KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 65 KEBELET NIKAH


__ADS_3

Tomi kebingungan mau kemana lagi. Kalau pulang ke rumah, kedua orang tuanya pasti akan curiga.


Yoga ada di rumah enggak, ya? Tanya Tomi pada dirinya sendiri.


Lalu dia putar balik untuk ke rumah Yoga, sahabatnya. Dan beruntung Yoga sedang tidak ada kuliah.


"Hay, Ga. Tumben di rumah?" Tomi memarkirkan motornya di halaman rumah Yoga yang luas.


"Iya, Tom. Aku kan lagi skripsi, jadi lebih banyak di rumah. Kamu enggak kerja?" tanya Yoga. Dia sedang duduk-duduk di teras rumahnya.


Tomi duduk di sebelah Yoga. Wajahnya langsung kusut. Bagaimanapun Tomi sangat membutuhkan pekerjaan yang memberinya gaji bulanan, meski hanya sedikit.


Setidaknya ada yang bisa dibanggakan di depan Laras dan ayahnya. Dan nantinya akan meringankannya menafkahi Laras kalau mereka sudah menikah.


Apalagi kedua orang tuanya, pasti akan kecewa kalau tau Tomi tak lagi bekerja. Mereka akan bertanya-tanya dari mana Tomi mendapatkan banyak uang.


"Aku dikeluarkan dari pekerjaanku, Ga," jawab Tomi sambil menundukan kepalanya.


"Dikeluarkan? Kenapa?" tanya Yoga. Setahunya Tomi bekerja baru sebulan.


"Ada masalah dengan managerku. Beberapa kali aku absen, dan dianggap membolos. Meski aku sudah mengatakan kalau aku sakit," jawab Tomi berbohong.


"Kok bisa? Atau kamu enggak kasih surat ijin dari dokter?" tanya Yoga lagi.


"Boro-boro surat ijin dari dokter, obat aja cuma beli di warung," jawab Tomi. Baginya memeriksakan diri ke dokter saat sakit, itu hal yang mustahil. Paling banter periksa ke puskesmas. Itu juga kalau enggak malas ngantrinya. Karena bisa dari pagi sampai siang baru diperiksa.


"Tapi memang begitu prosedurnya kalau kamu enggak masuk kerja. Kecuali kamu kerja di toko kecil atau perorangan," sahut Yoga.


"Iya, Ga. Aku tau. Tapi ya sudahlah. Mau dibilang apa? Sekarang aku butuh pekerjaan. Kamu ada info enggak?"


Yoga terdiam sejenak. Dia saja belum pernah memasuki dunia kerja, meski papanya seorang pengusaha yang mempunyai perusahaan sendiri.


"Nanti deh aku tanyakan ke papaku. Siapa tau ada lowongan," jawab Yoga. Bagaimanapun dia kasihan pada sahabatnya ini.


"Oke, Ga. Aku tunggu infonya, ya? Aku butuh banget." Tomi menenggak minuman Yoga. Dia memang terbiasa minum satu gelas dengan Yoga.


Mereka sudah bersahabat sejak sekolah menengah pertama. Yoga selalu baik pada Tomi. Meski sedikit bandel, Tomi sangat melindungi Yoga dari pembully-an teman-temannya.


Dan saat memasuki sekolah menengah atas, Yoga mengikuti kemana Tomi mendaftar. Dia mau satu sekolah dengan Tomi meski tak bisa satu kelas.

__ADS_1


Kedua orang tua Yoga juga sudah mengetahuinya. Dan mereka sangat baik pada Tomi. Bahkan sering meminta Tomi menemani Yoga saat mereka ke luar kota.


Makanya Tomi bisa menyetir mobil dan boleh memakai mobil Tomi kalau membutuhkannya.


"Kalau mau minum, ambil sendiri aja, Ga. Rumah sepi, mama lagi ikut papa ke luar kota. Si bibik juga lagi mudik," ucap Yoga.


Tomi sudah terbiasa di rumah Yoga. Hampir seperti rumah kedua baginya. Dia bebas keluat masuk. Menginap pun dipersilakan.


Biasanya saat kedua orang tua Yoga ke luar kota, Tomi disuruh menemani. Cuma karena tahu kalau Tomi sudah bekerja, mereka jadi sungkan.


Yoga juga sudah berani sendirian di rumah. Apa lagi saat seperti ini, dia harus fokus pada skripsinya. Jadi dia memilih tinggal sendirian di rumah.


Tomi masuk ke dalam. Dia membuat minuman sendiri seperti yang diucapkan Yoga tadi.


Tomi juga meraih sepotong kue yang ada di meja makan. Sepertinya sebelum pergi, mamanya Yoga menyiapkan makanan dulu untuk anak kesayangannya ini.


Yoga sudah berada di ruang tengah, menonton televisi. Tomi ikut bergabung.


"Udah makan, Tom?" tanya Yoga.


"Udah, tadi pagi," jawab Tomi.


"Laper lagi enggak? Biar aku pesankan sekalian. Aku mau pesan makan siang online aja. Malas kalau mesti masak sendiri," ucap Yoga.


Yoga melemparkan bantal ke arah Tomi.


"Dasar!"


Yoga memesan dua porsi makan siang. Dia kalau soal makan tak pernah pelit. Apapun yang dimakannya, sama juga dengan yang diberikannya pada Tomi.


"Eh, gimana kabar Laras?" tanya Yoga. Dia sudah tahu kalau Tomi pacaran dengan Laras. Meskipun dia belum pernah bertemu dan mengenal langsung Laras.


"Baik-baik aja," jawab Tomi.


"Kamu bilang mau melamarnya. Kapan?"


"Nah itulah masalahnya, Ga. Kepinginnya sih cepat-cepat. Tapi akan jadi masalah kan, kalau aku enggak kerja?" jawab Tomi jujur.


"Iya, juga. Ya udah, kamu tunggu aja kabar dariku. Siapa tau papaku bisa memberikan kerjaan buat kamu." Yoga ikut prihatin dengan kondisi Tomi.

__ADS_1


Bagaimana dia akan menafkahi Laras nantinya, kalau enggak kerja.


"Siap. Eh, kamu udah dapet cewek belum, Ga?" tanya Tomi. Karena selama ini, Yoga tak pernah terlihat dekat dengan cewek manapun. Paling banter temen kuliah yang sama-sama mengerjakan tugas kampus.


"Aku mau fokus nyelesain skripsi dulu, Tom. Ribet kalau waktunya kebagi buat cewek. Bisa enggak kelar-kelar," sahut Yoga.


Tomi tertawa ngakak mendengar jawaban sahabatnya yang satu ini. Sejak jaman sekolah dulu, tak satu cewek pun yang ditaksirnya. Sampai teman-teman menyebutnya penyuka sejenis.


Untung Tomi sebagai teman dekatnya, selalu saja berganti cewek. Kalau tidak, pasti akan digosipkan kalau mereka pasangan homo.


"Jangan ngeledek, Tom. Mentang-mentang udah ketemu belahan jiwa," ucap Yoga.


"Bukan meledek. Cuma heran aja sama kamu. Betah amat jadi jomblo," sahut Tomi.


"Bukan betah, Tom. Tapi nanti akan ada waktunya sendiri. Jangan dicampur adukan. Nanti malah kacau semua."


Alasan Yoga membuat kepala Tomi jadi pusing. Bukan pusing mencerna ucapan Yoga, tapi justru membenarkannya.


Dan yang bikin pusing apa lagi kalau bukan cara menafkahi Laras nantinya. Dia tak ingin kalau kelak anak-anaknya bakal sengsara seperti dia dan adik-adiknya.


"Udahlah, Ga. Ngomong yang lain aja, ya," pinta Tomi.


"Kan kamu sendiri yang memulai. Aku kan cuma menjawab pertanyaanmu dengan logis," sahut Yoga dengan santai.


Lalu dia mulai menanyakan tentang kondisi adik-adik Tomi. Terutama adik Tomi yang berkebutuhan khusus.


"Semua baik-baik aja kayak biasanya, Ga. Bapakku masih buka bengkel di depan rumah kontrakan kami. Ibuku masih dengan kesibukannya mengurus kami. Dan aku, hahaha." Tomi kembali ketawa.


"Kamu kenapa?" Yoga mengernyitkan keningnya.


"Aku udah kebelet nikah. Padahal kerja aja udah dipecat," jawab Tomi setelah menghentikan tawanya.


Yoga hanya tersenyum. Memang sahabatnya ini dari dulu selalu dengan mudah mendapatkan cewek. Baik yang online maupun offline.


Tapi baru kali ini Tomi serius. Biasanya hanya untuk main-main aja. Kalau udah dapat yang baru, yang lama dicampakan begitu saja.


"Memangnya keinginanmu menikah, enggak bisa ditunda dulu, Tom?" tanya Yoga pada akhirnya.


"Aku maunya begitu. Tapi...." Tomi tak melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


"Tapi apa?" Yoga jadi penasaran.


"Enggak apa-apa, Ga. Tapi udah kebelet aja." Tomi tersenyum untuk menutupi kenyataan yang sebenarnya.


__ADS_2