KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 153 GARA GARA LAPER


__ADS_3

Rasyid tetap mengajak Ayu pulang. Dia tak memikirkan tas Ayu yang ketinggalan di kamar Laras.


Padahal tas itu berisi baju seragam dan buku-buku pelajaran, yang akan dipakai sekolah Ayu besok pagi.


Ayu hanya diam saja. Daripada malah disalahkan oleh Rasyid.


Tapi akhirnya Ayu buka suara juga. Karena perutnya sudah bersuara.


"Ayah! Ayu laper!" seru Ayu.


Rasyid terus saja melajukan motornya. Dia pura-pura tak mendengar.


"Ayah! Ayu laper!" seru Ayu lagi.


Rasyid mengurangi kecepatan motornya.


Ayu langsung tersenyum senang. Dia berpikir, Rasyid akan membawanya ke warung makan.


"Ayu! Ayah enggak punya uang lagi! Ditahan dulu lapernya, ya?" jawab Rasyid.


Ayu langsung manyun. Dia bisa saja menahan, tapi cacing di perutnya tak bisa diajak kompromi.


"Ayah! Cacing di perut Ayu udah pada bunyi!" seru Ayu.


Rasyid hampir saja tertawa. Anaknya ini kadang suka melucu. Saking masih terlalu lugu, malah terkesan lucu.


"Suruh diem, Yu. Suruh tidur dulu. Bilang, ini udah malam!" sahut Rasyid lebih konyol lagi.


"Enggak mau, Yah. Katanya mereka baru mau tidur kalau udah makan!" Ayu melucu lagi. Padahal tidak berniat begitu.


"Aduh! Kok pada nakal sih, cacingnya? Bilangin, kalau enggak nurut, nanti dimarahin Ayah!" sahut Rasyid.


"Jangan, Yah. Kasihan. Nanti mereka nangis terus perut Ayu digigitin gimana?" Ayu semakin ngelantur saja.


"Memangnya Ayu tadi belum makan kue bolu di rumah Sinta?" tanya Rasyid. Dia saja makan tiga potong bolu ditambah satu cangkir kopi, bisa kenyang.


"Belum sempat, Yah. Kue bolunya masih utuh di kamar Sinta," jawab Ayu.


"Aduh! Padahal enak banget, lho. Ayah aja makan tiga. Sampai kenyang banget!" sahut Rasyid.


Kkrryykk!


Perut Rasyid juga ikutan bersuara. Sepertinya cacing di perutnya protes. Karena dibohongin Rasyid.


Hanya tiga potong bolu, tak membuat mereka kenyang dan diam.


"Perut Ayah juga bunyi, kan?" Ayu yang memeluk perut Rasyid, bisa merasakan gerakan cacing-cacing itu.


"Mm...Enggak, Yu. Mereka cuma lagi pada senam di dalam," sahut Rasyid.


"Kok enggak ada musiknya?" tanya Ayu.


Hadeh! Pusing kepala Rasyid, menanggapi omongan Ayu. Masa iya, dia harus menyanyikan dangdut koplo dulu?


Dddttt!


Motor Rasyid mati mesinnya.


"Kok mati, Yah?" tanya Ayu.


Tanpa menjawab, Rasyid mencoba menstater motornya. Berkali-kali dia menekan tombol stater, tetap saja enggak mau jalan.


"Aduh...! Kenapa lagi ini motor?" gumam Rasyid.


"Kamu turun dulu, Yu!" pinta Rasyid.

__ADS_1


Perlahan, Ayu pun turun. Lututnya masih terasa sakit dan kaku.


Rasyid menstandar dua motornya. Lalu mulai menekan engkolnya.


Sampai kakinya pegal, motor Rasyid tak juga mau nyala.


"Mungkin bensinnya abis, Yah," ucap Ayu.


"Bisa jadi," sahut Rasyid.


Indikator bensin motor Rasyid sudah lama mati. Makanya, bukan sekali dua kali motornya mati gara-gara kehabisan bensin.


Rasyid menyalakan senter di ponselnya, lalu membuka jok motor. Memeriksa bensin.


"Iya. Abis!"


Hhh! Rasyid jadi kesal sendiri. Dia merogoh kantong celananya. Cuma ada uang lima belas ribu.


"Itu ada warung bensin, Yah!" Ayu menunjuk sebuah kios bensin di seberang jalan.


"Ya udah. Kamu nunggu di sini. Ayah beli bensin dulu."


Ayu mengangguk. Lalu Rasyid membeli bensin eceran di seberang.


"Ini uangnya!" Rasyid memberikan sisa uangnya.


"Uang pas aja, Pak. Saya tidak punya uang kecil," ucap si pemilik kios.


"Saya juga enggak punya uang kecil," sahut Rasyid.


Padahal uang besar juga dia tidak punya.


"Tapi enggak ada kembaliannya."


Si pemilik kios tetap tak memberi uang kembalian.


"Kalau yang itu uangnya kurang, Pak," ucap pemilik kios.


Lalu dia menggantinya dengan yang lebih kecil.


"Kalau ini jadinya pas." Dia memberikan roti yang lebih kecil.


Rasyid hanya menghela nafasnya.


"Ya udah!" Rasyid mengembalikan roti yang besar.


Rasyid kembali ke tempat Ayu.


"Nih. Buat makan cacing-cacing kamu. Biar anteng!" ucap Rasyid sambil memberikan roti bungkus pada Rasyid.


"Makasih, Yah. Mereka pasti senang."


Ayu segera naik ke boncengan, lalu membuka roti kecil itu sambil memakannya.


Baru saja Rasyid jalan beberapa meter, dia melihat Alya sedang membeli nasi goreng di warung kaki lima.


Rasyid berhenti dan melihat sekitarnya. Sepertinya Alya sendirian.


"Alya!" panggil Rasyid. Niatnya dia akan meminjam uang pada mantan istrinya. Meskipun sebenarnya malu. Tapi daripada nanti malam Ayu kelaparan lagi.


"Mas Rasyid!" sahut Alya.


"Ayu....!" Alya langsung menghampiri Ayu.


"Ma....ma...!" ucap Ayu ragu-ragu.

__ADS_1


Rasyid sudah lama melarangnya ketemu mamanya. Menyebut namanya saja tak boleh.


"Turun, Yu! Itu kan mama kamu!" ucap Rasyid.


Dengan semangat Ayu turun dan langsung memeluk Alya.


"Mama. Ayu kangen," ucap Ayu pelan. Takut terdengar Rasyid.


"Iya, Ayu. Mama juga kangen." Alya mendekap Ayu lebih erat.


"Kalian dari mana?" tanya Alya setelah melepaskan pelukannya.


"Dari rumah sakit, Ma. Nengokin kak Laras. Sekalian Ayu juga diobatin." Ayu memperlihatkan luka-lukanya.


"Ya ampun, kamu kenapa, Yu?" tanya Alya prihatin melihat luka di kaki Ayu.


"Ayu tadi jatuh dari motor, Ma," jawab Ayu.


"Enggak apa-apa. Cuma lecet aja. Lagian udah di obatin, kok," sahut Rasyid.


"Terus nengokin Laras di rumah sakit, memangnya Laras sakit?" tanya Alya.


Ayu menatap Rasyid. Dia tak mau salah omong, bisa-bisa nanti malah kena marah.


"Iya. Laras sakit. Sekarang dia di rumah sakit," jawab Rasyid pada akhirnya.


"Sakit apa, Mas? Kenapa enggak bilang sama aku?" Alya mulai emosi. Karena tadi pagi Rasyid tak bilang padanya kalau Laras lagi dirawat di rumah sakit.


"Enggak apa-apa. Lagian Laras sudah sembuh. Besok pagi udah bisa pulang," jawab Rasyid.


"Bu! Nasi gorengnya jadi enggak?" tanya penjual nasi goreng.


"Jadi, Pak!" sahut Alya.


"Ayu mau nasi goreng juga?" tanya Alya pada Ayu.


Bukannya menjawab, Ayu malah melihat ke arah Rasyid.


Rasyid mengangguk. Dia kasihan melihat Ayu kelaparan, sementara dia tak ada uang lagi.


"Ayu mau, Ma!" sahut Ayu dengan semangat.


"Kamu mau juga, Mas?" Alya menawari Rasyid.


"Boleh deh. Sekalian buat Niken," jawab Rasyid.


Alya mengangguk. Lalu memesan tiga porsi lagi.


"Laras dirawat di mana, Mas?" tanya Alya.


"Di rumah sakit di sana itu, Ma!" Ayu menunjuk arah rumah sakit. Karena dia lupa namanya.


Alya mengangguk.


"Di ruangan apa? Biar besok pagi aku kesana," tanya Alya.


"Enggak usah. Besok pagi Laras udah pulang." Rasyid tak mau Alya kesana dan ketemu Laras tanpa sepengetahuannya.


"Kamu kenapa sih, Mas? Aku kan kepingin membesuk anakku sendiri!" protes Alya.


"Kan aku bilang, besok Laras sudah pulang!" Rasyid tetap kekeh.


"Aku kan bisa ke sana sebelum Laras pulang!" Alya pun tetap ngotot.


"Ma! Kok lama banget?" tanya seorang lelaki dari dalam mobil.

__ADS_1


Rasyid menatap lelaki itu. Matanya hampir saja melompat.


"Dia kan.....!"


__ADS_2