
Tomi sampai di rumah Cyntia. Di sana sepi, tak ada seorangpun kecuali nyonya rumahnya.
"Met siang, Madam," sapa Tomi.
"Hay, Tom. Masuklah."
Tomi menghampiri Cyntia, lalu mengecup pipinya sekilas.
"Madam dari mana aja, kok beberapa hari ini ngilang?" tanya Tomi setelah duduk di sebelah Cyntia. Tangannya mempermainkan anak rambut Cyntia yang lepas dari cepolannya.
"Aku mendadak sakit. Masuk rumah sakit beberapa hari," jawab Cyntia. Sekarang saja wajahnya masih terlihat pucat.
"Oh, pantes wajah kamu kelihatan pucat. Sakit apa?"
Tomi memang type laki-laki yang penuh perhatian. Dia menatap wajah Cyntia dengan memegangi dagu Cyntia dengan lembut.
"Asam lambungku naik. Malam itu aku langsung tumbang. Untungnya ada teman yang langsung membawaku ke rumah sakit. Kamu apa kabar?"
"Baik-baik aja. Aku berkali-kali ke sini, tapi rumah masih aja terkunci. Hape kamu juga enggak aktif. Kenapa enggak kasih kabar?" tanya Tomi dengan khawatir.
"Bagaimana mau kasih kabar, hapeku ketinggalan di rumah. Temanku enggak bisa ngambilin karena dia keburu ada urusan keluar kota. Jadilah aku sendirian di kamar yang sangat membosankan itu," sahut Cyntia.
"Keluargamu enggak ada yang tahu juga?" tanya Tomi lagi. Lalu Cyntia menceritakan tentang keluarganya.
Di kota ini, Cyntia tidak punya keluarga sama sekali. Setelah orang tuanya tahu profesi Cyntia, dia dikucilkan.
Akhirnya Cyntia tak pernah lagi pulang ke kampungnya. Bahkan saat kedua orang tuanya meninggalpun, Cyntia tidak tahu.
Baru setelah beberapa tahun kemudian, ada seorang tetangga di kampungnya yang memberitahukan. Kebetulan mereka bertemu di sebuah supermarket.
Tomi merasa trenyuh mendengarnya. Bagaimana pun, kehadiran dan pengakuan keluarga sangatlah penting dalam kehidupan seseorang.
Lalu Tomi berfikir, apa orang tuanya akan bersikap seperti itu juga kalau tahu profesinya sekarang?
Tomi bergidig ngeri. Jangan sampai itu terjadi. Dan jangan sampai juga keluarganya tahu. Apalagi adik-adiknya yang masih kecil.
"Kamu enggak punya keluarga sendiri, Madam?" Maksud Tomi apa Cyntia punya suami atau anak.
__ADS_1
"Aku belum pernah berumah tangga, Tom," jawab Cyntia.
Hah? Tomi sampai melongo. Sampai setua ini?
"Serius?" Tomi meragukan ucapan Cyntia. Secara, Cyntia wanita yang hebat. Pejuang kehidupan yang tangguh, meski jalannya salah.
Cyntia mengangguk. Wajahnya yang pucat, semakin mendung saja.
"Kenapa? Kamu....Cantik. Kaya. Aku rasa enggak ada yang kurang dari kamu, Madam?" Tomi memperhatikan seluruh tubuh Cyntia.
Meski tertutup daster pendek, tapi Tomi bisa membayangkan isinya. Karena dia sudah pernah melihat semuanya, bahkan merasakannya.
Cyntia menggeleng. Lalu Tomi merengkuh bahu Cyntia. Dan reflek, Cyntia menyandarkan kepalanya di bahu Tomi.
"Aku wanita kotor, Tom. Tak akan ada yang mau menerimaku dengan tulus. Kedua orang tuaku saja membuangku, apalagi orang lain? Mereka hanya akan baik di awal aja. Kalau udah bosan, aku pasti akan ditendang," ucap Cyntia terisak.
Tomi jadi merasa trenyuh. Tapi juga merasa bersalah, karena Cyntia jadi bersedih.
"Jangan bilang begitu kalau belum mencobanya," sahut Tomi.
Ya, segala sesuatu mesti dicoba dulu. Bagaimana kita bisa mengerti kalau cuma meraba-raba saja. Segala kemungkinan bisa saja terjadi. Mungkin iya, atau mungkin juga tidak. Begitu pikir Tomi.
"Kamu pikir aku cuma ngarang dan mengira-ngira aja? Aku udah mencobanya, Tom. Bukan cuma sekali. Tiga kali. Apa itu kurang cukup membuatku kapok?"
Tomi hanya diam saja. Orang seumuran Cyntia sudah pasti lebih banyak pengalamannya dibandingkan dirinya.
Kalau Tomi sendiri, menjalin hubungan yang serius baru kali ini. Bersama Laras. Meski mereka bertemu di medsos, tapi Tomi yakin kalau Laras wanita baik-baik.
Terbukti, dialah yang telah memerawani Laras. Dan Laras masih sangat lugu. Bahkan ciuman pertama pun, Tomi yang mengambilnya.
"Makanya kamu, berhati-hatilah. Kamu punya pacar kan, Tom?" tanya Cyntia.
Tomi mengangguk.
"Jaga dia. Jangan sampai dia tahu profesi kamu sekarang. Bukan cuma dia, tapi juga keluarganya, temannya atau siapapun yang mengenalnya, jangan sampai tahu. Kalau mereka sampai tahu, jangan harap hubungan kalian akan baik-baik aja," lanjut Cyntia.
Cyntia telah banyak makan asam garam sebuah hubungan. Ada selentingan sedikit saja, bikin runyam. Karena profesi yang digelutinya sekarang ini, bukan main-main. Bagi sebagian orang, profesi Cyntia sangat hina.
__ADS_1
"Iya, Madam. Aku juga selalu berusaha menjaganya. Terus terang, aku lakukan ini semua, biar aku punya uang yang cukup untuk melamar Laras. Dan juga menghidupi nantinya. Tapi setelah aku punya uang, aku menangguhkan dulu."
"Menangguhkan? Kenapa?" tanya Cyntia tak mengerti.
"Tiba-tiba ada keinginanku untuk membahagiakan keluargaku dulu. Kasihan mereka. Kami hidup sangat pas-pasan, Madam. Meski tak sampai kekurangan."
Mata Tomi menerawang ke langit-langit ruang tamu. Kemudian dia ingat, kalau sudah menjanjikan sepatu bermerk pada Ryan, adiknya.
Ah, iya. Nanti sepulang dari sini, aku akan membelikannya. Kasihan kalau dia menunggu-nunggu.
"Baguslah, Tom. Tapi ya itu tadi. Jangan sampai mereka tahu. Karena bisa saja nasib kamu akan sama denganku. Dikucilkan dan dibuang keluarga," sahut Cyntia.
"Oh iya. Aku sampai lupa maksudku manggil kamu kesini. Aku dapet laporan dari Maya. Katanya kamu bawa wanita lain ke kamarnya?"
Rupanya Cyntia mengadu pada induk semangnya Tomi.
"Oh, itu. Jadi begini, Madam." Tomi menceritakan kejadian yang sebenarnya. Tanpa dikurangi dan ditambah-tambahi. Karena sebenarnya Tomi bukan type lelaki pembohong.
Hanya pada Laras saja dia bohong. Itupun dengan maksud agar Laras mau dengannya. Dan sekarang, Tomi malah terjebak dengan kebohongannya sendiri.
"Oh, ya udah. Biarkan aja. Kalau memang Maya enggak mau lagi dengan kamu, nanti aku carikan wanita lain. Tenang aja, Tom. Stock-ku masih banyak," sahut Cyntia.
Maklum saja, sepak terjang Cyntia sudah cukup lama di dunia yang sekarang digelutinya. Pelanggannya sudah cukup banyak. Karena Cyntia selalu bisa menjaga kualitas.
"Madam, aku mau pamit dulu, ya. Adikku minta dibelikan sepatu kayak yang aku pakai ini. Aku udah menjanjikannya kemarin. Kasihan kalau dia nunggu-nunggu." Tomi memperlihatkan sepatu barunya.
"Oh iya, Tom. Belikan sana. Kamu ada uang?" tanya Cyntia penuh perhatian juga.
Kalau soal keluarga, Cyntia selalu merespon dengan sangat baik.
"Ada. Tadi pagi Maya mentransferku. Meski dia potong juga untuk bayar sewa kamar sebagian," jawab Tomi.
"Gila! Peritungan banget itu perempuan." Cyntia merasa geram dengan cara Maya yang main potong aja.
"Enggak apa-apa. Masih cukup, kok. Aku permisi dulu, Madam." Tomi mengecup lagi pipi Cyntia.
"Iya, Tom. Hati-hati. Nanti malam kamu menginap di sini, ya? Temani aku," pinta Cyntia.
__ADS_1
Tomi yang tak tega, mengangguk. Bagaimanapun, Cyntia telah banyak berjasa padanya.
Lalu Tomi pergi ke mall tempat dia dibelikan sepatu oleh Maya.