KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 69 CARI MAMA BARU


__ADS_3

Rasyid menunggu Ayu keluar dari kelasnya, di halaman sekolahan. Dia asyik bermain hape. Seperti biasa, berselancar di dunia maya. Setelah tadi dia gagal menemui temannya yang katanya mau kasih modal usaha untuknya.


Padahal Rasyid sudah memimpikan mempunyai sebuah cafe meski kecil. Nantinya dia akan memanfaatkan anak-anaknya agar dia tidak perlu membayar karyawan untuk mengelolanya.


Apalagi Laras, dia anak yang pada dasarnya rajin. Dan juga sudah tidak bersekolah, jadi bisa menunggu cafe seharian.


Rasyid tak putus asa, dia terus berusaha menghubungi teman masa sekolahnya dahulu. Dengan memiliki cafe yang akan dikelola anak-anaknya, dia tak perlu pontang-panting lagi cari uang untuk kebutuhan mereka.


"Pak, anak kelas lima belum keluar ya?" tanya seorang wanita muda pada Rasyid.


Rasyid menoleh dan terkesima dengan penampilan wanita muda itu. Cukup cantik dan sangat menarik di mata Rasyid.


"Belum....Bu," jawab Rasyid sambil terus mengagumi kecantikan wanita itu dalam hati.


Bidadari dari mana ini? Baru kali ini Rasyid bertemu. Padahal setiap hari Rasyid nongkrong di halaman sekolah ini menunggu Ayu pulang sekolah.


"Kok tumben ya, Pak? Apa ada pelajaran tambahan?" tanya wanita itu lagi.


"Enggak tau...Bu. Anak Ibu kelas lima juga?" tanya Rasyid.


"Iya, Pak," jawabnya.


"Oh. Saya baru lihat Ibu," ucap Rasyid.


"Biasanya adik saya yang jemput. Cuma mulai hari ini dia tidak bisa lagi. Sudah pindah kerja di luar kota."


"Oh. Pantes saya baru lihat Ibu yang cantik ini," sahut Rasyid tanpa basa basi.


"Ah, Bapak ini bisa saja," jawab wanita itu tersipu malu. Wajahnya langsung merona.


"Beneran. Emang Ibu enggak sadar kalau Ibu ini cantik?" Rasyid mulai menggodanya.


"Enggaklah, Pak. Saya biasa saja kok." Wanita itu mengambil hapenya dari tas dan pura-pura sibuk. Padahal dia sedang menyembunyikan kegugupannya.


"Biasanya wanita cantik selalu merendah. Tapi ya, malah semakin cantik. Anak Ibu namanya siapa?" tanya Rasyid.


"Sinta, Pak. Kalau anak Bapak siapa namanya?" tanya wanita itu.


"Anak saya Ayu, Ibu. Tapi masih ayu Ibu ini. Siapa nama Ibu, kalau boleh tau?" Rasyid mulai menembakan pelurunya.


"Saya Ratih, Pak."


"Ratih. Nama yang sangat anggun." Rasyid mengulurkan tangannya. Berharap Ratih mau menerima uluran tangannya.


Dan harapan Rasyid tak sia-sia. Ratih menjabat tangan Rasyid yang langsung digenggam erat oleh Rasyid.

__ADS_1


"Saya Rasyid, Bu. Single parent dengan tiga anak gadis. Ayu yang paling bontot." Rasyid menjelaskan tanpa ditanya.


Ratih segera menarik tangannya karena tak enak kalau dilihat penjemput yang lain.


"Saya juga single parent, Pak. Tapi anak saya cuma satu, Sinta itu," sahut Ratih. Entah mengapa dia jadi membuka identitasnya pada orang yang baru saja dikenalnya.


"Wah, berarti kita jodoh ya, Bu," ucap Rasyid kepedean.


"Maksud Pak Rasyid?" Ratih mengernyitkan dahinya.


"Oh, maaf. Maksud saya kita sama-sama single parent." Rasyid meralat ucapannya tadi.


"Tapi....kalau kita berjodoh, saya juga enggak menolak, kok. Serius." Mata Rasyid menatap tajam ke wajah Ratih yang segera menundukan pandangannya.


"Subhanallah. Indah sekali matamu, Ratih. Tak kau umbar pandanganmu," ucap Rasyid.


Ratih semakin tersipu. Jarang sekali lelaki yang to the point seperti Rasyid ini.


Meski jauh lebih tua dan berbadan gempal, Rasyid punya pesona dari garis wajahnya yang dominan timur tengah. Mirip-mirip orang keturunan arab. Padahal jauh darah arabnya dari Rasyid.


"Boleh kan, saya panggil Ratih saja? Sepertinya usiamu jauh di bawah saya."


"Boleh, Pak," jawab Ratih.


"Iya, maaf, Mas Rasyid," sahut Ratih.


"Ratih. Rasyid. Cocok sekali nama kita, Ratih. Kamu mau kan berteman denganku?" tanya Rasyid.


Ratih tersenyum. Senyum yang membuat Rasyid menggelepar. Kali ini bukan hanya keinginan semu, tapi Rasyid benar-benar terpesona.


Tidak seperti hubungannya dengan Lili, Wulan ataupun Reisya yang hanya sebatas menyalurkan hasrat kelelakiannya. Dan tentunya mencari keuntungan materi.


Meski pada kenyataannya yang didapat Rasyid hanyalah wanita-wanita kere yang bersikap sok kaya.


Ratih mengangguk. Hati Rasyid langsung berbunga-bunga. Kali ini Rasyid merasa jatuh cinta pada pandangan pertama.


"Boleh aku minta nomor whatsapp-mu? Biar kita bisa saling bertukar kabar." Rasyid mulai ber-aku-aku.


Ratih langsung menyebutkan nomor whatsappnya tanpa berfikir panjang. Entah daya tarik apa yang membuat Ratih menurut saja pada Rasyid.


Rasyid segera menyimpan nomor Ratih dengan nama Ratih love. Padahal baru saja ketemu. Dasar Rasyid predator wanita.


"Aku ping ya. Dan tolong simpan nomorku." Rasyid bukannya nge-ping, tapi memberikan sebuah emot hati yang berdenyut.


"Ih, kok emot sih? Katanya nge-ping?" tanya Ratih malu-malu.

__ADS_1


"Hatiku sudah tak lagi ping. Tapi merah membara memandangmu, Ratih," jawab Rasyid.


"Gombal, ih. Baru juga ketemu," sahut Ratih.


"Kok gombal sih. Ini yang disebut love at first sigh, kalau enggak salah. Cinta pada pandangan pertama," jawab Rasyid jujur.


Ya, kali ini Rasyid jujur. Dia begitu terpesona dengan Ratih. Meskipun sebenarnya wajah Ratih tergolong biasa saja. Kulitnya pun coklat. Tak putih seperti gambaran seorang wanita cantik.


Tinggi dan berat badan tak terlalu ideal. Malah boleh dibilang pendek, hanya seratus lima puluhan saja. Tidak tinggi langsing bak peragawati.


Dandanannya tipis, tak semenor wanita-wanita seusianya untuk menutupi kekurangan di wajah mereka.


Anak-anak kelas lima keluar dari kelasnya. Mereka berhamburan mencari penjemput masing-masing. Termasuk Ayu dan Sinta.


"Mama...." Sinta langsung berlari dan memeluk Ratih. Ratih pun menyambutnya dengan dekapan erat.


"Kok Mama yang jemput? Om Surya mana?" tanya Sinta.


"Om Surya sudah pindah tugas. Jadi mulai hari ini, Mama yang jemput Sinta," jawab Ratih.


"Iya, Ma. Ayo kita pulang, Ma. Sinta sudah lapar banget," ajak Sinta tanpa mempedulikan Ayu dan Rasyid yang menatap interaksinya dengan Ratih.


"Owalah. Anak Mama udah kelaparan, ya? Kasihan...Ayo naik." Sinta langsung naik ke motor.


Ratih menoleh pada Rasyid.


"Aku duluan ya, Mas. Sintanya udah laper katanya," ucap Ratih.


"Iya....Iya. Hati-hati, honey," sahut Rasyid dengan senyuman lebar.


Ratih segera melajukan motornya meninggalkan Rasyid dan Ayu yang masih menatap mereka.


"Enak ya Yah kalau punya mama. Mau makan tinggal bilang. Dan pasti sudah dimasakin yang enak-enak," ucap Ayu sedih.


Rasyid membelai kepala Ayu yang tertutup kerudung.


"Nanti Ayah carikan mama baru buat kalian. Ayah janji," sahut Rasyid. Dalam hatinya juga merasa bersalah karena sering mengabaikan kebutuhan makan anak-anaknya.


"Mau cari di mana, Yah?" tanya Ayu dengan polos.


Rasyid menatap wajah Ayu yang sudah sedikit pucat karena menahan lapar.


"Di sini," jawab Rasyid.


Ayu menatap Rasyid tak mengerti. Lalu menoleh ke kanan dan ke kiri. Enggak ada sosok mama di sekitarnya.

__ADS_1


__ADS_2