KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 92 KARMA


__ADS_3

"Gimana, boleh kan aku mencium kamu?" tanya Tanto.


"Emangnya kalau pacaran mesti pake cium?" Niken yang masih lugu balik bertanya.


"Iya. Kan udah pacaran," jawab Tanto. Dia sangat penasaran nyium Niken.


Niken diam sejenak.


"Apanya yang mau kamu cium?" tanya Niken.


"Semuanya," jawab Tanto sudah tidak sabaran.


"Hah? Semua?" Niken membayangkan Tanto juga akan mencium keteknya. Padahal dia seharian baru mandi sekali. Tadi pagi. Bisa dibayangkan bagaimana aroma keteknya.


"Tapi aku belum mandi," lanjut Niken.


"Enggak apa-apa. Aku kan pacarmu. Bagaimana pun baumu, aku pasti suka," sahut Tanto.


Niken mengangkat lengannya. Dia cium sendiri aroma keteknya. Dia sendiri saja hampir batuk, apalagi orang lain. Bisa muntah-muntah, batin Niken.


"Lain kali aja deh. Aku belum mandi." Niken merasa tak percaya diri.


"Ya udah, aku gak akan nyium ketek kamu. Tapi nyium....bibir kamu," ucap Tanto.


Niken menghembuskan nafasnya di telapak tangan.


"Hahh!" Hmm...bau. Dia juga baru menggosok giginya sekali.


Niken semakin tak percaya diri. Dia tak berfikir terlalu jauh seperti layaknya orang yang sedang bercumbu.


Niken masih terlalu lugu untuk mengerti arti sebuah ciuman. Meskipun dia sering melihat adegan itu di hape Laras.


Dan biasanya Niken akan pergi menjauh. Karena dia merasa jijik melihat orang berciuman dan mulut mereka menyatu dengan lidah saling membelit.


Melihat orang meludah saja Niken jijik, apalagi harus merasakan ludah orang lain.


Hihh....Niken bergidig sendiri.


"Kapan-kapan aja deh. Aku belum siap. Aku belum mandi lagi, belum gosok gigi lagi juga," sahut Niken.


Tanto jadi ingin ketawa sendiri melihat keluguan Niken. Dan merasa tertantang.


Kalau biasanya dia yang diserang habis-habisan oleh wanita-wanita dewasa, bahkan jauh lebih tua, kini Tanto ingin merasakan wanita muda yang sepertinya belum pernah tersentuh oleh siapapun.


Tanto meraih tangan Niken. Lalu mengecupnya.


Niken spontan menarik tangannya. Dia merasa risi. Biasanya dia yang mencium tangan ayahnya, atau Ayu yang mencium tangannya.


"Kenapa?" Suara Tanto sudah mulai diselimuti kabut asmara yang menggelegak. Suaranya terdengar parau. Niken malah jadi heran. Kenapa Tanto suaranya berubah?


Tanto mendekatkan wajahnya ke wajah Niken. Jantung Niken berpacu dengan cepat. Bukan karena nafsu, tapi risi karena udara dari nafas Tanto seakan menusuk ke hidungnya.


Lalu Tanto meraih kepala Niken dan....Tanto berhasil mendapatkan bibir Niken.

__ADS_1


Ditekannya kepala Niken agar ciumannya semakin merekat. Tapi Niken malah memberontak.


"Empht!"


Tangan Niken menekan wajah Tanto agar menjauh. Wajahnya dipalingkan ke samping.


Tanto tetap memaksa. Dia meraih lagi kepala Niken.


Dengan sekuat tenaga, Niken berusaha melepaskan diri. Lalu setelah lepas, Niken langsung berdiri.


"Mau apa kamu, hah?" Tangan Niken sudah bertolak pinggang.


"Niken. Sini, Sayang. Aku mencintai kamu," ucap Tanto.


"Cinta ya cinta! Tapi jangan maksa dong!" seru Niken. Dia sangat marah dengan apa yang dilakukan Tanto padanya.


"Niken...." Tanto berdiri dan mendekati Niken.


Niken mundur. Dia sudah lebih siap dengan kemungkinan yang bakal terjadi.


Tanto terus mendekat.


"Jangan mendekat! Atau aku akan menendangmu!" ancam Niken.


Tanto tak mundur. Dia berfikir itu hanya gertakan saja. Dia malah semakin maju dan menarik tangan Niken. Hingga Niken jatuh ke pelukannya.


"Lepaskan!" Niken terus saja memberontak. Tapi Tanto mendekapnya semakin erat.


Merasa tangannya tak bisa lagi bergerak, Niken mengangkat satu kakinya, dan....


Bugh!


"Auwh!" teriak Tanto kesakitan.


Reflek dia melepaskan pelukannya dan memegangi senjatanya yang kena tendang Niken.


"Kamu...." Tanto merasa geram dengan sikap Niken yang menurutnya terlalu berlebihan.


Setelah merasa lebih enakan, Tanto menarik lagi tangan Niken. Tanto mendorong tubuh Niken hingga menyandar di tembok. Dan dengan brutal, dia mencium bibir Niken.


Tak hanya mencium, Tanto bahkan ********** dengan kasar. Niken terus saja bergerak, berusaha melepaskan diri.


Tapi sayangnya, tenaga Tanto jauh lebih kuat.


"Hmpt!" Niken tak memberi sedikitpun akses pada Tanto untuk memasuki rongga mulutnya.


Niken menutup rapat-rapat mulutnya. Dan badannya terus saja bergerak mencoba melepaskan diri.


Melihat Niken yang terus melawan, membuat Tanto semakin brutal. Satu tangannya yang menahan tubuh Niken, tangan lainnya menelusup masuk ke kaos yang dipakai Niken.


Lalu dengan kasar dia remas satu gundukan di dada Niken yang masih sangat ranum.


Niken masih berusaha melepaskan diri. Apalagi merasakan nyeri di dadanya akibat remasan yang terlalu kuat.

__ADS_1


Kaki Niken tak bisa lagi digerakan karena ditahan oleh kaki Tanto. Posisinya sangat sulit untuk lepas.


Tiba-tiba sebuah tangan yang cukup kekar menarik tubuh Tanto, dan...


Bugh!


Satu hantaman melayang ke wajah Tanto. Membuatnya oleng. Dan kaki yang juga cukup besar menendang perut Tanto hingga dia hampir terjengkang. Untung tubuhnya menabrak tembok. Hingga Tanto selamat.


Tapi sekali lagi kepalan tinju melayang ke wajah Tanto.


"Ayah! Sudah!" teriak Niken yang menyaksikan Rasyid menghajar Tanto tanpa ampun.


Rupanya Rasyid yang kehabisan bensin dan mendorong motornya sampai ke rumah, kedatangannya tak disadari oleh Tanto maupun Niken.


Rasyid melihat dengan mata dan kepalanya sendiri, bagaimana Tanto memaksa mencium Niken dan menggerayangi tubuh anak gadisnya itu.


Amarah Rasyid memuncak. Dengan sekuat tenaga, Rasyid menghajar Tanto.


Tanto jelas kalah kuat. Badannya kalah besar dengan badan Rasyid yang tambun.


"Ampun, Om....Ampun....!" seru Tanto yang sudah kepayahan.


Wajahnya bonyok karena mendapat dua bogem mentah dari Rasyid. Perutnya terasa mual karena tendangan Rasyid yang sangat kuat.


Rasyid mencengkeram kerah baju Tanto. Tangannya sudah siap memberikan bogem mentahnya lagi.


Rasyid tak mempedulikan teriakan Niken yang memintanya berhenti.


"Ayah, sudah!" Niken masih saja berteriak. Bagaimana pun dia tidak tega melihat Tanto dihajar oleh Rasyid di depan matanya.


"Sekali lagi kamu sentuh anakku, mati kamu!" Rasyid menghempaskan tubuh Tanto hingga kembali menabrak tembok.


"Ampun, Om. Ampun!" Tanto kembali meminta ampun.


"Pergi kamu! Jangan pernah perlihatkan lagi wajahmu di rumah ini!" ancam Rasyid.


Tanto langsung angkat kaki dengan langkah terhuyung. Dia memegangi perutnya yang terasa sangat mual.


Tanto menstater motornya. Tenaganya habis, tapi dia harus segera kabur sebelum Rasyid kembali menghajarnya.


"Kamu enggak apa-apa?" tanya Rasyid pada Niken. Matanya menelisik sekujur tubuh Niken. Pakaian Niken masih utuh. Hanya kaosnya saja yang berantakan.


Itu artinya Tanto belum sempat melakukan yang lainnya selain meremas satu gundukan milik Niken.


Niken berlari ke kamarnya sambil menangis.


"Bangsaaat....!" teriak Rasyid dengan geram. Lalu duduk di sofa sambil menutupi wajahnya.


Dia teringat kembali saat dia memaksa Ratih dan mendapat bogem mentah dari laki-laki yang mengaku kekasih Ratih.


Kini kejadian serupa malah terjadi pada Niken di depan matanya.


Rasyid mengacak rambutnya dengan kesal. Kenapa semua harus terjadi pada anakku?

__ADS_1


Rasyid menyesali perbuatannya dulu pada Ratih. Apa ini yang disebut karma?


__ADS_2