KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 111 TERTANGKAP BASAH


__ADS_3

"Mama sama Om Rasyid lagi ngapain?" tanya Sinta setelah Ratih membuka pintu.


"Mm....Mama lagi....eh, Om Rasyid lagi bantuin Mama masang lampu," jawab Ratih tergagap.


Sinta memandang Ratih dan Rasyid bergantian. Dia melihat rambut keduanya yang masih berantakan.


Ratih yang merasa kalau anaknya ini mengamati, segera merapikan rambutnya.


Di belakang Sinta berdiri juga Ayu dengan pandangan tak kalah tajamnya. Tapi Ayu hanya memandang Rasyid saja.


Dan mata Ayu terbelalak melihat resleting celana Rasyid masih terbuka. Dari bagian atasnya, menyembul senjata Rasyid yang belum tertidur lagi.


"Ayo kita minum es sirupnya. Kita udah selesai, kok," ajak Ratih dan melangkah keluar dari kamar.


Sinta masih sempat menatap tajam celana Rasyid sekilas. Lalu melangkah duluan.


Rasyid melihat ke arah senjatanya. Buru-buru dia naikan retsleting celananya.


"Yah, kita pulang, yuk," ajak Ayu. Meski masih kecil, tapi Ayu sudah bisa merasakan sesuatu yang tak enak terjadi. Apalagi Sinta juga tak mau menatapnya lagi.


Sinta seolah menjauh dari Ayu dan menghindar. Dia hanya mengambil satu gelas es sirup dan membawanya ke kamar.


"Ayu minum es sirupnya dulu," ucap Ratih. Dia mengambilkan satu gelas untuk Ayu. Tapi Ayu menggeleng. Dia malah mengambil tasnya.


Rasyid yang merasa kehausan, menenggak habis satu gelas es sirup. Lalu pamit pulang pada Ratih.


Ayu dengan wajah tegang, mengikuti Rasyid keluar dari rumah Ratih.


"Ati-ati di jalan, Mas. Ayu, ati-ati ya," ucap Ratih pada keduanya.


Ayu mengangguk pelan. Lalu naik ke atas motor.


Sepanjang perjalanan pulang, Ayu hanya diam saja. Rasyid juga tak berkata apapun. Selain karena dia kesal karena hasratnya tadi yang sudah di ubun-ubun tertahan, juga bingung cara menyampaikannya pada Ayu yang masih terlalu kecil.


Sampai di depan rumah, Ayu segera turun dan berlari masuk ke dalam kamarnya. Ayu membanting pintu kamar dengan keras.


Blum!


Laras yang sedang tidur, sampai terlonjak kaget. Laras segera bangun dan turun dari tempat tidurnya. Lalu membuka pintu dan mencari sumber suara tadi.


Saat Laras sedang menoleh ke kanan dan ke kiri, Rasyid masuk dari pintu samping. Mata mereka bertemu. Tapi tak ada satu katapun keluar dari mulut mereka.


Laras kembali masuk ke kamarnya. Lalu merebahkan tubuhnya lagi. Mencoba mengumpulkan nyawanya yang tadi terlonjak kaget.


Rasyid berjalan menuju ruang tamu. Kepalanya jadi semakin pusing setelah bertemu dengan Laras.


Ada rasa malu, karena tadi siang Laras melihat senjatanya naik dan Rasyid yang sedang mencengkeramnya.


Juga kecewa. Karena anak sulungnya ini kelihatannya sudah tidak perawan lagi. Dan satu-satunya orang yang dicurigai Rasyid adalah Tomi.

__ADS_1


Tapi Beni juga sering mengajak Laras keluar. Jangan bilang kalau mereka juga melakukannya. Rasyid bergelut sendiri dengan otaknya.


Dan Ayu, dia tadi memergokinya di kamar Ratih dengan penampilan acak-acakan dan senjata yang masih tersembul.


Rasyid mengacak-acak rambutnya. Kenapa semua ini mesti terjadi? Kenapa aku begitu ceroboh? Rasyid menyesali kebodohannya.


Saking pusingnya, Rasyid memilih tidur. Dia lupa kalau sebentar lagi harus menjemput Niken di sekolah.


Laras yang merasa sudah enakan, keluar lagi dari kamarnya. Dia berjalan ke ruang tamu. Dilihatnya Rasyid sedang tidur.


Lalu Laras berjalan ke kamar Ayu. Pintu kamar Ayu tertutup rapat. Laras mencoba membukanya.


Dan...berhasil. Ayu tak mengunci pintunya. Dia sedang duduk merenung di atas tempat tidur.


"Kenapa, Yu?" tanya Laras. Dia ikutan duduk di sebelah Ayu.


Ayu masih diam saja. Seakan tak mendengar panggilan Laras.


"Woy! Kamu kenapa?" Laras mengguncang bahu Ayu.


Ayu mendongak, melihat wajah kakaknya. Laras mengangguk tanda dia siap mendengarkan.


"Sinta marah sama Ayu, Kak," ucap Ayu perlahan.


"Siapa Sinta?" tanya Laras. Dia tak kenal dengan teman-teman Ayu. Karena selain Ayu tak pernah cerita tentang teman-temannya, Ayu juga tak pernah membawa mereka main ke rumah.


"Kenapa dia marah sama Ayu?" tanya Laras yang mengira kalau temannya itu marah karena hal sepele. Namanya juga anak kecil.


Ayu turun dari tempat tidurnya. Lalu menutup kembali pintu kamar dan menguncinya.


"Kakak mau mendengarkan cerita Ayu?"


Ayu menatap wajah Laras dengan tatapan memohon.


"Cerita aja," jawab Laras. Dia sesekali ingin juga mendengarkan curahan hati adiknya ini.


Adik yang jarang sekali berkomunikasi dengannya. Selain hanya dia suruh-suruh.


Lalu perlahan Ayu menceritakan peristiwa tadi secara runut. Mulai dari dia dan Sinta keluar dari sekolahan bareng, sampai dia dan Rasyid mampir ke rumah Sinta.


"Apa yang ayah dan mamanya Sinta lakukan di kamar?" tanya Laras.


Ayu menggeleng.


"Terus?" tanya Laras lagi.


"Sinta menggedor pintu kamar mamanya. Ternyata ayah juga ada di dalam kamar tante Ratih," jawab Ayu.


"Hah?" Laras melongo mendengarnya.

__ADS_1


"Terus?" Laras terus mencecar Ayu.


"Celana panjang ayah terbuka. Dan Ayu...." Ayu menutup wajahnya malu dengan kedua tangan.


"Ayu kenapa?"


Ayu membuka tangannya.


"Ayu melihat itunya ayah. Besar sekali, Kak. Ayu takut. Ayu juga malu. Sinta juga melihatnya. Dan dia kelihatannya marah sama Ayu." Ayu mulai terisak.


"Kenapa dia mesti marah sama Ayu?"


Ayu menggeleng tak mengerti. Yang dia tahu hanya Sinta tak lagi menatapnya dan mengacuhkannya.


"Sinta mengambil gelas es sirupnya. Lalu membawanya masuk ke kamar. Sinta enggak ngajkain Ayu lagi." Ayu masih terisak.


Ayah! Ada hubungan apa dengan mamanya Sinta? Kenapa ayah ada di kamarnya? Berduaan. Dengan retsleting celana masih terbuka.


Gila! Batin Laras yang sudah bisa menebak apa yang dilakukan ayahnya di kamar mamanya Sinta.


"Siapa nama mamanya Sinta?" tanya Laras.


"Tante Sinta," jawab Ayu.


Laras ingat, belum lama Rasyid pernah menyebut nama itu. Apa dia orang yang akan menjadi ibu mereka?


Seriuskah ayahnya sampai sudah melakukannya? Tapi dulu dengan tante Reisya juga ayah melakukannya. Di kamar ini.


Ah. Kenapa ayah jadi lelaki yang gampangan? Segampang itu melakukan dengan wanita-wanita.


Kepala Laras dipenuhi dengan banyak pertanyaan. Termasuk pertanyaan kenapa Rasyid tadi terlihat begitu bernafsu melihatnya.


Laras jadi ketakutan sendiri. Takut kalau tiba-tiba Rasyid melakukan dengannya.


Aku harus bagaimana, ini? Sedangkan kalau pagi sampai sore, di rumah hanya ada aku dan ayah.


"Kak! Kok Kakak malah melamun?" tanya Ayu.


"Eh, enggak kok. Kakak hanya....mm...lagi mikir kenapa Sinta marah sama Ayu," jawab Laras berbohong.


"Memangnya kenapa, Kak?" Ayu berharap Laras bisa memberikan jawaban.


"Mungkin Sinta enggak suka kalau ayah ada di kamar mamanya. Besok-besok, kamu enggak usah mampir lagi, ya?"


Ayu mengangguk dengan sedih. Karena Ayu berfikir, Sinta pasti tak mau lagi berteman dengannya.


Dengan segenap keberanian, Ayu keluar dari kamarnya. Dia mencari Rasyid.


"Ayah! Bangun! Ayah enggak boleh masuk lagi ke kamar tante Ratih! Sinta jadi marah sama Ayu!" teriak Ayu.

__ADS_1


__ADS_2