KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 87 SEPATU IMPIAN SUDAH DI TANGAN


__ADS_3

Tomi menemani Voni makan. Dia juga ikut makan sambil ngobrol.


"Kamu kerja di mana, Tomi?" tanya Voni.


"Aku....aku baru saja resign. Lagi cari kerjaan lagi. Apa Tante bisa nyariin aku pekerjaan?" tanya Tomi.


Dia berfikir, Voni seorang pengusaha sukses, melihat dengan gampang membayari sepatunya.


"Aku juga pengangguran, Tom. Tapi nanti coba aku tanyakan ke temanku. Dia punya usaha butik. Siapa tau butuh karyawan. Kamu lulusan apa?" tanya Voni.


"Aku cuma lulusan SMA, Tante. Maklum, orang tua tak punya biaya buat nguliahin," jawab Tomi apa adanya.


"Enggak apa-apa. Itu juga udah bagus." Voni melanjutkan makannya sambil matanya tak henti-henti menatap wajah Tomi yang sederhana tapi punya daya tarik tersendiri.


"Kamu sudah punya pacar, Tom?" tanya Voni yang mengejutkan Tomi.


Tomi berfikir sejenak. Apa dia mesti terus terang? Tapi bagaimana kalau Voni tak mau lagi jalan dengannya.


"Belum," jawab Tomi bohong. Tapi dia tak mau menatap wajah Voni. Takut ketahuan bohongnya.


Voni hanya tersenyum. Dia paham dengan jawaban Tomi. Meskipun sudah punya pacar, pasti enggak akan mengakuinya di depan wanita lain.


Voni juga tak mau mempermasalahkannya. Baginya yang penting Tomi mau jalan dengannya. Soal pacar, itu bukan urusannya.


"Setelah ini, main ke apartemenku, ya?" ajak Voni. Meski dia punya rumah, tapi akan lebih bebas kalau mengajak Tomi ke apartemen.


Di rumah, ada beberapa pembantu yang bisa saja mereka mengadu pada kedua anaknya.


"Tante punya suami?" tanya Tomi. Bukan takut ketahuan, tapi setidaknya kalau Voni masih bersuami, Tomi harus ekstra hati-hati.


"Suamiku meninggal dunia dua tahun yang lalu, Tom. Aku tinggal bersama dua orang anakku. Tapi mereka ada di rumah. Makanya kita ke apartemen aja," jawab Voni.


Tomi paham maksudnya. Pastinya agar tak ketahuan kedua anaknya.


Tomi mengangguk setuju. Dan setelah selesai makan, Voni memberikan alamat apartemennya. Mereka tak bisa ke sana bareng, karena Tomi bawa motor sendiri. Voni juga naik mobil sendiri.


"Oke. Tapi aku pulang dulu, ya. Ngasihin sepatu ini ke adikku," ucap Tomi.


"Oke, tapi jangan kelamaan. Malam nanti aku ada acara. Enggak enak kan kalau kamu mainnya cuma sebentar," sahut Voni. Lalu pergi ke parkiran mobilnya.


Tomi membaca alamat apartemen yang diberikan Voni. Bukankah ini apartemennya Sylfie? Cuma beda lantai. Batin Tomi.

__ADS_1


Dia lalu buru-buru membawa pulang sepatu untuk Ryan. Sekalian mandi dan ganti baju.


Sejak menjalani profesi barunya, Tomi lebih rajin mandi dan ganti pakaian. Dia tak mau kliennya nanti membaui aroma tubuh yang kurang enak. Begitu yang diajarkan Cyntia.


Tomi jadi ingat dengan Cyntia. Nanti malam, dia minta ditemani.


Aku harus bisa mengatur waktuku. Maafkan aku, Laras. Waktuku buat kamu jadi berkurang. Aku lagi nyari uang buat masa depan kita, batin Tomi.


"Ryan mana, Bu?" tanya Tomi setelah sampai di rumah.


"Ada di kamarmu. Kayaknya tidur. Enggak ada suaranya," jawab Lastri.


Setelah pulang sekolah dan makan siang, Ryan langsung masuk ke kamar kakaknya. Bilangnya sih mau ngerjain PR. Tapi sebentar kemudian sudah terlelap.


"Bawa apa, kamu?" Lastri memperhatikan tas yang dibawa Tomi.


"Sepatu, Bu." Tomi mengangkatnya sedikit.


"Jangan terlalu manjain adikmu, Tom. Kamu sendiri kan masih banyak kebutuhan," ucap Lastri sebelum Tomi masuk ke kamarnya.


"Sekali-kali kan enggak apa-apa, Bu." Tomi langsung masuk ke kamarnya. Dan benar saja, Ryan tertidur dengan buku masih teŕbuka di atas tempat tidur.


Lastri hanya memperhatikan saja perubahan pada Tomi. Dulu kalau disuruh mandi, susah banget. Sekarang, tanpa disuruh lagi, langsung mandi.


Penampilan Tomi juga berubah. Dia lebih rapi juga wangi. Lastri hanya berfikir, mungkin karena sudah punya pacar. Malu kan sama pacarnya kalau badannya bau keringat.


Selesai mandi dan ganti pakaian, Tomi pamit pada ibunya. Dia mau main ke apartemen Voni. Entah main yang seperti apa, Tomi juga belum tahu.


"Bu, Tomi pergi dulu. Ada kerjaan. Nanti malam Tomi nginap di rumah teman. Ini ada sedikit rejeki buat Ibu." Tomi memberikan uang yang sudah dipersiapkan untuk ibunya.


"Banyak sekali uangmu, Tom. Kamu kerjanya bener kan? Enggak korupsi, kan?" tanya Lastri dengan khawatir. Jangan sampai ujung-ujungnya Tomi berurusan dengan polisi.


"Enggaklah, Bu. Apanya yang mau dikorupsi?" sahut Tomi.


Tomi langsung menaiki motornya. Bengkel bapaknya masih tutup. Biasanya Hardi keluar untuk membeli sparepart untuk persediaan bengkel kecilnya.


Lastri masuk ke kamar Tomi, setelah anaknya itu tak terlihat lagi. Dia membuka bungkusan sepatu untuk Ryan.


Lastri ternganga membaca harga yang tertulis di kertas notanya. Dengan penasaran, Lastri membuka dus sepatu yang harganya bisa untuk membeli lima pasang sepatunya Ryan.


"Bagus sekali," Lastri memegangi sepatu baru untuk Ryan.

__ADS_1


Coba uangnya buat beli hape. Kan Ryan tak perlu lagi pinjam hape Hardi kalau ada tugas sekolah.


Tapi apa mau dikata, Ryan maunya punya sepatu mahal yang tak mungkin dibelikannya.


"Ryan...Ryan. Bangun, Nak. Ini kakakmu udah beliin sepatu buat kamu." Lastri mengguncang tubuh Ryan, setelah mengembalikan sepatu ke dusnya.


Ryan langsung membuka matanya begitu dengar kata sepatu.


"Mana, Bu?" tanya Ryan. Matanya jelalatan mencari.


"ini." Lastri memberikan dus sepatunya.


Ryan langsung meraih dan membukanya.


"Wah, bagus banget, Bu. Kak Tomi benar-benar membelikannya. Ini asli lho, Bu. Kayak punya temannya Ryan."


Ryan mengagumi sepatu impiannya yang kini ada di tangannya.


"Iya. Kamunya harus rajin sekolah. Jangan kecewakan kakak kamu," sahut Lastri.


Ryan langsung turun dari tempat tidur dan mencobanya. Ukurannya sangat pas dengan kakinya.


"Pas banget, Bu. Enak lagi dipakainya. Bagus kan, Bu?" Ryan memlihatkan kakinya.


"Iya, bagus. Enggak ada kaos kakinya, ya?" tanya Lastri.


"Ya enggak ada, Bu. Harus beli sendiri. Ibu punya uang buat beli kaos kaki?" tanya Ryan hati-hati. Karena setahunya, bapaknya hanya memberikan uang pada ibunya untuk makan sehari-hari saja.


"Ada. Nanti kamu beli di toko sana itu. Tapi jangan yang mahal-mahal," jawab Lastri. Meskipun dia dikasih uang cukup banyak oleh Tomi, tapi sayang rasanya kalau buat beli kaos kaki mahal.


"Iya, Bu. Yang biasa aja. Yang penting kan sepatunya mahal," sahut Ryan dengan bangga.


Lastri memberikan uang yang dikantonginya pada Ryan.


"Sekalian kamu belikan juga buat adik-adik kamu. Kasihan kan mereka. Enggak beli sepatu baru, minimal kaos kakinya yang baru."


Lastri memang selalu berusaha bersikap adil pada anak-anaknya.


Ryan mengambil uang itu dan menyimpan sepatunya di atas lemari. Dia tak mau kalau ketahuan kedua adiknya dan buat mainan mereka.


Bukannya pelit, tapi khawatir kotor sebelum dipakai. Lastri hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Ryan.

__ADS_1


__ADS_2