KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 47 MANAGER ABAL-ABAL


__ADS_3

Laras pun ikut menjerit. Selain kaget karena senjata Tomi yang terjepit retsleting, juga karena dia terjengkang.


Laras buru-buru bangun dan menghampiri Tomi.


"Tomi, maaf aku enggak sengaja," ucap Laras.


Tomi hampir menangis karena rasa sakit dan perih yang amat sangat. Dia masih berusaha melepaskan senjatanya dari retsleting.


Laras tak bisa membantu, dia takut kalau makin parah.


"Sakit banget, tau! Kamu sengaja kan?" omel Tomi.


"Enggak, Tom. Demi Allah aku enggak sengaja. Aku enggak lihat kalau punya kamu nongol. Maafin aku," ucap Laras ikut sedih.


Lalu Laras memakai pakaiannya. Setelah selesai dia duduk di sebelah Tomi.


Tomi baru saja selesai melepaskan senjatanya. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya.


Senjata Tomi terluka, ada darah keluar walau tidak banyak. Bakalan cuti panjang kalau begini. Padahal saat ini dia lagi butuh banyak uang dari Sylfie.


"Tomi, maafin aku ya? Aku enggak sengaja." Laras terus saja meminta maaf pada Tomi. Tapi Tomi mengabaikan. Dia masih sangat kesal.


"Ya udah, deh. Aku anterin kamu pulang aja!"


Tomi malas berdebat dengan Laras. Dia tak mau emosinya naik. Tomi juga ingat kalau siang ini akan mengantarkan ibunya ke pasar.


"Kamu marah, Tom?" tanya Laras.


"Enggak. Udah ayo."


Tomi bangkit dan segera keluar. Laras terpaksa mengikutinya dengan lesu. Harapannya untuk kembali bersenang-senang dengan Tomi, kandas sudah.


Bahkan rencananya yang akan berselfi di dalam ruangan apartemen, gagal.


Bukan cuma itu yang membuat Laras jadi lesu, dia khawatir Tomi benar-benar marah padanya dan membatalkan rencana melamarnya.


Tomi mengajak Laras ke parkiran motor.


"Motor kamu ada di sini, Tom?" tanya Laras.


"Iyalah. Kita naik motor aja biar enggak macet," sahut Tomi berkilah.


Laras semakin yakin kalau Tomi memang benar-benar tinggal di apartemen ini. Karena motornya pun ada di situ. Meski motor Tomi bukan motor keren keluaran terbaru.


Tomi melajukan motornya lewat jalan-jalan tikus. Karena Laras tidak memakai helm.


Hingga sampailah di depan rumah Laras, Tomi menurunkan Laras di pinggir jalan.


"Aku enggak masuk ya? Aku ada urusan penting," ucap Tomi.


Laras memgangguk, lalu meraih tangan Tomi dan mengecupnya.


Sebenarnya Tomi merasa trenyuh dengan sikap Laras yang sangat sopan dan baik padanya. Tapi dia masih kesal karena Laras telah membuat senjatanya terluka.

__ADS_1


Di depan rumahnya, Beni melihat adegan yang menyakitkan itu, langsung masuk ke dalam rumahnya.


Beni bekerja seperti Tomi, sebagai dept collector. Beni hampir setiap siang pulang untuk sekedar makan siang di rumah.


Yanti selalu menyiapkan masakan untuk anak kesayangannya itu. Dia melarang anaknya jajan di luaran sejak masih sekolah dulu.


Beni sebagai anak semata wayang dari seorang ibu single parent, sangat menurut pada perintah ibunya.


Beni masuk ke dalam, Yanti sudah menyiapkan makan siangnya.


"Kenapa kamu, Ben? Kok muram?" tanya Yanti. Biasanya wajah anaknya selalu sumringah, apalagi kalau Yanti memasakan makanan kesukaannya.


"Enggak apa-apa, Bu. Capek aja. Di luar panas banget," jawab Beni berbohong.


Padahal Beni baru saja melihat adegan yang menyakitkan hati. Perempuan yang digandrunginya baru pulang dengan lelaki lain.


Tomi, bukannya hari ini dia ijin karena sakit? Kenapa dia malah pergi dengan Laras? Berarti dia berbohong. Batin Beni. Tapi dia tak ada niat culas untuk melaporkan kelakuan Tomi pada atasannya.


Laras masuk ke dalam rumah. Rasyid sedang tertidur di lantai seperti biasanya.


Dia terbangun saat mendengar suara Laras mengucap salam dari pintu samping.


"Kok cepet pulangnya?" tanya Rasyid.


"Tomi mau ada urusan penting, Yah." Laras langsung masuk ke kamarnya.


"Kamu tadi jadi ke apartemen Tomi?" tanya Rasyid lagi.


"Ya sudah. Besok-besok kan masih bisa ke sana lagi. Malah bisa jadi Tomi akan mengajak kamu tinggal di sana," ucap Rasyid antusias.


Laras mengangguk bangga, meski saat ini dia khawatir Tomi marah padanya, gara-gara senjatanya kejepit retsleting.


"Ayah bikinin kopi, Ras," pinta Rasyid.


"Iya, Yah." Laras pergi ke dapur. Dia merebus air lebih dulu, lalu mencari kopi. Dan sialnya, kopi di dapur habis.


"Yah, kopinya habis!" seru Laras dari dapur.


"Ya beli lah. Masa begitu aja mesti diajari," sahut Rasyid.


Laras berjalan ke tempat Rasyid duduk.


"Uangnya mana?"


"Memang Tomi enggak kasih uang ke kamu?" tanya Rasyid.


Laras menggeleng.


"Kamu gimana sih? Minta dong! Masa punya calon suami tajir, enggak punya uang."


Rasyid merogoh kantongnya. Lalu memberikan selembar lima ribuan.


"Nih. Beli sana. Besok lagi kamu minta uang sama Tomi!"

__ADS_1


"Iya, Yah." Dengan malas Laras pergi ke warung Yanti.


"Bu! Beli kopi!" seru Laras dari depan warung.


Yanti yang sedang makan siang bareng Beni, segera keluar. Beni yang hafal dengan suara Laras juga ikut keluar, meski dia bersembunyi dulu.


"Eh, Laras. Beli apa?" tanya Yanti.


"Kopi, Bu. Yang tanpa gula, ya?" jawab Laras.


Yanti mengambilkan yang diminta Laras. Beni keluar dari persembunyiannya.


"Hay, Ras. Kamu dekat dengan Tomi ya?" tanya Beni.


"Iya. Dia calon suamiku!" jawab Laras dengan ketus.


"Oh. Kapan kalian nikah?" tanya Beni lagi.


"Secepatnya!" jawab Laras dengan malas.


"Kalau menurutku sih, nunggu masa training Tomi kelar dulu. Biar dia bisa dapat gaji bulanan," sahut Beni.


Yanti hanya mendengarkan saja. Karena dia tidak kenal siapa itu Tomi.


"Masa training?" Laras mengerutkan dahinya.


"Sembarangan aja, kamu. Tomi itu managernya!" lanjut Laras.


"Manager apa?" Beni malah enggak paham dengan omongan Laras. Karena faktanya Tomi hanya karyawan baru yang masih dalam masa training.


"Ya pokoknya manager. Dia saja punya apartemen sendiri. Aku baru saja dari sana." Laras segera membayar kopinya lalu pergi. Dia malas sekali bicara pada Beni.


"Ras, jangan lupa bilangin ke Tomi. Jangan keseringan bolos! Nanti dipecat, lho!" seru Beni.


Laras menghentikan langkahnya. Dia menoleh pada Beni dengan kesal karena calon suaminya dijelek-jelekan.


"Kamu yang bakalan dipecat sama Tomi!" balas Laras.


"Ya enggak mungkinlah. Aku kan sudah jadi karyawan tetap. Kalaupun aku dipecat, bakalan dapat pesangon. Beda sama Tomi. Kalau dipecat cuma jadi pengangguran! Paling banter jadi tukang ojeg!"


Laras semakin kesal pada Beni. Lalu dia bergegas meninggalkan Beni. Enak saja menjelek-jelekan Tominya.


"Siapa Tomi, Ben?" tanya Yanti.


"Itu, cowok yang lagi deket sama Laras. Dia karyawan yang baru training di kantor Beni, Bu," jawab Beni.


"Lho tadi Laras bilang manager dan punya apartemen?" tanya Yanti.


"Ah, manager abal-abal! Orang dia dept collector baru kok. Masa trainingnya juga belum sebulan!"


"Terus apartemennya?" tanya Yanti lagi.


Beni hanya mengedikan bahunya. Setahu Beni, Tomi tinggal di belakang komplek perumahan elit. Orang tuanya menyewa rumah di sana.

__ADS_1


__ADS_2