KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 136 OVER DOSIS


__ADS_3

Setelah Rasyid dan kedua anaknya pulang, Tomi menghubungi Cyntia. Sayangnya Cyntia tak mengangkat telpon dari Tomi.


Cyntia hanya mengirimkan pesan, agar Tomi ke rumahnya besok pagi. Saat ini Cyntia sedang bersama Bowo dan tak mau diganggu.


Meskipun sebenarnya Cyntia ingin sekali cerita pada Tomi tentang Rasyid dan masa lalunya.


Cyntia sangat percaya pada Tomi. Dia yakin Tomi akan bisa menyimpan kisah masa lalunya dan menyikapinya dengan dewasa.


Begitu juga Tomi. Dia penasara kenapa tadi Cyntia seperti mengenal Rasyid. Tapi kalau kenal, kenapa tak ada interaksi apapun. Bahkan Cyntia terkesan menjauh.


Karena banyak kejadian tadi di sana, Tomi jadi tak lagi memperhatikan Cyntia. Untungnya Bowo ada bersama Cyntia. Jadi Tomi tak terlalu masalah mengabaikan Cyntia.


Tentang keberadaan Beni dan seorang wanita setengah baya yang diyakini Tomi sebagai ibunya Beni, Tomi tak mempermasalahkan.


Tomi menganggapnya wajar, karena mereka bertetangga. Sikap Beni juga tak mencurigakan sama sekali.


Hhmm. Tomi menghela nafasnya. Dia tiduran di ranjang pasien yang kosong di sebelah ranjang Laras.


Perawatpun mengijinkan Tomi istirahat di situ selama belum ada yang menggunakannya.


Tadi Rasyid memilih ruangan yang berisi dua pasien, karena ruangan lainnya penuh. Tempat tidur itu sebenarnya dibatasi tirai. Tapi karena kosong, perawat menyingkap tirainya.


Tomi sangat terpukul dengan kejadian ini. Dimana dia harus kehilangan calon anaknya. Bahkan sebelum dia menyadarinya.


Tomi belum tahu, apa Laras menyadari kalau dirinya sedang hamil atau tidak.


Kenapa kamu tak mengatakannya, Ras? Atau kamu juga tak mengetahuinya?


Dan kenapa si Niken sialan itu bisa mencelakaimu? Begitu bencinyakah dia padamu? Sampai tega mendorongmu sampai jatuh?


Tomi memiringkan tubuhnya, dia menatap Laras yang masih saja tertidur. Kata perawat, kemungkinan Laras akan bangun besok pagi atau bisa saja dini hari nanti.


Aku akan menemani kamu, Ras. Sampai kamu sehat lagi. Juga selamanya. Karena setelah ini, aku akan mengajakmu tinggal bersamaku.


Aku tak mengijinkanmu kembali tinggal satu rumah dengan adikmu yang jahat itu.


Tomi begitu sangat membenci Niken. Meskipun dia pernah membuat Niken mabuk kepayang, saat Tomi belum menemukan kesadarannya karena baru bangun tidur.


Tak terasa, Tomi pun tertidur. Dia juga sangat lelah. Lelah hati, pikiran juga badannya. Seharian ini dia belum sempat istirahat.


Sementara Rasyid yang masih asik browsing mencari tahu tentang Cyntia, tak juga menemukan tanda-tanda tentang keberadaan Cyntia saat ini.

__ADS_1


Jelas saja Rasyid tak bisa menemukan Cyntia, karena Cyntia telah memblokirnya. Dan Cyntia merubah nama akun medsosnya.


Besok pagi aku akan tanyakan pada Tomi. Kenapa dia bisa datang dengan Cyntia. Dan siapa sebenarnya lelaki yang dikenalkan dengan nama Bowo itu? Apa benar dia suami dari Cyntia?


Setahu Rasyid, Cyntia tak mau terikat tali perkawinan. Cyntia menyukai kebebasan.


Ah, entahlah. Rasyid capek sendiri memikirkannya. Dan tanpa sadar, diapun tertidur.


Sedangkan Beni dan Yanti tak memikirkan lagi soal Laras. Apalagi Beni yang tak mau lagi terlalu dekat dengan Laras. Dan Yanti pun melarang keras.


Tengah malam, Laras menggeliat. Dia menggerak-gerakan tangannya. Sementara matanya masih merem.


Hingga besi penyangga infus jatuh dan selang infusnya lepas.


Tomi terbangun dari tidurnya. Dia sangat terkejut. Dia pikir Laras yang jatuh dari tempat tidurnya.


"Laras....!" seru Tomi. Dan segera beranjak dari tempat tidur.


"Aahhkk....! Aahhkk.....!" Laras merintih seperti orang kesakitan. Badannya terus menggeliat. Darahpun menetes dari selang kecil bekas infus yang lepas.


Tomi panik dan segera berlari keluar mencari perawat untuk menolongnya. Tomi lupa kalau dia tak perlu lari keluar, cukup menekan bel saja.


"Suster....! Tolong istri saya, Suster!" seru Tomi dengan panik. Lalu dia berlari kembali ke kamar Laras.


"Kenapa, Pak?" tanya perawat itu. Lalu matanya melihat kondisi Laras yang berantakan. Selimutnya entah kemana, selang infusnya lepas dan besi penyangganya jatuh.


Laras terus menggeliat sambil merintih. Tomi menggenggam tangan Laras dengan erat.


Tomi begitu ketakutan kalau sampai kehilangan Laras untuk selama-lamanya. Seperti dia kehilangan Sinta, adiknya, belum lama ini.


Tomi tak mau kehilangan lagi.


"Ras....yang kuat ya, Sayang. Aku disini nemenin kamu," ucap Tomi di telinga Laras.


"Pak. Maaf, saya bereskan ibunya dulu," ucap perawat yang masih terlihat mengantuk itu.


Meskipun mengantuk, tapi sebagai perawat, dia mesti profesional. Dia bereskan Laras.


"Sebentar ya, Pak." Perawat itu keluar setelah selesai memasang kembali selang infusan Laras.


Tak lama, dia kembali dengan membawa satu ampul obat. Entah obat apa yang kemudian disuntikan di selang infusan Laras.

__ADS_1


Dan tak lama setelah itu, Laras kembali tenang.


Tomi tak berani menanyakannya. Lagi pula dia percaya saja pada perawat itu. Tak mungkin dia melakukan hal-hal yang berbahaya pada pasien.


"Silakan Bapak istirahat lagi. Ibunya akan bangun besok pagi-pagi," ucap perawat itu sebelum pergi.


Tomi mengangguk. Meskipun dia bakal tidak bisa tidur lagi. Khawatir Laras terbangun lagi dan melakukan hal yang sama dengan tadi.


Tomi menarik kursi dan memilih tidur di kursi dengan kepala menyandar di tempat tidur Laras.


Tangan Tomi pun tak lepas dari tangan Laras. Dia terus menggenggamnya seolah takut kehilangan Laras.


Hingga pagi hari, saat perawat lain mengontrol kamar-kamar pasien, Laras belum bangun juga.


"Suster, istri saya kok enggak bangun-bangun, ya?" tanya Tomi. Menurut perawat yang berjaga semalam, Laras akan siuman lagi pagi ini.


Perawat itu melihat cairan infus. Lalu menekan sesuatu yang ada di jalan cairannya. Seperti sedang mengecilkan alirannya.


"Sebentar ya, Pak." Perawat itu keluar.


Tak lama dia kembali lagi sambil membawa buku catatan pasien.


"Dari keterangan di buku ini, mestinya ibu Laras harus sudah siuman tengah malam tadi. Atau paling lambat, dini hari," ucap perawat itu sambil membaca buku catatannya.


Lalu Tomi mengatakan kalau semalam, tepatnya tengah malam, Laras terbangun.


Tomi menceritakan kalau Laras menjatuhkan tiang penyangga infus dan selang infusnya lepas.


Tomi juga menceritakan tentang perawat yang berjaga semalam menyuntikan cairan ke selang infusnya Laras.


Perawat itu menyimak cerita Tomi dengan fokus.


"Baik, Pak. Sebentar lagi akan ada dokter yang mengecek kondisi bu Laras. Kita tunggu aja apa kata dokterc ucap perawat itu. Lalu dia keluar dari kamar Laras.


Tomi terus menggenggam tangan Laras.


"Ras. Bangun. Ayo bangun, Ras. Aku merindukanmu," bisik Tomi di telinga Laras.


Laras tak bereaksi. Sampai satu jam kemudian saat dokter visit ke kamar Laras.


"Ini pasien yang keguguran kemarin, Dok. Dia belum sadarkan diri. Sepertinya dia over dosis obat penenang," ucap perawat yang tadi membersihkan kamar Laras.

__ADS_1


Hah...! Laras over dosis obat penenang? Tomi membelalakan matanya sambil terus menatap Laras yang sedang diperiksa.


__ADS_2