
Tomi yang sadar diperhatikan Rasyid, sedikit salah tingkah. Dia berfikir apa yang salah pada dirinya.
Hingga Tomi merasakan bibirnya agak lengket, lalu dia mengelap bibirnya dengan telapak tangan.
Sambil tertunduk malu, Tomi mengikuti langkah Rasyid ke ruang tamu.
Laras di kamarnya, buru-buru berpakaian. Dia tak mau lagi ketahuan Rasyid. Setelah berpakaian, baru Laras ke ruang tamu.
"Bikinkan Ayah kopi, Nak," pinta Rasyid dengan lembut. Tak seperti sebelumnya yang mengacuhkan Laras karena malu.
"Iya, Yah. Tom, kamu mau kopi juga?" tanya Laras pada Tomi.
"Iya, boleh. Oh, ini Ras, ada makanan buat kamu sama Om Rasyid." Tomi memberikan bungkusan yang tadi dibawanya. Padahal rencananya mau buat sarapan mereka berdua. Tapi berhubung ada Rasyid, Tomi jadi tidak enak dan mengalah.
"Kamu yang bawa ini?" tanya Laras dengan mata berbinar. Karena dia belum sarapan. Bahkan dari semalam belum makan.
"Iya, tadi beli di jalan," jawab Tomi.
Laras mengangguk dan membawanya ke dapur. Laras melihat bungkusan lontong sayurnya cuma ada dua. Sementara mereka bertiga.
Pasti Tomi juga belum makan. Dia sengaja membelinya dua bungkus. Untuk dia dan aku.
Tapi tadi Tomi bilang ini buat aku dan ayah. Hhmm. Aku bagi tiga aja deh. Lagi pula, makanku kan enggak banyak.
Laras terus saja membatin. Lalu membagi makanan itu menjadi tiga dan menatanya di mangkuk juga dipiring untuk gorengannya.
Heemm....kelihatannya enak banget. Meski anak orang kaya, tapi selera Tomi memasyarakat. Laras tersenyum bangga untuk kekasihnya itu.
Laras enggak sadar kalau selama ini dia dikibulin Tomi. Dia pikir, Tomi benar-benar anak orang kaya.
Giliran ditanya soal motor bututnya, Tomi selalu menjawab kalau motor itu akan selalu dipakainya, karena penuh kenangan.
Iyalah, orang punyanya cuma motor itu. Itupun bapaknya yang beli.
Dengan langkah riang, Laras membawa nampan ke ruang tamu.
"Ini aku bagi tiga, Tom. Kita makan bareng ya," ucap Laras.
"Aku udah makan, Ras. Kalian aja," tolak Tomi. Dia terpaksa berbohong karena sudah terlanjur mengatakan itu untuk Laras dan Rasyid.
"Makan lagi juga enggak apa-apa, kan. Masa cuma aku dan ayah yang makan." Laras meletakan mangkuk-mangkuknya di meja.
"Ayo, Yah." Laras mengambilkan satu untuk Rasyid lebih dulu. Lalu mengambilkan untuk Tomi.
__ADS_1
Rasyid yang juga laper dari semalam, jelas saja langsung menyikat habis lontong sayur kesukaannya.
"Aakkh...! Eegghh...!" Rasyid bersendawa dengan keras. Meski tak terlalu kenyang, karena jatah dua porsi dibagi tiga oleh Laras, tapi cukup buat mengisi perut yang kosong.
"Enak, Om?" tanya Tomi.
"Enak banget." Rasyid mengelap mulutnya dengan lengan baju. Lalu memakan lagi beberapa gorengan yang dibeli Tomi.
Laras yang duduk di lantai di depan Tomi, hanya menatapnya kasihan. Kehidupan mereka yang tidak didukung ekonomi yang baik, membuat mereka seringkali harus menahan lapar.
Dan kemarin, mereka hanya makan sekali. Siang, Rasyid masih memberi uang untuk membeli nasi padang. Malamnya, mereka harus menahan lapar.
Entah bagaimana keadaan perut kedua adik Laras yang sedang sekolah. Meski tadi Rasyid sempat memberi sedikit uang untuk jajan.
Hanya uang receh yang tidak akan cukup untuk membeli makan. Tapi kalau sekedar jajanan anak sekolah, dapatlah sedikit.
"Kamu ada rokok, Tom?" tanya Rasyid.
"Ada, Om." Tomi mengeluarkan rokok dari kantong celananya.
"Aakkhh...! Nikmat sekali." Rasyid menghembuskan asap rokoknya ke udara.
"Om....Kenapa Om enggak buka usaha saja. Kecil-kecilan aja, Om?" tanya Tomi.
"Usaha apa? Kalau cuma kecil-kecilan, percuma. Hasilnya enggak seberapa, cuma capek doang," jawab Rasyid yang dasarnya pemalas.
Maunya hidup santai, uangnya banyak.
"Ya enggak percuma dong, Om. Kan lumayan bisa buat nambah pemasukan," ucap Tomi.
Dia mengingat tentang usaha bapaknya. Membuka bengkel kecil di depan rumah kontrakannya.
Meski hasilnya tak seberapa, tapi mereka tak pernah sampai kekurangan. Selalu ada saja rejeki setiap hari.
Adik-adiknya tak pernah sampai kelaparan. Dapur selalu ngebul meski bukan makanan mewah yang dimasak ibunya.
Bapaknya pun tak pernah sampai kehabisan rokok. Apalagi sampai meminta rokok Tomi.
"Nanti deh, kalau proyek yang di jalan baru, selesai. Aku akan buka cafe. Biar anak-anak yang megurusinya," sahut Rasyid dengan sombongnya.
Udah sombong, bohong pula. Itulah Rasyid yang tak pernah mau diremehkan orang lain.
"Oh...jadi Om ikut proyek pembangunan jalan baru itu?" tanya Tomi. Dia sudah mulai percaya bualan Rasyid.
__ADS_1
"Iya. Maksudku, temanku yang ikut tender. Aku membantu manajemennya. Soalnya itu tender besar," jawab Rasyid.
Rasyid ternyata jeli juga. Dia tak mau asal membual. Jadi memilih memakai nama temannya.
"Oh....Ngantornya di mana temannya Om itu?" tanya Tomi lagi, menyelidik.
"Di jalan Melati. Laras sudah pernah aku ajak kesana. Malah Laras ditawari kerja juga. Tapi kayaknya Laras belum berminat. Iya kan, Ras?"
Laras kebingungan menjawabnya. Memang beberapa hari yang lalu, Rasyid mengajaknya ke jalan Melati. Tapi bukan untuk urusan pekerjaan, melainkan meminta belas kasihan teman ayahnya itu.
Dan Laras ditawari kerja, bukan kerja kantoran. Tapi sebagai pembantu di sana.
Rasyid memberi kode pada Laras agar mengangguk.
"I...Iya...A...Aku udah pernah diajak ke...sana," jawab Laras gelagapan.
"Bagus dong, Ras. Apalagi kalau ditawari kerjaan. Kenapa kamu enggak mau?" tanya Tomi.
Tomi berharap Laras untuk sementara kerja dulu. Biar tidak ngejar-ngejar minta dilamar.
Bukannya Tomi tak mau melamar Laras. Tapi dia merasa belum siap secara ekonomi.
Apalagi setelah kematian Sinta, Tomi belum berani mengatakan keinginannya pada kedua orang tuanya.
Laras makin gelagapan. Dia tak biasa berbohong.
"Laras mau fokus bikin novel dulu katanya. Dan sebentar lagi kan kamu mau melamarnya. Iya, kan?" Pertanyaan Rasyid malah menyudutkan Tomi.
"I...Iya, Om," jawab Tomi. Jantungnya berdetak dengan cepat. Dia khawatir Rasyid semakin memaksanya.
"Nah. Makanya Laras menolak. Biar dia bisa jadi ibu rumah tangga yang baik. Suatu saat nanti bisa fokus mengurus anak-anak kalian," ucap Rasyid dengan pedenya.
Tomi hanya menelan ludahnya saja. Bakalan tambah pusing kalau membahas soal lamar melamar.
"Tom. Kapan kamu membawa orang tua kamu ke sini?" tanya Laras.
Jeder!
Tomi bagai di hantam lagi. Pertanyaan yang sangat dihindarinya. Tapi mau tak mau, dia harus menjawabnya.
"Tunggu aja, Ras. Kita lagi cari hari baik," jawab Tomi berbohong.
"Semua hari itu baik, Tom. Dan kalau bisa, disegerakan. Kalian kan udah siap. Mau tunggu apalagi?" ucap Rasyid.
__ADS_1
"Iya, Om." Tomi benar-benar mati kutu. Dia diserang oleh dua orang.