
Sementara Maya yang duduk di sofa yang ada di kamarnya, tak curiga sedikitpun pada Ricko, meski Ricko lama di kamar mandi. Maya malah berharap Ricko berendam di bath tub dan tertidur di sana.
Sambil menunggu Ricko, Maya berselancar di medsosnya. Bukan untuk mencari brondong lagi, karena buat Maya, Tomi sudah lebih dari cukup.
Maya memposting beberapa barang dagangannya. Barang-barang branded koleksi butiknya, semua sudah dia foto. Tinggal posting saja.
Dan biasanya langsung banyak inbok masuk. Dan Maya akan mengarahkan mereka untuk datang langsung ke butiknya.
Maya tidak suka dengan penjualan online dengan sistem COD atau apapun. Baginya, itu sangat merepotkan. Dia paling tidak suka menerima komplain dari pelanggan. Karena barang dagangannya sudah terjamin kualitasnya.
Kalau soal Tomi, itu hanya sekedar pemuas hasratnya saja saat Ricko pergi keluar kota berhari-hari.
Maya sudah lama menggunakan jasa lelaki bayaran. Rata-rata yang dibookingnya lelaki muda. Karena bagi Maya mereka masih gampang diatur.
Maya tak suka berselingkuh serius dengan main hati. Itu akan sangat merepotkannya. Dan bisa jadi mengganggu rumah tangga juga pekerjaannya.
Beda dengan lelaki bayaran yang datang hanya saat dibutuhkan saja. Dan biasanya Maya hanya menggunakan satu orang, setelah mendapatkan yang baru, yang lama akan dia lupakan begitu saja.
Kalau soal bahaya penyakit yang mengintainya, Maya tak mau ambil pusing. Karena biasanya Maya akan melakukan pap smear atau pemeriksaan kesehatan kewanitaannya secara berkala.
Awalnya Ricko juga sering berganti pasangan. Lalu setelah melihat temannya memiliki sugar baby, dia berminat mencarinya. Eh, malah ketemunya Ratih yang sudah berstatus janda. Dan apesnya, Ricko malah jatuh hati beneran pada Ratih.
Meski begitu, Ricko belum berniat menikahi Ratih. Dia masih ingin mempertahankan rumah tangganya bersama Maya.
Walaupun tak dikaruniai momongan selama hampir dua puluh tahun menikah, tapi Ricko sudah terlanjur sayang pada Maya.
Setelah hampir setengah jam, Ricko keluar dari kamar mandi dengan rambut basah.
Maya melirik sekilas. Masih tampak kegantengan di wajah suaminya yang usianya menjelang lima puluh tahun itu.
Apalagi Ricko rajin nge-gym di tengah kesibukannya. Otot-ototnya terlihat besar dan kekar.
Postur tubuhnya yang tinggi sangat terlihat proporsional, meski perutnya tidak six pack.
Ricko mendekati Maya yang kembali asik dengan ponselnya. Lalu mengecup dahi Maya sekilas.
"Kamu sudah sarapan, Ma?" tanya Ricko. Dia berharap Maya lupa dan tak meminta jatah pertarungan di atas ranjang pagi ini.
"Belum. Kamu, Pa?" tanya balik Maya.
"Belum juga. Kita sarapan yuk," ajak Ricko.
Maya langsung bangkit dengan semangat. Itu artinya dia tak perlu melayani suaminya pagi ini di atas ranjang.
__ADS_1
"Ayo." Maya berjalan duluan keluar kamar. Lalu dia mencari Lili untuk pergi ke pasar. Maya khawatir Lili mengoceh kalau semalam dia tak pulang.
Ricko langsung duduk di kursi makan. Dia mengambil sendiri makanannya.
Ricko bukan type suami yang apa-apa mesti dilayani. Apalagi soal makan, dia lebih suka mengambil sendiri sesuai dengan keinginannya.
"Darimana?" tanya Ricko sambil menyendok capcay buatan Lili.
"Nyuruh simbok belanja ke pasar," jawab Maya. Dia pun langsung duduk dan mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
"Kenapa enggak Mama saja yang belanja di supermarket? Kan bisa sekalian ke butik," tanya Ricko.
"Sekarang tanggal muda. Di supermarket pasti ramai. Mama malas antrinya di kasir," jawab Maya beralasan.
"Oh, ya sudah. Tapi pastikan bahan-bahan makanan yang dibeli berkualitas, ya?"
Ricko selalu mengkhawatirkan makanan yang akan disantapnya dan istrinya. Dia tak suka asal makan saja. Meski tak pilih-pilih menu.
"Iya. Mbok Sol udah paham kalau soal itu." Maya mulai menyendokan makanan ke mulutnya.
"Papa hari ini ke kantor enggak?" tanya Maya.
"Iya. Tapi agak siangan. Papa masih ngantuk," jawab Ricko. Jelas saja ngantuk, semalam dia begadang sambil bertempur dengan Ratih.
Diluar kelakuan melencengnya, Maya selalu pamit baik-baik pada Ricko kalau mau pergi kemana-mana.
"Iya, Ma. Nanti hati-hati, ya. Papa enggak bisa nganter. Abis ini mau langsung tidur aja," sahut Ricko.
Maya mengangguk, lalu buru-buru menghabiskan makanannya.
Sebenarnya Maya tidak langsung pergi ke butik. Karena butiknya berada di mall. Jam buka mall masih lama.
Maya mau pergi ke hotel lagi. Jam tangannya tertinggal di sana. Dan dia yakin kalau Tomi masih tidur di kamar yang dibookingnya semalam.
Jadi Maya berfikir tak perlu menghubungi Tomi dulu. Nanti saja kalau sudah sampai. Maya juga tak ingin mengganggu tidur Tomi.
Setelah selesai makan, mereka bersamaan menuju ke kamar. Ricko langsung merebahkan diri, Maya berganti pakaian. Dan bersiap pergi.
"Mama berangkat dulu ya, Pa." Maya mendekati Ricko yang sudah memejamkan matanya. Lalu mengecup dahinya sekilas.
Sepertinya Ricko sudah benar-benar terlelap, hingga tak bereaksi sedikitpun.
Maya melenggang dengan santai dan pergi menggunakan mobilnya.
__ADS_1
Suasana jalanan pagi hari jelas sangat macet. Sebenarnya hal ini yang selalu dihindarinya. Maya selalu pergi dari rumahnya setelah jam sembilan pagi.
Setelah satu jam lebih berjibaku dengan kendaraan lain membelah kemacetan, sampai juga mobil Maya di hotel de rose.
Maya langsung menuju ke kamar yang dipakainya semalam tanpa melalui resepsionis lagi.
Sampai di lantai tiga, Maya bergegas ke kamar nomor 305. Maya mengetuk pintunya perlahan.
Dua kali Maya mengetuk, pintu kamar dibuka. Dan nampaklah di hadapan Maya seorang gadis yang tak lain adalah Laras.
Kebetulan Tomi sedang ke kamar mandi, jadi Laras yang membukakan pintunya.
Maya menatap tajam. Lalu menelisik seluruh tubuh Laras, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Kampungan sekali. Sangat tidak berkelas. Siapa dia? Batin Maya.
"Siapa kamu?" tanya Maya. Dia merasa berhak bertanya karena dia masih punya sisa waktu sampai jam dua belas nanti saat check out.
"Saya Laras. Kamu...." Laras berusaha mengingat wajah dan penampilan Maya.
"Mana Tomi?" tanya Maya lagi tanpa memperkenalkan diri. Bahkan dia menerobos masuk dengan menyingkirkan badan Laras.
Laras sampai terkejut. Tapi kemudian dia mengingat wanita itu. Ya, dia yang jalan berangkulan dengan Tomi semalam, tebak Laras.
"Lagi di kamar mandi. Ada keperluan apa?" tanya Laras memberanikan diri. Laras merasa ini adalah kamar yang disewa Tomi, kekasihnya sendiri.
"Tom! Keluarlah!" seru Maya. Dia lalu ke meja nakas dan mengambil jam tangannya yang tertinggal.
Bagai tersambar petir, Tomi mendengar suara Maya memanggilnya.
Buru-buru Tomi menyelesaikan hajatnya dan keluar dari kamar mandi.
"Mm... Maya....Ka...Kamu....," ucap Tomi tergagap.
Maya hanya melirik ke arah Laras sekilas, tanpa berniat menanyakan.
"Nanti aku transfer upahmu melayaniku semalaman!" Maya sengaja menekan suaranya agar Laras mendengar.
Glek. Mati aku.
Tomi hanya bisa menelan ludahnya. Maya melenggang keluar kamar.
"Oh iya. Nanti aku potong uang sewa kamar, separuh. Karena kamu juga menggunakannya dengan wanita lain," ucap Maya sebelum menghilang.
__ADS_1