
Sore itu Rasyid janjian ketemu dengan Reisya. Wanita teman kencannya di medsos. Dia sudah janji akan menjemputnya di terminal.
Reisya sudah bilang kalau dia memakai baju warna kuning. Biar lebih gampang nyarinya di terminal katanya.
Sampai di terminal, Rasyid menunggunya di pintu keluar. Dengan mata terbelalak, Rasyid menatap seorang wanita super subur mengenakan baju warna kuning genjreng dengan sepatu yang senada.
Busyet, ini orang apa spongebob? Batin Rasyid.
"Reisya?" sapa Rasyid duluan.
"Iya, Abang Kahlil Gibran?"
Rasyid terpaksa mengembangkan senyumnya. Mau bagaimana lagi, dia sudah terlanjur menyatakan cinta dari awal chat.
"Abang naik apa?" tanya Reisya saat Rasyid membawanya ke parkiran motor.
"Tuh!" Rasyid menunjuk motor yang diparkir tak jauh dari pintu keluar terminal. Dia membayangkan ban motornya bakalan ambles saat makhluk yang sebesar gajah bengkak ini memboncengnya.
Semoga shock brekernya kuat menahan beban dua orang yang berukuran jumbo. Sebab badan Rasyid juga enggak slim.
"Kita cari makan dulu ya, Bang," pinta Reisya.
Rasyid mengangguk meski dia tak membawa uang sepeserpun. Sisa uangnya sudah dia berikan pada Laras untuk membeli mie instant.
"Aku lapar banget, Bang. Cemilanku juga udah habis," lanjut Reisya.
Iyalah, perutmu aja sebesar tong sampah di ujung jalan rumahku, batin Rasyid.
"Kamu mau makan apa?" tanya Rasyid.
"Nasi padang aja, Bang. Yang porsinya banyak," jawabnya. Dia sudah siap naik ke atas motor Rasyid.
"Oke. Siap, Sayang." Rasyid menelan ludahnya.
Blesh!
Motor terasa langsung ambles begitu Reisya menempelkan bokongnya di jok. Dan dengan sigap, tangan Reisya memeluk pinggang Rasyid dari belakang.
Dada dan perut besarnya pun menempel di punggung Rasyid. Rasyid merasa sedang di peluk bantalan yang menggelembung.
Suara berat motor saat Rasyid mulai ngegas, membuat beberapa orang menatap mereka. Pastinya mereka bergumam, kasihan sekali motornya.
Rasyid menghentikan motornya di depan sebuah warung makan padang yang cukup mewah. Tak mau Rasyid masuk ke warung padang yang biasa dia beli untuk anak-anaknya.
Mumpung ada yang bayarin, begitu pikir Rasyid.
"Masakannya di sini enak, Bang?" tanya Reisya.
"Enak banget. Kamu pasti suka," jawab Rasyid sok tau. Padahal belum pernah sekalipun dia ke sini.
__ADS_1
"Abang sering ke sini?" tanya Reisya lagi.
"Ini langgananku. Ayo masuk," ajak Rasyid. Malas dia menjawab pertanyaan-pertanyaan lagi. Perutnya juga sudah minta segera diisi.
"Ayo kamu pilih makanannya." Rasyid sudah berdiri duluan di belakang etalase. Piringnya sudah dia isi dengan nasi.
Dengan cekatan, Reisya mengambil beberapa lauk dan sayur.
"Bang, tolong yang ini di piring terpisah, ya. Nasinya juga tolong di tambahi," ucap Reisya pada seorang pelayan.
"Iya, Bu. Siap," jawab pelayan itu.
Dan seperti orang yang belum makan tiga hari, Reisya menyantap makanannya dengan cepat. Bahkan dengan cepat juga dia menambah nasi dan lauknya.
"Abang mau nambah?" Reisya menawari Rasyid.
Tanpa penolakan, Rasyid mengambil nasi di piring yang sudah diantarkan oleh pelayan.
"Enak banget masakannya, Bang," ucap Reisya sambil terus mengunyah.
Mereka berdua makan seperti mengikuti lomba makan di acara tujuh belasan. Tak saling bicara, karena mulut mereka sibuk mengunyah. Dan tangan pun sibuk menyuap.
Hingga makanan di atas meja yang ditambahkan oleh pelayan, ludes tak bersisa.
"Aeekkhhgg!" Rasyid bersendawa dengan puas. Perutnya sudah sangat kenyang. Seperti tak ada lagi tempat yang kosong.
Begitu juga Reisya. Dia bersendawa, meski tak sekeras suara sendawanya Rasyid.
"Iya, Bang. Kasihan kan mereka. Masa kita makan enak, mereka enggak," jawab Reisya.
Tanpa ragu lagi, Rasyid membungkus tiga nasi plus rendang. Pasti anak-anakku akan lahap makannya, batin Rasyid.
"Kamu yang bayar ya, Rei. Aku belum gajian," kata Rasyid pelan. Reisya menatap sebentar lalu terpaksa mengangguk.
Kirain dia yang mau bayar. Tahu begini, tadi enggak usah pakek bungkus, batin Reisya.
"Kita ke rumah Abang, kan?" tanya Reisya. Keuangannya udah tipis. Harga makanannya lumayan menguras kantong. Apalagi tadi dia dan Rasyid makan kayak orang kesetanan.
"Iya. Kita antar dulu makanan ini," jawab Rasyid. Dia juga tak mau anak-anaknya terlalu lama menunggu. Mereka pasti sudah kelaparan, karena hanya terisi mie instant saja.
Sampai di rumah Rasyid, anak-anaknya langsung menyerbu kantong plastik yang dibawanya.
"Eit! Kasih salam dulu ke tante Reisya," ucap Rasyid sebelum menyerahkan bungkusannya.
Ketiga anaknya membelalakan mata. Mereka pikir yang namanya Reisya itu seorang wanita cantik, seksi dan tinggi.
Ternyata berbadan super subur dengan pipi mirip bakpao. Mereka pun menahan tawa melihatnya.
Demi makanan yang dibawa Rasyid, mereka menyalami dan sok akrab dengan Reisya.
__ADS_1
"Ini Laras yang paling besar. Dia seorang penulis, sebentar lagi mau dilamar oleh manager. Nantinya akan tinggal di apartemen milik calon suaminya." Rasyid memperkenalkan Laras. Laras pun mengangguk sambil tersenyum bangga.
"Ini yang kedua. Namanya Niken. Dia baru kelas dua SMA. Dan ini, yang paling kecil. Namanya Ayu, baru kelas empat SD," lanjut Rasyid.
Reisya mengangguk-anggukan kepalanya. Anak-anak Rasyid lumayan cantik, meski pakaian mereka sangat sederhana. Bahkan Ayu terkesan kumal, dengan rambut keriting acak-acakan.
"Anak-anak Abang, cantik-cantik ya," puji Reisya sambil berjalan masuk mengikuti Rasyid.
Sementara anak-anaknya sudah berebut makanan di lantai belakang rumahnya. Tepatnya rumah kontrakannya.
"Ya, Ayahnya juga ganteng, kan?" Rasyid memberikan senyuman terbaiknya.
"Bisa saja, Abang." Reisya menatap Rasyid penuh perasaan. Meski sudah berumur dan berbadan subur, Rasyid masih terlihat ganteng.
Salah satu daya tarik Rasyid dikalangan emak-emak, karena wajah timur tengahnya yang entah didapat dari siapa.
Rasyid yang tak tahu kalau keuangan Reisya pas-pasan, berusaha merayunya. Dia berharap, saat pulangnya nanti, Reisya memberikannya uang yang cukup.
"Rei, aku enggak ngira lho umur kamu lima tahun di atasku," ucap Rasyid.
Jelas saja membuat Reisya tersipu malu, meski dalam hatinya melambung tinggi.
"Iya, beneran. Seperti masih empat puluhan," puji Rasyid lagi.
Reisya benar-benar menyukai pujian itu. Dia yang sudah memasuki usia setengah abad, masih dibilang empat puluhan.
"Berapa usia kamu, Bang?" tanya Reisya.
"Aku empat puluh lima. Tapi santai aja, aku menyukai wanita yang sudah matang sepertimu," ucap Rasyid. Dia tak mau Reisya minder dan menghilang darinya.
Walaupun kalau bagi Rasyid, selama uang Reisya mengalir, tak akan mungkin dia tinggalkan begitu saja.
"Aku juga suka dengan lelaki yang lebih muda. Jadi berasa ikutan muda," jawab Reisya.
Hari semakin malam, tapi tak ada tanda-tanda Reisya pulang. Rasyid mulai gelisah. Apalagi Lili berkali-kali menelponnya.
"Dari siapa, Bang?" tanya Reisya posesif.
"Biasa... Penggemar!" jawab Rasyid diplomatis.
Reisya langsung cemberut. Membuat pipinya makin terlihat menggembung.
"Jangan cemberut gitu dong. Abang jadi gemes. Pingin makan pipi kamu yang kayak bakpao!" ledek Rasyid.
"Iih, masa pipiku dibilang kayak bakpao sih?" Reisya merajuk.
"Terus apa dong?" tanya Rasyid.
"Apa aja, tapi jangan bakpao!"
__ADS_1
"Enggak apa-apa, Sayang. Abang malah suka bakpao. Apalagi yang isi ayam. Iih, jadi kepingin makan kamu."
Rasyid mencubit-cubit pipi Reisya yang tembem hingga memerah. Lalu menciumnya dengan gemas. Membuat Reisya tersipu malu.