
"Hay, Tom. Kenapa pipimu?" tanya Bowo pura-pura tak tahu.
Tomi hanya melirik sebal pada Bowo.
Bowo sengaja tak menyapa Cyntia seperti biasanya. Dia akan mulai membiasakan diri tanpa kecupan pada Cyntia.
"Katanya abis digampar orang," jawab Cyntia.
"Oh ya? Memangnya kamu ngapain, sampai digampar orang?" Bowo masih tetap pura-pura tak tahu.
"Cuma salah paham aja, kok." Cyntia masih berusaha melindungi Tomi. Karena bagaimana pun Tomi adalah anak buahnya yang harus selalu dilindungi.
"Oh. Kirain ketahuan jalan sama istri orang!" sahut Bowo menyindir Tomi.
Cyntia melirik Bowo dan memberi kode agar Bowo tak bicara yang menyinggung perasaan Tomi.
Bowo hanya mengangkat bahunya.
Tomi sebenarnya merasa sangat kesal. Tapi dia tak bisa begitu saja marah. Dia harus bisa menahan dirinya dulu.
Setelah selesai mengompres Tomi, Cyntia mengeringkan tangannya dengan tissue.
Bowo menunggu Tomi pergi. Karena dia akan bicara serius pada Cyntia. Tapi Tomi malah duduk di situ dengan santainya.
"Cyn, bisa kita keluar sebentar? Ada yang mau aku bicarakan," pinta Bowo.
"Mau bicara apa sih, Mas? Ngomong aja. Cuma ada Tomi, kan?" sahut Cyntia.
"Tom. Bisa kamu pergi sebentar? Ada hal penting yang mau aku sampaikan pada Cyntia," usir Bowo.
Dia kesal juga karena Tomi tak ada pengertiannya.
"Hmm. Oke. Aku pulang dulu," sahut Tomi. Lalu dia pamit pada Cyntia. Tapi tidak pada Bowo.
Tomi pulang ke rumah kontrakan orang tuanya. Dia sudah beberapa hari tak pulang.
"Pipi kamu kenapa, Tom?" tanya Lastri.
"Enggak apa-apa, Bu," jawab Tomi. Dia lalu masuk ke kamarnya dan tidur.
Sejak Laras masuk rumah sakit, Tomi tak bisa tidur nyenyak.
Dia mesti mikir bagaimana caranya mendapatkan uang untuk membayar biaya rumah sakit.
"Kenapa anakmu, Bu?" tanya Hardi.
"Enggak tau, Pak. Pipinya bengkak begitu," jawab Lastri.
"Berantem kali, Bu," sahut Ryan. Adik Tomi yang paling besar.
"Hush! Kamu itu. Enggak boleh asal bicara. Nanti kakakmu marah," ucap Lastri.
__ADS_1
"Hhmm. Ya udah. Ryan main dulu, Bu!" pamit Ryan.
"Mau kemana? Udah sore! Kamu belum mandi lho," tanya Lastri.
"Nanti aja mandinya, Bu. Kalau udah pulang. Sebelum maghrib Ryan pulang!" seru Ryan sambil berjalan keluar.
Ryan sudah mulai beranjak remaja. Dia biasa berkumpul dengan anak-anak seusianya di poskamling.
Hardi tak pernah melarangnya, asal tidak melakukan hal yang negatif. Tapi kadang Lastri yang suka cerewet.
Hardi berjalan ke kamar mandi. Dia melewati kamar Tomi.
Pintu kamar yang sedikit terbuka, membuat Hardi bisa melihat Tomi yang langsung terlelap.
Hhmm. Kerja apa sebenarnya anak itu? Pulang seeanaknya. Berangkat juga seenaknya. Sering tidak pulang. Tapi kelihatannya banyak duit. Tanya Hardi dalam hati.
Sebagai orang tua, dia juga khawatir anaknya salah jalan. Inginnya, jangan sampai sudah salah, baru sadar.
Tapi untuk menanyakan pada Tomi, dia agak segan. Hubungannya dengan Tomi memang kurang baik. Sejak Tomi lulus SMA.
Hardi hanya bisa menghela nafasnya. Lalu melanjutkan langkahnya ke kamar mandi.
Sementara, Bowo mulai bicara pada Cyntia. Dia bilang mulai besok, dia akan lebih banyak di luar kota. Jadi mereka akan semakin jarang ketemu.
Bowo sengaja tak langsung menjauhi Cyntia. Karena dia tahu sifat jeleknya Cyntia. Dia bisa berbuat nekat kalau merasa tersinggung.
Bowo tak mau Cyntia nantinya berbuat macam-macam pada Alya. Karena mereka memang sudah punya masalah lebih dahulu.
Bukannya dia senang tak terlalu sering melayani Bowo, tapi kemarin-kemarin, sikap posesif Bowo membuatnya tidak nyaman.
Bowo selalu saja posesif pada orang yang disayanginya. Termasuk pada Alya. Cuma bedanya, Alya tak pernah protes ataupun mengeluh. Karena Alya memang type wanita setia dan mengabdi pada suami.
"Oke, aku pamit dulu. Ada urusan yang harus aku selesaikan," ucap Bowo.
"Nanti malam kamu tidur di sini kan, Mas?" tanya Cyntia.
"Kayaknya enggak bisa. Aku sampai malam," jawab Bowo.
"Enggak masalah. Aku tungguin," sahut Cyntia.
"Ya liat aja nanti." Bowo terpaksa berbohong, biar Cyntia tidak bawel lagi. Dia mesti buru-buru pulang, sebelum Alya ngambek.
Bowo lebih memilih Alya daripada Cyntia yang hanya memberikan kepuasan di ranjang saja.
Alya mampu memberikan kepuasan batin juga pada Bowo. Terutama sejak Aldo lahir.
Sampai di rumah Alya, makan malam sudah siap. Ada Laras di rumahnya membuat pekerjaan Alya lebih mudah. Karena ada yang membantunya mengurus Aldo.
Anak seusia Aldo masih sangat merepotkan kalau harus mengerjakan pekerjaan rumah juga.
"Tuh, papa pulang," ucap Alya. Dia lalu menggandeng tangan Aldo untuk menyambut kedatangan Bowo.
__ADS_1
"Papa....!" Aldo berlari kecil menghampiri Bowo sambil merentangkan kedua tangannya.
Bowo langsung menyambut dengan menggendong dan menciumi Aldo dengan gemas.
Bowo membawa Aldo masuk ke dalam. Di ruang tamu ada Laras yang sedang duduk. Tadi dia yang menemani Aldo bermain sebelum Bowo datang.
Bowo masih segan menyapa Laras. Dia langsung membawa Aldo ke ruang tengah.
Laras hanya menatapnya dengan sendu.
Apa om Bowo tak menyukaiku tinggal di sini? Bukannya mama yang memintaku? Mestinya mama minta persetujuan om Bowo dulu. Batin Laras.
Nanti kalau aku sudah sembuh, aku akan kembali ke rumah ayah saja.
Eh, tapi kata Tomi, ayah lagi sakit. Apa ayah masih sakit, sampai tak menjemputku di sini?
Atau ayah sudah mengijinkan kami dekat lagi dengan mama?
Berbagai pertanyaan muncul di kepala Laras.
"Ras. Makan dulu, yuk," ajak Alya.
"Iya, Ma," sahut Laras. Dia segera berdiri dan menuju ruang makan.
"Ayo makan dulu. Mama sambil mangku Aldo. Papa makan dulu aja," ucap Alya.
Alya merasa kasihan pada Bowo kalau harus direcokin Aldo terus saat makan.
"Rencana kamu selanjutnya apa, Ras?" Tiba-tiba Bowo bertanya pada Laras.
Laras terkejut karena tak mengira Bowo akan mengajaknya bicara.
"Mm....Belum tau, Om," jawab Laras.
"Kok belum tau? Ya harus tau dong," ucap Bowo.
"Biar Laras sembuh dulu, Pa. Nanti kalau Laras sudah sembuh, biar cari kerja. Atau mau bantu Mama bisnis online?" tanya Alya.
"Nah, itu bagus. Nanti aku tambahin modalnya, kalau ada yang bantu," ucap Bowo.
Selama ini Bowo kurang mendukung jualan online Alya, karena takut Alya sibuk dan mengesampingkan Aldo.
"Tapi kamu harus tinggal di sini, Ras. Biar bisa bantu Mama pegang Aldo. Tau sendiri kan gimana ulahnya, adikmu itu?" ucap Alya.
Bowo hanya memandang Alya. Apa sudah benar, langkahnya mengajak Laras tinggal di sini?
"Nanti Laras tanya dulu sama ayah, Ma," sahut Laras.
"Ras, kamu sudah dewasa. Udah seharusnya kamu ambil keputusan sendiri untuk hidup kamu. Kalau kamu nurutin kemauan ayahmu terus, kapan kamu majunya?"
"Laras....! Pulang!"
__ADS_1