
Untungnya, saat terjepit seperti itu, Cyntia menelponnya. Tomi pamit menjauh sebentar. Karena dia tak mau pembicaraannya didengar oleh Laras dan Rasyid.
Meskipun Tomi akan membicarakan kalau dia sudah siap kerja lagi, tapi kadang Cyntia berkata dengan sangat mesra dan manja.
"Iya, Madam. Udah bangun?"
"Udah, Tomi sayang. Kamu lagi ada di mana?" tanya Cyntia dengan suara serak. Sepertinya dia baru bangun tidur.
"Aku lagi di rumah Laras. Sebentar lagi aku ke rumahmu," jawab Tomi.
Tomi malah seneng Cyntia menelponnya. Itu berarti ada alasan baginya pergi dari rumah Laras.
"Oke, Sayang. Kalau ke sini, tolong belikan aku makan ya. Aku laper banget, tapi malas keluar," pinta Cyntia.
"Iya. Mau makan apa?" tanya Tomi pelan. Dia tak sadar, kalau Laras yang kebetulan lewat mau menaruh mangkuk bekas mereka makan di dapur, mendengarnya.
Dan Laras menghentikan langkahnya. Dia bersembunyi di balik pintu samping.
"Aku mau nasi uduk yang di ujung jalan itu. Lengkap pakai ayam semurnya, ya," jawab Cyntia.
"Pakai jengkol enggak?" goda Tomi.
"Enggak ah. Nanti kamu enggak mau cium aku karena bau jengkol," jawab Cyntia.
Rupanya pendengaran Laras yang masih baik, bisa mendengarnya, meski samar-samar.
Mencium? Itu suara wanita. Dan mereka akan berciuman? Hati Laras langsung meradang.
Laras keluar dari persembunyiannya. Dia sengaja berdiri di pintu biar Tomi melihatnya.
Laras menatap tajam ke arah Tomi, dengan tangan membawa mangkuk bekas makan mereka.
Tomi melirik sekilas. Lalu menyudahi telponnya.
"Siapa yang mau kamu cium, Tom?" tanya Laras dengan ketus.
Degh.
Laras mendengar pembicaraanku?
"Mm...Itu telpon dari bosku, Ras. Dia mau aku ke kantor sekarang. Dan dia nitip nasi uduk tanpa jengkol. Takut aku mencium bau jengkolnya. Kamu kan tau, kalau aku enggak suka aroma jengkol," jawab Tomi dengan lancar.
Laras tak begitu saja percaya. Dia menatap wajah Tomi semakin tajam. Karena yang didengarnya tadi tidak seperti itu. Meskipun samar-samar.
"Kamu enggak percaya? Aku telponin orangnya, ya. Biar kamu nanya sendiri." Tomi membuka lagi ponselnya.
Laras melengos, lalu pergi ke dapur. Hatinya masih diliputi rasa cemburu.
Tomi menghela nafasnya. Lalu mengikuti Laras ke dapur.
"Jangan ngambek begitu dong, Ras. Aku kerja juga buat kamu. Biar punya banyak uang buat melamar kamu. Katanya pingin cepet dilamar." Tomi mendekap Laras dari belakang dan menciumi tengkuk Laras.
"Jangan begini, ah. Geli. Aku kan lagi cuci piring. Entar pada pecah," ucap Laras.
"Geli apa pingin?" goda Tomi sambil terus menciumi tengkuk Laras.
__ADS_1
"Tomi...jangan begini." Laras menggerak-gerakan lehernya.
"Kamu sangat menggoda, Sayang. Aku kepingin banget ini," ucap Tomi dengan nada nakal.
"Tomi....jangan begini. Ini di dapur dan ada ayah juga." Suara Laras semakin parau. Bagaimanapun dia terbawa oleh cumbuan Tomi.
"Ayah kamu di ruang tamu. Enggak bakalan lihat kita," bisik Tomi pelan di telinga Laras. Yang membuat Laras makin kegelian.
"Bagaimana kalau kita melakukannya di sini? Belum pernah, kan?" goda Tomi.
"Jangan gila kamu, Tomi," tolak Laras. Tangannya tetap sibuk mencuci piring.
"Kamu yang sudah membuatku gila, Ras. Mau ya?" Tomi terus saja menggoda.
Dia paham saat ini Laras sedang dilanda cemburu berat. Dan Tomi berfikir, dengan sikap mesranya ini bisa membuat Laras percaya padanya.
"Enggak! Aku bilang enggak, ya enggak!" Laras tetap menolak.
Tomi menurut. Dia hanya memperhatikan Laras yang sedang mencuci piring saja tanpa melepaskan pelukannya.
Dalam hati, Laras tersenyum bahagia. Selain Tomi mau menuruti kata-katanya, Tomi juga bersikap sangat romantis.
"Udah, cuci piringnya?" tanya Tomi saat Laras mencuci tangan.
"Udah," jawab Laras singkat. Lalu mengelap tangan dengan kaos yang dipakainya.
Laras berbalik badan dan menghadap ke arah Tomi.
"Katanya mau ke kantor?" tanya Laras. Tangannya dia kalungkan ke leher Tomi.
"Siapa yang ngambek?" elak Laras.
"Itu tadi apa kalau bukan ngambek," sahut Tomi.
"Abisnya kamu ngomongnya pakai cium-cium segala." Laras akhirnya ngaku juga tanpa disadari.
"Tuh kan, berarti kamu ngambek. Dan aku mau pergi kalau kamu udah enggak ngambek," sahut Tomi.
"Aku udah enggak ngambek lagi, Tomi." Laras menyentuhkan dahinya ke dahi Tomi.
"Bener?" tanya Tomi memastikan.
Laras mengangguk.
Cup.
Tomi mengecup bibir Laras sekilas.
Mereka tak menyadari kalau Rasyid memperhatikannya.
Rasyid tadi berniat ke kamar mandi. Tapi saat akan mencapai dapur, Rasyid mendengar pembicaraan mereka.
Rasyid terus menguping. Dia trenyuh mendengarnya. Mendengar betapa pengertiannya Tomi pada Laras. Dan Rasyid yakin kalau Tomi sangat menyayangi Laras.
Rasyid kembali ke ruang tamu, sambil mengusap matanya yang berembun. Tak sadar mata Rasyid tadi berkaca-kaca.
__ADS_1
"Terima kasih, Sayang," ucap Tomi sambil mencium lagi bibir Laras. Laras tersenyum bahagia.
"Aku pamit kerja dulu, ya," ucap Tomi.
Laras memeluk tubuh Tomi, seakan takut kehilangan.
"Nanti malam kamu ke sini lagi, kan?" tanya Laras dengan manja.
"Aku enggak janji, Sayang. Aku kan beberapa hari meninggalkan kantor. Pasti kerjaanku numpuk. Tapi akan aku usahakan ke sini," jawab Tomi.
Laras yang percaya kalau Tomi kerja kantoran, mengangguk. Lalu melepaskan pelukannya.
"Ati-ati, Tom," ucap Laras.
Tomi mengangguk. Lalu mengambil dompetnya. Dia memberi beberapa lembaran seratus ribuan pada Laras.
"Ini buat pegangan kamu. Gunakan sebaik-baiknya," ucap Tomi.
"Makasih, Tom."
Laras menerimanya dengan suka cita. Lalu memasukan ke kantong celana pendeknya.
"Ke depan, yuk. Aku mau pamit sama ayah kamu," ajak Tomi.
Mereka berjalan bergandengan ke ruang tamu. Rasyid pura-pura sibuk memainkan ponselnya.
"Yah, Tomi mau pamit kerja dulu," ucap Laras.
"Oh, iya," jawab Rasyid. Lalu menoleh sebentar.
"Saya pamit kerja dulu, Om," pamit Tomi.
Rasyid mengangguk.
Tomi pun akhirnya bisa pergi dengan nyaman. Lega rasanya lepas dari pertanyaan-pertanyaan seputar rencana melamarnya.
"Kapan Tomi membawa kedua orang tuanya ke sini?" tanya Rasyid pada Laras. Setelah Tomi benar-benar sudah pergi.
"Laras enggak tau, Yah," jawab Laras.
"Ya kamu tanya dong. Jangan cuma diam aja," sahut Rasyid.
Rasyid sudah sangat yakin kalau Tomi bisa membahagiakan Laras. Dan Rasyid tak mau menunggu lama lagi.
Takutnya Tomi tergoda dengan wanita lain di luar sana. Bakalan hancur anak gadisnya yang Rasyid yakin sudah dimakan oleh Tomi.
"Iya, Yah," sahut Laras.
"Kamu bilang sama Tomi, kalau dia tidak segera melamarmu, Ayah akan carikan jodoh buat kamu!" ancam Rasyid.
Entah ide dari mana, tiba-tiba Rasyid mengucapkan kalimat itu. Sebuah kalimat ancaman. Dan sebenarnya itu hanya bohong belaka.
Laras terkesiap mendengarnya.
"Ayah....!" seru Laras, lalu terpaku di tempatnya.
__ADS_1