
Tomi sampai di rumah Cyntia. Niat awalnya dia mau menanyakan soal Tanto. Tapi sekarang dia tak mempedulikan Tanto lagi. Asalkan Tanto tak menampakan wajah di depannya saja.
Tomi justru menanyakan hal lain. Yaitu tentang keinginan Rasyid, ayah Laras. Agar dia segera membawa kedua orang tuanya untuk melamar Laras.
"Aku tak bisa membawa kedua orang tuaku, Madam," ucap Tomi. Dia tak mau kebohongannya selama ini pada Laras, terbongkar.
"Kenapa enggak bisa? Kamu butuh mobil? Bisa pakai mobilku. Dan soal biaya, nanti aku bantu."
Meskipun Cyntia sangat menyukai Tomi, tapi tak pernah terpikirkan sedikitpun untuk menggagalkan rencana lamaran Tomi pada Laras.
Cyntia malah selalu mendukung bahkan rela menjadi sponsor utama.
Dia tak memikirkan nasib hubungannya dengan Tomi. Baginya, semua yang mereka lakukan hanyalah sisi kelam kehidupan mereka.
Dan biar hanya mereka yang tahu. Tak perlu merusak apapun yang sudah atau akan ada.
"Bukan itu masalahnya," jawab Tomi. Dia bingung mesti bagaimana mengatakannya pada Cyntia.
Cyntia menyandarkan kepalanya ke bahu Tomi dengan manja.
"Lalu apa masalahnya?" tanya Cyntia sambil meraba senjata Tomi dari luar.
Tomi langsung greng saat tangan Cyntia berhasil menggenggamnya. Meski hanya di luar.
"Bisakah kamu berpura-pura menjadi ibuku dan carikan orang yang mau berpura-pura juga jadi bapakku?"
Cyntia langsung menghentikan aksinya dan mengangkat kepalanya. Dia menatap wajah Tomi dengan penuh tanda tanya.
Tomi mengangguk.
"Kenapa?" tanya Cyntia.
"Aku....Aku membohongi Laras. Kalau kedua orang tuaku adalah....orang kaya. Padahal kenyataannya kedua orang tuaku miskin. Bapakku hanya pemilik bengkel kecil di teras rumah. Bahkan rumah yang kami tempati masih mengontrak." Tomi menundukan wajahnya. Dia sangat miris mengingat kehidupan keluarganya.
"Kamu malu?" tanya Cyntia.
Tomi menggeleng.
"Lalu?" tanya Cyntia lagi.
"Aku cuma sudah terlanjur berbohong. Dan aku tak mau mengecewakan Laras," jawab Tomi.
Meski kelakuan Tomi sangat bejat, tapi Tomi sangat mencintai dan menyayangi Laras. Dia selalu ingin menjaga perasaan Laras.
"Terus, apa kamu pikir Laras enggak akan kecewa nantinya kalau tau kamu berbohong lagi?"
Tomi menatap wajah Cyntia yang masih ayu, meskipun berusia hampir sama dengan ibunya.
"Entahlah. Tapi minimal dalam waktu dekat ini, aku bisa segera melamar Laras. Soal pernikahan, nanti dilakukan di KUA saja. Tak perlu ada pesta meriah. Dan sebagai lelaki, aku kan tak membutuhkan wali. Aku bisa kasih alasan," sahut Tomi.
__ADS_1
"Tom, untuk membuat surat nikah, harus ada kartu keluarga. Dari situ sudah bakal ketahuan kalau kamu berbohong," ucap Cyntia.
Tomi tak berfikir sejauh itu. Dia pikir seperti orang bikin ATM, hanya perlu tanda tangannya saja.
"Iya juga. Terus gimana dong solusinya?"
Tomi dan Cyntia sama-sama berfikir. Cyntia menyalakan rokok dan menghisapnya dalam-dalam.
"Kalian nikah siri aja dulu," ucap Cyntia.
Tomi melongo. Tak pernah terfikirkan sedikitpun untuk menikah siri.
Cyntia mengangguk. Lalu menghisap rokoknya lagi.
"Kamu alasan aja, kalau perusahaan tempatmu bekerja tak mengijinkanmu menikah dulu sampai kontrakmu selesai. Selama ini kamu juga berbohong soal pekerjaan, kan?"
Tomi mengangguk. Dia baru sadar, ternyata begitu banyak kebohongannya pada Laras.
"Ya sudah. Nanti aku akan ajak temanku untuk pura-pura jadi orang tuamu. Kamu bisa anggap temanku sebagai bapak tirimu. Takutnya ketahuan kalau bilang dia bapak kandungmu," lanjut Cyntia.
"Dan kamu sebagai ibu tiriku juga?" tanya Tomi.
Giliran Cyntia yang mengangguk. Dia tak mau nantinya disalahkan kalau ngaku-ngaku sebagai ibu kandung Tomi.
"Rumit banget dong keluargaku," gumam Tomi.
"Oke. Nanti aku pikirkan soal ceritanya."
Tomi jadi bersemangat lagi.
"Kapan kamu siap, Madam....?" tanya Tomi perlahan sambil menciumi telinga Cyntia.
"Setelah kita bercinta. Percintaan anak dan ibu tiri." Cyntia langsung menyambar bibir Tomi.
Dan mereka memulainya dengan saling memagut. Cyntia yang sudah tergila-gila dengan permainan Tomi, terus menyerang calon anak tirinya itu.
Dan gilanya lagi, mereka bermain di sofa ruang tamu. Mereka biarkan pintu rumah sedikit terbuka.
Karena rumah Cyntia berpagar, tak terlihat orang dari luar. Dan tak membuat orang curiga.
Apalagi mereka melakukannya tanpa melepas habis pakaiannya.
Cyntia yang hanya mengenakan daster rumahan sebatas paha, dengan mudah menyingkapkannya. Hanya perlu melepas ****** ******** saja.
Tomi pun hanya perlu membuka retsleting celana panjangnya. Cyntia sudah bisa menikmati senjata Tomi yang sudah menegang.
Cyntia sangat pandai memuaskan lawannya. Dengan duduk berjongkok di depan Tomi yang duduk di sofa, dia ***** habis senjata Tomi.
Dan tanpa dikomando, mereka bergantian. Cyntia beralih ke atas sofa, dan mengangkat satu kakinya ke sandaran, Tomi bisa mengeksplor gua hangat Cyntia yang sudah siap diterjang.
__ADS_1
Tak puas hanya bermain di atas sofa, mereka lanjutkan di atas karpet.
Mereka berguling-guling layaknya anak kecil yang sedang memainkan mainan barunya.
Mereka saling menerkam, menerjang dan mengerang.
"Aakh....!" pekik mereka bersamaan saat mencapai klimaksnya.
Tomi bangkit dan bersandar pada kaki sofa. Cyntia masih terkapar di atas karpet empuknya dengan daster yang berantakan.
Teet!
Bel di pagar depan rumah Cyntia berbunyi. Artinya ada tamu yang datang.
"Siapa itu, Madam?" tanya Tomi yang masih kelelahan.
Cyntia menggeleng. Dia merasa tak mempunyai janji dengan siapapun hari ini.
"Coba kamu lihat, Tom. Aku ke kamar mandi dulu." Cyntia segera meraih ********** dan membawa ke kamar mandi.
Tomi berdiri dan merapikan celananya. Juga menyisir rambutnya yang berantakan dengan jari.
Setelah rapi, dia keluar membukakan pintu gerbang. Nampak di depan Tomi, wanita cantik yang kemarin baru saja ditidurinya.
Voni. Dia pun terkejut melihat Tomi membukakan pintu untuknya.
"Tomi...." desis Voni.
"Oh, kamu. Mau cari siapa?" tanya Tomi.
Meskipun Voni sudah membayari sepatunya, tapi Tomi masih bete juga. Karena Tomi lebih suka dibayar dengan uang. Bukan barter dengan sepatu.
"Cyntia. Apa dia ada?" tanya Voni.
"Ada. Mari masuk." Tomi mempersilakan Voni masuk. Dan dia mengikuti Voni berjalan ke dalam.
"Duduklah. Orangnya lagi ke kamar mandi." Tomi duduk duluan di sofa yang baru saja dipakainya bercinta dengan Cyntia.
"Kok kamu ada di sini, Tom?" tanya Voni.
Tomi hanya menyunggingkan senyumannya. Dan tanpa diperjelas lagi, Voni langsung tahu apa hubungannya Tomi dengan Cyntia.
Pantas saja dia sangat pintar memuaskanku. Ternyata dia anak buah Cyntia juga. Batin Voni.
Tapi kenapa kemarin dia tidak minta bayaran? Apa dia cukup dibayar dengan sepatu saja? Karena biasanya, laki-laki macam Tomi akan menuntut bayaran uang, bukan barter dengan barang.
"Tom, maukah kamu main denganku lagi?" tanya Voni tanpa malu-malu.
"Boleh. Tapi aku enggak mau kalau barter lagi," jawab Tomi.
__ADS_1