
"Cari makannya jangan yang jauh-jauh, Tom. Kakiku udah sakit. Kayaknya lecet," pinta Laras.
"Itu yang sebelah sana. Kita makan steak, ya?" Tomi menunjuk sebuah gerai steak yang lagi viral.
Laras mengangguk. Meski dalam hatinya keberatan karena letak gerainya masih cukup jauh.
Tomi menggandeng tangan Laras seperti dia menuntun nenek-nenek. Meski malu, tapi tetap digandengnya Laras.
Bagaimana pun, Tomi sangat mencintai Laras. Tak mungkin dia meninggalkannya jalan sendirian.
Lagi pula, Tomi ingin membiasakan Laras dengan kehidupan yang mewah. Enggak cuma berkutat di kamar terus.
"Kamu mau beefsteak apa chicken steak?" tanya Tomi.
Mereka sudah mendapatkan meja. Tomi yang akan memesankan biar Laras engak kecapekan.
"Enakan yang mana?" tanya Laras.
"Enak semua. Kalau aku lebih suka yang beef," sahut Tomi.
"Ya udah, aku yang chicken aja. Biar nanti bisa gantian makannya," ucap Laras.
Alamak. Masa makan di tempat seperti ini mesti barengan.
Tomi hanya bisa menelan ludahnya. Lalu mendekat ke both gerai itu. Dia memesan sesuai keinginan Laras.
Tomi juga memesankan jus untuk Laras dan white coffe untuknya.
Laras yang sudah duduk, melepas sepatunya.
Ah....lega rasanya. Sepatu ini benar-benar menyiksaku. Tapi kenapa banyak wanita menyukainya, ya? Apa biar terlihat modis? Modis kalau tidak nyaman, buat apa? Batin Laras.
Di depannya melintas seorang gadis cantik dipeluk seorang lelaki. Gadis itu memakai baju terusan mirip yang dipakai Laras.
Dan sepatunya juga. Hanya saja milik gadis itu lebih tinggi. Dan dia berjalan dengan santainya. Sepertinya sangat nyaman.
Laras terus saja memperhatikan cara berjalan gadis itu. Baju terusan yang pendek, membuat kaki jenjangnya terlihat sangat menggoda.
Laras melihat ke arah kakinya sendiri. Hhh! Ada bekas luka kena knalpot yang terlihat jelas.
Laras jadi minder sendiri. Kenapa tadi aku mau saja dibelikan baju ini? Kan sama aja memperlihatkan kakiku yang enggak mulus.
Gimana cara menutupinya, ya. Laras meletakan telapak tangannya di atas bekas luka itu.
Hhh! Pake plester pun kayaknya enggak akan cukup. Karena bekas luka itu lumayan besar.
Tomi kembali ke meja Laras.
"Kenapa kakimu?" tanya Tomi yang melihat telapak tangan Laras sedang memegangnya.
"Eh, enggak apa-apa." Laras segera menjauhkan lagi tangannya.
"Kalau enggak apa-apa, kenapa sepatunya dilepas?" tanya Tomi.
Oh, kirain Tomi melihat bekas lukaku. Ternyata lihat ke sepatuku. Laras hanya nyengir. Lalu memakai lagi sepatunya.
"Tadi ada semut, Tom. Jadi aku lepas sebentar," jawab Laras berbohong.
Tomi menghela nafasnya lagi. Tomi tahu kalau Laras bohong. Mana ada semut di tempat seperti ini. Memang semutnya mau belanja juga?
"Ras. Jangan suka melepas sepatu di tempat umum. Enggak sopan," ucap Tomi.
__ADS_1
"Iya. Tadi ada semut, Tomi." Laras tetap dengan kebohongannya. Tidak mungkin juga Laras meralat omongannya. Malah bakal ketahuan kalau dia bohong. Meskipun Tomi sudah tahu.
"Semut dari mana?" tanya Tomi pura-pura percaya.
"Enggak tau. Mungkin di sepatunya."
Tomi menahan tawanya. Ternyata Laras kurang ahli berbohong. Alasannya sangat tidak masuk akal.
Tak lama steak pesanan mereka datang.
"Oke. Makasih, Mba," ucap Tomi.
"Ayo makan, Ras. Jam empat aku harus kembali ke kantor."
Laras mengangguk, lalu menggeser tempat steaknya.
"Auwh!" teriak Laras. Tak sengaja dia menyenggol piring panasnya.
Banyak pengunjung menatap ke arah mereka.
"Aduh, Ras. Ati-ati dong. Ini kan panas."
Tomi menyembunyikan wajahnya dengan menunduk. Dua kali Laras membuatnya malu.
"Cewek norak itu lagi. Biasa makan nasi urap pake daun, disuruh makan steak pake hot plate. Liatin deh, pasti kesulitan motong dagingnya."
Dua gadis yang tadi bisik-bisik saat Laras jatuh, ternyata ada di tempat yang sama.
Mereka menertawakan Laras.
Tapi untungnya, Laras pesan chicken steak. Jadi tak terlalu sulit memotongnya. Apalagi Tomi juga membantu.
Laras berusaha menyesuaikan cara makannya. Maklum, dia biasa makan pakai tangan tanpa sendok.
Sekarang harus pakai garpu juga pisau potong. Laras mengikuti cara makannya Tomi.
"Enak, Tom," ucap Laras.
"Ini lebih enak." Tomi menyuapi Laras dengan makanannya.
"Mmm....iya. Tapi dagingnya empuk yang ini." Laras menunjuk steaknya dengan garpu.
"Ya jelas dong, Ras. Itu kan ayam. Kalau ini daging sapi," sahut Tomi.
"Tapi sayang, enggak ada nasinya," ucap Laras.
Kalau di rumahnya, daging sebesar itu bisa buat makan sekeluarga dengan nasi sebakul.
"Kalau kurang kenyang, aku pesankan lagi," ucap Tomi.
"Mmm....enggak. Ini aja udah banyak banget. Memangnya Niken yang makannya sebakul?"
"Kamu itu, sukanya menjelek-jelekan Niken. Dia kan adikmu, Ras. Sayangi dia dong," sahut Tomi.
Kayak aku, Ras. Menyayangi Niken dan membuatnya nyaman. Ups. Tomi tak ingin keceplosan. Bisa ngamuk kalau Laras sampai tahu.
"Lha, emang dia kalau makan kayak orang enggak makan tiga hari kok. Lihat aja badannya bengkak kayak gajah."
Padahal Niken tidak gemuk. Cuma memang perawakannya besar, seperti Rasyid. Meskipun Rasyid sudah over weight.
"Kamu makannya yang banyak juga, dong. Biar badanmu berisi," sahut Tomi. Menurut Tomi, badan Laras terlalu kurus.
__ADS_1
"Enggak ah. Entar baju-bajuku pada enggak muat lagi."
"Nanti aku belikan baju lagi yang banyak. Apa mau pake daster aja? Hahaha." Tomi tertawa. Dan melupakan rasa malunya tadi.
"Enak aja! Memangnya aku embok-embok?" protes Laras.
"Biar gampang masukinnya," bisik Tomi.
Laras langsung melotot. Tomi kembali tergelak.
Dua gadis tadi menoleh ke arah mereka. Apalagi yang berkacamata. Dia sering mencuri pandang ke arah Tomi.
Meski tak terlalu ganteng, tapi Tomi punya daya tarik yang luar biasa. Mungkin karena senyum manisnya yang sering dia perlihatkan ke sekitarnya.
Tomi yang merasakan itu, membalas tatapannya sambil menebarkan senyuman.
Dan saat gadis itu pergi sendirian, Tomi pamit pada Laras untuk ke toilet sebentar.
Tomi yakin kalau gadis itu ke toilet.
Dan benar saja. Tomi yang sengaja menunggu di dekat toilet wanita, melihat gadis berkacamata itu keluar.
"Hay...!" sapa Tomi.
"Hay, juga....!" sapa balik gadis itu.
"Tomi." Tomi mengulurkan tangannya.
Gadis itu menyambut dengan antusias.
"Meysa."
Tomi menggenggam tangan lembut Meysa agak lama.
"Pasti lahirnya bulan mei, ya?"
"Kok tau?" tanya Meysa.
"Kalau lahirnya bulan maret, pasti namamu Marsa."
"Hahaha...bisa aja kamu. Pacarmu yang norak itu mana?" tanya Meysa. Dia melihat ke sekeliling Tomi.
"Dia sepupuku. Baru datang dari kampung," jawab Tomi berbohong.
"Ooh, pantesan. Orang kampung," sahut Meysa.
Tomi melihat jam di pergelangan tangannya.
"Boleh aku minta nomor hapemu? Aku mau balik ke kantor sebentar lagi," bohong Tomi lagi.
Dengan semangat, Meysa menyebutkan nomor hapenya.
"Oke. Thanks. Nanti malam aku chat, ya."
Meysa memgangguk sambil tersenyum. Tomi mencolek ujung hidung Meysa yang mancung.
"Bye...!"
"Bye....!"
Aduuh....meleleh aku.....batin Meysa.
__ADS_1