KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 135 DIABAIKAN


__ADS_3

Tomi masuk ke ruang rawat inap Laras. Laras sedang dipindahkan ke tempat tidur pasien.


"Anda suaminya?" tanya perawat yang baru saja memindahkan Laras.


Tomi mengangguk.


"Pasien masih dalam pengaruh obat penenang. Jadi biarkan dulu sampai dia siuman. Tadi kami sudah transfusi darah. Kondisi pasien juga sudah stabil. Kalau ada apa-apa, bisa hubungi kami lewat tombol ini."


Perawat itu menunjukan tombol yang harus ditekan kalau membutuhkan bantuan.


"Baik, Suster. Saya akan menungguinya," sahut Tomi.


Lalu dua orang perawat itu meninggalkan kamar rawat Laras.


Tomi duduk di kursi yang disediakan untuk penunggu. Tangannya meraih tangan Laras.


"Ras...kenapa kamu enggak pernah bilang kalau kamu lagi hamil? Aku kan bisa menjagamu. Dan peristiwa ini tak perlu terjadi." Tomi mengecup tangan Laras dengan lembut.


Tak ada reaksi apapun dari Laras. Dia benar-benar tertidur dengan lelap.


Rasyid hanya berdiri di depan pintu. Dia tak tega melihat kondisi Laras yang terlihat lemah.


Dari kejauhan Niken dan Ayu berjalan mendekat. Rasyid hanya menghela nafasnya.


Ada kemarahan yang luar biasa atas sikap kasar Niken. Bukan cuma Laras yang harus kehilangan calon bayinya, tapi juga karena kejadian tadi membahayakan nyawa Laras.


Niken tak berani mendekat. Dia duduk di bangku panjang yang cukup jauh. Hanya Ayu yang mendekati Rasyid.


"Ayah. Kak Laras sudah sembuh?" tanya Ayu dengan kepolosannya.


Rasyid mengangguk. Lalu mengacak rambut keriting Ayu.


"Tapi sekarang kak Laras lagi tidur. Ayu jangan ganggu dulu ya?" jawab Rasyid.


Ayu mengangguk. Dia hanya melongok saja sebentar. Dia melihat Tomi sedang membelai kepala Laras yang masih setia memejamkan matanya.


"Kamu sama kak Niken pulang, ya? Ayah nungguin kak Laras di sini," ucap Rasyid.


"Ayu juga mau nungguin kak Laras, Yah," sahut Ayu.


"Ayu. Di sini enggak boleh terlalu banyak yang menunggu. Apalagi kamu masih kecil." Rasyid mencoba memberi pengertian pada Ayu.


Ayu menunduk dengan kecewa. Dia ingin protes, tapi takut kena marah.


Rasyid mengangkat dagu Ayu.


"Ayu nurut kan sama Ayah?" tanya Rasyid.

__ADS_1


"Ayah nanti malam tidur di sini?" Ayu balik bertanya.


"Iya. Kan Ayah harus menunggu kak Laras. Kasihan kak Tomi kalau menunggu sendirian," jawab Rasyid.


"Tapi Ayu takut?" Ayu memeluk tubuh Rasyid.


"Takut kenapa, heh?" Rasyid membelai kepala Ayu.


"Ayu takut sama....kak Niken," jawab Ayu pelan. Takut Niken mendengarnya. Padahal posisi Niken duduk cukup jauh.


Ayu tak berani kalau hanya berdua dengan Niken. Karena Niken sering jahat padanya. Suka perintah-perintah seenaknya. Suka memukulnya kalau tidak menurut. Dan mengancamnya agar tak mengadu pada Rasyid juga Laras.


Rasyid menatap Niken dengan tajam. Niken yang juga sedang menatap mereka, menundukan wajahnya.


"Bilang sama Ayah kalau kak Niken nakalin kamu," ucap Rasyid.


Ayu tetap menggeleng sambil terus memeluk Rasyid.


Tomi yang mendengarnya, keluar.


"Om pulang aja. Biar saya yang nungguin Laras. Laras tanggung jawab saya. Meski pelakunya..." Tomi menatap ke arah Niken dengan tajam penuh kebencian.


Niken yang melihatnya, kembali menunduk.


"Tapi kamu kan lagi banyak kerjaan," sahut Rasyid.


"Pekerjaan saya bisa dipending dulu, Om. Om juga tak perlu khawatirkan Laras. Yang perlu Om khawatirkan Ayu. Jangan sampai dia jadi tempat pelampiasan anak Om itu." Tomi menunjuk Niken dengan dagunya.


"Ya udah. Om pulang dulu. Titip Laras. Besok pagi setelah nganter sekolah, Om kesini lagi," ucap Rasyid.


Rasyid dan Ayu masuk dulu ke kamar Laras.


"Ras, Ayah sama Ayu pulang dulu, ya. Laras cepat sadar dan sehat lagi, ya." Rasyid mengecup kening Laras. Tak terasa air matanya menetes.


"Kak, Ayu pulang dulu. Kakak cepat sembuh, ya," ucap Ayu sambil menggenggam tangan Laras.


Diantara kedua kakaknya, Laras yang selalu baik padanya. Meski Laras lebih sering sibuk sendiri. Sibuk dengan pekerjaan di rumah. Sibuk dengan novelnya. Juga sibuk dengan Tomi dan Beni.


Tomi trenyuh melihat kesedihan mereka. Tomi tahu kalau Rasyid dan Ayu sangat menyayangi Laras. Tapi tidak dengan Niken.


Sejak kejadian Tomi salah mencumbu, Niken semakin memperlihatkan ketidaksukaannya pada Laras.


Itu karena Niken punya ambisi untuk memiliki Tomi. Karena dia merasa nyaman dengan Tomi.


"Kami pulang dulu, Tom," pamit Rasyid.


"Iya, Om. Hati-hati." Tomi mengacak rambut keriting Ayu.

__ADS_1


Rasyid dan Ayu berjalan ke arah pintu keluar rumah sakit. Mereka tak mempedulikan Niken.


Niken tetap mengikuti, meski dia diabaikan. Dia tak berani berpamitan pada Tomi.


"Ini kunci motornya, Yah." Niken menyerahkan kunci motor yang dari tadi dikantonginya.


Rasyid mengambilnya dengan kasar. Hatinya masih sangat kesal pada Niken.


Sebenarnya Rasyid ingin Niken jalan kaki saja. Dia tak ingin memboncengkannya. Tapi Rasyid tidak tega.


Karena sekarang pun sudah malam. Dia tetap khawatir Niken digangguin preman lagi.


"Ayo naik!" ucap Rasyid dengan ketus.


Ayu naik di tengah. Niken di belakangnya.


Rasyid melihat pelipis Niken yang ditutup perban lewat kaca spion. Entah siapa yang menutupnya. Ada rasa kasihan juga, tapi kemarahan masih menguasai pikiran Rasyid. Jadi dia mengabaikannya saja.


Mereka sampai di rumah sudah cukup malam. Karena Raayid tak memakai helm dan berboncengan tiga, Rasyid mencari jalan memutar. Jadi lebih jauh.


Niken segera masuk ke kamarnya. Dan tanpa mengganti pakaian, Niken langsung tidur.


Badannya terasa sangat sakit akibat dilempar Tomi hingga terjerembab. Belum lagi pelipisnya yang dihantam Tomi. Rasanya sangat perih, dan kepalanya pusing.


Tadi di rumah sakit, Yanti sempat minta tolong pada seorang perawat untuk mengobati luka Niken.


Meski kesal pada Niken, tapi Yanti masih punya rasa kasihan juga.


Tapi dia tak mengijinkan Beni mendekat atau menolong Niken lagi. Dia tak mau anaknya dekat-dekat lagi dengan anak-anaknya Rasyid. Siapapun itu.


Ayu juga masuk ke kamarnya. Dan langsung naik ke tempat tidur. Rasyid menyusulnya.


"Yah, tadi di rumah sakit kan ada tante Cyntia," ucap Ayu sambil tiduran.


"Iya," jawab Rasyid singkat. Dia sendiri juga tak tahu kenapa Cyntia bisa ada di sana dan datang bersama Tomi.


Rasyid berusaha mengingat sesuatu.


Ya ampun. Suara wanita yang menerima telponku tadi. Iya! Itu suara Cyntia. Pantas saja aku seperti enggak asing dengan suara itu. Batin Rasyid.


"Kenapa tante Cyntia enggak mau ke rumah kita lagi, Yah?" tanya Ayu.


Ayu tak tahu masalah apa yang pernah terjadi, yang menyebabkan Cyntia tak mau lagi ke rumah kontrakan Rasyid.


Bukan rumah kontrakan yang sekarang, tapi yang sudah ditinggalkan Rasyid karena tak mampu lagi membayarnya.


"Dia lagi sibuk, Ayu. Udah sekarang Ayu tidur. Besok sekolah, kan?"

__ADS_1


Ayu langsung merem karena sudah sangat mengantuk. Rasyid tak bisa tidur. Dia keluar kamar dan menuju ruang tamu.


Rasyid membuka ponselnya dan mencoba browsing mencari tahu tentang Cyntia lagi.


__ADS_2