KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 106 BIARLAH BERLALU


__ADS_3

Laras dan Beni kembali saling berpandangan. Lalu melihat dua kuda yang sedang berpacu tanpa mempedulikan dua pasang mata yang menatapnya.


"Terus, Sayang....Teruuss...." ucap si lelaki sambil tangannya meremas dua gunung yang sebagian masih tertutup jaket.


"Aakkhh...." Suara si wanita semakin jelas terdengar sambil terus memacu gerakannya dan meliuk-liukan badannya.


Laras dan Beni hanya bisa menghela nafasnya. Lalu pergi meninggalkan tempat laknat itu.


Hasrat Beni yang tadi sudah sampai ubun-ubun, langsung menghilang. Begitu juga Laras yang tadi sudah on fire, tak lagi berniat melanjutkannya.


Mereka berjalan kembali ke arah parkiran motor.


"Gila tuh orang. Main kuda-kudaan di sembarang tempat," komentar Beni sambil berjalan.


"Memang harusnya di mana?" tanya Laras tak mengerti. Karena biasanya Laras dan Tomi pun, melakukan dimana saja mereka inginkan.


"Ya di tempat yang tertutuplah. Di hotel, kek. Modal dikit," sahut Beni.


Beni tak sadar mengomentari orang lain, padahal dirinya sendiri hampir saja melakukannya di tempat yang sama.


Laras langsung ingat kejadian di hotel bersama Tomi. Kejadian yang membuatnya sangat kesal, karena ada wanita lain yang tiba-tiba datang.


Laras terdiam sambil menghela nafasnya dan membuangnya dengan kasar.


"Kenapa?" tanya Beni.


"Enggak apa-apa," jawab Laras sambil memalingkan mukanya. Tak mungkin dia ceritakan itu pada Beni.


Selain malu, Laras juga tak mau Beni semakin menilai negatif pada Tomi.


"Kamu mau kita sewa kamar hotel? Kayaknya di sini tak terlalu mahal harganya."


Laras langsung menggeleng. Dia masih trauma dengan kamar hotel.


"Biar enggak ada yang mengganggu," lanjut Beni.


"Kita pulang aja, Ben. Dingin." Laras mendekapkan kedua tangannya ke depan dada.


"Aku bisa menghangatkanmu, Ras," bisik Beni.


"Jangan gila kamu, Ben."


Laras tak sadar kalau yang mereka lakukan tadi sudah lebih dari gila. Untung saja mereka mendengar suara-suara aneh. Kalau tidak, pasti mereka sudah melakukannya.


"Aku gila karena kamu, Laras!" seru Beni.


Beni sendiri tak bisa lagi mengontrol otaknya. Setiap kali mengingat Laras, hasratnya selalu menggelora. Meski dia sadar tak mungkin bisa memiliki Laras.


"Ada-ada aja kamu, Ben." Laras terus berjalan sambil menundukan wajahnya.

__ADS_1


Dia tahu kalau Beni sejak pertama melihatnya, sudah tertarik padanya. Tapi Laras selalu mengabaikannya.


Laras malah sibuk dengan tulisan-tulisan novelnya di media online dan bermedsos. Hingga akhirnya bertemu dengan Tomi di medsos.


Setelah kenal dengan Tomi dan menjalin hubungan serius, Laras semakin menjauhi bahkan jutek pada Beni.


Tapi Beni tak patah semangat. Dia selalu berusaha mendekati Laras, hingga akhirnya Beni pun bisa ikut mencicipi bibir dan beberapa bagian tubuh Laras. Meski tak bisa memilikinya.


Beni rela keluar banyak uang demi bisa bersama Laras. Dan rela berseteru dengan ibunya sendiri yang tak pernah menyetujui.


"Aku serius, Ras. Aku sangat mencintaimu." Beni meyakinkan Laras dengan menggenggam tangan Laras.


"Terlambat, Ben. Aku....mencintai Tomi. Dan dia yang akan menjadi pendampingku," sahut Laras.


Sampai di parkiran motor, Beni hanya duduk di atas joknya. Tangannya masih menggenggam tangan Laras.


"Kamu yakin, memilih Tomi?" tanya Beni.


Laras mengangguk. Bagaimana mungkin dia mundur dari Tomi, lelaki yang telah mengambil kesuciannya.


"Ras. Tomi itu...."


Belum sempat Beni menyelesaikan ucapannya, Laras menutup mulut Beni dengan tangannya yang lain.


"Jangan diteruskan, Ben. Aku tau kamu enggak suka dengan Tomi. Tapi tolong jangan selalu kamu jelek-jelekan dia. Dia lelaki pilihanku," ucap Laras.


"Ras. Aku tau dia pilihanmu. Aku hanya ingin mengingatkan saja. Tomi tak sebaik yang kamu kira," ucap Beni. Dia genggam dua tangan Laras.


"Ben, selama ini Tomi selalu baik padaku. Dan itu....sudah cukup bagiku." Laras tetap kekeh membela kekasihnya.


"Baik saja tak cukup, Ras. Pada saatnya nanti, kamu butuh lelaki yang bisa menafkahimu. Memberi nafkah dengan uang halal," sahut Beni.


Dari banyak selentingan, Beni mendengar kalau Tomi jadi simpanan tante-tante. Itu makanya Tomi melepaskan pekerjaannya sebagai dept collector.


"Kamu pikir pekerjaan Tomi enggak halal?" Laras sudah mulai terpancing emosi.


Beni melengos sambil tersenyum melecehkan Tomi. Sebenarnya Beni ingin sekali mengatakan selentingan-selentingan yang didengarnya. Tapi Beni belum memiliki bukti otentik. Jadi takutnya Laras menganggapnya memfitnah Tomi.


"Suatu saat kamu bakal tau sendiri, Ras," sahut Beni.


Beni menarik tangan Laras. Hingga Laras berdiri tepat di depannya.


"Apa kamu mau aku mencari bukti tentang semua ini?" tanya Beni.


Bukan hal yang susah bagi Beni untuk mencari tahu tentang Tomi. Karena selain mereka pernah satu sekolah, mereka juga pernah satu pekerjaan.


"Enggak perlu, Ben. Biarkan aku tetap menilai baik pada calon suamiku. Aku enggak mau Tomi batal melamarku," jawab Laras.


Beni menghela nafasnya. Dia tak tahu bagaimana lagi caranya untuk meyakinkan Laras.

__ADS_1


"Oke. Kalau itu mau kamu, aku akan diam. Semoga kamu tak pernah menyesali keputusanmu."


Beni melepaskan kedua tangan Laras. Lalu menstater motornya.


"Ayo kita pulang. Udah malam."


Laras yang masih terdiam, naik ke belakang Beni.


Maafkan aku, Ben. Aku sudah terlanjur mencintai Tomi. Laras memeluk Beni dari belakang, karena udara semakin dingin.


Beni tak bereaksi sedikitpun. Tak seperti biasanya yang terus menggenggam tangan Laras.


Laras tahu Beni kecewa padanya. Tapi Laras pun tak bisa berbuat apa-apa lagi. Karena Rasyid pun terus saja meminta Tomi untuk segera melamarnya.


Biarlah kisahnya dengan Beni berakhir begitu saja. Tapi tidak dengan kisah cintanya pada Tomi.


Laras tak mau gagal. Laras ingin mengubah jalan hidupnya dengan memilih Tomi. Dan meringankan beban ayahnya.


Sebenarnya malam itu Laras melewati rumah keluarga Tomi yang sedang berduka. Karena Beni lewat jalan-jalan kampung yang lebih dekat.


Tapi karena Tomi tak pernah mengatakannya, Laras juga tak pernah tahu.


Bahkan Laras sempat melihat saat sebuah mobil ambulans menurunkan keranda berisi jenazah adiknya Tomi.


Tapi karena hanya melihat sepintas, Laras tak memperhatikan ada Tomi diantara kerumunan orang yang sedang menurunkan jenazah itu.


Tomi pun yang sedang berduka, tak memperhatikan Laras berboncengan dengan Beni melewati depan rumahnya.


Laras masih terus memeluk Beni hingga hampir sampai di dekat rumah mereka.


Laras yang tahu kalau ibunya Beni tak menyukai hubungan mereka, melepaskan pelukannya.


Dia tak mau jadi sasaran kemarahan Yanti nantinya. Dan Laras pun tak mau kalau sampai Yanti mengatakannya pada Tomi tentang hubungannya dengan Beni.


Sampai di samping rumahnya, Laras turun.


"Mau mampir dulu?" tanya Laras.


"Enggak. Makasih, Ras. Udah malam. Salam aja buat ayah kamu juga Niken."


Laras mengangguk dan membiarkan Beni berlalu.


Laras masuk ke rumahnya dengan tatapan tajam dari Niken yang sedang duduk di teras samping.


Laras menoleh sesaat.


"Dapat salam dari Beni," ucap Laras. Lalu masuk ke kamarnya.


Niken hanya diam, tak menjawab apapun seperti biasanya. Bukan salam dari Beni yang ditunggunya, tapi kedatangan Tomi.

__ADS_1


__ADS_2