KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 93 FEELING LARAS


__ADS_3

Beni mengajak Laras ke sebuah cafe. Tadinya dia berniat ingin mencari tempat untuk bermesraan dengan Laras. Meski dia sadar kalau yang akan dilakukannya salah.


Dan ucapan Niken tadi membuat Beni benar-benar sadar kalau dia tak mungkin bisa memiliki Laras.


Beni yang bukan type lelaki rakus pada wanita, tak mau melakukannya dengan Laras. Percuma saja kalau ujung-ujungnya Laras menjadi milik orang lain.


Lagi pula, Beni tak mau menjamah wanita yang juga dijamah lelaki lain. Beni yakin kalau Tomi pasti sering menjamah Laras.


Terbukti Laras sangat agresif saat bersamanya. Pastinya saat dengan Tomi lebih agresif lagi.


Beni tak banyak bicara. Saat Laras bercerita pun, dia tak terlalu menyimak.


Pikirannya malah terus mengingat Niken. Niken yang masih kelas dua SMA. Masih terlalu kecil sih untuk dijadikan kekasih. Tapi apa salahnya? Daripada mengharapkan Laras yang jelas-jelas sudah dimiliki lelaki lain.


"Ben....kamu dengerin ceritaku enggak sih?" tanya Laras kesal. Karena dari tadi Beni hanya melamun aja.


"Oh. Eh, iya. Aku denger kok," jawab Beni. Lalu tersenyum ke arah Laras.


"Emang aku cerita apa coba?"


Beni langsung gelagapan. Dia sama sekali tak menyimak cerita Laras.


Beni menggaruk kepala saking bingungnya menjawab. Laras langsung cemberut.


"Ya udah, sekarang cerita lagi. Kali ini aku dengerin deh," ucap Beni.


"Males ah. Capek," sahut Laras. Lalu mengaduk minumannya.


"Terus aku harus gimana dong?" Beni bingung mesti bagaimana lagi menghadapi Laras.


"Kita pulang aja, yuk," ajak Laras yang sudah bete. Padahal mereka belum lama datang.


"Minumannya belum habis. Makanan pesanan kamu juga belum diantar," sahut Beni.


Tapi Laras benar-benar sudah tidak mood lagi. Dan perasaannya tidak enak. Lalu dia berdiri.


Otomatis Beni ikutan berdiri juga. Dia mengalah saja pada Laras, daripada harus berdebat. Malu kan didengar orang. Meskipun harus membayar makanan yang sudah dipesan dan belum jadi.


Beni menggandeng tangan Laras menuju ke parkiran. Dia tahu kalau Laras kecewa padanya. Makanya Beni berusaha menghiburnya dengan menggandeng tangan Laras.


Sampai di luar cafe, Beni merangkul pundak Laras. Tapi anehnya, Beni tak lagi merasakan getaran apapun seperti kemarin-kemarin.


Perasaannya pada Laras menguap begitu saja, saat tadi dia mendengar omongan Niken. Juga saat matanya bertemu dengan mata Niken.


Laras terus saja berjalan. Dia pun tak merasakan apapun pada Beni. Pikirannya kembali pada Tomi yang tak datang menemuinya malam ini.


Juga pada rasa yang tidak enak dalam hatinya. Entah kenapa.


Sampai di samping rumah Laras, Beni menghentikan motornya. Seperti biasanya, Beni tak mau lewat depan. Takut ketahuan ibunya.

__ADS_1


Beni tetap mengantar Laras sampai ke dalam. Dan memastikan Laras masuk ke rumahnya.


Sampai di pintu samping, Laras dan Beni mendengar teriakan Rasyid. Juga Niken yang lari masuk ke kamar sambil menangis.


Sesaat Laras dan Beni berpandangan. Lalu lari bersama menuju ruang tamu.


"Ada apa, Yah?" tanya Laras melihat Rasyid menutup wajahnya.


Rasyid tak menjawab. Hatinya masih sangat kesal pada Tanto. Orang yang dianggapnya baik, ternyata malah mau memperkosa Niken.


Laras kembali menatap Beni. Lalu dia berjalan ke kamarnya menghampiri Niken. Beni mengikutinya meski hanya berdiri di depan pintu.


"Ada apa, Ken?" tanya Laras.


Niken masih menangis tersedu-sedu. Beni sampai tak tega melihatnya.


Laras dan Beni berfikir, Niken dimarahi Rasyid. Tapi masalah apa sampai Niken menangis seperti itu. Karena biasanya Niken hanya menggerutu saja saat dimarahi.


"Ken, cerita dong sama Kakak. Kamu kenapa?" Laras membelai rambut Niken yang berantakan.


Niken berusaha menghentikan tangisnya.


"Tan...Tanto," ucap Niken sambil sesenggukan.


"Kenapa Tanto?" tanya Laras penasaran.


"Dia....dia....mau....memperkosaku." Niken kembali menangis.


Meski Beni tak mengenal Tanto, tapi mendengar Niken akan diperkosa, emosinya langsung memuncak.


"Siapa Tanto?" Suara Beni mengejutkan Laras dan Niken. Mereka langsung menatap wajah Beni.


"Dia...orang yang kerja di counter hape temannya ayah," jawab Laras. Dia belum tahu kalau Tanto sudah dipecat.


"Dimana counternya? Aku akan cari dia!" tanya Beni dengan geram.


"Dia sudah dipecat dari sana," sahut Rasyid yang mendengar pertanyaan Beni.


"Om tau rumahnya?" tanya Beni.


"Besok aku tanyakan pada Willy. Sekarang counternya sudah tutup." Lalu Rasyid kembali ke ruang tamu.


"Sebentar...." Laras mengambil hapenya dari tas.


"Tomi kenal sama Tanto. Siapa tau dia bisa bantu nyariin," lanjut Laras. Lalu dia menelpon Tomi.


Tapi sayangnya berkali-kali telponnya tidak diangkat oleh Tomi.


"Gimana?" tanya Beni.

__ADS_1


"Enggak diangkat. Tapi nomornya aktif," jawab Laras.


Beni hanya melengos. Pasti Tomi sedang kencan dengan wanita lain. Berita yang menyebar di kantor tempat kerja Beni, Tomi jadi peliharaan tante-tante.


"Kirim pesan aja. Nanti kalau dia sudah selesai kencannya, pasti dibaca." Beni kelepasan.


"Maksud kamu?" tanya Laras tak suka. Karena Beni kembali menjelek-jelekan Tomi.


"Oh, maaf. Aku salah omong. Maksudku kalau kerjaannya udah selesai," jawab Beni.


Laras melengos dengan kesal. Lalu mengirimkan pesan pada Tomi.


"Aku pamit pulang, Ras. Jaga Niken. Temani dia." Lalu Beni pulang.


Sampai di rumahnya, Beni disambut muka jutek ibunya.


"Kamu habis pergi sama Laras?" tanya Yanti dengan kesal.


"Iya, Bu. Cuma ngajak ke cafe saja sebentar," jawab Beni.


"Ngajak ke cafe? Ngapain? Kayak enggak ada wanita lain aja!"


"Bu. Ada masalah dengan Niken." Beni berusaha mengalihkan kemarahan Yanti.


"Masalah apa? Bukan masalah kamu, kan?" serang Yanti. Dia sama sekali tak mau anaknya berhubungan dengan anak-anak Rasyid.


"Niken....hampir diperkosa sama temannya," sahut Beni.


Yanti menatap tak suka pada Beni yang ikut campur masalah mereka.


"Itu bukan urusan kamu, Ben. Dan ingat ya, jangan jadikan itu alasan buat kamu mendekati Laras. Ibu enggak suka!" Yanti langsung masuk ke kamarnya.


Beni menghela nafasnya. Lalu memasukan motornya.


Beni pun masuk ke kamarnya. Dia mau mencari tahu tentang orang yang bernama Tanto. Siapa tahu ada temannya yang kenal.


Yanti keluar dari kamarnya.


"Ben! Kamu tau kan, kalau Ibu enggak suka kamu dekat-dekat dengan mereka?" tanya Yanti di depan kamar Beni.


"Iya, Bu. Beni tau," sahut Beni. Lalu keluar dari kamarnya.


"Beni mau minta ijin ke Ibu, kasih kesempatan sekali saja, buat menolong mereka," ucap Beni.


"Enggak! Sekali Ibu bilang enggak, ya enggak!" Yanti tetap menolak.


"Bu. Ini masalah serius." Beni berusaha meyakinkan ibunya.


"Jangan ikut campur urusan orang lain! Apalagi masalah mereka. Kalau memang Niken mau diperkosa, laporin aja ke polisi. Susah amat!" Yanti tetap tak setuju.

__ADS_1


Beni menghela nafasnya. Lalu ke dapur membuat kopi. Otaknya perlu direfresh dengan secangkir kopi.


__ADS_2