat merah lebih dahulu.
"Lho, ini kok ada obat antibiotiknya?" tanya Rasyid. Tangannya mengambil satu strip obat.
Ayu kebingungan menjawabnya. Dia tak tahu sama sekali kalau di dalamnya ada obat itu juga.
Ayu menelah ludah. Lalu berfikir lagi.
"Mm. Tadi mbaknya bilang suruh beli obat itu juga, Yah. Jadi...Ayu beli sekalian." Ayu bernafas lega karena bisa memberikan jawaban yang menurutnya benar.
"Memang cukup uangnya?" tanya Rasyid lagi.
Ayu kebingungan lagi. Tak disangka ternyata akan banyak pertanyaan yang membuatnya harus selalu berbohong.
"Cukup, Yah. Mbaknya kasih discount," jawab Ayu asal. Lalu dia keluar dari kamar dan pura-pura ke kamar mandi. Agar tak ada pertanyaan lagi dari Rasyid maupun Laras.
__ADS_1
Di kamar mandi, Ayu mengambil uang dua puluh ribuannya. Lalu melipatnya sekecil mungkin agar tak ketahuan. Dan menyelipkannya di dalam kantong celana pendeknya.
"Ayah mau kemana?" tanya Ayu yang sudah keluar dari kamar mandi.
"Ayah ada bisnis sama teman. Ayu temani kakak Laras dulu, ya? Nanti pulangnya Ayah belikan makanan," jawab Rasyid berbohong. Tidak mungkin juga kalau Rasyid menjawab akan ketemu perempuan.
"Jangan lama-lama ya, Yah?"
"Enggak, Sayang. Ayah usahakan cepat pulang." Rasyid segera menstater motornya.
Sampai di depan warung Yanti, Rasyid ingat kalau hapenya ketinggalan di kamar Ayu. Terpaksa dia memutar motornya.
"Lho, kok balik lagi, Mas?" tanya Yanti yang sedang duduk di depan warungnya.
"Iya, ada yang ketinggalan," jawab Rasyid.
"Ooh. Laras sudah diperban?" Yanti masih saja bertanya, meski Rasyid sudah siap menarik gas motor maticnya.
"Sudah, Mbak Yanti yang cantik," jawab Rasyid dengan gemas. Pertanyaan Yanti hanya memperlambatnya saja.
"Semoga Laras cepat sembuh, Mas! Dan enggak php-in Beni lagi!" teriak Yanti dengan kesal.
Rasyid mendengarnya dan spontan menghentikan motornya. Lalu memundurkan motornya.
"Maksudnya apa?" tanya Rasyid.
"Tanya saja sama Ayu!" Yanti langsung masuk ke dalam rumahnya.
Rasyid pun melajukan motornya perlahan ke rumahnya. Lalu ke kamar Ayu, mengambil hapenya.
"Mana hape Ayah!" Rasyid merebut hapenya yang sedang buat mainan Ayu.
Tadinya Ayu sudah senang karena hape Rasyid tertinggal. Dia bisa bermain game sepuasnya sampai Rasyid kembali dari urusan bisnisnya.
Ayu menyerahkan hape Rasyid sambil cemberut.
"Heh! Ayah mau tanya! Siapa yang membelikan obat di apotek tadi?" tanya Rasyid pada Ayu dengan nada keras.
Ayu langsung gemetar mendengar pertanyaan Rasyid. Jangan-jangan ketahuan kalau Beni yang membelikannya.
"A..Ayu, Yah," jawab Ayu gemetaran.
"Kamu tidak bohong?" tanya Rasyid lagi.
Ayu menggeleng.
"Awas ya kalau berani bohong. Ayah tidak suka kalau anak Ayah berbohong!"
Ayu mengangguk. Dan Rasyid pun pergi dengan tenang.
"Ayah mau kemana, Yu?" tanya Laras.
"Bisnis katanya."
__ADS_1
Laras hanya menghempaskan nafasnya. Sejak kapan Ayahnya punya bisnis? Melarang anak-anaknya berbohong, tapi dia sendiri tukang bohong. Batin Laras yang sudah paham sifat Rasyid.