
"Gunakan seperlunya, Bu. Kita masih banyak kebutuhan sampai empat puluh harinya Sinta," ucap Hardi. Dia tak mau ikut campur. Biar saja Lastri yang mengaturnya.
"Iya, Pak." Lalu Lastri menyimpan baik-baik amplop itu. Dan segera naik ke tempat tidur. Matanya sudah tak bisa lagi diajak kompromi.
Tomi membantu Hardi merapikan beberapa kursi di halaman kecil rumah mereka.
"Sejak kapan kamu resign dari perusahaan leasing itu?" tanya Hardi setelah semuanya selesai.
"Sudah hampir sebulan, Pak. Di sana gajinya terlalu kecil. Dan bu Cyntia menawari pekerjaan dengan gaji yang lebih besar," jawab Tomi.
"Tapi di perusahaan leasing itu kan masa depannya jelas," ucap Hardi. Dia lebih suka Tomi bekerja di tempat yang jelas daripada sekedar di perusahaan online.
Karena banyaknya kasus penipuan yang dilakukan oleh perusahaan online. Kebanyakan berkedok investasi yang ternyata hanya investasi bodong.
"Targetnya sangat tinggi, Pak. Toh kalau Tomi tak bisa mencapai target juga bakal dipecat," elak Tomi.
"Justru disitulah tantangannya. Kamu mesti bekerja lebih keras lagi. Jangan terlena dengan gaji besar tapi masa depannya enggak jelas."
Hardi yang juga sudah lelah, meninggalkan Tomi dan masuk ke kamarnya. Menyusul Lastri yang sudah lebih dulu terlelap.
Tomi menghela nafasnya. Hardi memang tak pernah cocok cara berfikirnya dengan Tomi. Mereka jarang sekali berbicara, karena pasti akan berakhir dengan perseteruan.
Tomi menutup pintu rumahnya dan masuk ke dalam kamarnya. Tak ada Ryan, adiknya yang sering tidur di kamar Tomi. Ryan dan Roni tidur di kamar Sinta yang kini kosong.
Tomi menatap langit-langit kamarnya yang sudah jebol di beberapa bagiannya. Inginnya merenovasi, tapi tak ada gunanya karena ini hanya rumah kontrakan.
Kapan aku bisa membelikan rumah untuk keluargaku? Aku tak ingin selamanya mereka hidup di rumah kontrakan.
Tapi kalau membelikannya, Tomi belum punya cukup uang. Sambil memejamkan mata, Tomi berfikir keras bagaimana caranya mendapatkan uang untuk membeli rumah. Meski hanya sebuah rumah kecil.
Tomi tak sempat membuka ponselnya sejak mengurus administrasi di rumah sakit tadi. Dan sekarangpun dia abaikan hapenya yang lowbath.
Tomi ingin istirahat. Hingga tak tahu kalau Laras berkali-kali menghubunginya.
Tadi sebelum jam sembilan, Tomi sempat melihat pesan chat yang dikirim Laras. Tapi karena sedang sangat sibuk, Tomi tak sempat membukanya.
Jam delapan malam tadi, Laras menerima chat dari Beni. Dia mengajak Laras keluar. Laras mengiyakannya karena Tomi tak juga membalas chatnya. Bahkan membacanya pun tidak.
Sebenarnya Beni ingin mengajak Niken juga. Tapi Niken berubah jutek padanya.
"Mau kemana, Ben?" tanya Laras setelah Tomi sampai di pintu samping rumahnya.
"Cari udara segar. Niken mau ikut juga?" Beni menatap Niken yang sedang menatapnya dengan tajam.
__ADS_1
"Enggak!" jawab Niken ketus. Lalu masuk ke kamarnya.
Niken tak lagi mengharapkan Beni. Biar saja Beni pergi bersama Laras. Niken malah berharap mereka bisa jadian, dan Niken bisa memiliki Tomi seorang diri. Tanpa harus berbagi dengan kakaknya.
"Niken judes amat?" tanya Beni pada Laras, di perjalanan.
"PMS kali," jawab Laras asal.
"Apaan itu PMS?" Sebagai laki-laki, Beni tak paham dengan istilah itu. Meskipun sering mendengarnya.
"Pre Menstruasi Syndrome. Sindrom menjelang menstruasi."Laras menjelaskan dengan gamblang. Tapi tetap saja Beni kurang paham.
"Ah, udahlah. Kita ke pantai aja yuk," ajak Beni.
"Boleh. Tapi aku enggak bawa jaket," sahut Laras.
"Kan ada aku," jawab Beni yang mulai nakal.
Niatnya kepingin mengajak serta Niken, malah hanya Laras saja yang ikut.
Enggak apa-apa deh. Enggak dapet adiknya, kakaknya juga boleh. Malah lebih pintar. Otak kotor Beni mulai bekerja.
Sampai di pinggiran pantai, Beni mengajak Laras berjalan ke tempat yang lebih sepi.
"Di sana sepi banget, Ben," ucap Laras ketakutan.
"Enak yang sepi. Enggak ada yang mengganggu," sahut Beni. Lalu menarik tangan Laras biar segera melangkah.
Laras menggenggam tangan Beni dengan kuat. Angin pantai yang bertiup kencang dan deburan ombak yang saling berkejaran memekakan telinga, membuat suasana makin terasa mencekam.
Dan bulanpun tak nampak di langit. Tak ada bintang yang biasanya bertaburan di langit.
Beni membawa Laras semakin menjauh. Dan akhirnya mereka berhenti di dekat sebuah batu karang besar.
Ombak tak terlalu besar, hingga airnya tak sampai ke batu karang itu.
Beni bersandar pada batu karang itu. Lalu menarik tangan Laras yang masih menggenggam tangannya. Hingga Laras jatuh ke pelukannya.
Dengan sigap, Beni memeluk tubuh Laras. Laras hendak menolaknya. Dia berusaha melepaskan diri dari Beni. Tapi pelukan Beni semakin erat.
"Ijinkan aku memelukmu, Ras," ucap Beni di telinga Laras. Sesaat Laras pasrah. Meski Laras tak membalas pelukan Beni.
Beni mengurai pelukannya. Lalu menatap wajah Laras yang persis ada di depannya.
__ADS_1
Beni berusaha mengumpulkan keberaniannya. Dan perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Laras.
"Kamu mau apa, Ben?" tanya Laras dengan jantung berdetak cepat.
"Aku mencintaimu, Ras," jawab Beni. Sejatinya, Beni tak paham dengan perasaannya sendiri pada Laras. Cinta, atau hanya nafsu?
Karena sejak sering disentuh oleh Tomi, beberapa bagian tubuh Laras semakin berkembang. Menjadikan Laras yang memiliki perawakan tinggi dengan kulit bersih, tampak semakin seksi dan menggoda.
"Tapi aku sudah punya calon suami, Ben," sahut Laras.
"Kan baru calon. Belum jadi suami. Kita masih bisa bebas melakukannya, Ras."
Suara Beni sudah semakin parau. Hasratnya sudah semakin menggelora. Apalagi didukung oleh suasana yang sepi. Hanya suara debur ombak yang mendominasi.
"Tapi, Ben...." Belum sempat Laras menyelesaikan perkataannya, Beni sudah ******* bibir Laras dengan brutal.
"Mmfftt...." Laras berusaha menghindar dengan menggerakan kepalanya. Tapi tangan Beni terus menahan kepala Laras. Hingga akhirnya Laras pun pasrah.
Laras diam dengan badan tegang. Dan Beni mulai lembut, hingga membuat Laras terbuai.
Perlahan Laras membalas ******* Beni. Mereka mulai melayang.
Beni merubah posisi berdirinya. Dia pepetkan Laras ke batu karang dan mengungkungnya.
Tangan Beni pun tak lagi menekan kepala Laras, karena kini Laras sudah terlihat enjoy.
Beni mulai menyusuri tubuh Laras. Tangannya masuk ke dalam kaos ketat yang dipakai Laras. Hingga menemukan gundukan Laras yang semakin hari semakin menjulang.
Beni meremasnya perlahan, membuat Laras melenguh. Bibir Beni berpindah ke leher Laras dan menyesapnya perlahan.
"Ben...." Laras menggelinjang.
Beni pun semakin lepas kendali. Gundukan Laras dia tinggalkan dan mulai turun menuju lembah.
Dan saat tangan Beni mencapai lembah yang sudah basah, tiba-tiba terdengar suara pekikan seorang wanita.
"Aakkh....!"
Spontan Beni melepaskan Laras. Dan bersamaan mencari sumber suara itu.
Laras menatap Beni agak ketakutan. Lalu Beni menggenggam tangan Laras dan menariknya untuk mencari sumber suara yang semakin terdengar. Bukan hanya pekikan wanita, tapi suara lelaki juga.
Beni dan Laras mengintip ke sisi batu karang. Dan terlihatlah oleh mereka, dua insan berlainan jenis sedang main kuda-kudaan beralaskan pasir pantai.
__ADS_1