KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 88 GRATISAN


__ADS_3

Tomi sampai di parkiran apartemen. Dari kejauhan dia melihat Sylfie sedang berjalan keluar dengan seorang lelaki setengah baya.


Mereka berjalan beriringan. Tak saling bergandengan apalagi berangkulan seperti yang sering dilakukan Sylfie pada brondong-brondong yang dibookingnya.


Tomi memalingkan wajahnya. Agar Sylfie tak melihatnya.


Setelah memastikan Sylfie tak terlihat lagi, barulah Tomi masuk ke dalam.


Untungnya unit tempat Voni tak satu lantai dengan milik Sylfie. Tomi khawatir juga kalau sampai Sylfie memergokinya mengencani wanita lain.


Meskipun tak ada hak bagi Sylfie untuk melarangnya. Tomi hanya menjaga perasaan Sylfie saja. Jangan sampai kejadian seperti dengan Maya terulang lagi. Bisa kacau hubungan bisnisnya dengan Sylfie.


Tomi mengetuk pintu unit milik Voni. Tak butuh waktu lama untuk menunggu, Voni membuka pintu.


Tomi menelan ludahnya, karena langsung disuguhi pemandangan yang menakjubkan.


Tomi jadi ingat dengan gambar pemandangan yang sering dilukisnya saat SD dulu. Dua gunung kembar yang menjulang tinggi dengan jalan berliku di antaranya.


"Masuk, Tom," ajak Voni.


Tanpa ragu-ragu, Tomi masuk. Voni adalah wanita kesekian yang dikencaninya. Jadi sudah terbiasa Tomi masuk ke ruangan asing.


"Duduklah." Voni mendahului duduk di sofa besar yang terlihat sangat empuk.


"Terima kasih, Tante," ucap Tomi. Meski diantara wanita-wanita yang membayarnya Voni yang paling muda, tapi Voni tak menolak dipanggil Tante.


Kalau yang lainnya, seperti menolak tua. Mereka maunya dipanggil nama saja tanpa embel-embel apapun.


"On time juga ya, kamu," ucap Voni.


Tomi mengangguk sambil tersenyum bangga.


"Kamu suka minum?"


Di meja, Tomi melihat ada dua gelas sloki dan botol minuman beralkohol. Meskipun Tomi bukan peminum, tapi dia pernah mencicipinya beberapa kali.


"Sedikit," sahut Tomi.


"Kalau begitu, temani aku minum," pinta Voni. Lalu dia menuang isi botol ke dua gelas sloki.


Voni memberikannya satu pada Tomi. Dengan segera Tomi menenggaknya setelah sebelumnya toast dulu dengan sloki yang dipegang Voni.


"Untuk permainan kita, nanti," ucap Voni.


Voni kembali mengisi gelas sloki mereka hingga berkali-kali. Tomi yang tak biasa minum banyak, sudah merasa puyeng.


"Sudah, cukup Tante," tolak Tomi dengan sopan.


"Kenapa? Kamu takut mabok?" tanya Voni dengan suara yang sudah mendesah akibat terlalu banyak minum.


"Aku enggak biasa minum terlalu banyak," sahut Tomi.


"Mulai sekarang, biasain dong," ucap Voni.


Gila ini wanita. Kuat sekali dia minumnya. Batin Tomi.

__ADS_1


"Ayolah. Sayang kalau tidak dihabiskan." Voni memaksa Tomi untuk menenggaknya lagi.


Dengan terpaksa Tomi menuruti. Hingga isi botol benar-benar ludes.


Mata Tomi sudah mulai memerah. Pandangannya sedikit kabur. Kepalanya mulai kliyengan.


"Enak kan?" tanya Voni sambil meraih tangan Tomi.


Tomi mengangguk. Meskipun sebenarnya dia merasa sangat tidak nyaman.


"Kalau begini, enak mainnya Tomi...." Voni mulai mencumbui Tomi.


Tomi sudah mulai mabok, hingga dia tak bisa lagi mengontrol diri. Dia pun membalas setiap cumbuan Voni dengan tak kalah ganasnya.


Dan benar saja, permainan mereka sangat luar biasa. Karena mereka sama-sama tak bisa berfikir rasional.


Berbagai gaya mereka lakukan sampai sama-sama terkapar di lantai bawah sofa.


Saking ganasnya, mereka sampai tak sempat pindah ke tempat tidur. Dan lantai beralaskan karpet tebalpun jadi tempat yang mengasyikan buat mereka.


Mereka terlelap setelah sama-sama letih. Hingga sore hari, Tomi terbangun. Di dekapannya, Voni masih tanpa sehelai benangpun.


Tomi yang sudah mulai sadar, bisa melihat dengan jelas bagaimana dua gunung kembar itu sangat menggairahkan.


Tomi merabanya, terasa sangat kenyal. Lalu tangannya meraba ke bagian bawah. Sangat luar biasa rasanya. Bibir gua yang terasa sangat tebal.


"Kamu menginginkannya lagi, Tom?" ucap Voni yang rupanya sudah terjaga.


"Iya. Tapi aku mau ke kamar mandi dulu," jawab Tomi.


Voni baru sadar kalau mereka ternyata bermain di lantai. Lalu dia bangun dan pindah ke tempat tidur.


Meskipun karpetnya cukup tebal, tapi membuat seluruh persendiannya pegal.


Tomi yang sudah selesai dari kamar mandi, menghampiri Voni yang sudah siap di atas tempat tidurnya.


Tomi mengagumi pemandangan indah itu. Dia membayangkan, seandainya saja Laras memiliki tubuh seindah itu.


"Kenapa, Tom?" tanya Voni. Dia merubah posisinya menyamping.


Benar-benar posisi yang sangat menantang. Dua gunungnya seakan mau jatuh dan mengharap Tomi untuk menyangganya.


Tanpa pikir panjang lagi, Tomi menyergapnya. Dan mereka kembali bergumul dengan lebih panas.


Voni seperti tak ada puasnya. Dia menerkam milik Tomi dengan buas. Hingga Tomi maracau keenakan.


Tomi sampai mengabaikan ponselnya yang berdering berkali-kali. Entah dari siapa.


Yang ada dalam otak Tomi, bagaimana dia bisa memuaskan diri juga Voni. Hingga mereka kembali terkapar bermandikan keringat.


"Tom...maukah kamu selalu ada untukku?" tanya Voni sambil masih memejamkan matanya.


"Tentu saja, Tante. Aku pun akan selalu menginginkanmu," sahut Tomi.


Jelas saja, siapa yang menolak suguhan indah yang sangat nikmat.

__ADS_1


"Terima kasih, Tomi. Kamu sangat luar biasa," ucap Voni.


Tomi tersenyum senang. Service-nya tak mengecewakan. Dan dia pun merasa di service dengan sangat memuaskan.


"Tom, aku mau ke kamar mandi. Tapi tenagaku sepertinya habis. Maukan kamu memapahku?" pinta Voni.


"Dengan senang hati, Tante."


Dan Tomi bukan memapah, tapi menggendong Voni hingga ke kamar mandi. Meski sedikit terasa berat, tapi Tomi paksakan.


Gengsi juga kalau dia tak kuat membopong wanita yang telah memuaskannya.


Sampai di kamar mandi, dengan telaten Tomi membersihkan tubuh Voni. Mulai dari **** ************* hingga mengeramasinya.


Setelah selesai, Tomi membopongnya kembali ke tempat tidur. Lalu dia kembali ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya sendiri.


Tomi keluar dari kamar mandi. Dilihatnya Voni masih tergeletak seperti tadi dia meletakannya.


Sepertinya Voni benar-benar tak bertenaga lagi.


"Kenapa masih belum berpakaian?" tanya Tomi sambil memakai pakaiannya sendiri.


"Aku capek banget, Tom. Maukah kamu membantuku?" pinta Voni dengan manja.


Tomi mengangguk. Lalu buru-buru memakai pakaiannya.


"Di mana pakaianmu?" tanya Tomi. Pastinya Voni akan berganti pakaian yang lain. Karena katanya dia akan pergi malam nanti.


"Di lemari itu, Tom." Voni menunjuk sebuah lemari yang tak terlalu besar.


"Yang mana?" tanya Tomi yang sudah membuka lemari.


"Yang mana aja. Pilihkan, aku masih lemas," jawab Voni pasrah. Belum pernah dia bermain dengan sedemikian hebatnya.


Tomi mengambilkan sebuah gaun warna hitam yang tergantung di lemari. Menurut Tomi, gaun itu sangat bagus. Dan pastinya akan terlihat seksi yang mengenakannya.


Tomi membantu Voni bangun dan memakaikannya. Termasuk juga memakaikan dalaman Voni.


Voni sudah seperti anak bayi yang tak bisa memakai pakaian sendiri.


Bahkan sampai menyisirpun, dibantu Tomi. Voni merasa sangat tersanjung dengan perlakuan Tomi.


"Makasih ya, Tom. Kamu baik sekali," ucap Voni, lalu mengecup satu tangan Tomi yang dipeganginya dari tadi.


Tomi mengangguk dan mengecup puncak kepala Voni dengan lembut.


"Malam ini aku ada acara dengan beberapa temanku. Besok kita jumpa lagi di sini," ucap Voni. Dia segera mengambil ponselnya.


Tomi pikir, Voni akan mentransfer bayarannya. Ternyata Voni memesan taksi online.


Tomi ingin menanyakan tentang bayarannya, tapi merasa tidak enak. Karena bagaimana pun, dia juga menikmati permainan tadi.


Lagi pula, tak ada perjanjian sebelumnya tentang bayaran. Voni juga sudah membayarkan sepatu buat Ryan, tadi.


Tomi jadi serba salah. Ah, ternyata hanya gratisan, gumam Tomi dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2