KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 144 MENJEMPUT NIKEN


__ADS_3

Rasyid menghela nafasnya. Berusaha menetralkan


perasaannya. Bagaimana pun antara dia dan Alya, sudah tak ada hubungan apapun, selain urusan anak.


Rasyid pun sadar kalau kini Alya sudah menjadi milik orang lain. Orang yang lebih bisa mencukupi Alya.


Terlihat dari penampilan Alya yang berubah. Bukan lagi Alya yang selalu tampil sederhana.


Alya kini lebih terlihat modis. Di beberapa bagian tubuhnya juga melekat perhiasan yang pasti harganya tak murah.


Rumah tempat tinggal Alya juga cukup mewah. Meski bukan rumah besar, seperti rumah pejabat ataupun artis.


"Al. Aku kesini mau menjemput Niken," ucap Rasyid.


Tak perlu dijelaskan lagi, Rasyid tahu kalau Niken ada di rumah Alya. Rasyid melihat sepatu lusuh milik Niken di pojokan teras.


"Masuk dulu, Mas. Kita bicarakan tentang anak-anak," ajak Alya.


Dengan ragu, Rasyid masuk dan duduk di sebuah sofa yang masih terlihat baru.


Rasyid menatap berkeliling. Di dinding ruangan terpampang foto Alya sedang menggendong seorang bayi, ditemani seorang lelaki.


Rasyid menatap wajah lelaki di foto itu, yang sepertinya pernah dilihatnya. Rasyid berusaha mengingat.


Mirip lelaki yang datang ke rumah sakit bersama Cyntia. Ah, Rasyid menepis pikiran itu. Hanya mirip saja. Di dunia ini kata orang, kita memiliki tujuh orang yang mirip kita. Batin Rasyid.


"Mau aku buatkan kopi?" Alya masih ingat betul kesukaan Rasyid. Kopi hitam dengan sedikit gula.


Rasyid mengangguk. Dia tak bisa menolaknya. Karena Rasyid tahu, kopi buatan Alya adalah kopi terenak yang pernah diminumnya. Dan jujur, Rasyid merindukan itu.


Alya masuk ke dalam. Di kamarnya ada Niken sedang bermain dengan anak Alya yang masuh usia balita.


"Ken, ada ayahmu," ucap Alya.


Niken menatap Alya.


"Niken enggak mau pulang, Ma. Niken mau di sini aja," sahut Niken.


Alya hanya tersenyum, lalu ke dapur membuatkan kopi untuk Rasyid.


Kehidupan Alya yang lebih baik, membuat Niken betah tinggal di rumahnya.


Setelah selesai membuatkan kopi, Alya kembali ke ruang tamu.

__ADS_1


"Diminum, Mas. Maaf enggak ada makanan. Tadi sudah dihabiskan Niken," ucap Alya.


Tadi pagi Alya beli makanan yang lewat depan rumahnya. Dan seperti biasanya, Niken yang memang jarang sekali makan jajanan, langsung menyikat habis.


"Iya, enggak apa-apa. Em...Suami kamu dimana?" tanya Rasyid.


Bagaimana pun Rasyid merasa tak enak, kalau tiba-tiba suami Alya datang.


"Suamiku lagi ada kerjaan di luar kota," jawab Alya.


Alya sering ditinggal sendirian hanya dengan anak lelakinya yang masih balita. Suaminya sering tak pulang ke rumah. Alasannya ada kerjaan di luar kota.


Rasyid mengangguk. Dia senang karena artinya bisa ngobrol dengan Alya dengan nyaman. Meski sebenarnya Rasyid masih merasa kikuk.


"Niken ada di sini?" tanya Rasyid.


"Iya, Mas. Kemarin sore sepulang sekolah, dia ke sini," jawab Alya.


"Hm. Sejak kapan Niken tau alamat rumahmu ini?" tanya Rasyid.


"Niken dan Laras sudah lama tau. Cuma baru kali ini Niken ke sini dan menginap. Maaf, kalau boleh aku tau, ada masalah apa dengan anak-anak?"


Niken tak mengatakan alasannya pada Alya. Meskipun Alya sudah mencurigainya. Karena tak biasanya Niken datang dan menginap. Apalagi datang sendirian. Jalan kaki juga.


Rasyid menghela nafasnya. Inginnya dia tak menceritakan masalah anak-anak pada Alya. Karena bagaimana pun Alya adalah ibu dari anak-anaknya.


Tapi Rasyid khawatir kalau Alya marah, dan meminta anak-anak ikut dengannya.


"Seperti biasa. Namanya juga anak-anak. Pasti ada saatnya mereka berantem. Tapi sebentar lagi juga akan berbaikan," jawab Rasyid.


"Tapi biasanya tak sampai Niken ke sini. Apalagi meginap," sahut Alya.


"Enggak apa-apa. Mungkin dia kangen sama kamu." Rasyid tetap berusaha menutupi masalah yang sebenarnya.


"Mas. Aku mamanya anak-anak. Tak perlu kamu rahasiakan masalah tentang mereka. Siapa tau aku bisa membantu." Alya berusaha memaksa Rasyid.


"Enggak ada masalah yang serius. Sekarang, aku mau menjemput Niken," sahut Rasyid.


"Nikennya tak mau pulang, katanya. Dia terlihat sangat ketakutan."


Rasyid menghela nafasnya. Jangan sampai Alya tahu persoalan anak-anak. Rasyid tak mau disalahkan. Walaupun ini semua salahnya. Salah mendidik anak-anaknya.


"Di mana dia?" tanya Rasyid. Dia masih berusaha bersabar.

__ADS_1


"Ada di kamarku, Mas. Lagi main sama anakku, Aldo," jawab Alya.


Setelah memutuskan pergi dari kehidupan Rasyid dan anak-anaknya, Alya bekerja di rumah seorang yang kaya raya. Menjadi seorang ART.


Lalu setahun kemudian, Alya menikah dengan suaminya yang sekarang. Dan mereka dikaruniai seorang anak laki-laki.


Dari dulu Rasyid sangat merindukan punya anak laki-laki. Tapi ternyata hanya tiga anak perempuan yang didapatnya dari Alya.


"Tolong panggilkan Niken. Aku akan membawanya pulang. Dia kan juga harus sekolah. Kalau di sini, tak ada yang mengurus sekolahnya," ucap Rasyid.


Mendengar itu, Alya kurang terima. Dia merasa Rasyid menganggapnya tak bisa mengurus anak.


"Aku mau mengurusnya, kalau memang anak-anak ikut denganku. Tadi memang Niken enggak masuk. Karena dia tak membawa baju seragam dan buku-buku pelajaran hari ini," sahut Alya.


"Enggak usah repot-repot. Kamu urus saja keluarga barumu. Kamu kan juga sudah punya anak sendiri," ucap Rasyid.


"Mas. Meskipun aku punya anak lagi dengan suamiku yang sekarang, tapi Laras, Niken dan Ayu, tetap anak-anakku juga."


"Iya, aku tau. Tapi kamu tak perlu repot-repot mengurus mereka. Aku masih sanggup mengurusnya!" Suara Rasyid sudah mulai meninggi.


"Aku tak pernah merasa repot kalau untuk anak-anak. Dan aku juga masih sanggup membiayai mereka," sahut Alya.


Alya tak cuma mengandalkan nafkah dari suami barunya. Dia juga punya bisnis online yang sekarang lagi marak.


"Aku tau. Kehidupanmu sekarang lebih enak. Suamimu uangnya banyak. Tapi aku tak mau anak-anakku hutang budi pada suami kamu!"


"Mas! Aku juga punya usaha sampingan. Kalau hanya sekedar menghidupi anak-anak dan menyekolahkannya, aku masih sanggup sendiri!" Alya sudah mulai terpancing emosi.


Niken berusaha mendengarkannya dari dalam.


"Sudahlah. Sekarang panggilkan Niken. Aku mau membawanya pulang!" Rasyid malas berdebat dengan Alya. Karena bisa jadi dia yang akan dilecehkan oleh mantan istrinya ini.


"Silakan. Aku tak melarangnya. Aku hanya ingin tau ada masalah apa mereka," sahut Alya.


"Aku kan sudah bilang tadi, hanya masalah anak-anak aja! Apa kurang jelas?" Sifat keras Rasyid mulai terdengar.


"Jangan membentakku!" Emosi Alya pun ikut naik.


Rasyid menghela nafasnya. Dadanya naik turun.


"Oke. Sekarang, aku mau membawa pulang Niken." Rasyid berusaha menekan suaranya.


"Silakan! Aku tak pernah melarang. Aku juga tak mau menahannya di sini!"

__ADS_1


"Niken...!"


__ADS_2