
Tomi sampai di rumah orang tuanya. Lastri sudah siap berdandan seadanya untuk pergi ke pasar.
"Kamu mau makan dulu, Tom?" tanya Lastri.
"Enggak, Bu. Tomi udah makan tadi," jawab Tomi. Dia masih merasa kenyang, tadi makan di warung makan depan apartemen dengan Laras.
"Ya udah. Kalau kamu enggak capek, kita berangkat sekarang aja. Biar kamu enggak terlambat sampai ke kantormu lagi," ucap Lastri. Dia belum tahu kalau anaknya ini sudah diberhentikan dari tempat kerjanya.
"Iya, Bu." Tomi berusaha bersikap biasa saja. Dia tak mau bakal kena semprot bapaknya kalau mereka sampai tahu Tomi sudah dipecat.
Laraspun tak tahu kalau Tomi sudah tak lagi bekerja. Yang dia tahu, Tomi ada urusan pekerjaan sebagai manager.
Sampai di rumah, dia membuatkan kopi untuk Rasyid.
"Kami sudah makan, Ras?" tanya Rasyid.
"Sudah, Yah. Tadi sama Tomi. Enak makanannya, Yah. Mau bungkusin buat ayah, enggak enak sama Tomi," sahut Laras.
"Ah, kamu itu. Apa-apa enggak enak. Mestinya kamu pikirkan yang di rumah. Nanti pulang sekolah, adik-adikmu mau makan apa?" Rasyid menyeruput kopi dan menyalakan rokoknya yang hanya tinggal beberapa batang.
Laras jadi merasa bersalah, tapi mau dikata apa. Sudah terlanjur dia pulang dan Tomi sudah pergi lagi dengan kekesalannya pada Laras.
Moga-moga Tomi nanti malam datang lagi dan mengajaknya makan. Setidaknya aku tidak kelaparan. Syukur-syukur bisa membungkuskan makanan untuk keluargaku, harap Laras.
"Kapan Tomi akan melamar kamu?" tanya Rasyid.
"Belum tahu, Yah. Nunggu Tomi senggang. Dia kan sibuk, Yah," jawab Laras.
Rasyid manggut-manggut. Lalu dia buka aplikasi chatnya. Dia akan menghubungi teman kencan barunya.
Reisya, perempuan bertubuh subur mirip Rasyid. Dia tinggal di luar kota katanya. Tapi sore ini dia bilang ada urusan kerjaan di kota Rasyid.
Ya pastinya setelah Rasyid berkali-kali memintanya main ke rumahnya.
Entah pekerjaan apa yang tiba-tiba saja dia katakan. Bagi Rasyid itu tidak penting. Yang paling penting mereka bisa bertemu dan berkencan. Syukur-syukur Rasyid bisa pulang membawa uang dan makanan untuk anak-anaknya.
"Jam berapa kamu datang, Rei?" tanya Rasyid di telepon. Dia sudah tak sabar ingin ketemu.
"Nanti aku kabari, Bang. Abang jemput aku di terminal, ya?" pinta Reisya.
__ADS_1
"Dengan senang hati, Rei. Kamu kabari aja. Aku pasti menjemputmu. Aku selesaikan pekerjaanku dulu, ya?" Rasyid menutup telponnya dengan senyum mengembang.
Hari ini dia dan anak-anaknya tak akan kelaparan lagi. Reisya yang dari luar kota pasti akan membawa banyak makanan seperti yang dijanjikannya tadi di chatnya.
Rasyid membaringkan tubuh tambunnya di sofa lusuh miliknya.
Hidup ini indah sekali. Tak perlu capek-capek kerja, uang dan makanan datang sendiri. Batin Rasyid dengan puas. Lalu dia kembali memejamkan matanya. Dia akan mengumpulkan energinya untuk nanti sore atau malam saat bertemu Reisya.
Sementara Tomi yang sudah selesai mengantarkan ibunya belanja, kembali ke apartemen Sylfie. Dia mau saat nanti Sylfie pulang, menyambutnya dengan penuh kerinduan. Meski senjatanya masih terasa perih karena sedikit terluka.
Tomi membuka celana panjangnya. Dia akan mengobati lagi senjatanya agar bisa cepat sembuh. Dan nanti bisa dipakai untuk bercinta dengan Sylfie.
Tomi sudah membayangkan saat-saat indahnya bersama Sylfie. Kalaupun senjatanya tak bisa dipakai, dia akan memuaskan Sylfie dengan cara lain.
Segera Tomi membuka hapenya. Dia akan menonton video-video syur untuk belajar lagi. Maklum saja, jam terbang Tomi belum banyak. Dia juga baru bercinta dengan dua orang perempuan.
Gila! Hot banget itu laki-laki. Pasti perempuannya puas menikmatinya, gumam Tomi sambil terus melihat video dewasa.
Aku harus bisa seperti itu, biar si Sylfie yang hyper bisa puas denganku dan memberikan banyak uang. Syukur-syukur dia mau menjadikanku kekasih gelapnya. Pasti akan lebih mudah buatku mengeruk uangnya, batin Tomi.
Menjelang sore, hape Tomi berdering. Sebuah panggilan dari Sylfie. Dengan antusias, Tomi mengangkatnya.
"Aku ada tamu penting, Tom. Jadi kamu pulang saja dulu. Nanti kalau aku membutuhkanmu, aku hubungi kamu lagi," ucap Sylfie sebelum menutup telponnya.
Dengan lesu dan kesal, Tomi meninggalkan unit Sylfie. Tomi melakukan apa yang diminta Sylfie untuk menitipkan kuncinya.
Tapi Tomi penasaran siapa tamu yang akan dibawa Sylfie. Seandainya laki-laki, dia ingin tahu sekeren apa lelaki itu.
Tomi bersembunyi di sudut ruangan dekat loby. Dan tak lama Sylfie datang bersama dengan seorang lelaki. Mereka bergandengan tangan dengan mesra.
Si lelaki merangkul Sylfie dan Sylfie pun memeluk pinggang lelaki itu. Mereka berjalan sambil tertawa-tawa bahagia.
Dan yang paling membuat Tomi ternganga, dia sangat mengenali lelaki itu. Dia adalah Adam. Temannya yang memberikan job ini padanya.
Adam! Ada hubungan apa dia dengan Sylfie? Dan apa yang akan mereka lakukan?
Apa Sylfie juga sering memakai jasa Adam? Kenapa kemarin Adam tak mau melayani Sylfie dan malah memberikan padanya?
Tomi mengusak rambutnya dengan kesal. Ah, bakal kacau semua rencanaku. Bagaimana kalau Sylfie tak mau lagi denganku?
__ADS_1
Tomi melangkah keluar dari apartemen. Dia harus pergi dari sana, karena sudah tak ada lagi urusan.
Lalu Tomi teringat kembali dengan madam Cyntia. Ya, Tomi akan menemuinya lagi. Siapa tahu Cyntia bisa memberikan lagi perempuan seperti Sylfie.
Sampai di depan rumah Cyntia, Tomi memarkirkan motornya. Suasana rumah terlihat sepi. Tomi mengetuk pintunya.
Dan munculah Cyntia dengan daster mininya. Sebatang rokok terselip di jemarinya.
"Hay, Tom. Masuk." Cyntia melangkah lebih dulu dan duduk di sofa dengan mengangkat kakinya. Hingga terlihatlah paha putihnya. Yang meski sudah berusia kepala empat, tapi masih terlihat mulus kencang.
"Ada apa?" tanya Cyntia, lalu menghisap rokoknya.
"Aku mau cari orderan lagi, Madam," jawab Tomi.
"Lho, Sylfie gimana? Dia sudah bosan denganmu?" tanya Cyntia.
"Aku tidak tahu. Tapi sekarang dia lagi bersama Adam di apartemennya," jawab Tomi dengan kesal.
"Adam?" Cyntia mengerutkan keningnya.
Tomi mengangguk. Lalu dia mengambil sebatang rokok milik Cyntia.
"Apa permainan kamu kurang menggairahkan, Tom? Biasanya Sylfie malas memakai barang lama, dia lebih suka memakai barang baru sepertimu," tanya Cyntia.
"Entahlah, Madam. Tapi setahuku kemarin Sylfie begitu sangat bergairah. Aku pikir dia sangat puas dengan permainanku," sahut Tomi.
Cyntia tertawa sambil menatap Tomi. Tomi jadi bingung sendiri, karena malah ditertawakan.
"Okelah. Kalau begitu, aku perlu mentrainingmu dulu. Biar kamu bisa memuaskan pelangganmu. Ayo ikut aku." Cyntia berdiri dan mengajak Tomi mengikutinya.
Tomi bangkit dengan kebingungan. Dia akan ditraining? Training macam apa? Kayak kerja di kantoran saja pakai acara training, batin Tomi.
Tapi Tomi mengikuti juga langkah Cyntia menuju kamar bagian paling belakang.
Cyntia mengunci pintu kamarnya dan segera menyergap Tomi. Tomi bingung mesti bersikap bagaimana. Dia tak pernah mengira kalau harus melayani perempuan setengah baya seperti Cyntia.
"Madam mau apa?" tanya Tomi saat Cyntia hendak ******* bibirnya.
"Kasih training buat kamu!"
__ADS_1