
"Ye...pura-pura! Nyebelin!" Niken langsung pergi meninggalkan Laras dan Ayu.
Niken menuju ke ruang tamu.
"Kak Laras cuma pura-pura, Yah," ucap Niken.
"Ya udah, biarin aja. Jangan ganggu Ayah. Lagi sibuk!" sahut Rasyid.
Niken manyun, lalu pergi ke teras samping. Di sanalah tempatnya melamun.
Kadang bermain dengan kucing tetangganya yang lagi main.
"Kak. Kakak bisa bangun?" tanya Ayu.
Ayu merasa badannya terlalu kecil untuk mengangkat badan Laras.
"Bisa. Tapi kamu jagain, ya?" jawab Laras. Dia takut terjatuh lagi.
Dengan tertatih, Laras melangkah dibantu Ayu. Laras berjalan sangat pelan. Perutnya kembali terasa sakit.
"Kakak tiduran, ya," ucap Ayu, setelah sampai di kamar Laras.
"Ambilkan air putih dulu, Yu. Kakak mau minum obat," pinta Laras.
"Iya, Kak." Ayu bergegas ke dapur. Dia ambilkan segelas air putih.
Laras mencari obatnya di tas. Untungnya dia tidak lupa memasukannya, tadi di rumah mamanya.
"Ini, Kak." Ayu memberikan gelas berisi air putih.
"Makasih ya, Yu. Kamu juga tidur, sana. Besok sekolah, kan?"
Ayu mengangguk.
"Gelasnya mau diisiin lagi enggak?" tanya Ayu.
"Memangnya masih ada air putihnya?" Laras balik bertanya. Karena biasanya pada malas rebus air, kalau bukan Laras yang merebusnya.
Rasyid belum membeli galon lagi, setelah dulu pernah dijatuhkannya hingga pecah.
"Masih, Kak. Dikit. Ayu ambilin, ya?"
Laras mengangguk. Dia senang masih ada yang perhatian padanya di rumah ini. Ayu yang masih lugu, bahkan sering dibully oleh Niken.
Setelah Ayu memberikan air putih lagi, Laras membaringkan tubuhnya.
Laras akan menghubungi Tomi. Dia ingin mengatakan keinginannya pada Tomi, agar segera membawanya pergi.
Laras tak peduli Tomi akan membawanya kemana. Yang penting dia bisa keluar dari rumah Rasyid.
Tapi sayangnya, pesan yang dikirim Laras hanya ceklis. Laras harus menelan kekecewaannya.
Tapi Laras berusaha berpikiran positif. Mungkin Tomi lagi ada pekerjaan.
Laras pun mengintip nomor whatsapp Alya. Nomor itu sudah tidak aktif, satu jam yang lalu.
Pasti mama lagi bersama om Bowo. Dan juga Aldo.
Hhmm. Laras menghela nafasnya. Dia jadi teringat dan kangen pada Aldo.
Adiknya yang lucu dan menggemaskan.
Laras menutup ponselnya. Lalu meletakan di dekat bantalnya.
Perutnya masih terasa sakit. Sepertinya obat pereda nyeri yang tadi diminumnya, belum bereaksi.
Laras mencoba memejamkan matanya. Tapi terasa sangat sulit. Perutnya masih saja terasa perih.
__ADS_1
Laras tak tahu mau mengeluh pada siapa? Satu-satunya orang yang peduli padanya, hanya Ayu. Tapi Ayu tak akan bisa berbuat apa-apa.
Rasyid berjalan dengan cepat ke kamar Laras.
Dilihatnya Laras sedang meringis menahan sakit.
"Kalau sakit, tidur. Jangan menjatuhkan diri terus pura-pura pingsan!" ucap Rasyid dengan kesal.
Ingin rasanya Laras melempar Rasyid dengan apapun yang ada di dekatnya.
Mata Laras berkaca-kaca. Karena Laras hanya bisa menahan rasa sakit hatinya.
"Ayah pinjami uang. Mau buat beli bensin. Ayah ada urusan sama orang!" ucap Rasyid seenaknya.
Laras beranjak duduk, lalu meraih tasnya. Laras mengambil dompetnya.
Diambilnya lembaran lima puluh ribuan dan diberikan pada Rasyid.
Rasyid menerimanya. Tapi bukannya berterima kasih, Rasyid malah merebut dompet Laras dan melihat isinya.
"Banyak amat uang kamu!" ucap Rasyid.
"Jangan, Yah. Itu buat beli obat!" sahut Laras berbohong.
Tomi sengaja memberikan uang pada Laras untuk pegangan. Saat Tomi datang ke rumah Alya tadi siang.
"Nih!" Rasyid melemparkannya ke tempat tidur.
Laras sangat terkejut.
Rasyid memang tak mengambilnya. Dia hanya ingin melihat saja.
Tapi cara Rasyid yang kasar, membuat mata Laras berkaca-kaca.
Rasyid pergi tanpa berpamitan pada siapapun. Dia akan menemui seseorang, setelah dia mendapatkan sebuah alamat dari temannya.
Setelah meletakan motornya, Rasyid berjalan ke arah pintu yang terbuka.
Rasyid berdiri di pintu dengan senyuman liciknya.
Cyntia yang sedang membuka ponsel, mengangkat wajahnya.
"Ada apa?" tanya Cyntia dengan tatapan jijik.
Ya, sejak tahu kelakuan Rasyid, Cyntia merasa sangat jijik. Meskipun yang dilakukan Cyntia selama ini juga sama menjijikannya.
Tapi bagi Cyntia, Rasyid lebih menjijikan.
"Aku enggak dipersilakan masuk?" tanya Rasyid.
"Untuk apa?" tanya Cyntia.
"Haha. Untuk apa? Untuk bicara sama kamu!" Rasyid langsung masuk dan duduk di sebelah Cyntia.
Cyntia hanya menatap Rasyid sekilas. Dia berpikir, pasti ada maunya manusia bejad satu ini. Batin Cyntia.
"Apa mau kamu?" tanya Cyntia.
"Owh! Ada minuman. Kamu masih suka meminumnya?" tanya Rasyid.
Dan tanpa permisi, Rasyid menuang ke dalam gelas lalu menenggaknya.
"Enak. Apa masih seenak goyanganmu?" tanya Rasyid.
Cyntia melengos dengan kesal.
"Hey. Jangan buang muka kamu ke sana. Aku ada di sini, Cantik!" Rasyid meraih dagu Cyntia.
__ADS_1
Cyntia menepiskan tangan Rasyid dengan kasar.
"Kenapa? Kamu tak menginginkan aku lagi?" tanya Rasyid.
Cyntia berdiri dan berkacak pinggang.
"Katakan apa mau kamu?" tanya Cyntia.
"Uluh uluh! Jangan galak begitu, Cantik. Nanti cepet tua lho," ucap Rasyid semakin menyebalkan.
Cyntia menghela nafasnya.
Dia bingung bagaimana caranya mengusir Rasyid. Cyntia bisa mengira, kalau Rasyid akan membuat masalah dengannya.
"Ayo cepat bilang, apa mau kamu!" bentak Cyntia.
"Oke. Aku akan bilang ke kamu. Tapi sini dong, duduk dulu. Biar enak ngomongnya!" sahut Rasyid.
Cyntia terpaksa menurut. Dia kembali duduk. Tapi agak jauh dari Rasyid.
"Udah. Sekarang, katakan apa mau kamu!" ucap Cyntia.
"Ini tentang Bowo! Suami kamu, atau....simpanan kamu, hah?" tanya Rasyid.
"Apa urusan kamu?" tanya Cyntia.
"Tadinya, bukan urusanku. Tapi sekarang, akan jadi urusanku!" jawab Rasyid.
"Hhh!" Cyntia menghela nafasnya dengan kasar.
"Aku cuma mau minta tolong sama kamu," ucap Rasyid.
"Minta tolong apa?" tanya Cyntia.
"Tolong kamu bilang pada suami gadungan kamu itu. Beri aku uang seratus juta, kalau tak mau rahasianya terbongkar!" jawab Rasyid.
"Seratus juta? Gila apa, kamu?" sahut Cyntia.
"Ya, anggap aja aku gila. Tapi aku tetap menginginkan uang itu," ucap Rasyid.
"Kenapa kamu tak memintanya sendiri?" tanya Cyntia.
"Karena kamu istrinya! Meski hanya istri simpanan, atau apalah!" jawab Rasyid.
"Hhh! Memangnya rahasia apa yang mau kamu bongkar?" tanya Cyntia.
"Sabar. Sabar dulu. Kamu katakan saja itu padanya. Dia pasti akan memberikan uang itu padaku," jawab Rasyid.
"Hhh! Kamu itu enggak jelas banget! Ngomong kok muter-muter!" sahut Cyntia dengan kesal.
"Oke! Aku akan bilang yang jelas! Kamu dengarkan baik-baik!" Rasyid menghela nafasnya dulu.
Cyntia dengan malas mendengarkannya.
"Katakan pada Bowo, berikan aku uang seratus juta! Atau aku akan bilang pada Alya, kalau dia punya hubungan dengan kamu!" ancam Rasyid.
"Alya?" tanya Cyntia.
"Iya. Alya. Wanita yang pernah kamu sakiti! Dan sekarang dia akan kembali kamu sakiti!" jawab Rasyid.
"Hmm! Lalu kenapa Bowo mesti memberikan uang itu padamu?" tanya Cyntia, berusaha tenang. Walaupun hatinya terasa sangat kacau.
"Karena Bowo, sangat menyayangi Alya. Aku yakin, dia akan lebih memilih Alya daripada kamu!" jawab Rasyid.
"Ya udah! Kalau begitu, silakan kamu bilang sendiri. Dan bersiaplah melihat mantan istri kamu itu terpuruk lagi!" sahut Cyntia.
"Sekarang, keluar dari rumahku atau aku akan...."
__ADS_1
Belum sempat Cyntia meneruskan kalimatnya, Tomi sudah muncul di depan pintu rumah Cyntia.