
Setelah tiga hari kepergian Sinta untuk selama-lamanya, Tomi pamit pada kedua orang tuanya untuk mulai bekerja.
Kedua orang tua Tomi yang tahunya anak lelakinya ini kerja di perusahaan online, mengijinkan.
"Tomi berangkat dulu, Pak. Bu." Dengan takzim, Tomi menyalami tangan keduanya.
Pagi ini rencana Tomi pergi ke rumah Laras dulu. Dia sudah sangat merindukannya.
Diperjalanan, Tomi membeli makanan untuk sarapan mereka berdua nanti di rumah Laras.
Tomi hanya membeli dua porsi, karena biasanya jam segini tak ada orang lain di sana.
Tomi juga sengaja tak memberitahu Laras, kalau dia mau datang. Biar jadi surprise.
Sampai di dekat rumah Laras, Tomi berpapasan dengan Beni yang mau berangkat kerja. Sejenak mata mereka beradu. Tapi tak ada saling sapa.
Beni sedikit kesal, karena Laras bakalan susah diajak keluar kalau Tomi sudah berkeliaran lagi.
Tapi tak apalah. Toh, masih ada Niken. Aku bisa ngajak Niken saja. Batin Beni. Lalu segera memacu motornya.
Beni mesti berangkat pagi-pagi, karena akan ada meeting jam tujuh nanti. Dia sebagai karyawan yang sedang dipromosikan, tak mau terlambat datang.
Tomi sampai di rumah Laras. Rasyid, Niken dan Ayu baru bersiap-siap berangkat. Sepertinya mereka kesiangan.
"Kak Tomi," sapa Niken di halaman rumahnya dengan mata berbinar.
"Hay, Ken. Baru mau berangkat?" tanya Tomi.
"Iya, Kak. Tadi kita bangun kesiangan semua," jawab Niken dengan senyum mengembang.
Niken berharap Tomi menawari mengantarkannya seperti beberapa hari yang lalu.
"Pagi, Om. Laras ada?" tanya Tomi.
Niken terpaku di tempatnya. Kenapa malah menanyakan Laras? Niken merasa kesal. Niken lupa kalau Tomi adalah kekasih kakaknya.
"Ada. Mungkin lagi mandi. Masuk aja. Nanti kita bicara serius," jawab Rasyid.
"Bicara apa, Om?" tanya Tomi.
"Bicara tentang hubungan kamu dengan Laras."
"Iya, Om." Tomi mengangguk, lalu masuk ke dalam, membawa tentengan makanan yang tadi dibelinya.
Niken menghentakan kakinya dengan kesal. Lalu menatap punggung Tomi yang berjalan menjauhinya.
"Ayo, cepetan. Sudah hampir jam tujuh," ajak Rasyid yang sudah di atas motor.
__ADS_1
Ingin rasanya Niken berlari mengejar Tomi dan memeluknya. Dia sudah sangat merindukan kekasih kakaknya itu.
Tapi apalah daya Niken. Dia tak berani melawan Rasyid. Bahkan melawan Laras.
Dengan wajah cemberut, Niken naik di belakang Ayu.
"Majuan! Aku enggak bisa duduk!" Niken mendorong badan Ayu dengan kasar. Dia lampiaskan kekesalannya pada Ayu yang tak tahu apa-apa.
"Iih, sakit, Kak!" seru Ayu.
"Halah! Begitu aja sakit! Lebay!" Niken segera naik ke motor.
"Kalian apaan, sih? Dari tadi ribut terus!" seru Rasyid.
"Kak Niken nakal, Yah!" sahut Ayu.
"Enak aja! Kamu tuh, yang rese!" Niken makin nyolot.
Rasyid langsung menarik gasnya dengan kencang. Hingga dua tubuh anaknya terdorong ke depan.
"Ayah! Ati-ati!" teriak Ayu.
"Siapa suruh, kalian ribut terus!" Rasyid terus melajukan motornya dengan kencang.
Tomi mencari Laras di kamarnya. Tapi tidak menemukannya. Lalu menoleh ke pintu kamar mandi yang masih tertutup.
Aku tunggu di ruang tamu aja, deh. Batin Tomi, lalu berjalan ke arah ruang tamu.
Tapi sayang, pesan dari Tomi masih centang satu. Cyntia masih tidur karena lembur semalaman. Dan kebiasaan Cyntia, tak mengaktifkan ponselnya saat tidur.
Bagi Cyntia, tidur itu sesuatu yang sangat berharga. Dia tak mau diganggu saat tidur. Karena dia jarang bisa tidur nyenyak.
Tomi yang sudah paham, kembali menutup ponselnya. Beberapa saat kemudian, Tomi mendengar suara senandung Laras yang sudah keluar dari kamar mandi.
Lalu Tomi menghampiri Laras di kamarnya.
"Ceria bener?" ucap Tomi di depan pintu kamar.
Laras terlonjak kaget. Hingga handuk yang dikenakannya hampir saja melorot.
"Tomi...!" seru Laras.
"Hallo, Sayang." Tomi menghampiri Laras dan langsung memeluknya dengan erat.
"Aku kangen banget sama kamu, Ras," bisik Tomi di telinga Laras.
"Aku juga, Tom." Laras semakin mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
Setelah puas memeluk, Tomi merenggangkan pelukannya. Dan langsung menyambar bibir Laras.
Laras tak tinggal diam. Bahkan membalasnya lebih agresif. Maklum saja, Laras sudah menahannya berhari-hari.
Hingga Beni pun jadi pelampiasannya. Bahkan sampai self service. Laras telah diperbudak oleh nafsunya sendiri.
Mendapati reaksi Laras yang sangat agresif, membuat Tomi semakin buas. Lalu kaki Tomi meraih pintu kamar, dan menutupnya asal.
Tomi melepas handuk yang dikenakan Laras. Dia tatap dulu tubuh kekasihnya itu. Tubuh yang sudah mulai merekah sempurna.
Dua benda kenyal di dada Laras tak lagi kecil seperti saat pertama kali Tomi menyentuhnya. Mungkin karena Tomi rajin menjamahnya, jadi semakin mekar dan menggiurkan.
Pinggang Laras juga sudah mulai berisi, tak lagi kerempeng. Apalagi bokongnya, membuat Tomi tak bisa lagi menatap terlalu lama.
Tomi langsung merengkuh dan membawanya ke atas tempat tidur. Laras menurut saja karena dia juga sangat menginginkannya.
Tomi menelentangkan tubuh Laras dan membuka lebar-lebar kakinya. Disibakannya bulu-bulu yang mulai rimbun, tumbuh di gua indah yang selalu membuat Tomi merindukannya.
Meski Tomi sering menikmati gua milik wanita lain, tapi baginya tetap milik Laras yang terindah.
Karena setahu Tomi, hanya dia satu-satunya lelaki yang telah menjamahnya.
Tak seperti milik wanita-wanita kliennya, yang sudah dijamah oleh siapapun yang mereka inginkan.
Dan rata-rata wanita kliennya sudah berumur. Hingga bentuknya sudah tak kencang lagi. Pintunya sudah agak dol.
Beda dengan milik Laras yang masih kencang. Dan setiap kali menyesapnya, Tomi merasakan rasa yang berbeda. Kayak...ada manis-manisnya. Enggak cuma asin.
Dan sekarang, Tomi siap menyesapnya lagi. Anggap saja untuk pemanasan sebelum nanti dia mulai bekerja kembali. Bekerja memuaskan klien yang akan menambah angka di rekeningnya.
"Aakkhh....Tomi....!" desah Laras saat Tomi asik menyesap dan menggigit-gigit bukit kecil di dalamnya.
Kaki Laras sudah bergerak tak beraturan. Tangannya menekan kepala Tomi agar tak melepaskannya.
Tomi semakin bersemangat. Dia memasukinya dengan jilatan juga ******* yang membuat Laras terus mengerang.
Hanya Tomilah, satu-satunya lelaki yang mampu membuat Laras mendesah, mengerang dan juga memekik saking nikmatnya.
Tapi sayang, saat Laras sudah tak tahan, sampai dia menegakan badannya, suara motor Rasyid sudah terdengar.
"Itu suara motor ayah!" ucap Laras perlahan.
Dengan serta merta, Tomi melepaskan diri. Laras pun segera menutupi guanya yang sudah banjir dengan handuk.
Ada rasa kesal juga kecewa. Karena tak bisa meneruskan kenikmatan yang baru saja dirasakan.
Tomi melangkah keluar dari kamar Laras, dan menutup pintunya. Langkahnya sedikit gontai, karena hasratnya yang sudah di ubun-ubun terhenti.
__ADS_1
"Udah pulang, Om?" tanya Tomi dengan suara masih parau.
Rasyid memandang mulut Tomi yang sedikit belepotan cairan. Entah cairan apa, Rasyid tak tahu.