KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 155 ALYA YANG SELALU MENGALAH


__ADS_3

Sampai di rumahnya, Alya yang tak jadi beli nasi goreng, akhirnya hanya membuatkan mie instan untuk Bowo.


"Aku buatkan mie instan aja ya, Pa?"


"Ya udah. Enggak apa-apa deh. Kamu juga sekalian makan." Karena biasanya Alya tak mau makan mie instan. Alasannya, Alya bosan makan mie instan.


Dulu saat hidup bersama Rasyid, mereka hampir tiap hari makan mie instan. Itupun harus berbagi dengan anak-anaknya.


Dua bungkus mie instan tanpa tambahan telur ataupun sayuran, buat makan mereka sekeluarga dengan nasi.


Alya selalu menambahkan garam dan air yang banyak, biar cukup.


Dan sekarang kalau makan mie instan, Alya selalu teringat pada anak-anaknya.


"Iya, Pa."


Alya tak berani menolak. Takut suaminya marah dan mengungkit masalah tadi. Sementara Aldo masih melek.


Alya membuat dua mie instan. Dia menambahkan telur, sayuran juga bakso dan sosis.


Bowo tak terlalu suka pedas. Jadi Alya tak perlu menambahkan cabai. Dia pun lagi tak berminat makan pedas-pedas.


Alya beberapa kali memegangi kepalanya yang masih sakit.


Bowo mendatangi Alya di dapur.


"Masih sakit kepalamu, Ma?" tanya Bowo.


"Eh, enggak. Cuma sakit sedikit, Pa." Alya terpaksa berbohong, biar Bowo tak khawatir.


"Memang gila, mantan suami kamu itu," ucap Bowo.


"Aldo lagi ngapain, Pa? Kok ditinggal?" Alya berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Aldo minta minum."


Bowo mengambil gelas plastik milik Aldo, dan mengisinya dengan air putih.


Alya selalu memberikan makan dan minum pada Aldo yang masih balita, dengan piring dan gelas plastik. Alasannya biar aman.


Bowo pun kembali ke ruang tengah. Tempat Aldo bermain.


Setelah selesai dengan dua mangkuk mie instan-nya, Alya membawanya ke ruang tengah.


"Di makan, Pa," ucap Alya.


"Iya, sebentar. Biar agak dingin." Bowo lagi sibuk dengan ponselnya.

__ADS_1


Alya tak pernah tahu dengan siapa saja suaminya berhubungan.


Sejak awal pernikahan, Bowo memberi batasan pada Alya untuk tidak mencampuri urusan pribadinya. Dan Bowo pun memberi kebebasan pada Alya.


Sebenarnya Alya tak menyukai kesepakatan itu. Karena dari pengalamannya dulu, Rasyid diam-diam punya hubungan dengan Cyntia.


Dan sekarang, tanpa Alya ketahui, suaminya juga punya hubungan dengan wanita yang sama. Cyntia.


Meskipun Alya tahu, ada wanita lain dalam hidup Bowo. Yaitu istri pertamanya.


Ya, Alya adalah istri kedua dari Bowo. Alya tahu kalau Bowo masih memiliki istri dan dua orang anak perempuan yang sudah besar-besar.


Bowo menikahi Alya, saat mengetahui kalau Alya hamil. Mereka sering melakukan hubungan badan, sebelum menikah.


Bowo yang sangat baik dan sayang pada Alya, membuat Alya yang waktu itu hanya bekerja sebagai ART di rumah teman Bowo, jatuh cinta.


Mereka sering melakukan pertemuan diam-diam tanpa sepengetahuan teman Bowo. Dan Bowo selalu membawa Alya ke hotel.


Rasa kesal dan dendam Alya pada Rasyid, membuat Alya salah jalan. Dia melakukan hubungan di luar nikah. Meski akhirnya Bowo menikahinya juga.


Alya hanya mengangguk. Dia pun menunda makannya. Lalu Alya mengajak bermain Aldo dulu.


Bowo mengirimkan pesan chat pada Cyntia. Dia minta malam ini mereka ketemu. Bowo akan mengatakan soal Rasyid pada Cyntia.


Sebab tadi Bowo seperti membaca kejanggalan dari pertengkaran Rasyid dan Alya. Bowo curiga, kalau wanita yang dimaksud adalah Cyntia.


Setelah mengirimkan pesan pada Cyntia, Bowo mematikan ponselnya. Dia tak ingin kebersamaannya dengan Alya, terganggu.


Bowo semakin menyayangi Alya, karena ternyata Alya melahirkan anak laki-laki. Anak yang sangat didambakan oleh Bowo.


Sebagai pengusaha yang sukses, Bowo pun ingin agar suatu saat ada yang meneruskan bisnisnya. Meskipun sampai saat ini, istri pertama dan dua orang anaknya, belum mengetahui keberadaan Aldo.


Bowo belum mengungkapkannya kepada mereka. Menurut Bowo, nanti akan ada waktunya.


Sekarang ini, Bowo masih sibuk dengan pekerjaan juga wanita lain selain Alya. Cyntia.


Bowo merasa belum bisa melepaskan Cyntia. Meskipun Bowo tahu pekerjaan Cyntia sebenarnya.


Saat ini Bowo tak mau diganggu dulu. Dia masih ingin melihat Aldo bermain.


Bowo baru mau keluar lagi, kalau Aldo sudah tidur. Untuk menemui Cyntia seperti janjinya tadi.


Tapi rencananya, Bowo akan pulang lagi ke rumah Alya. Dia ingin menghabiskan malam ini bersama Alya.


Bowo membelikan rumah yang tak terlalu besar untuk Alya dan Aldo. Sebagai seorang yang sukses, tentunya Bowo tak mau istri dan anaknya hanya tinggal di rumah kontrakan.


Dan beruntungnya, Alya tak pernah protes meski hanya dibelikan rumah sederhana.

__ADS_1


Bagi Alya, ini sudah lebih dari cukup. Karena Bowo pun menafkahi Alya dan Aldo lebih dari cukup. Meskipun Alya nyambi berbisnis online.


Alya tak mau jika suatu saat terjadi sesuatu lagi dengan rumah tangganya, dia tak bisa menghidupi anaknya.


Alya tak mau jadi pembantu lagi.


"Ayo kita makan, Ma," ajak Bowo.


Alya pun menurut. Dia tinggalkan Aldo bermain sendirian. Tapi masih dalam pantauan mereka.


"Ma. Nanti aku keluar sebentar, ya. Ada urusan mendadak," ucap Bowo sambil makan.


"Kan baru pulang tadi sore. Masa mau pergi lagi," sahut Alya.


"Sebentar, Ma. Aku janji nanti pulang dan tidur di sini. Aku juga masih kangen sama kamu dan Aldo." Bowo mengecup pipi Alya yang duduk di sebelahnya.


Sikap Bowo yang selalu manis dan sabar, membuat Alya hanya bisa pasrah. Selain Alya juga mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik bersama Bowo.


Selesai makan, Alya menidurkan Aldo yang sudah mulai mengantuk. Bowo juga pamit pergi.


Alya hanya menghela nafasnya.


Bowo menuju rumah Cyntia dengan mobilnya. Tapi begitu sampai di sana, Cyntia sedang kedatangan tamu. Seorang lelaki.


Bowo berdecak kesal. Dia sangat tak suka kalau Cyntia kedatangan tamu laki-laki. Karena setahu Bowo, Cyntia hanya penghubung saja. Bukan pelakunya langsung.


Bowo langsung masuk dan memeluk Cyntia. Lelaki itu memandang tak suka. Lalu berdiri dan pamit pulang.


"Kamu ngapain sih, Mas? Gangguin pekerjaanku saja!" ucap Cyntia dengan kesal.


"Kan aku udah bilang, mau menemui kamu. Kenapa kamu malah menemui lelaki lain?" tanya Bowo.


"Kamu kan tak bilang mau menemuiku jam berapa," jawab Cyntia tak mau disalahkan.


"Oke. Terus lelaki itu mau apa?" tanya Bowo dengan ketus.


Mestinya Bowo sadar kalau hidup Cyntia selalu dikelilingi lelaki hidung belang dan para lelaki panggilan.


"Dia mau...cari pekerjaan," jawab Cyntia berbohong.


Padahal lelaki tadi akan mengajak Cyntia kencan, meski ajakannya dadakan.


Bowo hanya menghela nafasnya. Dia tahu kalau Cyntia berbohong. Karena Cyntia hanya mempekerjakan lelaki-lelaki muda. Bukan lelaki setengah baya sepertinya.


"Kamu bilang mau ngomong sama aku. Ngomong apa?" tanya Cyntia pada akhirnya.


"Aku mau bertanya soal....Rasyid!"

__ADS_1


__ADS_2