KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 191 CITA CITA LARAS


__ADS_3

Laras menurut saja saat Dino memalingkan wajahnya dan memaksanya melihat ke arah lain. Arah yang tak mungkin bagi Laras melihat Tomi dan Tasya yang sedang bermesraan.


Dino mengajak Laras ke saung yang letaknya berjauhan dengan saung dua manusia bejad itu.


Seorang pelayan cafe mendekat dan memberikan buku menu. Lalu meninggalkan mereka sebentar.


Dino pun pamit pergi sebentar pada Laras.


"Mau kemana, Om?" tanya Laras.


"Aku ke toilet sebentar. Kamu pesan makanan saja sesukamu," jawab Dino. Lalu bergegas pergi.


Karena Laras tadi sudah makan di restauran, dia hanya menuliskan minuman saja. Tak lupa kentang goreng kesukaannya.


Dino tak benar-benar ke toilet. Dia membohongi Laras.


Dino menghampiri Tasya dan Tomi yang masih saja bermesraan.


Begitu melihat Dino di dekat saung, mereka langsung saling menjauh.


"Kenapa enggak diterusin? Aku udah lihat dari tadi!" ucap Dino dengan ketus.


"Pa..." ucap Tasya.


"Silakan kalau kamu mau bercinta dengan dia. Sama anj*ng pun aku enggak peduli! Tapi cari tempat lain yang tertutup. Enggak usah dipamer-pamerin. Bikin malu saja!" bentak Dino.


Dino tak pernah melarang istrinya berbuat mesum atau apapun. Karena sejujurnya Dino tak pernah mencintai Tasya.


Dino hanya memanfaatkan harta orang tua Tasya untuk kelancaran bisnisnya. Apalagi pengaruh orang tua Tasya yang jadi pejabat sangat dibutuhkan Dino.


Setelah bercerai dengan istri pertamanya, Dino terpaksa menikahi Tasya yang dia ketahui sebagai wanita mandul. Demi kelancaran usahanya yang sempat bangkrut.


Dan Dino memberikan kebebasan pada Tasya yang masih suka bermain-main dengan lelaki lain. Terutama berondong macam Tomi.


Berondong yang hanya membutuhkan uang Tasya saja. Dan biasanya Tasya akan membuangnya saat sudah merasa bosan.


"Pa...aku..." Tasya tergagap.


"Enggak apa-apa. Silakan. Tapi sana cari tempat lain. Jangan di sini! Aku lagi ada pertemuan dengan klienku. Jangan permalukan aku!" usir Dino.


Dino berbohong soal temannya. Dia tak mau mereka tahu kalau Laras lah yang menemaninya.


"Kamu enggak marah kan, Pa?" tanya Tasya yang sudah beranjak dari duduknya dan mendekati Dino.


"Enggak! Pergilah!" usir Dino lagi.


Tasya mengangguk. Lalu mengajak Tomi pergi dari situ. Tomi pun menurut. Dia tak mau juga kembali bonyok oleh Dino.


Dino hanya menghela nafasnya. Lalu kembali ke saungnya.


Hhh! Kalau bukan karena harta orang tuamu, enggak sudi aku punya istri macam kamu, wanita murahan! Maki Dino dalam hati.


Dino hampir tak pernah marah pada Tasya. Malah kalau bisa jangan sampai Tasya marah padanya, dan orang tua Tasya memisahkan mereka.

__ADS_1


Dan beruntungnya, orang tua Tasya sangat percaya pada Dino. Mereka berharap Dino mampu merubah kebiasaan buruk Tasya.


Meski kenyataannya, Dino juga memiliki sifat yang sama dengan Tasya. Sama-sama penikmat daun muda.


"Udah pesan, Ras?" tanya Dino setelah sampai di saungnya.


"Belum, Om. Pelayan yang tadi belum datang," jawab Laras.


"Panggil dong. Pakai ini." Dino menekan tombol yang ada di atas meja.


Laras mengangguk sambil tersenyum malu. Sekali lagi Laras merasa terlihat sangat bodoh.


Tak lama, pelayan yang tadi datang dan menerima pesanan Laras.


"Ini saja, atau masih ada yang lain?" tanya pelayan laki-laki seumuran Laras.


"Om Dino mau pesan apa?" tanya Laras pada Dino. Laras baru menuliskan pesanannya sendiri saja.


"Aku minta black kopi aja," jawab Dino. Dia pun masih merasa kenyang.


Pelayan itu segera mencatatnya. Lalu sebelum pergi, dia menatap wajah Laras sekilas.


Sayang sekali, wajah secantik kamu harus jatuh ke pelukan om-om. Batin pelayan itu.


Laras pun menatap pelayan itu. Bukan karena naksir, tapi Laras berpikir, sepertinya enak bekerja di restauran atau cafe seperti itu.


Bisa mandiri dan punya banyak teman. Karena Laras melihat banyak pelayan lain yang bersliweran.


"Kamu menyukainya?" tanya Dino yang melihat Laras terus memandangi pelayan itu.


"Enggak, Om," jawab Laras.


"Enggak kok ngeliatin terus," ucap Dino. Dino tak mau kehilangan Laras begitu saja.


Bagi Dino, Laras itu ibarat nemu batu permata diantara bebatuan kali.


Batu yang mesti dia gosok perlahan biar mengkilap. Karena saat ini, Laras masih terlihat sangat lugu. Baik dari sikap maupun penampilan.


"Aku cuma ingin bekerja seperti dia, Om," sahut Laras.


Dino mengernyitkan dahinya.


"Jadi pelayan cafe?" tanya Dino.


Laras mengangguk.


Dino hanya menghela nafasnya. Bagi Dino, apa menariknya bekerja jadi pelayan cafe? Gajinya kecil. Harus melayani orang makan.


"Ras. Kalau punya cita-cita itu yang tinggi," ucap Dino.


"Itu bukan cita-cita, Om. Tapi keinginan," sahut Laras.


"Lho, memangnya apa bedanya cita-cita dengan keinginan?" tanya Dino tak paham dengan cara berpikir Laras.

__ADS_1


"Kalau menurutku, cita-cita itu keinginan sejak dulu tanpa melihat kenyataannya. Banyak kan orang yang punya cita-cita jadi dokter, tapi sebenarnya dia tak punya kemampuan untuk itu," jawab Laras.


"Terus kalau keinginan?" tanya Dino.


"Kalau keinginan itu, lebih pada saat kita melihat sesuatu, lalu kepingin. Tapi cita-citanya tetap tak akan berubah," jawab Laras, sesuai dengan pendapatnya.


"Tapi bukankah saat keinginan kita terpenuhi, kita bisa melupakan cita-cita?" tanya Dino lagi.


"Bisa jadi, Om. Kalau keinginan itu terwujud dan sesuai ekspetasinya. Tapi kalau enggak sesuai, ya akan terus berusaha mewujudkan cita-citanya," jawab Laras.


Dino mengangkat bahunya. Dia tak begitu paham dengan maksud Laras.


"Memangnya kamu punya cita-cita, Ras?" tanya Dino.


"Punyalah. Setiap orang pasti punya. Cuma ada yang mau terus mengejarnya, banyak juga yang menyerah dan melupakannya," jawab Laras.


"Memangnya apa cita-cita kamu, Ras?" tanya Dino penasaran.


"Aku kepingin jadi penulis yang terkenal. Punya tulisan yang banyak digemari pembaca," jawab Laras dengan jujur.


"Jadi penulis?" tanya Dino heran.


Laras mengangguk.


"Sederhana sekali cita-cita kamu," ucap Dino.


"Sederhana aja, susah mewujudkannya, Om," sahut Laras.


Selama ini Laras hanya menulis di aplikasi novel online. Tapi karena Laras masih sering absen menulisnya, jadi susah untuk mendapatkan penghasilan.


"Terus belajar dong. Biar tulisannya bagus dan bisa dipublikasikan," ucap Dino.


"Iya, Om. Aku masih terus belajar. Belajar menulis yang baik, juga belajar konsisten membagi waktu dan moodnya. Karena kadang suka hilang mood," sahut Laras.


"Kapan-kapan boleh aku lihat tulisan kamu? Kalau bagus, aku akan coba bantu mempublikasikannya," ucap Dino.


Mata Laras langsung berbinar.


"Benarkah, Om?" tanya Laras antusias.


"Benar lah. Mas aku bohong. Tapj kalau aku menilainya baik lho ya," jawab Dino.


Bagi Dino, apapun akan jadi lahan bisnisnya asal berkualitas dan punya daya jual tinggi.


Laras langsung bersorak senang.


Yes!


Dan tanpa sadar, Laras mengecup pipi Dino.


Cup.


Laras tersadar saat pelayan yang tadi datang dan kembali menatapnya.

__ADS_1


Laras langsung tertunduk malu.


__ADS_2