KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 142 PESONA YANG MEMABUKAN


__ADS_3

Menjelang dini hari, Tomi terbangun. Dia terkejut melihat Ike yang sedang tidur sambil memeluknya dengan erat.


Tubuh mereka sama-sama polos. Dua gunung besar milik Ike menempel di lengannya.


Tomi tersenyum, lalu menyentuhnya sebentar. Sebelum tertidur tadi, Tomi menghisapnya bak bayi yang kehausan.


Rasanya begitu nikmat. Milik Ike masih sangat kenyal dan menghangatkannya. Tomi betah berlama-lama di sana sambil menyesapnya.


Ike pun sangat menikmati sesapan Tomi. Bahkan menenggelamkan wajah Tomi ke dalamnya, hingga Tomi tertidur lelap.


Tomi meraih ponselnya. Jam tiga dini hari. Sebenarnya Tomi ingin bangun dan pergi ke rumah sakit menunggui Laras. Karena malam ini Laras sendirian di sana.


Tapi dekapan Ike semakin erat dan menghangatkannya. Membuat Tomi merasa malas beranjak.


Di layar ponselnya ada pemberitahuan pesan masuk bahkan telpon tak terjawab.


Tomi sengaja tak membukanya. Karena dia yakin itu pasti dari Laras.


Tomi meletakan kembali ponselnya dan membalas dekapan Ike dengan erat.


Wanita yang dulu seakan tak bisa diraihnya, kini ada dalam dekapannya tanpa sehelai benangpun.


Tomi memejamkan matanya lagi dengan senyum kebanggaan. Bangga karena dia berhasil meniduri salah satu cewek populer di sekolahnya.


Hingga pagi saat sinar matahari menyeruak dari jendela kaca kamar Ike, Tomi menggeliatkan badannya.


Ike sudah tak ada di sampingnya. Entah kemana dia, Tomi mendapati kamar Ike tertutup rapat.


Tomi beranjak dari tempat tidur dan segera mencari pakaiannya. Dengan cepat, Tomi mengenakannya. Lalu keluar dari kamar Ike.


"Hay, Tom. Sudah bangun?" sapa Ike. Dia sedang sibuk menyiapkan meja makan.


Ike terlihat sangat segar dengan pakaian yang sopan. Ike siap untuk pergi ke rumah sakit lagi.


"He em. Lagi ngapain kamu?" tanya Tomi.


"Nyiapin sarapan buat kita. Kamu ke kamar mandi dulu sana. Aku udah siapin handuk dan sikat gigi baru di kamar mandi," jawab Ike.


Tomi mengangguk. Lalu ke kamar mandi yang ditunjukan oleh Ike.


Tomi segera mandi biar badannya segar kembali. Kamar mandi di rumah Ike sangat bersih. Meski tak terlalu besar dan sederhana.


Tak ada shower juga tak ada closet duduk. Hanya wc jongkok seperti di kamar mandi rumah kontrakan orang tuanya.

__ADS_1


Tapi jauh lebih bersih dan wangi. Sangat berbeda dengan kondisi kamar mandi di rumah Laras. Kecil, kotor dan kadang bau pesing.


Maklum saja, di sana hanya Laras yang membersihkan. Jadi kalau Laras tak sempat membersihkannya, bisa dibayangkan bagaimana kotor dan baunya.


Selesai mandi, Ike sudah menunggu Tomi di meja makan.


Tomi mendekati Ike dan mengecup kepalanya sekilas. Aroma wangi menyeruak dari rambut indah Ike. Sepertinya Ike rajin merawat rambutnya.


"Sarapan dulu, yuk. Abis ini aku mau ke rumah sakit. Gantian sama mamaku. Siang nanti aku juga mesti ketemu dokter," ucap Ike.


"Oke. Aku juga mau ke sana. Kita bareng aja," sahut Tomi.


"Kamu mau nengokin sepupumu lagi?" tanya Ike sambil mengambilkan makanan buat Tomi.


Tomi dilayani Ike dengan baik. Tomi jadi merasa seperti memiliki keluarga sendiri dan Ike adalah istrinya.


Ah, sayang sekali sudah ada Laras. Laras yang sudah pernah mengandung anaknya meski akhirnya keguguran.


Tomi tak mungkin meninggalkan Laras begitu saja. Dia harus bertanggung jawab.


Tomi menerima piring yang sudah berisi makanan sederhana. Tapi sepertinya enak.


Tomi mulai memakannya. Ternyata memang enak. Mirip rasa masakan ibunya.


Rupanya selain pintar di ranjang, Ike juga pintar di dapur. Benar-benar type wanita idaman. Calon istri yang sempurna.


Ike juga wanita yang cerdas. Dulu di SMA, selain cantik dan anak orang kaya, Ike juga sering juara kelas.


Tomi yang pernah sekelas dengannya, hanya bisa menatap wajah molek Ike yang selalu digandrungi cowok-cowok di sekolahnya.


"Hari ini kamu enggak kerja, Tom?" tanya Ike.


"Nanti siang. Aku ada meeting. Pagi ini nengok ke rumah sakit dulu sebentar," jawab Tomi.


"Kamu dekat banget sama sepupumu, ya?" tanya Ike sambil terus makan.


"Iya. Kasihan dia. Dia cuma tinggal dengan ayahnya yang pengangguran. Sementara adiknya masih kecil-kecil," sahut Tomi.


"Lho, memang ibunya kemana?" tanya Ike.


"Entahlah. Ayahnya udah pisah dengan istrinya. Dan tak pernah lagi komunikasi."


"Ooh. Kasihan, ya? Beruntung sekali papaku, meski sudah sakit-sakitan dan tak punya apa-apa lagi, tapi masih memiliki mama. Mamaku wanita yang sangat kuat dan sabar." Ike memuji mamanya yang sangat baik hati.

__ADS_1


"Iya. Sekali-kali, boleh aku kenal sama mama kamu? Kan aku udah meniduri anaknya. Hahaha." Tomi tertawa. Menertawakan keberhasilannya mendapatkan tubuh molek Ike.


"Iih, kamu itu. Kalau mau kenal, boleh-boleh aja. Atau nanti ketemu di rumah sakit?"


"Jangan, ah. Enggak enak. Masa ketemu mamamu di sana. Enggak sopan banget. Nanti aja kalau papamu udah pulang," sahut Tomi.


Ike mengangguk. Lalu mengambilkan minum untuk Tomi. Tomi terlihat membutuhkan minum. Ike benar-benar wanita yang sangat peka.


"Makasih, Ke. Kamu baik banget," ucap Tomi.


Ike tersenyum senang, dipuji baik oleh Tomi. Lalu Ike mendekatkan bibirnya ke bibir Tomi. Dia mengecupnya sekilas.


"Kok cuma sebentar?" protes Tomi.


"Habiskan makananmu. Kita juga mesti ke rumah sakit. Aku enggak mau mamaku terlalu lama menunggu," sahut Ike.


Tomi malah semakin mengagumi Ike, meski dia menginginkan lebih seperti semalam.


Ike seorang anak yang bertanggung jawab pada kedua orang tuanya yang kini hanya mengandalkannya.


Ah, andai saja aku belum memiliki Laras, tak akan aku sia-siakan Ike. Aku rela kerja keras untuk membahagiakan wanita secantik Ike.


"Udah makannya?" tanya Ike. Dia siap membereskan bekas makannya Tomi.


Tomi hanya mengangguk, karena mulutnya masih penuh dengan makanan.


"Aku bereskan dulu, ya?" tanya Ike. Dia melihat jam tangannya. Sudah hampir jam tujuh pagi.


"Sorry ya, Tom. Kamu makannya jadi terburu-buru. Aku mesti ketemu dokter visit nanti jam delapan," ucap Ike.


"Iya, Ke. Aku ngerti, kok. Lagian aku juga kan udah selesai makannya," jawab Tomi.


Ike mencuci bekas makan mereka. Ike tak suka dapur rumahnya berantakan dan kotor.


Tomi mendekati Ike yang sedang mencuci piring. Lalu mengecup kepala bagian belakang Ike.


"Rajin banget kamu, Ke?" tanya Tomi sambil memeluk pinggang Ike.


Ingatan Tomi melayang saat dia memperlakukan Laras seperti itu.


Hhm...Tomi memejamkan matanya sebentar, menikmati harum yang menyeruak dari rambut Ike.


Benar-benar wangi yang memabukan. Pesona Ike sangat luar biasa di mata Tomi.

__ADS_1


"Tom. Aku udah selesai. Yuk, ke rumah sakit," ajak Ike.


"Iya, Ke." Tomi melepaskan pelukannya. Meski sebenarnya masih betah berlama-lama memeluk Ike.


__ADS_2