
"Bagaimana kabar adikmu, Tom?" tanya Cyntia yang menelpon.
Tomi terdiam sejenak. Mengatur perasaannya agar tak menangis. Bagaimanapun, dia laki-laki. Malu rasanya menangis di hadapan orang lain. Kecuali orang tuanya sendiri.
"Terlambat. Sinta terlambat ditangani," jawab Tomi masih mengatur emosinya.
"Lalu?" tanya Cyntia dengan khawatir.
"Tidak tertolong." Tomi menyandarkan kepalanya di dinding tempat dia menerima telpon Cyntia.
"Innalillahi....Kapan kamu akan bawa pulang jenazahnya, Tom?" tanya Cyntia.
"Secepatnya, setelah aku urus administrasinya," jawab Tomi.
"Oke. Kamu enggak usah khawatir, Tom. Sekarang juga aku transfer kamu untuk bayar biayanya. Urus dengan baik. Dan tolong kamu share lok nanti alamat rumah kamu. Aku ingin melayat," ucap Cyntia, lalu menutup telponnya. Dia akan mentransfer uang untuk Tomi dan juga bersiap melayat ke rumah duka.
Cyntia pun mengabari beberapa teman dan anak buahnya yang kenal Tomi, untuk bareng-bareng melayat.
Bahkan Cyntia meminta mereka berdonasi untuk keperluan tahlilan, biar keluarga Tomi yang katanya kurang mampu, terbantu.
Dan mereka siap dengan permintaan Cyntia. Lalu satu persatu mendatangi rumah Cyntia, biar bisa bareng datangnya ke rumah Tomi.
Rumah Tomi sudah penuh dengan pelayat. Sementara Tomi masih sibuk mengurus administrasi yang lelet pelayanannya.
Bapak dan ibunya Tomi sudah pulang duluan. Bapaknya menyiapkan pemakaman, dan ibunya menyiapkan tempat untuk para pelayat.
Dua adik Tomi yang lain duduk sedih di sudut rumah. Tak ada yang bisa mereka lakukan.
Mereka hanya bisa terisak mengenang kakak perempuannya yang telah berpulang.
Meskipun Sinta berkebutuhan khusus, tapi seisi rumah sangat menyayanginya.
Selama hidupnya, tak ada satupun yang tidak menyayanginya. Setiap hari bergantian mereka menjaga Sinta agar tak merasa sendiri.
Jam sembilan malam barulah semua proses administrasi selesai dan Tomi bisa membawa pulang jenazah Sinta. Itupun setelah Cyntia datang membantu membereskannya.
Cyntia datang bersama temannya yang punya kekuasaan. Dan pihak rumah sakit segera mempercepatnya dengan iming-iming uang sogokan yang tak kecil.
Sampai di rumah, pelayat sudah penuh. Karena rencananya jenazah akan dimakamkan malam itu juga.
__ADS_1
Hardi dan Lastri tak punya saudara jauh. Jadi tak ada yang ditunggu lagi. Dan akan lebih baik bagi jenazah jika disegerakan pemakamannya.
Tomi ikut memanggul jenazah Sinta. Juga Hardi dan beberapa tetangga.
Lastri dan dua anaknya yang lain berjalan di belakang keranda. Tempat pemakaman tak terlalu jauh dari rumah. Hanya di pemakaman kampung saja.
Cyntia dan beberapa temannya pun ikut dalam rombongan. Tadi mereka hanya sempat bersalaman saja dengan kedua orang tua Tomi tanpa sempat memperkenalkan diri.
Jam sebelas malam, semua prosesnya selesai. Keluarga Tomi kembali ke rumah.
Cyntia dan tiga orang temannya juga ikut kembali ke rumah Tomi. Salah satu alasannya karena mobil mereka diparkirkan di sana.
Mereka berempat duduk di teras rumah yang tak terlalu besar. Dan setelah suasana tenang, Cyntia masuk ke dalam menemui kedua orang tua Tomi. Tomi mendampinginya.
"Pak, Bu. Saya teman kerjanya Tomi. Saya datang berempat." Cyntia menunjuk ke arah teras.
"Lho, kenapa tidak masuk saja? Tapi maaf, tempatnya kecil dan kotor," ucap Lastri.
Tomi keluar sebentar memanggil ketiga teman Cyntia yang dikenalnya dengan cukup baik.
Dan mereka pun masuk. Lalu duduk di atas tikar lusuh yang masih terbentang di ruang tamu.
Lalu Lastri masuk ke dalam untuk membuatkan minuman. Hardi kembali menatap mereka, terutama pada Voni yang berpakaian sangat ketat dan belahan dadanya nyaris terlihat.
"Maaf, kalau boleh tau, anda-anda ini benar teman kerjanya Tomi?" tanya Hardi tak percaya. Setahunya, Tomi bekerja di sebuah perusahaan pembiayaan yang tak terlalu besar. Dan rata-rata karyawannya hanya dari kalangan bawah. Kecuali managernya.
"Iya, Bapak. Kami teman kerjanya Tomi. Perkenalkan saya Cyntia. Saya bos barunya. Kami mengelola bisnis penjualan online. Dan ketiga teman saya ini bawahan saya. Manager di perusahaan yang saya pimpin," jawab Cyntia dengan lancar.
Sepertinya dia sudah mempersiapkan sebuah scenario. Dan ketiga temannya sudah dikode dahulu. Jadi mereka semua mengiyakan ucapan Cyntia.
"Oh. Jadi kamu sudah tidak kerja di leasing lagi?" tanya Hardi.
"Enggak, Pak. Maaf, Tomi belum sempat bilang ke Bapak dan Ibu," jawab Tomi sambil menundukan wajahnya.
Tomi tak berani menatap wajah bapak dan ibunya. Dia khawatir mereka bertanya padanya lebih jauh. Sementara Cyntia belum memberikan breefing padanya.
"Oh, ya sudah. Yang penting kamu sudah dapat pekerjaan lagi. Mana Laras?" tanya Hardi.
Setahunya juga, Tomi mempunyai pacar yang dari kemarin ngotot ingin segera dilamarnya.
__ADS_1
Lastri keluar membawa nampan berisi teh hangat, dan menyajikannya di tikar.
"Silakan diminum. Maaf, adanya cuma teh saja," ucap Lastri dengan agak malu.
Kehidupan mereka dengan ekonomi pas-pasan, membuat Lastri tak pernah mempunyai stock makanan untuk tamu dadakan.
Kecuali tamu yang sudah janjian dulu, maka Lastri akan membuatkan makanan sendiri meski hanya sekedar pisang goreng.
"Tidak apa-apa, Bu. Ini saja sudah cukup. Kami malah merepotkan," ucap Cyntia.
"Tomi, mana Laras? Kenapa tidak kamu jemput dia?" Lastri mengulang pertanyaan suaminya tadi yang belum dijawab oleh Tomi.
Tomi sedikit gelagapan. Matanya menatap Cyntia lebih dulu. Seperti mencari kekuatan untuk mengatakan sebuah kebohongan.
"Mm...maaf, Bu. Semuanya serba mendadak. Dan Laras sedang pergi ke luar kota. Enggak mungkin Tomi menjemputnya," jawab Tomi.
"Oh, ya sudah. Kalau sudah pulang, bawalah ke sini. Biar kenalan dulu sama kami," sahut Lastri.
Tomi hanya mengangguk sambil menundukan wajahnya. Dia semakin kalut kalau memikirkan kebohongannya pada Laras.
Cyntia yang paham dengan kekalutan Tomi, berusaha mengalihkan pembicaraan dengan menyerahkan amplop berisi uang.
"Pak, Bu. Ini ada sedikit dari kami. Sekedar untuk membeli makanan kecil. Untuk tahlilan besok malam."
"Oh, tidak usah repot-repot," tolak Hardi.
Meski hidup pas-pasan bahkan kekurangan, Hardi tak pernah mau dikasih sumbangan oleh orang lain.
"Enggak repot kok, Pak. Ini hak Tomi sebagai karyawan kami. Iya kan, Pak Bowo?" tanya Cyntia pada Bowo. Temannya, seorang pengusaha yang punya pengaruh.
Cyntia meletakan amplop coklat di atas tikar. Meski Cyntia merendah hanya untuk membeli makanan kecil, tapi Tomi bisa mengira-ngira isinya. Karena terlihat tebal.
Setelah berbasa basi sebentar, mereka pamit pulang. Bukannya mereka mengantuk, karena mereka adalah manusia-manusia malam. Tapi memberi waktu bagi keluarga Tomi untuk istirahat. Terutama Lastri yang sudah nampak lelah.
Lastri mengambil juga amplop yang ditinggalkan oleh Cyntia. Di depan Tomi dan Hardi, dia membukanya.
Mata Lastri dan Hardi hampir saja meloncat melihat segepok uang yang masih tersegel sebuah nama bank.
"Ini benar-benar untuk kami, Tom?" tanya Lastri tak percaya. Dia takut kalau ujung-ujungnya mereka harus menggantinya.
__ADS_1
"Iya, Bu. Anggap saja rejeki almarhumah," jawab Tomi.