
Tomi berhasil memuaskan hasrat Maya. Dan Maya pun puas dengan pelayanan Tomi malam itu.
"Makasih, Tom. Kamu sangat memuaskan," ucap Maya sambil memeluk Tomi.
"Kamu juga sangat menggairahkan, May," sahut Tomi, lalu mengecup kening Maya.
Tak sia-sia sore tadi Cyntia memberikan training pada Tomi. Dia jadi lebih lihay lagi.
Tomi tak lagi sekedar pasrah, tapi dia mampu membawa permainan lebih panas lagi.
"Tom, setelah ini kamu pulang ya. Besok pagi-pagi, suamiku sudah pulang lagi. Terimakasih kamu udah memberikan kehangatan padaku malam ini."
Maya beranjak lalu berjalan ke kamar mandi. Tomi pun segera mengenakan pakaiannya. Dia hanya perlu membersihkan senjatanya dengan tissue saja.
Tak lama, Maya keluar dengan hanya menggunakan handuk. Tomi yang melihatnya, menelan ludahnya.
Gila! Bodinya mulus sekali. Tak ada sedikitpun cela. Jauh sekali dari body Laras yang ada beberapa bekas luka di bagian tangan dan kakinya.
Wanginya pun sangat membuat Tomi mabuk kepayang. Tidak seperti Laras yang saat berkeringat sedikit bau asem. Batin Tomi.
Tanpa malu-malu, Maya melepas handuknya dan berdiri membelakangi Tomi. Ingin rasanya Tomi mendekapnya dari belakang dan membawanya kembali ke atas tempat tidur. Tapi Tomi tak berani melakukannya.
Dia dibayar hanya sesuai permintaan Maya saja. Kata Cyntia, jangan melakukan hal-hal yang tidak diminta oleh klien. Dan Tomi menuruti aturan mainnya.
"Kamu bisa pulang sekarang, Tom. Kalau aku membutuhkan kamu, aku akan memanggilmu." Maya berjalan dengan santai keluar dari kamar.
Tomi pun mengikutinya. Dia masih akan menunggu Maya membayar jasanya.
Dia pun mengikuti Maya yang kembali duduk di sofa ruang tamu.
Maya menatap wajah Tomi. Dia bingung, kenapa Tomi tak juga pergi. Padahal kalimatnya tadi sudah cukup jelas.
"Kamu masih mau ngopi? Biar mbok Solihah membuatkan yang baru," ucap Maya.
"Enggak usah. Ini saja udah cukup." Tomi meneguk kopinya yang sudah dingin.
"Soal bayaranmu, aku udah transfer ke Cyntia. Kamu tanyakan saja pada dia," ucap Maya.
Hah? Tomi terkejut mendengarnya.
__ADS_1
"Kenapa lewat Cyntia?" tanya Tomi.
"Dia kan agency-mu. Jadi transaksinya mesti lewat dia dong. Aku gak mau dia lepas tangan kalau terjadi sesuatu denganku. Kita belum pernah saling kenal, Tom. Aku gak mau ambil resiko," jawab Maya.
Tomi mengangguk-angguk, meski ada rasa kecewa. Ini berarti penghasilannya akan dikendalikan oleh Cyntia. Hhh. Lihay sekali perempuan itu. Dia kendalikan bisnisnya hanya dengan duduk manis. Batin Tomi.
"Selama ini begitu kan, Tom?" tanya Maya ingin tahu.
Tomi yang tak ingin Maya menganggapnya anak ingusan, memilih berbohong.
"Iya. Tapi ada juga yang langsung diberikan padaku. Mereka langsung contact aku, jadi udah enggak melalui Cyntia lagi," sahut Tomi. Dia juga tak mau dirinya selalu dikendalikan oleh Cyntia.
"Ooh. Tapi mestinya harus melalui Cyntia. Karena kamu kan masih dapat job dari dia. Kasihan dong kalau kamu melangkahinya. Dapat apa dia?" sahut Maya.
"Tapi selanjutnya kan, aku yang bekerja?" Tomi masih belum bisa menerima cara kerja Cyntia.
"Iya betul, Tom. Tapi kalau dalam bisnis agency tidak begitu caranya. Selama kamu masih mencari job dari pihak agency, dengan perjanjian resmi atau tidak, kamu harus berbagi penghasilan sesuai kesepakatan awal," tutur Maya.
Maya sendiri sering berurusan dengan agency modeling yang sering memesan baju di butiknya. Jadi dia sedikit paham tentang cara kerja mereka.
"Kecuali kalau kamu mau jalan sendiri. Mencari klien dengan usahamu sendiri. Kalau aku sih lebih percaya pada agency. Karena dia, Cyntia, akan menjamin kenyamananku. Kalau aku tidak nyaman atau kurang puas, aku bisa komplain ke Cyntia," lanjut Maya.
Tomi manggut-manggut lagi. Tak disangka dia telah masuk ke dalam dunia bisnis prostitusi yang dikelola Cyntia dengan sembunyi-sembunyi.
"Sekarang kamu hubungi Cyntia saja. Minta bayaranmu padanya. Aku sudah tidak ada urusan lagi dengan itu." Maya beranjak dari duduknya. Menandakan dia mengusir Tomi dengan cara halus.
Tomi pun otomatis ikut berdiri. Tak ada lagi yang bisa dilakukannya.
"Baiklah. Aku permisi pulang dulu," ucap Tomi.
Maya hanya mengangguk saja.
"Mbok...!" Maya memanggil ART-nya.
"Iya, Nyah!" jawab Solihah yang sudah keluar dari kamarnya. Dia sejak tadi menghubungi Rasyid, tapi tak ada balasan.
"Antar dia ke depan. Terus kunci pintu gerbang!" Maya langsung masuk ke kamarnya sendiri. Bukan kamar yang dia gunakan untuk bergulat dengan Tomi tadi.
Dia tak mau mengotori kamarnya dengan perbuatan nista. Hanya dia dan suaminya yang berhak memakainya untuk bercinta.
__ADS_1
Solihah mengantarkan Tomi ke depan.
Ganteng sekali anak ini. Hebat majikanku. Dia banyak sekali teman brondong. Tapi kenapa mereka datangnya kalau suaminya sedang di luar kota? Tanya Solihah dalam hati.
Sepanjang berjalan ke arah motornya, Tomi tak menoleh sedikitpun pada Solihah. Karena tak tertarik sama sekali dengan wanita setengah baya yang hanya bekerja sebagai ART itu.
Tomi mengambil motornya. Solihah terus saja memperhatikannya sampai Tomi pergi.
Tomi melajukan motornya ke rumah Cyntia. Dia akan minta bayarannya yang kata Maya sudah ditransfer ke rekening Cyntia.
Sampai di rumah Cyntia, ada seorang lelaki muda yang sedang duduk bersama Cyntia.
"Hay, Tom. Darimana kamu?" tanya Cyntia.
"Dari rumah Maya." Tomi langsung duduk di sofa.
"Oh, udah beres?" tanya Cyntia lagi. Tomi mengangguk sambil memperhatikan wajah lelaki muda yang duduk di sebelah Cyntia.
"Kenalin, ini Tanto."
Tomi menatap Tanto, lalu mengulurkan tangannya.
"Hay, aku Tomi," ucap Tomi. Dalam hati berkata, hebat sekali Cyntia. Jaringannya ada di mana-mana. Bisa saja merekrut talent muda. Meski wajah Tanto tak terlalu ganteng, tapi cukup menarik kalau didandani.
Tanto tersenyum. Lalu kembali duduk.
Cyntia membuka ponselnya. Lalu membaca pesan dari Maya. Dia manggut-manggut sambil tersenyum puas.
Lalu beralih ke aplikasi mobile banking-nya.
"Tom. Itu sudah aku kirimkan bayaranmu. Cek saja," ucap Cyntia.
Tomi yang belum memiliki mobile banking hanya bisa mengangguk. Karena dia tak mungkin menanyakan berapa jatahnya.
"Sekarang kamu bisa pulang. Istirahat yang cukup. Kalau ada job, aku kabari lagi." Cyntia mengusir Tomi dengan halus.
"Aku mau mentraining Tanto biar bisa hebat seperti kamu," lanjut Cyntia. Dia sengaja memuji Tomi meski menurutnya Tomi masih kurang memuaskan.
"Ok. Aku tunggu kabar dari kamu. Tanto, aku duluan." Tomi beranjak dari duduknya.
__ADS_1
Dia tak mungkin berlama-lama. Karena bisa dipastikan Cyntia akan mengajak Tanto ke kamar dan memberikan kursus singkat.
Dalam hati Tomi bergumam, enak juga Cyntia, bisa makai lelaki muda dengan gratis. Bahkan bisa jadi Cyntia yang akan mengambil keperjakaan Tanto yang tetlihat masih lugu.